Pages

Saturday, November 16, 2019

PUCUK HARAPAN

Siang hari langit teduh dan tampak kebiruan. Matahari bersinar terang tanpa segumpal awan pun yang menghalangi rerimbunan rumpun pohon bambu. Sejuk angin yang berhembus dari celah rerimbunan pepohonan yang mengelilingi desa menambah kesejukan siang itu, serta menambah keasrian suasana alam desa. Itulah desa Penglipuran. Tempat aku dilahirkan, dibesarkan bahkan yang telah memberiku nafkah untuk penyambung hidup.

Suara rumput terbelah oleh langkah kakiku. Dengan telaten sepasang tanganku memetik pucuk-pucuk Cemcem di perkebunan tak terawat yang tak jarang akan ada ular yang tersembunyi. Aku tak pernah peduli dengan hal itu. Dengan sigapnya tangan mungil ini mengumpulkan daun-daun Cemcem.

Kudengar suara kresekkresok dari semak, yang membuatku mengehentikan sejenak kegiatanku. Beberapa detik aku terdiam, mengamati area sekitar. Detik selanjutnya, dengan gerakan secepat mungkin kumasukkan daun Cemcem ke karung besar. Kukayuh sepeda tuaku keluar dari tempat ini.

Daun cemcem adalah daun yang dapat diolah menjadi loloh segar yang bermanfaat bagi kesehatan yang juga merupakan sebagai sumber mata pencaharian masyarakat Desa Penglipuran. Aku dan ibu tinggal di sebuah gubuk kecil yang sudah tak layak ditempati. Ibuku seorang pembuat loloh, dari hasil berjualan loloh cemcemlah aku dan ibu bisa memenuhi kebutuhan hidup. Dalam urusan sekolah aku hanya bisa mengandalkan beasiswa dari sekolah. Terkadang aku iba melihat ibu harus membanting tulang memberiku uang jajan.

Minggu pagi ini sangat cerah. Matahari dengan ramah menampakkan wajahnya untuk mengusir udara dingin. Aku telah siap membantu ibu untuk berjulan loloh cemcem. Kubawa 50 botol loloh cemcem menuju pasar Kidul. Kukayuh sepedaku dari rumah sampai pasar Kidul, yang jaraknya agak jauh di pusat Kota Bangli.

Braakkkkkkk…

Aku terjatuh dari sepeda yang penuh dengan loloh cemem. Sebuah mobil mewah tak sengaja menyenggolku yang tepat berhenti mendadak di sampingku. Kudengar si pengendara keluar dan melihatku yang jatuh telah tergeletak ini.

“Luh Sekar? Jadi kamu pedagang loloh cemcem itu?”

Sambil menahan rasa sakit dan perih, kucoba menebak pemilik suara itu.

Dengan bertopang telapak tangan kiri, kudapati Kadek Ayu berdiri acuh di depanku. Seorang Seorang gadis sombong yang akan menindas siapa saja anak miskin yang dikenalnya. Kadek Ayu seorang anak pejabat, apa yang belum dimiliki bisa ia minta pada orangtuanya dan kemudian dipamerkan di sekolah.

“Maaf ya aku nyerempet kamu. Aku nggak sengaja,” ujarnya singkat.

Sembari meninggalkanku tanpa menghiraukan botol lolohku yang sebagaian masih berserakan. Rasa perih pada siku dan lutut kutahan. Kucoba berdiri tak kuhiraukan luka ini. Dengan cepat kurapikan kembali botol loloh cemcem yang jatuh berhamburan. Kembali kukayuh sepeda ini menuju pasar Kidul Bangli. Dengan semangat 45 kujajakan loloh cemcemku. Beberapa botol loloh sudah laku terjual, rasa sakit dan perih pun kini tak terasa.

Hari semakin siang, suasana pasar sudah tak seramai tadi. Aku pun memutuskan pulang dan menitipkan sisa loloh cemcem ini di warung Jero Balian.

Setibanya aku di rumah, kuserahkan uang hasi berjualan pada ibu, tak lupa kusampaikan sisa beberapa botol loloh kutitip di warung Jero Balian.

“Luh ada apa dengan siku dan lututmu?” tanya ibu melihat bekas cucuran darahku.

“Tadi tak sengaja Kadek Ayu telah menyenggolku,” jawabku singkat.

Tak ingin memanjakan luka ini, aku pun mulai beraktivitas seperti biasa. Seperti makan siang dengan setengah piring nasi dan sejumput garam dan membantu ibu memetik daun Cemcem di tegal di belakang rumah.

Keesokan harinya, aku tidak siap mental mendengar perkataan Kadek Ayu yang sudah pasti membuatku malu. Dengan rasa malas, aku bangkit dan membantu ibu, setelah itu sudah pasti aku bersiap berangkat sekolah. Aku pun berpamitan dan berdoa di pelinggih yang ada di pekarangan rumah. Kukeluarkan sepedaku dan mengayuhnya dengan semangat pagi.

Setibanya di sekolah kuparkir sepeda. Dengan pelan kulangkahkan kaki menuju ruang kelas. Semua tatapan aneh terarah padaku.

“Apa yang sedang terjadi?” batin ini bertanya-tanya.

Tanpa mempedulikan pandangan itu, kulanjutkan berjalan menuju ruang kelas yang jauh berada di dalam gedung sekolah.

“Hai gadis pedagang loloh,” sapa seseorang di sambut gelak tawa orang-orang di sekitar.

Wajahku bersemu merah, dengan cepat kaki ini melangkah menuju tempat duduk di pojok paling depan.

Kesabaran kulatih sebelum guru IPA datang untuk menghentikan suara gaduh yang membuat telingaku panas. Dan, hal itu berlangsung cukup lama menjelang bel masuk yang akan berbunyi lima belas menit lagi.

“Kepada anak kami Luh Sekar Prabawati, diharapkan menemui bu Sang Ayu Tirta sekarang,” Suara yang terdengar satu sekolah itu mengagetkanku. Dengan langkah ragu-ragu aku beranjak ke luar dengan tujuan menemui bu Sang Ayu Tirta.

“Pasti tagihan uang koperasi,” ledek Kadek Ayu kembali mengundang gemuruh tawa seisi kelas. Aku berusaha keras menahan tangan yang sudah terkepal untuk tidak langsung menghajar Kadek Ayu yang masih saja mengeluarkan kata-kata menghina.

“Tidak sepantasnya kamu menghina Luh Sekar seperti ini. Dia memang seorang gadis pedagang loloh. Asal kamu tau, loloh cemcem itu sangat bermanfaat dan berkhasiat. Apa kamu tau ayah dan ibumu sering menikmati loloh cemcem buatan Luh Sekar?” cetus Komang Yuni membuat suasana hening seketika.

Kulihat Kadek Ayu terdiam.

“Benar yang dikatakan Mang Yuni. Sekarang aku tak bisa terus berpihak padamu lagi Dek Yu. Aku tau dia seorang pedagang loloh cemcem. Apa salah dia bekerja seperti itu? Pernahkah kau merasakan betapa enak dan segarnya loloh cemcem itu? Pernah?” hardik Gede Jaya.

Suasana hening. Tak kuhiraukan yang terjadi. Segera kutemui bu Sang Ayu Tirta ke ruangannya. Percakapan serius dimulai dalam ruangan tertutup. Sudah kuduga tagihan uang koperasi. Aku pun meyakinkan minggu depan akan kulunasi.

