Pages

Tuesday, October 8, 2019

LEGENDA LAU KAWAR

Dahulu kala, sebuah ada sebuah desa di tanah karo yang bernama desa Lau Kawar. Desa ini sangat subur dan di kelilingi oleh pemandangan alam yang indah. Suatu hari, penduduk desa itu mengadakan suatu acara adat sebagai bentuk syukur karena hasil panen penduduk yang melimpah ruah. Semua penduduk desa menghadiri acara itu, tetapi hanya ada seorang nenek yang tidak ikut datang ke acara tersebut. Nenek ini tidak sanggup untuk keluar menghadiri acara adat itu karena kondisi tubuhnya yang melemah. Si nenek rupanya belum makan seharian sehingga ia tidak memiliki tenaga bahkan untuk berjalan.

Nenek melihat ke arah jendelanya dan ia terkejut ketika melihat anak lelakinya beserta keluarganya berjalan ke acara ada itu. Si nenek berharap bahwa anaknya akan hampir ke rumahnya dan mengajaknya ke acara itu. Namun, anak nenek beserta keluarga tidak mampir dan mereka terus berjalan menuju ke acara adat itu. Nenek merasa sedih dan ia pun berbaring sambil menangis karena tidak ada yang memperhatikan dirinya.

Ketika acara adat itu selesai, si anak baru ingat kepada Ibunya. Ia pun meminta cucunya untuk membungkus makanan agar diberikan kepada nenek. Sang nenek pun terkejut sekaligus senang ketika cucunya datang membawakan makanan. Tetapi rasa senang itu tidak bertahan lama ketika sang nenek mengetahui bahwa isi bungkusan itu adalah sisa-sisa makanan dari acara adat.

Nenek itu pun memanjatkan doa kepada Tuhan. Ia berharap bahwa Tuhan membalas kedurhakaan anaknya agar anaknya mendapat pelajaran. Beberapa hari kemudian terjadilah gempa bumi, petir menyambar ke tanah, dan hujan turun tak henti-henti. Hujan turun begitu deras sehingga dalam waktu sekejap desa Lau Kawar sudah terendam dan menjadi sebuah kawah. Kawah itu yang kemudian dinamakan sebagai Danau Lau Kawar.



ASAL MULA DANAU SI LOSUNG DAN SI PINGGAN

Dahulu di daerah Silahan, Tapanuli Utara, hiduplah sepasang suami-istri yang memiliki dua orang anak laki-laki. Yang sulung bernama Datu Dalu, sedangkan yang bungsu bernama Sangmaima. Ayah mereka adalah seorang ahli pengobatan dan jago silat. Sang Ayah ingin kedua anaknya itu mewarisi keahlian yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia sangat tekun mengajari mereka cara meramu obat dan bermain silat sejak masih kecil, hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan pandai mengobati berbagai macam penyakit.

Pada suatu hari, Ayah dan Ibu mereka pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan obat-obatan. Akan tetapi saat hari sudah menjelang sore, sepasang suami-istri itu belum juga kembali. Akhirnya, Datu Dalu dan adiknya memutuskan untuk mencari kedua orang tua mereka. Sesampainya di hutan, mereka menemukan kedua orang tua mereka telah tewas diterkam harimau.

Dengan sekuat tenaga, kedua abang-adik itu membopong orang tua mereka pulang ke rumah. Usai acara penguburan, ketika hendak membagi harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua mereka, keduanya baru menyadari bahwa orang tua mereka tidak memiliki harta benda, kecuali sebuah tombak pusaka. Menurut adat yang berlaku di daerah itu, apabila orang tua meninggal, maka tombak pusaka jatuh kepada anak sulung. Sesuai hukum adat tersebut, tombak pusaka itu diberikan kepada Datu Dalu, sebagai anak sulung.

Pada suatu hari, Sangmaima ingin meminjam tombak pusaka itu untuk berburu babi di hutan. Ia pun meminta izin kepada abangnya.

“Bang, bolehkah aku pinjam tombak pusaka itu?”

“Untuk keperluan apa, Dik?”

“Aku ingin berburu babi hutan.”

“Aku bersedia meminjamkan tombak itu, asalkan kamu sanggup menjaganya jangan sampai hilang.”

“Baiklah, Bang! Aku akan merawat dan menjaganya dengan baik.”

Setelah itu, berangkatlah Sangmaima ke hutan. Sesampainya di hutan, ia pun melihat seekor babi hutan yang sedang berjalan melintas di depannya. Tanpa berpikir panjang, dilemparkannya tombak pusaka itu ke arah binatang itu. “Duggg…!!!” Tombak pusaka itu tepat mengenai lambungnya. Sangmaima pun sangat senang, karena dikiranya babi hutan itu sudah roboh. Namun, apa yang terjadi? Ternyata babi hutan itu melarikan diri masuk ke dalam semak-semak.

“Wah, celaka! Tombak itu terbawa lari, aku harus mengambilnya kembali,” gumam Sangmaima dengan perasaan cemas.

Ia pun segera mengejar babi hutan itu, tetapi pengejarannya sia-sia. Ia hanya menemukan gagang tombaknya di semak-semak. Sementara mata tombaknya masih melekat pada lambung babi hutan yang melarikan diri itu. Sangmaima mulai panik.

“Waduh, gawat! Abangku pasti akan marah kepadaku jika mengetahui hal ini,” gumam Sangmaima.

Namun, babi hutan itu sudah melarikan diri masuk ke dalam hutan. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah dan memberitahukan hal itu kepada Abangnya.
“Maaf, Bang! Aku tidak berhasil menjaga tombak pusaka milik Abang. Tombak itu terbawa lari oleh babi hutan,” lapor Sangmaima.

“Aku tidak mau tahu itu! Yang jelas kamu harus mengembalikan tombok itu, apa pun caranya,” kata Datu Dalu kepada adiknya dengan nada kesal.”

Baiklah, Bang! Hari ini juga aku akan mencarinya,” jawab Sangmaima.

“Sudah, jangan banyak bicara! Cepat berangkat!” perintah Datu Dalu.

Saat itu pula Sangmaima kembali ke hutan untuk mencari babi hutan itu. Pencariannya kali ini ia lakukan dengan sangat hati-hati. Ia menelesuri jejak kaki babi hutan itu hingga ke tengah hutan. Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah lubang besar yang mirip seperti gua. Dengan hati-hati, ia menyurusi lubang itu sampai ke dalam. Alangkah terkejutnya Sangmaima, ternyata di dalam lubang itu ia menemukan sebuah istana yang sangat megah.

“Aduhai, indah sekali tempat ini,” ucap Sangmaima dengan takjub.

“Tapi, siapa pula pemilik istana ini?” tanyanya dalam hati.

Oleh karena penasaran, ia pun memberanikan diri masuk lebih dalam lagi. Tak jauh di depannya, terlihat seorang wanita cantik sedang tergeletak merintih kesakitan di atas pembaringannya. Ia kemudian menghampirinya, dan tampaklah sebuah mata tombak menempel di perut wanita cantik itu. “Sepertinya mata tombak itu milik Abangku,” kata Sangmaima dalam hati. Setelah itu, ia pun menyapa wanita cantik itu.

“Hai, gadis cantik! Siapa kamu?” tanya Sangmaima.

“Aku seorang putri Raja yang berkuasa di istana ini.”

“Kenapa mata tombak itu berada di perutmu?”