Lima belas menit habis digunakan untuk perbincangan itu. Tepat saat kakiku memasuki ruang kelas, tepat bel masuk berbunyi. Semua bungkam, hening, karena itulah peraturan yang ada.

Aku tiba di rumah dengan wajah agak semrawut.

“Om Swastyastu” ucapku.

“Mengapa wajahmu semrawut begitu nak?”

“Ibu, I Luh belum membayar uang tagihan dari sekolah,”

Ibu terdiam setelah mendengar perkataanku.

Sore hari, kulihat sebuah mobil terparkir di depan rumah. Seorang lelaki paruh baya keluar dari mobilnya.

“Om Swastyastu” ucap bapak itu dari angkul-angkul rumah.

“Om Swastyastu pak. Ada perlu apa pak?” jawabku menghampiri bapak itu.

“Saya dengar disinilah rumah pengrajin loloh Cemcem yang paling enak. Apa benar?” tanya bapak itu.

“Iya Pak. Silahkan duduk Pak, akan saya panggil ibu saya,” aku langsung melangkahkan kaki mencari ibu.

“Ada apa yah Pak?” tanya ibu.

“Banyak teman-teman saya di kantor mengatakan bahwa loloh Cemcem buatan ibu yang paling enak dan segar. Saya ingin memesan loloh Cemcem ibu sebagai minuman di acara metatah anak saya yang diselenggarakan dua hari lagi,” jelas bapak itu.

“Terima kasih Pak. Atas pesanannya. Saya akan buatkan loloh Cemcemnya,” jawab ibu.

Minggu tiba, aku dan ibunya sudah tiba di sebuah rumah besar. Para tamu sudah berdatangan. Dengan susah payah kubantu ibu menurunkan botol loloh dan menatanya di meja yang sudah disediakan.

Samar-samar terdengar suara pertengkaran. Aku mengenal jelas suara itu.

“Pak Made sudah bilang, Made maunya minumannya itu kan jus atau minuman sirup, bukannya loloh Cemcem seperti itu,”

Aku tersentak kaget dan ingin membuang muka.

“Luh, ayo,” suara ibu mengagetkan.

Acara berlangsung dengan meriahnya. Peminat minuman segar loloh Cemcem ibu ternyata tak sedikit. Siapa sangka, minuman murah yang biasa dijual di pinggir jalan dengan harga lima ribu rupiah ini memiliki banyak peminat.

“Luh Sekar,” panggil seseorang saat ia tengah sibuk merapikan botol-botol Loloh Cemcem

“Loloh Cemcem ini, kamu yang buat?” lanjut Kadek Ayu lagi. Aku hanya mengangguk tanpa menoleh ke lawan bicara. Dalam hati kecil ini aku sudah siap menerima cemoohan darinya.

“Terima kasih, ya. Katanya loloh Cemcem kamu enak. Banyak yang suka. Maafkan aku telah menghina profesimu. Aku tak mengira lolohmu ini sangat enak dan segar,” pujinya. Kuangkat wajahku, tak percaya Kadek Ayu bisa berkata seperti itu. Bibirku tersenyum sekilas.

“Mmmm… Maaf kalau selama ini aku meledekmu,” lanjut Kadek Ayu sambil mengulurkan tangannya. Aku terdiam sejenak, ragu ingin membalas uluran tangan Kadek Ayu.

Sekali lagi Kadek Ayu menyodorkan tangannya, melihat wajahnya yang bersahabat, aku mencoba meyakinkan diri kalau Kadek Ayu bersungguh-sungguh meminta maaf padaku. Dengan sedikit keraguan aku pun menjabat tangan Kadek Ayu dan kami berdua sama-sama tersenyum. Sebagai manusia yang berjiwa besar sudah sepantasnya ia meminta maaf.

“Oh ya…! Luh, boleh aku cicipi? Sebotol saja,” tanya Kadek Ayu.

“Ahhhh? Bolehlah,” jawabku sambil menyodorkan sebotol loloh cemcem.

“Kamu juga, temani aku menikmati loloh ini dan jajanan khas Bali ini, seperti klepon ubi, lempog, dan bantal,” ajak Kadek Ayu.

Harapanku dengan pucuk daun cemcem semoga hubungan pertemananku yang selama ini tak penah akur akan terajut harmonis.

Catatan

Loloh: minuman khas Bali sama dengan jamu


Karya : Corie Agung Patricia

PERMAINAN TERMASUK BUDAYA LHO (PART 2)

Kami bermain hingga arlojiku menunjukkan pukul 11 siang. Ingin saja kami ingin berjalan untuk pulang, tiba-tiba kami mendengar bunyi irama yang amat cepat. Aku tak mengerti dari mana bunyi itu dihasilkan. Tapi, ketika aku menoleh dan melihatnya ternyata ada beberapa bapak-bapak yang sedang memainkan barongan.

Barongan. Kupikir tak ada lagi orang yang mau memainkan benda itu. Tapi, bapak-bapak ini, mereka memainkannya. Mereka melakukannya di pojok lapangan yang tadi kami pakai untuk bermain. Aku sedikit penasaran.

Aku menarik tangan Alvin dan berlari menuju kerumunan bapak-bapak tadi.

“Vira, ngapain sih ke sana segala?” ucap Alvin dengan sesekali mencoba untuk melepaskan dirinya.

“Aku kan penasaran.”

Kami pun sampai di kerumunan tersebut. Seketika bapak-bapak tadi melihati kami berdua. Wajahnya terlihat ramah.

“Kalian sedang apa di sini nak?” tanya salah seorangnya.

“Saya penasaran dengan bapak, kalau tidak salah ini barongan ya?” ucapku.

“Begitulah, kami ingin latihan untuk besok.” Jawab bapak tadi ramah.

“Apa bapak selalu bermain ini, maksudku tidak pernah bosan?”

“Tidak, kami sebagai bangsa Indonesia harus tetap melestarikan kebudayaan kita. Kalian sebagai anak muda juga harus melestarikan budaya.”

“kalian bisa melestarikannya tidak harus dengan melakukan latihan khusus. Kalian bermain seperti petak umpet saja sudah termasuk melestarikan budaya.”

Aku agak tertegun dengan apa yang barusan bapak tadi ucapkan. Apa benar yang beliau katakan tadi?. Hanya dengan bermain seperti itu sudah termasuk melestarikan budaya?.

“Kenapa bisa pak?” tanya Alvin.

Kupikir tadi Alvin hanya bengong tak mendengarkan apa kami bicarakan. Oh, ternyata ia mendengarkan dan malah mengajukan pertanyaan yang hampir saja ingin aku tanyakan. Keren deh.

“Kamu tahu kan, kalau permainan seperti petak umpet sendiri itu adalah permainan asli dari Indonesia?. Permainan itu adalah pengaruh dari agama Hindu-Buddha pada masa nenek moyang kita. Jadi bukankah wajib kalau kita harus melestarikannya?”

Aku mengangguk tanda jelas. Sepertinya Alvin pun juga sama mengertinya. Jadi, memang benar yang dikatakan mama waktu itu. Kami tidak boleh melupakan permainan berharga itu. Hm, sepertinya sekarang aku sudah mengerti.

“Begitu ya pak, kalau begitu terima kasih atas informasinya. Kami pamit pulang dulu.” Ucapku dengan sopan.

Kembali kutarik tangan Alvin untuk segera pulang. Jika jam sudah menunjukkan pukul 12 aku belum ada di rumah. Bisa-bisa mama akan marah besar padaku. Dan aku masih punya tugas yang belum kukerjakan.