“Sebenarnya babi hutan yang kamu tombak itu adalah penjelmaanku.”

“Maafkan aku, Putri! Sungguh aku tidak tahu hal itu.”

“Tidak apalah, Tuan! Semuanya sudah terlanjur. Kini aku hanya berharap Tuan bisa menyembuhkan lukaku.”

Berbekal ilmu pengobatan yang diperoleh dari ayahnya ketika masih hidup, Sangmaima mampu mengobati luka wanita itu dengan mudahnya. Setelah wanita itu sembuh dari sakitnya, ia pun berpamitan untuk mengembalikan mata tombak itu kepada abangnya.

Abangnya sangat gembira, karena tombak pusaka kesayangannya telah kembali ke tangannya. Untuk mewujudkan kegembiraan itu, ia pun mengadakan selamatan, yaitu pesta adat secara besar-besaran. Namun sayangnya, ia tidak mengundang adiknya, Sangmaima, dalam pesta tersebut. Hal itu membuat adiknya merasa tersinggung, sehingga adiknya memutuskan untuk mengadakan pesta sendiri di rumahnya dalam waktu yang bersamaan. Untuk memeriahkan pestanya, ia mengadakan pertunjukan dengan mendatangkan seorang wanita yang dihiasi dengan berbagai bulu burung, sehingga menyerupai seekor burung Ernga. Pada saat pesta dilangsungkan, banyak orang yang datang untuk melihat pertunjukkan itu.

Sementara itu, pesta yang dilangsungkan di rumah Datu Dalu sangat sepi oleh pengunjung. Setelah mengetahui adiknya juga melaksanakan pesta dan sangat ramai pengunjungnya, ia pun bermaksud meminjam pertunjukan itu untuk memikat para tamu agar mau datang ke pestanya.

“Adikku! Bolehkah aku pinjam pertunjukanmu itu?”

“Aku tidak keberatan meminjamkan pertunjukan ini, asalkan Abang bisa menjaga wanita burung Ernga ini jangan sampai hilang.”

“Baiklah, Adikku! Aku akan menjaganya dengan baik.”

Setelah pestanya selesai, Sangmaima segera mengantar wanita burung Ernga itu ke rumah abangnya, lalu berpamitan pulang. Namun, ia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menyelinap dan bersembunyi di langit-langit rumah abangnya. Ia bermaksud menemui wanita burung Ernga itu secara sembunyi-sembunyi pada saat pesta abangnya selesai.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pada malam harinya, Sangmaima berhasil menemui wanita itu dan berkata:

“Hai, Wanita burung Ernga! Besok pagi-pagi sekali kau harus pergi dari sini tanpa sepengetahuan abangku, sehingga ia mengira kamu hilang.”

“Baiklah, Tuan!” jawab wanita itu.

Keesokan harinya, Datu Dalu sangat terkejut.

Wanita burung Ernga sudah tidak di kamarnya. Ia pun mulai cemas, karena tidak berhasil menjaga wanita burung Ernga itu. “Aduh, Gawat! Adikku pasti akan marah jika mengetahui hal ini,” gumam Datu Dalu. Namun, belum ia mencarinya, tiba-tiba adiknya sudah berada di depan rumahnya.

“Bang! Aku datang ingin membawa pulang wanita burung Ernga itu.

Di mana dia?” tanya Sangmaima pura-pura tidak tahu.

“Maaf Adikku! Aku telah lalai, tidak bisa menjaganya. Tiba-tiba saja dia menghilang dari kamarnya,” jawab Datu Dalu gugup.

“Abang harus menemukan burung itu,” seru Sangmaima.

“Dik! Bagaimana jika aku ganti dengan uang?” Datu Dalu menawarkan.

Sangmaima tidak bersedia menerima ganti rugi dengan bentuk apapun. Akhirnya pertengkaran pun terjadi, dan perkelahian antara adik dan abang itu tidak terelakkan lagi. Keduanya pun saling menyerang satu sama lain dengan jurus yang sama, sehingga perkelahian itu tampak seimbang, tidak ada yang kalah dan menang.

Datu Dalu kemudian mengambil lesung lalu dilemparkan ke arah adiknya. Namun sang Adik berhasil menghindar, sehingga lesung itu melayang tinggi dan jatuh di kampung Sangmaima. Tanpa diduga, tempat jatuhnya lesung itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah danau. Oleh masyarakat setempat, danau tersebut diberi nama Danau Si Losung.

Sementara itu, Sangmaima ingin membalas serangan abangnya. Ia pun mengambil piring lalu dilemparkan ke arah abangnya. Datu Dalu pun berhasil menghindar dari lemparan adiknya, sehingga piring itu jatuh di kampung Datu Dalu yang pada akhirnya juga menjadi sebuah danau yang disebut dengan Danau Si Pinggan.

Demikianlah cerita tentang asal-mula terjadinya Danau Si Losung dan Danau Si Pinggan di daerah Silahan, Kecamatan Lintong Ni Huta, Kabupaten Tapanuli Utara.

RUSA DAN SI KULOMANG

Pada suatu hari yang cerah di hutan, para hewan sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Lia, Rusa yang terkenal dengan keahlianya dalam berlari sedang sibuk mencari lawan untuk memamerkan keahliannya. Dan saat ia sedang mencari lawan, lewatlah seekor siput yang dikenal sebagai binatang yang cerdik dan setia kawan. Siput itu bernama Kelomang. Rusa pun menantang Kelomang untuk berlomba lari.

Rusa menantang Kelomang untuk beradu lari sampai tanjung kesebelas dan bertaruh jika Kelomang kalah maka Kelomang harus memberikan rumahnya. Rusa tidak merasa khawatir karena ia sangat yakin bahwa ia akan menang. Rusa sudah banyak menantang hewan-hewan yang ada di hutan dan ia memenangkan semua tantangan itu. Di sisi lain, Kelomang pun mengetahui bahwa ia tidak punya kesempatan untuk menang karena ia berjalan sangat lambat dan yang membuatnya semakin lambat ialah rumah yang dibawanya. Namun, Kelomang tetap tidak menyerah dan ia berpikir keras bagaimana caranya mengalahkan rusa.

Sampailah pada hari yang telah ditentukan, rusa mengajak teman-temannya untuk memamerkan keahliannya dalam berlari.  Sedangkan Kelomang hanya mengajak sepuluh temannya. Kesepeluh temannya itu diperintahkan untuk berjaga di tanjung dua sampai ke tanjung kesebelas dan Kelomang bersiap di tanjung satu untuk berlomba dengan rusa.

Kelomang memberitahu kepada kesepuluh temannya untuk menjawab pertanyaan rusa dengan ucapan "Aku persis dibelakangmu".

Ketika pertandingan dimulai, rusa langsung melesat dan dalam waktu sekejap ia sudah sampai dia tanjung ke dua. Dalam keadaan berlari, rusa bertanya kepada Kelomang apakah Kelomang ada di belakang atau tidak dan terdengar suara Kelomang menjawab bahwa ia berada tepat di belakang sang rusa. Sang rusa pun panik dan ia berlari kencang sampai di tanjung ketiga. Di tanjung ketiga, rusa menanyakan hal yang sama dan ia terkejut ternyata Kelomang menjawab dengan jawaban yang sama. Rusa tadinya berencana untuk beristirahat bila Kelomang tidak menjawab pertanyaan.