Aku kembali ke rumah. Menghempaskan diriku ke kasur empukku di kamarku. Memikirkan besok hari apa. Hari Rabu. Akh, mengesalkan sekali. Tugasku menumpuk di mana-mana. Tugas menggambarku pun belum selesai. Apalagi bahasa Indonesia, membuat cerpen.

Pusing kepalaku jika memikirkannya. Mengapa aku harus menerima cobaan berat seperti ini?. Bukankah tugas ini bisa diberikan pada orang lain yang lebih jago dariku?. Lagian tulisanku dan gambaranku pun belum bisa dianggap baik jika dibandingkan dengan lain. Ingin saja aku berteriak saat ini.

Namun, entah mengapa tiba-tiba kepalaku jadi pusing. Sangat pusing. Beberapa menit setelah aku merasakan pusingnya kepalaku aku tertidur. Bermimpi.

Aku berada di sebuah taman depan rumahku. Aku tengah terduduk sambil membaca buku kesukaanku juga ditemani musik indah yang dilontarkan oleh mulut penyanyi vocaloid terkenal, KAITO.

Aku tersenyum dan terus-terusan membaca tanpa memperhatikan sekitar. Tanpa kusadari ada seorang laki-laki yang sedang duduk di sampingku. Ia cukup tinggi. Walaupun kulitnya agak hitam tapi wajahnya manis.

Aku menoleh ke arahnya. Mencoba menyapanya tapi, ialah yang menyapaku duluan.

“Halo, Vira.” Ucapnya.

Sekejap aku merasa aneh. Mengapa ia bisa tahu namaku?. Bukankah kita baru pertama kali bertemu. Jika kuperhatikan dengan seksama pun aku baru pertama kali melihatnya. Tak ada secuil dirinya berada di ingatanku selama ini.

“Halo, bagaimana kau bisa tahu namaku?” tanyaku dengan nada bingung.

Kembali ia tersenyum sambil menatapku. Aku pun mulai menutup bukuku dan mem-pause musik yang saat ini kudengarkan.

“Aku ini Rizki kakakmu. Sudahlah tak usah kau perdulikan aku.” Senyum.

Kakak?. Sejak kapan?. Aku tahu ini mimpi, tapi ini benar-benar terasa kenyataan dalam mimpi. Aku tak menyangka. Apakah ini adalah kakakku yang selama ini?. Akh, sebaiknya aku tak terlalu memikirkannya.

“Kenapa bisa ada di sini?” tanyaku kembali.

“Hm, aku ingin melihat perkembanganmu selama ini. Kau tumbuh, hanya saja tak sepertiku. Haha.” Ia tertawa.

“Huh, dasar!”

“Menurutku kau tak perlu memaksakan diri untuk semua tugasmu. Lakukanlah sesuai keinginanmu. Jika kau tak ingin mundur saja, daripada membuat gurumu merasa kecewa.” kupikir sarannya cukup bermanfaat.

“Aku mengerti. Tak usah kau sarankan aku seperti itu.” Ucapku berusaha untuk tak menangis.

“Satu lagi, tinggalkan smartphone mengganggumu itu. Matamu bisa sakit dan kau tak cukup bergerak. Sesekali lupakan benda itu dan mulailah bermain secara fisik. Kau juga tahu kalau tubuhmu itu tidak kuat berlari.”

Begitulah ia terus memberiku saran. Ia terus saja tersenyum dan tak pernah pudar senyumnya itu. Aku senang jika melihatnya apalagi jika bersamanya. Andai saja selalu seperti ini.

Tanpa kusadari air mataku menetes dan terus menatapnya. Ia balik menatapku dan akhirnya ia memelukku.

Aku mulai terbangun dan duduk sejenak. Apa yang kuimpikan barusan, sangat indah. Aku tersenyum dan segera aku melihat jam di HP’ku. Wow, tak terasa sudah jam 4 sore. Kubergegas untuk mandi dan makan.

Hm, jika kuingat-ingat perkataan orang dalam mimpiku tersebut ada benarnya. Badanku lemah dan mataku akhir-akhir ini juga agak gimana. Sebaiknya kuikuti sarannya tadi.

Malam pun telah tiba dan sudah waktunya untuk diriku segera ke kamar untuk mengerjakan tugas menumpukku. Namun, hampir saja aku ingin melangkah masuk kamarku, terdengar suara ketukan pintu. Sesegera mungkin aku membukakannya. Ternyata itu adalah Dewi, adik Alvin yang masih duduk di kelas 5 SD.

“Oh Dewi, masuklah.” Ucapku padanya.

Ia mulai berjalan masuk dan duduk di kursi ruang tamu.

“Maaf mengganggumu, kakak ingin agar aku memberikan ini padamu.” Ia menyerahkan barang yang amat aku inginkan, figure KAITO terbatas!.

“Apa maksudnya?” tanyaku agak kebingungan.

“Kakak katanya sangat senang.” Jawab singkat Dewi padaku. Aku tersenyum.

Aku pun melesat menuju kamarku dan mengambil figure Miku milikku. Kuberikan benda tersebut pada Dewi.

“Aku akan menerimanya. Jadi berikan benda ini pada Alvin, bilang saja jika aku juga senang. Terima kasih.”

Sejak saat itulah. Aku mulai mengurangi bermain smartphone dan mulai mencintai budaya negeri sendiri. Dan mungkin aku juga akan mengurangi kecintaanku terhadap Jepang dan sebaiknya aku memulainya dengan menyukai budaya negara sendiri dibandingkan negara orang lain.

Yang harus kuingat adalah ‘permainan Indonesia juga termasuk budaya’. Permainan fisik yang dibuat oleh nenek moyang secara turun temurun adalah budaya kita sebagai bangsa Indonesia. Dan jika kita tak mampu melestarikan budaya seperti tari-tarian, cukup dengan melestarikan budaya permainan yang kita miliki.


Karya : Takama Widji

PERMAINAN TERMASUK BUDAYA LHO (PART 1)

Sekarang ini, aku sedang berada di taman depan rumah. Menghirup dalam-dalam udara sejuk di pagi ini. Menatap pepohonan hijau yang berada di depan mataku. Ah, sejuknya. Hanya saja, desa ini sepi. Jarang ada anak-anak yang mau bermain tanpa gadget mereka. Huh, sungguh memprihatinkan. Padahal terkadang aku pun juga begitu.

Gelap. Seperti ada yang menutup mataku. Siapakah?. Apa ada orang iseng yang ingin mengerjaiku lagi?. lagi?. benar, sebelumnya aku sudah pernah diisengi oleh seseorang. Dia adalah sahabat karibku, Alvin.

“Pagi!” ucapnya.

Duh, kali ini tebakanku tak akan salah lagi, dia adalah Alvin. Terbukti dari suaranya yang sangat khas. Ia pun mulai melepaskan tangannya dari mataku. Terang. Semuanya kembali terang. Aku mulai menoleh ke arahnya dan mendongakkan kepalaku ke arahnya. Senyum manisnya sudah terkias di mulutnya.

Dia mulai berjalan dan kini sudah duduk di sampingku. Aku pun tersenyum tipis untuk sekilas. Pandanganku mulai mengarah kembali ke pepohonan di depan dan menghirup udara sejuk pagi ini.

“Sedang apa di sini?” tanyanya. Sepertinya ia melihatku.

“Kau tak lihat?” ucapku. “Aku sedang bersantai di sini.”