Tetapi, rusa membatalkan rencananya karena Kelomang terus berada di belakangnya. Ia pun tidak beristirahat dan memaksakan diri terus berlari sampai tanjung kesebelas. Sesampainya di tanjung kesebelas, rusa tak dapat menahan kelelahannya. Akhirnya, ia jatuh karena kelelahan dan mati. 

KAKEK PEMEKAR BUNGA

Sepasang kakek-nenek yang baik hati memungut seekor anak anjing berwarna putih, dan membesarkannya seperti membesarkan anak sendiri. Pada suatu hari, anjing itu menggonggong sambil menggali-gali tanah di ladang. "Gali di sini, guk, guk!" begitu kata anjing itu hingga membuat kakek terkejut. Dengan memakai cangkul, kakek menggali di tempat yang ditunjukkan oleh anjingnya. Di tempat yang digali ternyata ditemukan uang keping emas (ōban dan koban). Kakek dan nenek begitu bahagia dan juga membagi-bagikan barang yang dibelinya kepada para tetangga.

Keberhasilan kakek dan nenek membuat iri sepasang suami-istri tetangga. Keduanya dengan paksa menyeret anjing milik kakek-nenek. Anjing itu disiksa agar mau menunjukkan lokasi harta. Namun setelah tempat yang ditunjukkan digali, di tempat itu hanya ditemui barang rongsokan, hantu, dan pecahan tembikar. Keduanya menjadi sangat marah, dan memukul anjing itu dengan cangkul hingga mati. Kakek-nenek pemilik anjing juga dimaki-maki.

Kakek dan nenek yang baik hati merasa sangat sedih karena anjing itu dulunya dibesarkan seperti membesarkan anak sendiri. Anjing itu lalu dikubur di halaman rumah, dan dibuatkan sebuah makam untuknya. Sebatang pohon ditanam di sisi makam untuk melindunginya dari angin dan hujan. Pohon ternyata tumbuh dengan cepat, dan menjadi sangat besar hanya dalam beberapa tahun. Dalam mimpi, kakek dan nenek melihat anjing itu hidup kembali. "Tebang pohon itu, dan buatkan aku sebuah lesung," begitu pintanya. Permintaan anjing itu dituruti. Keduanya kemudian membuat sebuah lesung dari kayu pohon yang tumbuh di sisi makam anjing. Dengan memakai lesung itu, kakek dan nenek menumbuk ketan untuk dibuat mochi. Ketika selesai ditumbuk, mochi berubah menjadi kepingan emas yang berlimpah-limpah.

Suami-istri tetangga kembali menjadi iri hati. Lesung mereka pinjam dengan paksa. Namun ketika dipakai, lesung itu bukan menghasilkan emas, melainkan kotoran yang bau. Keduanya menjadi sangat marah. Lesung dibelah-belah dengan kapak menjadi kayu bakar. Abu hasil pembakaran lesung diambil oleh kakek-nenek yang bermaksud mengupacarainya. Dalam mimpi, anjing itu kembali muncul, dan meminta agar abunya disebarkan ke pohon sakura yang sudah mati. Kakek-nenek mengikuti pesan itu. Secara ajaib, pohon sakura yang telah ditebari abu segera berbunga. Seorang daimyo yang kebetulan lewat, takjub dengan keindahan bunga sakura yang sedang mekar. Kakek dan nenek dipujinya. "Ayo kita mekarkan bunga di pohon yang sudah kering!" kata daimyo. Suami-istri yang tamak ingin pula dipuji. Keduanya ikut menaburkan abu ke atas pohon, tetapi bukan bunga yang mekar. Abu yang ditebarkan malah masuk ke mata daimyo yang sedang berada di bawah pohon. Tetangga yang tamak akhirnya dihukum karena bertindak kurang ajar.

PERTARUNGAN MONYET DAN KEPITING

Kepiting sedang berjalan membawa sebuah onigiri. Seekor monyet licik meminta kepiting agar bersedia untuk menukar onigiri dengan biji kesemek yang sebelumnya dipungut oleh monyet. Pada mulanya kepiting tidak mau, tetapi akhirnya terbujuk oleh ucapan si monyet, "Dari biji kesemek ini akan tumbuh pohon kesemek yang berbuah banyak."

Kepiting pulang ke sarangnya, dan segera menanam biji kesemek itu sambil bernyanyi, "Cepatlah bertunas biji kesemek. Kalau tidak, aku akan memotongmu dengan capitku!" Pohon kesemek tumbuh dengan cepat dan berbuah dengan lebatnya. Namun kepiting tidak bisa memanjat pohon untuk mengambil buah kesemek. Datang si monyet licik yang menggantikan kepiting memanjat pohon. Kesemek dimakannya sendiri. Kepiting tidak mendapat bagian kesemek sebuah pun. "Ayo cepat ambilkan juga untukku!" begitu kata kepiting. Monyet memetik buah kesemek yang masih hijau, lantas melemparkannya ke arah kepiting. Lemparan kesemek mengenai badan kepiting hingga anak-anak kepiting yang sedang dikandungnya lahir sebelum waktunya. Kepiting terluka hingga akhirnya mati.

Anak-anak kepiting bermaksud menuntut balas kematian induknya. Mereka pergi ke rumah monyet dibantu oleh kastanye, lesung, tawon, dan kotoran sapi. Kastanye menunggu kedatangan monyet sambil bersembunyi di dalam abu perapian. Tawon bersembunyi di dalam ember kayu. Kotoran sapi bersiaga di lantai tanah, dan lesung menanti di atap rumah.

Setelah sampai di rumah, monyet licik menyalakan perapian untuk menghangatkan diri. Kastanye pecah terkena panas api, dan pecahannya mengenai monyet hingga dia menderita luka bakar. Dengan tergesa-gesa monyet berusaha mendinginkan lukanya dengan siraman air. Namun di dalam ember sudah menunggu tawon yang langsung menyengatnya. Monyet terkejut dan melarikan diri ke luar. Ia jatuh terpeleset kotoran sapi. Dari atas atap jatuh lesung yang menimpa kepalanya hingga si monyet mati. Anak-anak kepiting berhasil menuntut balas kematian induk mereka.

GUNUNG KACHI-KACHI

Di zaman dulu hidup sepasang kakek dan nenek. Setiap kali kakek bekerja di ladang, tanuki datang mengganggu dengan bernyanyi-nyanyi. Lirik lagu yang dinyanyikan tanuki berisi kutukan agar panen gagal. Bukan cuma itu, tanuki juga menggali dan memakan bibit ubi yang ditanam kakek di ladang. Kakek sangat marah dan memasang perangkap. Tanuki masuk perangkap, diikat, dan dibawa pulang. Setelah diletakkan di dapur, kakek kembali ke ladang. Nenek yang menjumpai tanuki di dapur setuju untuk melepasnya, karena sudah dibohongi tanuki yang berjanji membantu membereskan rumah. Setelah terlepas, tanuki malah memukuli nenek dan membunuhnya. Daging si nenek dimasak tanuki menjadi sup. Kepulangan kakek dari ladang disambut tanuki yang sudah berubah wujud menjadi si nenek. Kakek memakan sup yang disuguhkan "nenek" dengan enaknya. Setelah sup habis dimakan, "nenek" kembali berubah wujud menjadi tanuki dan menceritakan segalanya. Sambil tertawa-tawa, tanuki pulang ke gunung.

Kelinci sahabat si kakek mendengar peristiwa ini dan memutuskan untuk membalas dendam. Tanuki kebetulan kenal dengan kelinci dan percaya saja dengan ajakan kelinci untuk mengumpulkan kayu bakar dengan imbalan uang. Setelah ranting kering terkumpul, Tanuki berjalan di muka sambil memanggul ikatan ranting kering. Kelinci mengikuti dari belakang karena ia ingin membakar ranting kering di punggung tanuki. Tanuki bisa mendengar suara "crek-crek" dari dua buah batu api yang dibentur-benturkan kelinci, tetapi pandangannya terhalang ranting kering yang sedang dipanggulnya. "Bunyi apa itu 'crek-crek'?" tanya tanuki. Kelinci menjawab, "Oh, itu suara burung Crek-crek dari Gunung Crek-crek yang ada di sebelah sana."

Setelah berhasil membakar punggung tanuki, kelinci menjenguk tanuki yang sedang sakit luka bakar. Tanuki diberi mustard yang menurut kelinci adalah salep obat luka bakar. Mustard yang dioleskan pada luka bakar di punggung tanuki makin membuat tanuki kesakitan.

Suatu ketika tanuki diajak kelinci pergi memancing di danau. Perahu yang dinaiki kelinci dibuat dari kayu, tetapi tanuki diberi perahu yang dibuat dari lumpur. Terkena air, perahu lumpur menjadi lunak dan tenggelam. Tanuki berenang sekuat tenaga ke tepian, tetapi dipukuli kelinci dengan dayung dan mati tenggelam.

BALAS BUDI BURUNG BANGAU

Pada zaman dahulu di suatu tempat, hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua. Pada hari yang bersalju di musim dingin, sang suami pergi ke kota untuk menjual kayu bakar, dalam perjalanan ia menemukan seekor bangau yang terjerat perangkap pemburu. Merasa kasihan, sang suami kemudian melepaskan bangau dari perangkap pemburu. Malam harinya, salju turun sangat lebat, seorang gadis cantik datang ke rumah pasangan tua. Sang gadis bercerita, ia sudah berkelana sejak orang tuanya meninggal untuk mencari saudara yang belum pernah ia temui sebelumnya, kemudian ia tersesat dan meminta izin untuk menginap satu malam di rumah mereka. Pasangan suami istri itu pun menyambutnya dengan senag hati dan mengizinkannya tinggal di rumah mereka. Salju tidak berhenti keesokan harinya, begitu pula dengan hari berikutnya, sehingga sang gadis tetap tinggal di rumah mereka. Sementara itu sang gadis tanpa kenal lelah merawat kedua suami istri tersebut, membuat mereka bahagia. Suatu hari, sang gadis meminta pada mereka, dari pada mengantarnya untuk menemui keluarganya yang belum pernah ia temui sebelumnya, untuk menjadikannya putri mereka. Pasangan itu pun menerimannya dengan senang hati.

Sang gadis terus membantu pasangan tua itu, suatu hari ia meminta: "Saya ingin menenun kain, tolong belikan saya benang". Ketika ia diberikan kain, ia berkata: "Tolong jangan pernah melihat kedalam ruangan tempat menenun" kepada pasangan tua, kemudian ia masuk kedalam ruangan tersebut dan menenun selama tiga hari terus menerus tanpa jeda. Kain hasil tenunannya sangat indah, dan langsung menjadi perbincangan di kota, dan dijual dengan harga yang bagus. Benang yang baru di beli dengan menggunakan uang hasil penjualan kain, sang gadis menenun kain yang lain dengan hasil yang sangat indah, kemudian mereka menjulnya dengan harga yang tinggi dan memreka pun menjadi kaya raya.

Meski demikian, ketika sang gadis mengurung diri di ruangan untuk menenun kain ketiga, suami istri mencoba untuk menepati janji mereka agar tidak menguntip kedalam ruangan, mereka mulai penasaran bagai mana cara sang gadis menenun hingga menghasilkan kain yang indah. Mereka tidak bisa lagi menahan rasa penasaran yang menyelimuti mereka sehingga sang istri mengintip kedalam ruangan. Tempat dimana ia seharusnya melihat sang gadis memenun, tetapi ia malah melihat seekor bangau. Bangau tersebut mencabuti bulunya dan menyelipkan bulunya di antara benang untuk menghasilkan kain yang berkilau. Sebagian besar bulunya telah dicabut, menyisakan sang bangau dengan kondisi yang menyedihkan. Dihadapan suami istri yang terkejut, sang gadis mengatakan bahwa ia sebenarnya adalah bangau yang telah ditolong dari perangkap pemburu. Ketika ia berniat untuk tetap menjadi putri mereka, ia harus pergi karena indentitasnya telah diketahui. Ia berubah menjadi bangau dan terbang ke langit, meninggalkan suami istri yang menyesal.

URASHIMA TARO

Hidup seorang nelayan bernama Urashima Taro. Pada suatu hari, ia pergi memancing namun yang terkail adalah seekor penyu. Taro melepas penyu tersebut kembali ke laut setelah teringat, "penyu katanya bisa hidup hingga 10.000 tahun, kasihan kalau dibunuh."

Beberapa hari kemudian, seorang wanita mendekati pantai dengan mendayung sendiri perahunya. Seorang tetua meminta Taro untuk menyambut wanita yang ternyata adalah pelayan seorang putri. Sebagai ucapan terima kasih atas penyu yang telah ditolong, Taro diundang pergi ke Istana Laut.

Ditemani pelayan sang putri, Taro naik perahu menuju ke Istana Laut. Setibanya di sana, Taro disambut sang putri, dan hidup bersamanya selama 3 tahun. Namun, Taro ingin pulang karena cemas dengan ayah dan Ibu yang ditinggalkan di kampung halaman. Sang putri akhirnya mengaku bahwa dirinya adalah penyu yang pernah ditolong Taro. Sebagai hadiah perpisahan, sang putri memberikan sebuah kotak perhiasan (tamatebako). Setelah Taro tiba di kampung halaman, desa yang dulu ditinggalinya ternyata sudah tidak ada lagi.

Setelah bertanya ke sana ke mari, Taro diberi tahu bahwa di atas bukit terdapat makam Taro dan kedua orang tuanya. Taro begitu sedih, dan membuka kotak dari sang putri. Asap keluar sebanyak tiga kali dari dalam kotak. Taro berubah menjadi seekor burung jenjang, dan terbang menghilang.

SAUDAGAR JERAMI

Seorang petani rajin namun miskin berdoa kepada Buddha Welas Asih agar dibebaskan dari kemiskinan. Buddha berkata kepadanya untuk memungut benda pertama yang disentuhnya di tanah dan membawanya bepergian ke arah barat. Ia tersandung jatuh ke tanah ketika keluar dari kuil, dan menyentuh sebatang jerami yang lalu dipungutnya. 

Dalam perjalanan, ia menangkap lalat kuda yang mengganggunya, dan mengikat lalat itu pada ujung jerami. Di kota berikutnya, bunyi dengung lalat di ujung jerami membuat bayi yang sedang menangis menjadi terdiam. Ia lalu memberikan jerami beserta lalat kepada Ibu dari bayi itu. Sebagai tanda terima kasih, ia diberi tiga buah jeruk. Perjalanan diteruskannya dengan membawa jeruk. Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang gadis yang sedang kehausan. 