“Haha. Aku tahu kok.” Jawabnya diiringi gelak tawa.

“Aku bosan di rumah terus, lagian smartphoneku terus-terusan dipakai adik main.”

Entah apa yang dipikirkannya, ia mulai tertawa sambil menatapku. Aku pun menoleh padanya. Tawanya, membuatku kesal saja.

“Kau ini, senang tak selamanya dengan smartphone, cobalah kau pikir, apa yang kau mainkan saat kecil?”

“Um, yang kumainkan dulu adalah lompat karet, aku suka bermain itu.” Ucapku dengan nada bersemangat.

Saat itu memang smartphone masih mahal. Keluarga kami belum mampu untuk membeli mainan yang seperti itu untukku. Jangankan untuk membelinya, bahkan untuk makan pun mama masih mikir dengan keras.

Segera kubuang jauh-jauh pikiran masa laluku itu. Kembali kupandangi wajah Alvin yang tengah menatapku dengan masih menyisakan sedikit senyumannya. Aku merasa bingung, untuk apa ia menanyakan hal itu. Apa ini termasuk hal yang membuatku akan senang tanpa smartphone?.

“Lalu, mengapa sekarang kau tak bermain itu, bukankah kau sangat menyukainya?” tanyanya.

Kembali kucerna pertanyaan yang barusan dilontarkan Alvin padaku. Benar juga, mengapa sekarang aku sudah tak pernah bermain permain yang lebih menyehatkan itu?.

“Mungkin karena tak seseru permainan di smartphone sekarang ini.” Jawabku dengan nada yang agak lesu.

Aku agak aneh sekarang ini. Entah mengapa kini dadaku terasa bergetar lebih kencang dari sebelumnya. Apa aku memang harus seperti ini?.

“Benarkah, mau bermain yang seperti itu lagi?” tanyanya dengan tatapan yang agak aneh. Sebelumnya, ia tak pernah menatapku seperti ini.

Apa benar ia akan melakukan hal yang barusan ia katakan tadi?. Tapi, memangnya ada anak jaman sekarang yang bisa lepas sepenuhnya dari smartphone?. Terlebih lagi sekarang smartphone sudah bisa dipegang oleh sebagian besar anak di Indonesia.

“Kalau iya?” tantangku dengan senyuman.

“Ayo main ke lapangan. Semuanya udah nunggu tuh.”

Ia berdiri dengan gagah sambil mengacungkan jarinya pada lapangan yang tepat berada di sebelah taman ini. Kalau dilihat dari senyumannya, memang ia tak akan pernah berbohong padaku. Matanya juga, menunjukkan betapa benarnya apa yang dikatakannya tadi.

Dengan sedikit tersenyum. Aku juga mulai berdiri. Menatap sahabatku dengan rasa percaya yang besar.

“Kalau begitu, kita lihat seberapa besar aku merasakan getaran kesenangan jika dibandingkan dengan bermain smarphone.” Kembali aku menantangnya.

“Aku akan bertaruh untuk figure anime kita masing-masing. Jika aku bisa membuatmu senang kau harus menyerahkan figure Miku milikmu, namun jika aku kalah kau bisa ambil figure KAITO milikku. Setuju?”

Sebenarnya, aku sedikit takut untuk melakukan hal ini. Bagaimana jika memang permainan ini bisa lebih menyenangkan dibandingkan dengan game smartphone milikku?. Apa aku harus rela menyerahkan figure Miku terbatasku untuknya?. Tapi, jika ia gagal membuatku senang, aku akan bisa mendapatkan figure KAITO nya.

“Tambahan, jika kita berdua merasa benar-benar senang, kita akan tukaran figurenya. Aku akan setuju.” Ucapku dengan sedikit pertimbangan lagi.

“Oke.”

Kami mulai berjalan menuju lapangan. Ternyata ia benar, di sana sudah banyak teman kami yang menunggu. Tak hanya teman sebaya kami, para adik kelas kami dan kakak kelas kami untuk sudah siap menunggu di sana. mereka terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok satu membuat sebuah lingkaran dan yang satunya lagi bermain ular naga panjang?. Benar tidak ya?.

“Mau main yang mana dulu?” tanya Alvin dengan sambil melirk ke arahku. Ia tersenyum.

“Um, yang itu mereka lagi ngapain?” tanyaku yang memang masih tidak mengerti.

Aku menunjuk ke arah anak-anak yang sedang membentuk sebuah lingkaran. Dan dua orang sedang berkejaran tidak jelas. Sesekali seorang dari mereka akan masuk dan keluar lingkaran itu. Hm, sepertinya kalau tidak salah ‘kucing dan tikus’ ?.

“Hm, kucing dan tikus, kupikir itu akan menguras banyak tenagamu, tapi..”

Ia melesat secepat kilat menuju kerumunan anak-anak itu. Ia berteriak tak jelas pada mereka. Senyum lebarnya begitu polos. Seakan hanya dialah yang berhak bersuara. Sangat keras. Bahkan hingga membuat telingaku sakit.

“Tunggu!” seruku pada Alvin sembari berlari mengejarnya.

Kami sampai di kerumunan anak-anak itu. Kulihat mereka, ah, teman sekelasku Ririn ternyata juga ada di sini?.

“Rin, kamu ada di sini juga?” tanyaku sambil menghampirinya.

“Begitulah.” Mengangguk sambil tersenyum.

“Lho, Vira, tumben kamu ke sini, biasanya ngurung diri di dalam kamar terus tuh.” Ucap Dika dengan nada mengejek.

“Terserah dong!” sentakku.

Alvin menghampiriku. Lalu memegang pundakku sambil tersenyum. Aku tak mengerti mengapa ia melakukan itu namun, entah mengapa tiba-tiba senyumannya malah terlihat seperti orang aneh.

“Kau jadi, ayo kejar aku!” seru Alvin sambil tertawa lepas.

Ia segera berlari bagaikan udara yang terdesak oleh angin. Segera meninggalkanku berdiri di sini. Astaga, apa yang ia pikirkan?.

“Hei, kenapa kau tiba-tiba memutuskannya seenaknya!!” teriakku sekencang-kencangnya.

Walaupun aku merasa kesal tapi ada setitik rasa senang karena tingkah laku bocah laki aneh tadi. Aku mulai berlari mengejarnya. Sekencang-kencangnya diriku. Harus kutangkap bocah itu. Setidaknya agar aku bisa mendapatkan figure KAITO miliknya itu.

Hup!. Hampir saja aku menangkapnya. Tapi, lagi-lagi ia sudah berada di lingkaran itu. Ia masuk dan seperti menertawakanku yang berada di luar lingkaran itu. Walau hanya permainan, diriku seringkali berteriak tak jelas padanya. Bahkan bukan Cuma aku, orang-orang yang membentuk lingkaran itu pun ikut berteriak gak jelas berusaha untuk menjauhkan Alvin dariku.

“Tikus!” teriakku begitu kencang pada Alvin. Aku terus berlari mengejarnya.

Untuk sejenak, Alvin berhenti berlari dan menatapku dengan tatapan suram. Ia masih berhenti. Sekilas, aku merasa tertegun untuk sikap Alvin kali ini. Namun, tak akan kusia-siakan kesempatan berlian ini.

Sesegera mungkin, dengan penuh kekuatan kuberlari menuju ke arahnya dan.. Hup!. aku memegangnya!.

“Aku menang!” ejekku pada Alvin.

Ia masih terdiam. Tak ada reaksi sedikitpun darinya kecuali dadanya yang naik turun karena bernafas.