Jeruk diberikannya kepada anak gadis itu. Sebagai tanda terima kasih, ia menerima sehelai kain sutra. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang samurai dengan seekor kuda yang sedang kepayahan. Samurai meminta agar ia mau menukar kain sutra dengan kuda. Setelah diurusnya, kuda menjadi sehat kembali. Petani lalu melanjutkan perjalanan ke barat dengan menunggang kuda. Seorang jutawan terkesan dengan kuda bagus yang dimilikinya.


Ia diundang untuk berkunjung ke rumah jutawan. Anak perempuan jutawan itu ternyata gadis yang pernah diselamatkannya dari kehausan dengan buah jeruk. Sang jutawan melihatnya sebagai takdir dan meminta kepadanya agar mau menikahi putrinya. Ia menikah dengan putri jutawan dan menjadi kaya.

SHITAKIRI SUZUME

Seorang kakek yang baik hati menolong burung gereja yang terluka, dan menjadikannya sebagai burung peliharaan. Pada suatu hari, burung gereja menjadi sangat lapar karena nenek tidak memberinya makan. Dia lalu memakan lem dari tajin yang dibuat nenek untuk mengganti kertas pelapis pintu geser. 

Nenek sangat marah hingga lidah burung gereja itu dipotongnya. Burung gereja itu lantas terbang melarikan diri. Kakek bersedih lantas mencarinya hingga ke gunung. Di gunung sarang burung gereja, kedatangan kakek disambut secara beramai-ramai oleh kawanan burung gereja. 

Sebagian dari mereka menghidangkan makanan untuk kakek, dan sebagian lagi menggelar pertunjukan tari. Ketika tiba waktunya untuk pulang, kakek diberi dua pilihan hadiah yang harus dipilihnya salah satu: keranjang kecil atau keranjang besar. Kakek sudah tua sehingga memilih keranjang kecil karena ringan. Keranjang kecil itu dibawanya pulang. Ketika dibuka di rumah, isi keranjang kecil itu ternyata uang keping emas. 

Nenek yang serakah menyesali pilihan suaminya. Menurutnya, kalau ada pilihan keranjang besar, maka itulah yang harus diambil. Nenek lalu pergi ke gunung burung gereja karena ingin memperoleh lebih banyak harta. Dengan paksa diambilnya keranjang besar dari rumah burung gereja. Di tengah perjalanan pulang, keranjang besar itu dibuka oleh nenek. Isinya ternyata penuh dengan hantu yokai, serangga, kadal, tawon, kodok, dan ular. Nenek pingsan karena terkejut.

MALEM DIWA

Malem Diwa adalah nama seorang pemuda yang hidup pada zaman dahulu kala di sebuah negeri di Aceh. Pekerjaannya adalah pengembara, ia mengembara dari satu daerah ke daerah lainnya. Sebagai pengobat rasa sepi ketika ia sedang dalam pengembaraan, sebuah seruling yang bersuara amat merdu selalu menemaninya.

Suatu ketika Malem Diwa tiba di sebuah daerah yang bernama Buntul Temil. Tempat ini terletak di dekat sungai sehingga ia sangat tertarik dan memutuskan untuk tinggal di tempat itu. Di tempat itu ia menanam sayur, beternak, dan memancing di sungai. Pada suatu hari ketika sedang memancing di sungai, Malem Diwa bertemu dengan seorang nenek yang baru saja selesai mencari kayu bakar di hutan. Nenek tersebut bernama Inen Keben dan dia tinggal di Buntulkubu. Karena sopan santun maka Malem Diwa menolong nenek tersebut membawa kayu bakarnya hingga ke rumah si nenek. Karena sering bertemu dan mengantarkan kayu bakar ke rumah Inen Keben, akhirnya Malem Diwa menganggap Inen Keben sebagai orang tuanya sendiri.

Beberapa waktu kemudian ketika Malem Diwa sedang memancing tiba-tiba terdengar suara gelak tawa dan gurau beberapa wanita. Karena penasaran maka Malem Diwa kemudian mencari tahu dan mengintip ke arah sumber suara tersebut. Dari balik pohon, ia melihat tujuh bidadari cantik sedang bermain di atas sebuah batu besar di sungai. Batu tempat para bidadari bermain itu akhirnya dinamakan Atu Pepangiren atau batu tempat mandi.

Ternyata para bidadari itu tidak sekali itu saja datang ke daerah tersebut. Mereka berulang kali datang untuk mandi dan bermain di sana. Malem Diwa juga selalu menantikan kedatangan mereka walau dengan bersembunyi. Suatu hari ketika mereka sedang mandi, Malem Diwa mengambil salah satu baju mereka dan menyembunyikannya di rumah. Selesai mandi terjadilah keributan karena hilangnya salah satu baju terbang mereka yang rupanya milik bidadari yang paling bungsu. Cukup lama juga para bidadari lainnya mencoba membantu mencarikan baju tersebut tapi tak juga ditemukan. Akhirnya dengan berat hati para bidadari tersebut kembali ke kahyangan meninggalkan bidadari yang kehilangan bajunya. Akibatnya bidadari tersebut sangat sedih dan menangis seorang diri di tepi sungai.

Setelah menyembunyikan baju terbang milik bidadari tersebut Malem Diwa kembali ke sungai dan menawarkan pertolongan kepada bidadari tersebut. Ia menawarkan agar bidadari tersebut dapat menginap di tempat Inen Keben yang tinggal tidak jauh dari rumah Malem Diwa. Sejak itu mereka berteman baik karena Malem Diwa sering membantu Inen Keben untuk mengantar kayu bakar atau memperbaiki rumahnya. Karena saling tertarik dan jatuh cinta maka Malem Diwa kemudian mengajak bidadari bungsu untuk menikah. Mereka kemudian hidup bahagia sebagai suami istri.

MUNDUNGLAYA DIKUSUMAH

Prabu Siliwangi memiliki dua orang istri yaitu Nyimas Tejamantri dan Nyimas Padmawati yang menjadi permaisuri. Dari Nyimas Tejamantri, Prabu Silihwangi mendapat seorang anak yaitu pangeran Guru Gantangan. Sedangkan dari permaisuri Nyimas Padmawati, Raja memperoleh anak yang diberi nama Mundinglaya. Beda umur antara pangeran Guru Gantangan dan pangeran Mundinglaya sangat jauh. Saat pangeran Guru Gantangan ditunjuk jadi bupati di Kutabarang dan sudah menikah, Mundinglaya masih anak-anak.

Karena tidak mempunyai anak, pangeran Guru Gantangan memungut anak dan diberi nama Sunten Jaya. Guru Gantangan juga tertarik untuk merawat Mundinglaya sebagai anaknya. Saat pangeran Guru Gantangan meminta Mundinglaya dari permaisuri Nyimas Padmawati, permaisuri memberikannya karena mengetahui bahwa pangeran Guru Gantangan sangat menyayangi pangeran Mundinglaya.

Saat pangeran Mundinglaya dewasa, pangeran Guru Gantangan lebih menyayangi pangeran Mundinglaya daripada pangeran Sunten Jaya. Hal ini disebabkan perbedaan karakter yang sangat jauh antara pangeran Mundinglaya dan pangeran Sunten Jaya. Pangeran Mundinglaya selain rupawan juga baik budi pekertinya sedangkan keponakannya sifatnya angkuh dan manja. Hal ini sangat membuat iri pangeran Sunten Jaya. Terlebih lagi ibunya juga sangat menyayangi pangeran Mundinglaya.