“Al..” ingin saja aku memanggil namanya tapi, “EH?”

Alvin menangis!?. Aku sangat tertegun dengannya saat ini. Mengapa ia menangis?. Apa aku punya kesalahan padanya dalam permainan ini?.

“Kau salah.” ucapnya muram. Ia pun menghapus air matanya dengan tangannya. “Karena sekarang kaulah tikusnya dan aku jadi neko’nyan yang imut.”

Eh?. Apa aku tak salah dengar?. Jadi, ia menangis tadi karena ia benci dipanggil tikus?. Hei, bukankah panggilanku sebelumnya itu hanyalah lelucon singkat untuknya. Lalu. Lelucon apa lagi itu, ‘neko’nyan yang imut’?. Dan sekarang tiba-tiba aku merasa ingin tertawa. Bukan Cuma aku, tapi semua orang yang menjadi lingkarannya. Kami tertawa.

“Astaga, Alvin, itu memalukan kau tahu!” seru salah seorang temannya yang bahkan aku tak kenal namanya.

“Kau itu sudah besar kan?”

Beberapa kali Alvin mendapat ocehan tak berguna dari temannya gara-gara tingkah lakunya tadi. Sebenarnya aku ingin saja menambahinya tapi, sudahlah.

“Kita sudahi saja mainnya, aku capek nih.” Ucap seseorang.

“Main tebak-tebakan yuk!” usul Alvin sambil mengangkat jarinya.

“Terserah kalian lah, aku mau istirahat dulu.”

Kami kembali melingkar namun dengan cara duduk. Setidaknya ada sepuluh orang yang bisa membuat permainan ini jadi ramai.

“Aku duluan ya, pensil sama batu, kalau dijatuhin ke kaki, lebih sakit yang mana?” tanya Alvin memulai.

“Jelas batu dong!” jawab Ririn.

“Batu lah!”

“SALAH!” seru Alvin menekankan hurufnya satu per satu.

Sedikit bingung, aku mulai berpikir dengan logika. Seharusnya apa yang dijawab oleh Ririn dan yang lainnya benar. Tapi, mengapa Alvin bilang salah. apa ini hanya akal-akalannya saja?. Tunggu..

“Sakitan kaki dong.” Jawabku dengan semangat. Kali ini aku yakin betul kalau jawabanku akan benar. Jika salah, berarti Alvin sudah bohong.

Wajahnya menunjukkan rasa tak puas. “Kau benar.” Jawab Alvin dengan lesu

“Mundur deh, kalau Vira yang ngasih pertanyaan.” Ucap Ririn sambil mengangkat ke dua tangannya bagaikan ia akan ditangkap oleh polisi.

“Aku juga.” Entah mengapa semuanya malah ikut-ikutan Ririn.

“Hei, main Sudamanda yuk, nanti yang menang duluan boleh minta ditraktir sama yang urutannya paling bawah.” Tantang Alvin sambil menunjukkan senyum sinisnya.

“Siapa takut!”


Karya : Takama Widji

SIMFONI DARI SUDUT DESA KECIL ANAMBAS

Hilir mudik kerumunan masyarakat bercerai berai di sisi mulut pantai. Tawa yang diperlihatkan dengan mimik wajah yang sumringah bahagia. Diiringi dengan semilir angin pantai yang kian berhembus dari arah laut ke sisi daratan. Terilihat mesra, dedauan kelapa yang bergoyang menari-nari dari sisi kanan ke kiri. Kemudian, pasir putih kembali tehempas oleh ombak pantai yang semakin pecah memukul bebatuan kerikil yang berbaris rapi di mulut pantai. Aku, Karina, berdiri di sekeliling rumah-rumah beratapkan rumbia yang tampak asri dan damai. Terlihat kerumunan anak-anak kecil yang sembari melepas senyum gembira sembari menari-nari bersama permainan rakyat melayu gasing dengan wajah penuh kebahagiaan. Tampak pula ibu-ibu yang mengenakan baju kurung bernuansa merah marun sedang bersendau gurau bersama sembari bercerita tentang anak-anak mereka yang sedang riangnya bersantai memainkan gasing dengan tangan mereka yang bergitu cekatannya.

“Karina?”, tiba-tiba saja aku tersentak, terdengar jelas namaku dipanggil dari arah punggungku. Aku berbalik badan, jelas kulihat seseorang berlari dengan terburu-buru sembari tersenyum lebar membawa sebuah kamera di lehernya. “Karina??, akhirnya aku menemukanmu”, katanya kepadaku, seketika saja dia terlihat di depan wajahku dan tersenyum lebar. Aku memandangnya dengan senyum dan tanpa berfikir panjang, segera aku memeluknya dengan erat. Dia adalah sahabat terbaikku, dia adalah Anita sahabat terbaikku dari luar kota, yang berkunjung ke kampung dalam liburan akhir pekan.

“Hai Anita. Sungguh aku bahagia akhirnya sampai juga kamu di sini, di Desa Kecil Kepulauan Anambas. Bagaimana, berbeda bukan dengan di kota?, ya beginilah desaku Anita. Desa yang senantiasa damai dan menjaga kerukunan antar sesamanya. Selalu berpegang teguh kepada rasa persaudaraan. Bukan hanya itu, tradisi budaya melayu yang selalu senantiasa dilestarikan, dari semenjak kedua orangtuaku masih diusia anak-anak, hingga dimasa modern seperti sekarang ini. Sungguh, kampungku layaknya suatu nirwana yang indah sampai kapanpun”, kataku sembari tersenyum lebar dan memandang lepas kearah pantai seraya mengenggam tangan sahabatku Anita. “Iya Karina. Kamu benar sekali. Aku begitu bahagia bertemu dengan masyarakat yang berada di Desa Kecil Kepulauan Anambas ini. Mereka sangatlah ramah dan berkeluarga. Mereka tidak sombong dan begitu bersahabat. Di sepanjang perjalanan, mereka senantiasa menyapaku dengan ramah. Dan kamu tahu, ada satu hal yang menjadi pertanyaan di otakku. Aku, begitu tertarik dengan suatu permainan tradisi yang dimainkan oleh anak-anak di Desi Kecil Kepulauan Anambas. Permainan yang sangat unik dan sangat membuatku jadi penasaran. Permainan itu terus berputar, dengan sebuah tali yang digenggam di tangan kiri. Lihat Karin, aku sudah mengambil beberapa gambar mereka yang sedang gembiranya memainkan permainan itu”, kata Anita sembari menunjukkan sebuah gambar anak kecil yang sedang dengan bersahabatnya memainkan gasing dengan tawa mereka yang begitu lugu dan ramah. “Ohhhh, ini namanya permainan gasing Anita. Permainan ini adalah permainan asli dari budaya melayu. Dan kamu tahu, banyak para turis dari mancanegara yang ketika mereka berkunjung kemari, mereka memainkan permainan gasing ini dengan dibantu oleh para pembimbing adat dari desa ini. Bukan hanya itu, ada juga permainan adat lainnya serta budaya yang sudah mulai dikenal oleh para turis lokal maupun mancanegara. Diantaranya dari sisi budaya seninya, terdapat alat seni berupa Kompang dan Gambus. Kemudian dari permainan rakyat itu sendiri, yang mana sampai saat ini masih sangat dilestarikan oleh masyarakat di desaku, yaitu, Layangan, Congkak, dan masih banyak lagi Anita. Pokoknya, aku janji, aku akan memberikan suatu pengalaman yang indah untuk kamu, selama kamu berada di desaku”, aku berkata kepada Anita sembari tersenyum lebar dan meyakinkan dirinya.