Hanya saja perhatian istri pangeran Guru Gantangan kepada pangeran Mundinglaya sangat berlebihan sehingga membuat pangeran Guru Gantangan cemburu. Akhirnya pangeran Mundinglaya dijebloskan kedalam penjara oleh saudara tirinya itu dengan alasan bahwa pangeran Mundinglaya mengganggu kehormatan wanita. Keputusan ini menjadikan masyarakat dan bangsawan Pajajaran terpecah dua, ada yang menyetujui dan ada yang menentang keputusan tersebut sehingga mengancam ketentraman kerajaan ke arah permusuhan antar saudara.

Pada saat yang gawat ini, terjadi sesuatu yang aneh. Pada suatu malam, permaisuri Nyimas Padmawati bermimpi aneh. Dalam tidurnya, permaisuri melihat tujuh guriang, yaitu mahluk yang tinggal di puncak gunung. Di antara mereka ada yang membawa jimat yang disebut Layang Salaka Domas. Permaisuri mendengar perkataan guriang yang membawa jimat tersebut: “Pajajaran akan tenteram hanya jika seorang kesatria dapat mengambilnya dari Jabaning Langit.”

Segera setelah bangun pada pagi harinya, permaisuri menceritakan mimpi itu kepada raja. Prabu Silihwangi sangat tertarik oleh mimpi permaisuri dan segera meminta seluruh rakyat juga bangsawan, termasuk pangeran Guru Gantangan dan pangeran Sunten Jaya, untuk berkumpul di depan halaman istana untuk membahas mimpinya permaisuri. Setelah seluruhnya berkumpul, raja berkata: “Adakah seorang kesatria yang berani pergi ke Jabaning Langit untuk mengambil jimat Layang Salaka Domas?”

Senyap... Tidak ada suara yang terdengar. Pangeran Sunten Jaya pun tidak mengeluarkan suaranya. Dia takut akan barhadapan dengan Jonggrang Kalapitung, seorang raksasa berbahaya yang selalu menghalangi jalan ke puncak gunung. Setelah beberapa saat, patih Lengser angkat bicara: “Paduka,” dia berkata, “setiap orang telah mendengarkan apa yang disampaikan paduka, kecuali masih ada satu orang yang belum mendengarkannya. Dia berada dalam penjara. Paduka belum menanyainya. Dia adalah pangeran Mundinglaya.” Mendengar ini, Raja memerintahkan agar pangeran Mundinglaya dibawa menghadap. Patih Lengser kemudian meminta izin pangeran guru Gantangan untuk melepaskan pangeran Mundinglaya.

Saat pangeran Mundinglaya sudah berada di hadapannya, Raja berkata: “Mundinglaya, maukah ananda mengambil jimat Layang Salaka Domas, yang diperlukan untuk mencegah negara dari kehancuran akibat malapetaka?” Karena Layang Salaka Domas penting bagi keselamatan negara, ananda akan pergi mencarinya, ayah,” kata pangeran Mundinglaya.

Prabu Silihwangi sangat senang mendengar jawaban ini. Demikian juga masyarakat dan para bangsawan. Bagi pangeran Mundinglaya, tugas ini juga berarti kebebasan jika dia berhasil mendapatkan Layang Salaka Domas. Sementara bagi pangeran Sunten Jaya ini berarti menyingkirkan musuhnya, karena dia yakin bahwa pamannya akan dibunuh oleh Jonggrang Kalapitung. “Kakek,” kata pangeran Sunten Jaya, “dia adalah seorang tahanan, jika kakek membiarkannya pergi sekarang, tidak akan ada jaminan bahwa dia akan kembali.”

“Apa yang cucunda usulkan, Sunten Jaya?”

“Jika dia tidak kembali setelah sebulan, penjarakan kanjeng Ibu Padmawati dalam istana.” Masyarakat dan bangsawan kaget mendengar permintaan ini. Prabu Silihwangi berbalik kepada pangeran Mundinglaya: “Bagaimana menurutmu?”

”Ananda akan kembali dalam sebulan dan setuju dengan usulan Sunten Jaya.”

Dalam beberap minggu, pangeran Mundinglaya diajari oleh patih Lengser ilmu perang dan cara menggunakan berbagai senjata sebagai bersiapan untuk menghadapi rintangan yang akan ditemui selama perjalanan ke Jabaning Langit. Kemudian pangeran Mundinglaya meninggalkan Pajajaran. Karena dia tidak pernah keluar dari ibu kota tersebut, pangeran Mundinglaya tidak mengetahui jalan ke Jabaning Langit. Dengan berserah diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa, sang pangeran pergi melewati berbagai hutan lebat untuk menemukan Jabaning Langit dan bertemu dengan para guriang.

Dalam perjalanan, pangeran Mundinglaya melewati kerajaan kecil Muara Beres (atau Tanjung Barat) yang merupakan bawahan dari Pajajaran. Disana pangeran Mundinglaya bertemu dan jatuh hati dengan putri kerajaan yang bernama Dewi Kania atau Dewi Kinawati. Mereka saling berjanji akan bertemu lagi setelah pangeran Mundinglaya berhasil menjalankan tugas dari Prabu silihwangi untuk memperoleh jimat Layang Salaka Domas.

Pangeran Mundinglaya meneruskan perjalanannya. Tiba-tiba di tengah perjalanan dia dicegat oleh raksasa Janggrang Kalapitung yang berdiri di depannya. “Mengapa kamu memasuki wilayahku? Apakah kamu menyerahkan diri sebagai santapanku?”

“Coba saja kalau bisa!” jawab pangeran Mundinglaya dengan tenang. Jonggrang Kalapitung menubruknya tetapi pangeran Mundinglaya berkelit.

Berkali-kali si raksasa menyerang pangeran Mundinlaya, tetapi lagi dan lagi jatuh ke tanah sampai akhirnya kehabisan napas. Dengan kerisnya, pangeran Mundinglaya mengancam musuhnya:

“Katakan dimana Jabaning Langit?”

“Di dalam dirimu.” Berpikiran bahwa si raksasa berbohong, pangeran Mundinglaya menekankan keris lebih dalam ke leher si raksasa. “Jangan berbohong! Di manakah Jabaning Langit?”

“Di dalam hatimu.” Setelah itu, pangeran Mundinglaya melepaskan raksasa tersebut, sambil berkata: “Aku membebaskanmu, tetapi jangan ganggu rakyat Pajajaran lagi.” Jonggrang Kalapitung menuruti dan berterima kasih kepada pangeran Mundinglaya dan meninggalkan Pajajaran selamanya.

Ketika dia pergi, pangeran Mundinglaya menemukan suatu tempat untuk beristirahat dan berdoa meminta tolong kepada tuhan yang Maha Esa untuk diberikan jalan. Suatu hari dia merasakan seolah-olah terangkat dari tempatnya dan terbang ke suatu tempat yang sangat terang. Di sana dia diterima oleh tujuh guriang, mahluk-mahluk supranatural yang menjaga Layang Salaka Domas.

Mereka bertanya kepada pangeran Mundinglaya mengapa berani datang ke Jabaning Langit. “Tujuanku datang ke sini adalah untuk mengambil Layang Salaka Domas yang diperlukan oleh negaraku sebagai obat untuk mencegah permusuhan antar saudara. Akan banyak orang menderita dan mati memperebutkan yang tidak jelas.” “Kami menghargaimu, pangeran Mundinglaya, tetapi kami tidak dapat memberimu Layang Salaka Domas karena ini bukan untuk manusia. Bagaimana kalau pemberian lain sebagai hadiah untukmu? Misalnya seorang putri cantik atau kesejahteraan, atau kami dapat menjadikanmu manusia tersuci di dunia?”

“Aku tidak memerlukan semua itu, jika rakyat Pajajaran terlibat dalam perang.”

“Kalau begitu, kamu harus merebutnya setelah mengalahkan kami.” Maka terjadilah perkelahian. Karena para guriang sangat kuat, pangeran Mundinglaya terjatuh dan meninggal. Segera setelah itu, muncul mahluk supranatural lainnya, yaitu Nyi Pohaci yang menampakkan diri dan menghidupkan kembali pangeran Mundinglaya. Pangeran Munding Laya bersiap kembali untuk bertempur dengan para guriang.

“Tidak perlu ada lagi pertempuran, karena engkau telah menunjukkan sifatmu yang sebenarnya,” kata salah satu dari tujuh guriang, “Jujur, tidak tamak. Engkau mempunyai hak untuk membawa Layang Salaka Domas.” Dan dia kemudian memberikannya kepada pangeran Mundinglaya. Pangeran Mundinglaya sangat bergembira dan mengucapkan terima kasih. Dia juga berterima kasih kepada Nyi Pohaci atas bantuannya. Dengan dipandu oleh tujuh guriang yang kemudian menyebut diri mereka sebagai Gumarang Tunggal, pangeran Mundinglaya pergi pulang ke Pajajaran.

Di Pajajaran, pangeran Sunten Jaya mengganggu ketentraman permaisuri. Kepada Prabu Silihwangi, pangeran Sunten Jaya mengatakan bahwa permaisuri sebenarnya tidak bermimpi, bahwa dia berdusta untuk membebaskan putranya dari penjara. Dengan demikian, dia membujuk Prabu Silihwangi untuk menghukum mati permaisuri.

Pangeran Sunten Jaya bahkan lebih jauh berniat untuk mengganggu ketentraman Dewi Kinawati di Muara Beres dengan menceritakan bahwa pangeran Mundinglaya telah dibunuh oleh Jonggrang Kalapitung. Tentara digelar untuk mendatangi kerajaan itu. Pada saat yang gawat tersebut, pangeran Mundinglaya beserta ajudannya telah sampai ke Pajajaran. Mereka senang dan berteriak kegirangan. Pangeran Sunten Jaya dan pengikutnya diusir.

Setelah itu. Prabu Silihwangi menobatkan pangeran Mundinglaya sebagai Raja Pajajaran menggantikannya dengan gelar Mundinglaya Dikusumah.

Tidak lama setelah itu, Mundinglaya Dikusumah menikahi Dewi Kinawati dan menjadikannya sebagai permaisuri dan Pajajaran menjadi negara yang adil makmur dan aman.

PUTRI PANDAN BERDURI

Zaman dulu di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, hiduplah orang orang Suku Laut yang dipimpin oleh Batin Lagoi. Pemimpin Suku Laut ini merupakan seorang yang santun dan memimpin dengan adil. Tutur katanya yang lemah lembut terhadap siapa saja membuat masyarakat Suku Laut sangat mencintai pemimpin mereka itu.

Guna mengetahui keadaan rakyatnya, Batin Lagoi senantiasa berkeliling. Pada suatu hari, Batin Lagoi berjalan menyusuri pantai yang disekitarnya penuh ditumbuhi semak pandan. Sayup-sayup telinga Batin Lagoi menangkap suara tangisan bayi.

“Anak siapa itu yang menangis di tempat seperti ini?” pikirnya heran sambil memandang sekeliling. 

Karena ia tak melihat seorangpun, Batin Lagoi meneruskan langkahnya. Baru beberapa langkah, Batin Lagoi kembali mendengar suara tangisan bayi yang kini semakin jelas. Batin Lagoi kembali memandang sekeliling, namun ia tak jua melihat seorangpun disana. Karena penasaran, Batin Lagoi mengikuti asal suara tangisan yang membawanya ke semak semak pandan. 

Batin Lagoi menginjak semak semak itu dengan hati-hati. Suara tangisan bayi terdengar semakin keras. Batin Lagoi tercengang melihat seorang bayi perempuan yang diletakkan di atas dedaunan yang kini berada di depannya.

Rasa heran kembali menyergap Batin Lagoi. "Siapa gerangan yang meletakkan bayinya disini?" gumamnya pelan. 

Batin Lagoi terdiam sejenak. Setelah memastikan tak ada orang di sekitar situ, Batin Lagoi memutuskan untuk membawa pulang bayi perempuan yang cantik itu. Sang bayi pun berhenti menangis ketika Batin Lagoi menggendongnya.

Batin Lagoi merawat bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang bak anaknya sendiri. Terkadang ia merasa bayi itu memang diberikan Tuhan untuknya. Bayi perempuan yang diberinya nama Putri Pandan Berduri itu sungguh membawa kebahagiaan bagi Batin Lagoi yang selama ini hidup sendiri.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Putri Pandan Berduri telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Bukan hanya parasnya yang menawan, Putri Pandan Berduri juga memiliki sikap yang sangat anggun dan santun layaknya seorang putri. Tutur katanya yang lembut membuat masyarakat Suku Laut mencintainya.

Banyak pemuda yang terpikat akan kecantikan Putri Pandan Berduri. Meski demikian tak seorangpun berani meminangnya. Batin Lagoi memang berharap agar putrinya itu berjodoh dengan anak seorang Raja atau pemimpin suatu daerah.

Tersebutlah seorang pemimpin di Pulau Galang yang memiliki dua orang putera bernama Julela dan Jenang Perkasa. Sedari kecil kakak beradik itu hidup rukun. Kerukunan itu sirna ketika sang Ayah mengatakan bahwa sebagai anak tertua, Julela akan menggantikan dirinya sebagai pemimpin di Pulau Galang kelak. Sejak itu, Julela berubah perangai menjadi angkuh. Ia bahkan mengancam Jenang Perkasa agar selalu mengikuti setiap perkataannya sebagai calon pemimpin.

Jenang Perkasa sungguh kecewa akan sikap kakaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Pulau Galang. Berhari-hari ia berlayar tanpa mengetahui arah tujuan hingga tiba di Pulau Bintan. Jenang Perkasa tak pernah mengaku sebagai anak pemimpin Pulau Galang. Sehari-hari ia bekerja sebagai pedagang seperti orang kebanyakan.

Sebagai seorang pendatang, Jenang Perkasa cepat menyesuaikan diri. Sikapnya yang sopan dan gaya bahasanya yang halus membuat kagum setiap orang. Mereka tak habis pikir bagaimana seorang pemuda biasa memiliki sifat seperti itu. Akibatnya Jenang Perkasa menjadi bahan pembicaraan di seluruh pulau.

Cerita tentang Jenang Perkasa sampai juga di telinga Batin Lagoi. Ia sangat penasaran untuk mengenal pemuda itu secara langsung. Agar tak mencolok, Batin Lagoi menyelenggarakan acara makan malam dengan mengundang seluruh tokoh terkemuka di Pulau Bintan. Ia juga mengundang Jenang Perkasa dalam acara itu.