Ketika hendak berjalan menuju ke sekitaran pantai, tiba-tiba saja, aku melihat Pak Rohim, kepala desa di desaku yang sedang dengan bahagianya berbincang-bincang bersama salah satu wisatawan asing yang sepertinya untuk pertama kalinya mengunjungi wilayah desaku, yaitu Desi Kecil Kepuluan Anambas. Beliau tampak dengan akrabnya menceritakan segala sisi yang dimiliki oleh desaku. Baik itu keseniannya, dan juga beberapa permainan rakyatnya. Aku bersama Anita mencoba melangkahkan kaki, dan menghampiri Pak Rohim dan wisatawan asing tersebut.

“Assalamualaikum Pak Rohim?, kabar baik ke?”, aku menyapa pak Rohim dengan ramah seraya bersalaman sebagai tanda hormat.

“Waalaikum salam. Sangat baik kabar bapak Karina. Sudah lama tidak berjumpe. Alhamdulillah, sebentar lagi kamu akan menjadi sarjana ye?, semoga segala ilmu yang kamu miliki, nantinya akan bermanfaat untuk kemajuan desa kita ya Karina”, kata Pak Rohim dengan semangat.

“Insyaallah, mudah-mudahan saya bisa melaksanakan amanah tersebut pak. Oh, ya pak kenalkan ini sahabat saya dari kota, dia merupakan seorang fotografer di kampus saya, sekaligus, seseorang yang akan membantu saya, untuk melaksanakan program kerja saya di dalam mewujudkan kemajuan bagi desa kita ini”, kataku dengan semangat kepada Pak Rohim. “Assalamualaikum pak. Perkenalkan saya Anita. Betul sekali kata Karina pak, insyaallah saya dan Karina berencana untuk memperkenalkan berbagai destinasi wisata yang berada di Desa Kecil Kepulauan Anambas ini agar dapat dikenal oleh masyarakat luar”.

“Wah, bagus program itu sepertinya. Bila saya boleh tahu, ape gerangan program itu nak Karin?”, Pak Rohim mencoba bertanya kepadaku, dan jelas terlihat mimik wajahnya yang begitu penasaran.

“Begini pak, program yang akan saya lakukan nantinya selama liburan semester ini, adalah pengenalan Desa Kecil Kepulauan Anambas sebagai Desa Budaya. Tentunya, saya akan memprioritaskan berbagai bentuk kesenian, makanan khas, permainan rakyat, dan juga berbagai alat kesenian tradisional yang berada di Desa kita, dan ini semua tidak akan lari dari unsur Melayu. Bagaimana bapak setuju?”, aku kembali bertanya kepada Pak Rohim, dan mencoba meminta pendapatnya.

“Saya setuju sekali dengan ide kamu nak. Dan, saya bersyukur, dikarenakan di Desa kita ini, telah muncul generasi yang beride brilliant seperti kamu. Namun, apa daya nak, ini tidak akan terwujud dengan dana yang sangat minim di Desa kita. Kamu kan tahu, anggaran dana yang dimiliki desa kita, sangatlah terbatas nak”. Benar sekali, sungguh, jikalau berkata mengenai anggaran, begitu sangatlah menyayat hatiku dan juga beberapa masyarakat di desaku. Kepedullian pemerintah yang sangatlah minim terhadap desaku, yang sampai saat ini sangatlah sulit diatasi. Belum lagi, kesejahteraan masyarakat di desaku, yang hanya bersahaja dengan hasil tangkapan lautnya yang hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Inilah yang menyebabkan, mengapa banyak sekali anak-anak di desaku, yang hanya berakhir pada jenjang SMP, dan hanya beberapa saja yang kemudian melanjutkan pada jenjang SMA. Dan, aku adalah salah satu dari sekian banyaknya anak-anak di Desa Kecil Anambas, yang kemudian melanjutkan belajar hingga di jenjang perguruan tinggi di Pekanbaru. Aku bersyukur dengan semua ini. Dengan demikian, aku dapat mewujudkan mimpi desaku, menjadi desa yang maju. “Pak Rohim, tidak usah risau. Insy allah, saya dan Anita yang akan mencari dananya untuk menyelenggarakan Pengenalan Budaya Desa Kecil Anambas. Jadi, yang harus bapak lakukan dan masyarakat disini adalah, mempersiapkan beberapa kesenian dan keperluan yang nantinya akan kita gunakan didalam mengadakan acara ini pak”, kataku dengan yakin kepada pak Rohim sembari meyakinkan beliau. Terlihat jelas, wajah pak Rohim, yang awalnya tampak risau tidak bersemangat, kemudian terlihat memerah bahagia. Dengan senyum tulusnya, Pak Rohim menyalamiku dan mengucapkan terimakasih kepadaku dan Anita.

Tepat, ketika pergantian bulan April, 1 Mei 2016. Hari yang begitu sejarah tentunya bagi aku dan juga beberapa masyarakat Desa Kecil Kepulauan Anambas. Hari dimana, berlangsungnya acara “Pengenalan Budaya Dari Desa Kecil Kepulauan Anambas”. Aku melihat, keceriaan dan kebahagiaan setia terpancar dari setiap tawa masyarakat Desa Kecil Kepulauan Anambas. Dengan penuh ramah, beberapa masyarakat Desa Kecil Kepulauan Anambas, berjoget ria sembari bersama para wisatawan lokal, dan beberapa wisatawan mancanegara, serta beberapa pejabat penting, yang hadir dalam acara pengenalan budaya di desaku. Tidak lupa pula, lagu melayu asli dari Desa Kecil Kepulauan Anambas, mereka senandungkan bersama wajah yang penuh keramahan.

3 Menit kemudian…

“Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian, tentunya acara Pengenalan Budaya Desa Kecil Kepulauan Anambas, tidak akan terselenggara, jika bukan karena perjuangan dari nak Karina, dan rekannya nak Anita. Mereka berdua merupakan mahasiswi yang sedang berkuliah di jurusan pariwisata yang ada di salah satu perguruan tinggi negeri di Pekanbaru. Atas ide-ide cemerlang mereka berdualah, pada akhirnya Destinasi wisata yang selama ini ternyata telah tersimpan di Desa Kecil di Kepuluan Anambas, akhirnya telah banyak dikenal oleh beberapa masyarakat di luar, dan para wisatawan lokal maupun mancanegara. Saya sangatlah bersyukur sekali selaku Kepala Desa Kecil Kepulauan Anambas. Dan, saya ucapkan terimakasih kepada Bapak Bupati, yang telah hadir untuk menyemarakkan acara ini serta terimakasih kepada para donatur dari luar kota yang telah membantu kami, didalam mewjudkan Desa Kecil Kepuluan Anambas, agar keesokan harinya, dapat terwujud menjadi Desa Wisata di Provinsi Riau.

Dan, terakhir, berdasarkan kesepakatan bersama yang telah saya lakukan bersama nak Anita, nak Karina, dan juga masyarakat di Desa Kecil Kepulauan Anambas, saya ingin menjadikan hari ini tepatnya tanggal 1 Mei 2016, sebagai (Hari Ulang Tahun Desa Kecil Kepulauan Anambas)”. Setelah Pak Rohim menyampaikan kata sambutan yang diiringi oleh beberapa ucapan terimakasih, terdengar jelas riuhan tepuk tangan dari beberapa tamu dan juga masyarakat Desa Kecil Kepulauan Anambas yang terlihat bahagia. Inilah kisah dari desaku, Desa Kecil Kepuluan Anambas yang banyak menyimpan beberapa Simfoni yang begitu indah dan penuh makna kehidupan di dalamnya.