Jenang Perkasa yang sebenarnya heran mengapa dirinya diundang Batin Lagoi, datang memenuhi undangan. Sejak kedatangannya, Batin Lagoi senantiasa memperhatikan gerak gerik Jenang Perkasa. Caranya bersikap, berbicara, bahkan sampai caranya bersantap diamati Batin Lagoi diam diam. Tak dapat dimungkiri, Batin Lagoi sangat terkesan terhadap Jenang Perkasa. Terbersit dihatinya untuk menjodohkan Jenang Perkasa dengan Putri Pandan Berduri. Batin Lagoi sepertinya lupa akan keinginannya untuk menikahkan putrinya dengan seorang pangeran atau calon pemimpin.

Tak mau membuang kesempatan, Batin Lagoi segera menghampiri Jenang Perkasa.

"Wahai anak muda, sudah lama aku mendengar kehalusan budi pekertimu..," katanya membuka percakapan. 

Jenang Perkasa hanya tersenyum sopan mendengar kata-kata pemimpin Pulau Bintan itu.

“Malam ini aku telah membuktikkannya sendiri," lanjut Batin Lagoi sambil menatap Jenang Perkasa yang menunduk malu mendengar pujian Batin Lagoi.

“Aku pikir, alangkah senangnya hatiku jika kau bersedia kunikahkan dengan putriku."

Jenang Perkasa sungguh terkejut mendengar tawaran Batin Lagoi. Ia mengusap usap lengannya untuk memastikan dirinya tak sedang bermimpi. Ia sama sekali tak menyangka Ayah seorang perempuan cantik bernama Putri Pandan Berduri meminta kesediaan dirinya untuk dijadikan menantu. Jenang Perkasa tentu saja tak mau membuang kesempatan emas itu. Ia segera mengangguk setuju sambil tersenyum memandang Batin Lagoi.

Beberapa hari kemudian Batin Lagoi menikahkan Putri Pandan Berduri dengan Jenang Perkasa. Pesta besar digelar untuk merayakan pernikahan putri semata wayangnya itu. Seluruh warga Pulau Bintan diundang untuk hadir. Para undangan merasa senang melihat Putri Pandan Berduri bersanding dengan Jenang Perkasa yang terlihat sangat serasi.

Putri Pandan Berduri hidup bahagia dengan Jenang Perkasa. Apalagi tak lama kemudian, Batin Lagoi yang merasa sudah tua mengangkat menantunya itu untuk menggantikan dirinya menjadi pemimpin di Pulau Bintan. Jenang Perkasa yang memang anak seorang pemimpin itu rupanya mewarisi bakat kepemimpinan Ayahnya. Ia mampu menjadi pemimpin yang disegani sekaligus dicintai rakyatnya. Ia juga menolak untuk kembali ketika warga Pulau Galang yang mendengar cerita tentang dirinya memintanya untuk menggantikan kakaknya.

Pernikahan Putri Pandan Berduri dengan Jenang Perkasa dikaruniai tiga orang anak yang diberi nama dengan adat kesukuan. Batin Mantang menjadi kepala suku di utara Pulau Bintan, Batin Mapoi menjadi kepala suku di barat Pulau Bintan, dan Kelong menjadi kepala suku di timur Pulau Bintan. Adapun adat suku asal mereka yaitu Suku Laut tetap menjadi pedoman bagi mereka. Hingga kini Putri Pandan Berduri dan Jenang Perkasa yang telah lama tiada masih tetap dikenang oleh Suku Laut di perairan Pulau Bintan.

PUTRI TANGGUK

Dahulu kala, ada sebuah negeri yang bernama Negeri Bunga yang berada di kecamatan Danau Kerinci. Di sana hiduplah seorang perempuan bernama Putri Tangguk dan suami beserta ketujuh anaknya. Putri Tangguk dan suaminya bekerja sebagai petani. Setiap hari, Putri Tangguk dan suaminya bekerja membajak sawah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. 

Mereka bekerja sampai lupa untuk mengurusi anak-anaknya dan juga berhubungan dengan keluarga mereka. Putri Tangguk menyadari bahwa ia pun harus mengurusi anak-anaknya serta keluarganya. Putri Tangguk mengatakan kepada suaminya bahwa mereka harus bekerja sampai gudang persediaan padi mereka penuh sehingga mereka tidak perlu bekerja selama persediaan masih cukup.

Ia mengatakan kepada suaminya demikian dan suaminya pun menyetujui. Mereka pun mulai bekerja untuk memenuhi gudang persediaan padi mereka. Suatu hari Putri Tangguk sedang berjalan ke sawah bersama dengan suami beserta ketujuh anaknya. Jalan sedang licin karena hujan yang turun. Putri Tangguk pun terpeleset.

Ia marah dan memaki jalanan tersebut. Sepulang dari sawah, Putri Tangguk menabur padi di jalanan tersebut agar jalanan tersebut tidak licin. Setelah hari itu, gudang persediaan penuh oleh padi dan Putri tangguk juga suaminya tidak perlu bekerja karena persedian padi yang cukup. 

Ia pun bekerja menenun kain untuk mengisi waktu kosongnya sambil mengurusi anak-anak dan keluarganya. Namun, hari seperti ini itu tidak berlangsung lama.  Suatu hari, ketujuh anak Putri Tangguk merengek karena kelaparan. Putri Tangguk kemudian pergi untuk memeriksa persediaan padi yang ada di gudang. Ia terkejut dan panik saat mengetahui bahwa persediaan padi sudah tidak ada di gudang. Ia tidak habis pikir karena seharusnya persediaan padi tersebut cukup untuk waktu yang lama. Sepulangnya dari gudang, ia melintasi jalan di mana ia membuang padi agar jalan tersebut tidak licin. Ia ingat bahwa ia seharusnya tidak melakukan itu.

Saat malam hari tiba, Putri Tangguk bermimpi ia berjumpa dengan seseorang laki-laki tua. Laki-laki itu mengatakan bahwa Putri Tangguk beserta keluarganya akan hidup sengsara karena ia telah membuang padi di jalan.  Putri Tangguk terbangun dari mimpinya lalu menangis. Ia menyesali perbuatannya.

CHUNHYANG JEON

Chunhyang adalah gisaeng, penghibur dari kalangan rakyat biasa yang terkenal karena kecantikannya. Yi Mong-ryong, putra gubernur kota Namwon, provinsi Jeolla, jatuh cinta dengan Chunhyang. Mereka saling menyukai walaupun mengetahui bahwa hubungan beda status sosial seperti itu tidak akan mendapat restu.

Suatu hari Mong-ryong pergi ke Hanyang untuk mengikuti ujian kenegaraan. Ia berjanji akan segera pulang setelah ujian.

Sementara itu di Namwon, seorang gubernur baru bernama Byeon Hak-do. Byeon terpikat dengan Chunhyang dan memanggilnya untuk memberikan hiburan. Namun, ia menolak permintaan tersebut. Akibatnya ia dimasukkan ke penjara dan akan dieksekusi pada hari ulang tahun gubernur.

Yi Mong-ryong menemui Chunhyang di penjara dan menangis karena keadaan mereka yang begitu menyedihkan. Lalu, tiba saatnya pesta ulang tahun diselenggarakan dan Chunhyang akan dieksekusi. Namun seseorang menculiknya, yang tak lain adalah Yi Mong-ryong yang menyamar jadi agen rahasia. Mong-ryong menyelamatkan Chunhyang dan akhirnya keduanya hidup bahagia.

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...