SELESAI


Karya : Aisyah Nur Hanifah

KETIKA SECARIK BATIK DIPEREBUTKAN

Canting yang kupegang semakin liar untuk menggoreskan tetes-tetes cairan cokelat kental ke secarik kain. Sudah seperempat bagian kain mori putih yang terisi. Sedangkan sisanya masih belum tercoret malam sedikitpun.

Aku menggeliat, merenggangkan otot-ototku yang sudah kaku laksana batang bambu yang sudah lama tak terpoles air. Peluh di tubuhku nyaris membuat pakaianku basah kuyup. Sedari tadi aku mengerjakan tugas pemberian Mak Mirna yang sangat menyiksaku -maksudku, menyiksa sepuluh murid yang tergabung di sanggar ini. Mak Mirna adalah salah satu guru di Sanggar Batik Abiyasa. Sekarang beliau sedang ada urusan dengan yayasan. Jadi, Mak Mirna meninggalkan tugas untuk kami.

Menurutku, Mak Mirna adalah guru paling berbahaya di sanggar ini. Beliau selalu menugasi muridnya untuk membatik dalam waktu sangat cepat. Bila ada yang tidak menyelesaikan tugas tepat waktu, hukuman akan dijatuhkan. Itulah konsekuensi menjadi murid dari seorang Mak Mirna.

Sedikit informasi tentangku. Namaku Zulaikha. Aku sangat suka membatik. Membatik membuat hidupku lebih berwarna. Kurasa, informasi itu cukup untuk membutmu sedikit mengenalku.

Aku melirik pekerjaan Samantha yang berada di dekatku. Rupanya, dia sudah menyelesaikan hampir setengah bagian. Dia memang sering melakukan sesuatu dengan sangat cepat -bahkan kadang membuat logikaku terjingkat melihat kecepatan abnormalnya. Omong-omong soal Sam, dia bernama lengkap Samantha Lorraine. Ayahnya seorang Norwegian, sedang ibunya orang Indonesia tulen. Jika diperhatikan baik-baik, Sam tidak berhidung mancung seperti orang kulit putih pada umumnya. Pendar hijau matanya membuat semua orang semakin terpesona akan kecantikannya. Dia berambut hitam mengikal, seperti ibunya. Satu hal yang membuat diriku tertarik padanya. Dia sangat mencintai batik. Dia memakai batik sebagai pakaian kesehariannya.

“Wah, kau cepat sekali,” pujiku begitu melihat pekerjaan Sam yang membuatku tercengang. “Aku saja yang berusaha secepat mungkin baru sampai segini.”

“Yeah, begitulah. Ibuku memintaku agar membuang semboyan ‘Alon-alon waton kelakon’ dari hidupku. Dan aku benar-benar mengamalkannya,” jawabnya sembari mengusap bulir-bulir keringat sebesar biji jagung di dahinya.

Aku mengacungkan jempol sebagai apresiasi atas pencapaiannya. Dia benar-benar menginspirasi.

Langit merah dengan gumpalan mega seputih kapas menghasilkan gradasi warna yang elegan di tengah hiruk pikuk Kota Yogyakarta. Sebelum matahari semakin tergelincir ke ufuk barat, aku harus sampai ke rumah.

Aku berjalan menyusuri trotoar bersama Sam dan Edwin. Kami selalu bersama ketika berangkat ke sanggar maupun pulang dari sanggar.

“Menurutmu, apakah waria-waria itu memiliki istri? Kalau misalnya iya, apa mereka enggak malu ya, dengan istri mereka? Bagaimana jika anak mereka meniru perbuatan ayahnya?” tanya Edwin membuka percakapan. Dia menunjuk ke arah para waria yang berjalan anggun dari mobil ke mobil.

“Umm, entahlah. Kurasa, belakangan ini, orang-orang telah rusak moralnya. Tawuran, terorisme, diskriminasi, dan penyimpangan sosial lainnya semakin marak terjadi. Sebagian besar di antaranya adalah remaja seperti kita.” Sam mengutarakan pendapatnya. Anak rambutnya berkibar diterpa angin. “Bagaimana ya, cara menyadarkan mereka?”

“Belum saatnya kita membahas itu. Itu terlalu kompleks. Ambil saja contoh kecil. Lihatlah reklame-reklame yang berada di atas kita!” pintaku seraya menunjuk ke beberapa reklame. “Sebagian besar berisi tentang iklan produk luar. Bagaimana caranya agar produk dalam negeri bisa diminati masyarakat? Misalnya, batik, tenun, sepatu buatan perajin negeri, dan yang lainnya.”

Mereka berdua bergeming. Diam seribu bahasa. Aku pun menghentikan langkah.

“Sudahlah. Yang penting kita harus tetap mempelajari budaya Indonesia, agar tidak punah.” Sam memecah kesunyian obrolan di antara kami bertiga.

Tak terasa aku sudah berada di depan rumah. Aku mengucap selamat tinggal untuk mereka. Tanpa banyak tingkah lagi, aku langsung masuk. Ayah dan Ibu sudah mennggu di meja makan. Aku pun menyalami mereka.

“Bagaimana tadi?” tanya Ayah sembari mengacak-acak rambutku.

“Semuanya baik-baik saja. Tadi diberi tugas Mak Mirna untuk membuat batik dalam waktu satu jam. Bayangkan itu! Tapi aku bisa menyelesaikannya.”

“Syukurlah kalau begitu,” celetuk Ibu.

Matahari mulai naik ke cakrawala. Jarum jam menunjuk tepat pukul tujuh. Bersamaan dengan itu, lonceng berdentang tiga kali. Itu berarti jam pelajaran akan segera dimulai. Namun, satu hal yang membuatku merasa janggal. Kenapa kursi di sebelahku belum juga diduduki? Kenapa Sam belum juga datang? Apa dia sakit? Apa dia terlambat? Bukankah, dia selalu datang sangat awal? Beberapa pertanyaan tentang Sam mengusik pikiranku.

Di saat otakku sibuk memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan retorisku, seseorang tiba-tiba datang menyebut namaku.

“Kepala sekolah menyuruhku untuk memanggil Mbak Zul…”

Gadis itu berkata sangat canggung. Tidak ada yang tahu pasti dia berbicara dengan siapa. Hampir seisi kelas terbahak menyaksikan aksi konyol gadis itu. Tapi tidak dengan diriku. Merasa namaku disebut, aku mendekati gadis itu.

Gadis itu bernama Dewi. Dia murid kelas 7-E.

“Kenapa, ya, kok Pak Jarwo -nama kepala sekolahku- memanggilku?” tanyaku pada Dewi yang sekarang berdiri tepat di hadapanku.

Dewi menatapku polos. “Enggak tahu, Mbak. Coba saja langsung ke sana. Sudah ya, Mbak, aku ke kelas dulu!”

“Oh, oke.”

Aku melangkah menuju ruang kepala sekolah. Jantungku berdegup tak beraturan. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitku. Ada sesuatu yang tidak beres. Semuanya terasa janggal.

Yang pertama kali kulihat saat menginjakkan kaki di lantai atas adalah kerumunan orang-orang di depan ruang kepala sekolah. Aku tidak tahu hal apa yang mereka saksikan hingga rela berdesak-desakan seperti itu. Semenarikkah itu?

“Permisi.. permisi…,” tuturku seraya menyeruak masuk ke tengah-tengah lautan manusia. Beberapa di antara mereka memberi jalan untukku dengan ikhlas. Namun, banyak di antara mereka malah memberikan muka masam untukku. Maklum, sebagian besar dari kerumunan ini adalah kakak kelas.

Aku langsung masuk ke ruang kepala sekolah. Aku terkejut melihat Sam berada di situ. Aku juga melihat Edwin, Mak Mirna, dan seorang pria paruh baya berkacamata yang mengenakan pakaian formal. Sejuta tanda tanya merutuki otakku.

“Permisi,” ujarku begitu sampai di dalam. “Bapak memanggil saya?” tanyaku pada Pak Jarwo sesopan mungkin.

Ruangan mendadak sunyi setelah aku melontarkan pertanyaan itu. Beberapa saat kemudian, Pak Jarwo menjawab pertanyaanku, “Ya,” ada jeda beberapa saat, “jadi begini. Bapak-bapak berkacamata itu namanya Pak Harris. Beliau merupakan direktur dari salah satu perusahaan pakaian dari Jakarta. Kemarin malam, beliau berkunjung ke Sanggar Batik Abiyasa. Di sana, Pak Harris melihat-lihat hasil karya anak sanggar. Pak Harris tertarik dengan batik ini.” Penjelasan Pak Jarwo terhenti sementara. Beliau menunjukkan kain batik yang beliau maksud.

Mataku membelalak. Itu, kan, batik buatanku, pikirku.

Mak Mirna mulai bicara. “Saat Mak Mirna menanyakan pembuat batik ini, Edwin mengaku kalau dia yang membuat. Tapi, Samantha mengatakan kalau ini buatan Zul. Jadi, yang betul yang mana?”

Aku menjadi semakin linglung. Jelas-jelas batik tersebut hasil jerih payahku, bisa-bisanya ada orang yang mengaku. Kukira, Edwin mulai sinting.

“Demi Tuhan, itu benar-benar buatan saya!” ucapku mantap. Darahku mulai mendidih. Aku benar-benar tidak terima. Dia sudah mengklaim buah usahaku.

Edwin menyeringai lebar. Wajahnya seolah tak bersalah. “Benarkah? Lalu, kenapa bisa sebagus ini? Semua karyamu itu buruk.”

“Sebenarnya, kami pihak perusahaan ingin menyampaikan kalau motif batik yang terlukis merupakan pelecehan logo perusahaan kami. Dan saya datang jauh-jauh ke sini hanya ingin meminta pertanggungjawaban.”

Aku bingung hendak berkata apa. Tapi, itu bukan kesengajaan.

“Umm, seb..sebenarnya, itu bukan buatan saya.” Dengan terbata-bata Edwin berbicara. Mukanya memerah. Dia langsung berlari meninggalkan ruangan.

Tawa Pak Harris pecah. Apa maksudnya? Beliau berbicara lagi, “Jadi, memang benar yang dikatakan Nona Samantha. Baik, batik ini akan kami beli. Apa sepuluh juta cukup?”

“Ini bagaimana, sih, kok jadi begini? Bukankah katanya melecehkan?” tanyaku serta merta.

“Saya cuma menguji. Siapa yang berbohong, pasti lari ketakutan. Jadi, yang sebenarnya, kami ingin membeli batik ini. Batik ini juga akan dipamerkan di Indonesia Fashion Week. Apa sepuluh juta cukup?”

Sepuluh juta? Bukankah itu terlalu besar? Tapi, kapan lagi aku bisa mendapatkan uang sebesar itu?

“Cukup.”


Karya : Hastom NH

PETUALANGANKU DI NEGARA AUSTRALIA

Cerita ini berawal saat aku menyukai aktivitas yang berbau petualang. Aku mulai beraksi sejak aku masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Terkadang aku jarang sekali di rumah dan sekali aku menemukan sebuah tempat yang saat bagus itulah aku manfaatkan untuk jalan-jalan. Aku memang menyukai kegiatan di luar ya misalnya seneng bepergian jauh dan aku lebih senang hal ini kugunakan untuk mencari info-info penting sebagai jalan untuk mendapatkan pengalaman menarik. Perjalananku di Indonesia sudah pernah aku datangi sekarang tinggal negara-negara tetangga yang aku kunjungi.

Oiya namaku Larasati Susilowardono. aku lebih suka dipanggil laras saja. Aku tinggal di Yogyakarta lebih tepatnya dekat komplek kraton Yogyakarta. Aku adalah seorang penyuka tradisional jawa khususnya tari. Sebelum aku kuliah aku belajar tari klasik di bangsal kepatihan yaitu milik Sultan. Aku memang suka belajar tari klasik jawa buatku tari klasik adalah sebuah inspirasiku untuk nantinya aku kembangkan kelak jika aku sudah tua nanti bisa jadi kenangan sebagai penari jawa yang klasik. Tari jawa buatku sangat menarik karena langka dan setiap orang belum tentu bisa melakukannya. Aku terlahir dari keluarga tidak mampu. Ayahku bekerja sebagai pedagang kaos yang tempatnya di Malioboro Yogyakarta. Kalau tiap hari-hari tertentu ayahku sering sowan ke kraton Yogya karena ayahku merupakan abdi dalem yang tugasnya sebagai penjaga wayang kulit.

Suatu ketika di kraton sedang mengadakan acara penting yaitu acara pagelaran wayang kulit di tempatnya adik sultan. Ayahku seperti biasa harus stand by untuk mempersiapkannya bersama dengan abdi dalem yang lain. Itulah ayahku tanpa rasa capek sekalipun beliau harus montang manting cari uang hanya untuk menghidupi keluargaku. Ayahku ya ayahku sederhana apa adanya terkadang bekerja di kraton gajinya sedikit itu pun ada yang bilang tanpa ada bayaran sama sekali. Sampai aku bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogya saja itu juga berkat perjuangan ayahku. Pada suatu hari ngarso dalem atau sultan meminta ayahku untuk disampaikan ke aku untuk supaya pentas di kraton karena ngarso dalem sedang mengadakan acara khusus ruwatan yang dihadiri para tamu undangan dari domestik maupun dari mancanegara. Atas dawuh dalem untuk Laras akhirnya Laras mau bersedia untuk menjalani tugas sultan. Acara kraton memang dua versi pertama pagelaran wayang kulit dan kedua pementasan tari klasik gagrak yogyakarta. Laras begitu senang atas dawuh dalem sultan tadi karena acaranya masih dua minggu lagi begitu kata laras saat ditemui ayahnya di rumah mereka. Laras berbakat dalam menari mulai tari gambyong, tari bedaya, sampai tari golek pun bisa.

Akhirnya 2 minggu sudah lewat dan acara kraton dimulai pada siang hari sampai malam hari. Kalau untuk siang hari khusus untuk tari-tarian tapi kalau malam khusus untuk pentas wayang kulit. Selesai kuliah Laras langsung menuju kraton untuk mempersiapkan diri untuk berganti pakaian tari. Laras tampak cantik dan anggun saat mengenakan pakaian adat jawa klasik. bersama dengan ke 8 teman-temannya Laras menunjukkan bakatnya di depan petinggi negara karena Laras hal itu sudah biasa dia lakukan jadinya buat Laras dibuat santai saja. Bedaya atau tari Bedanya adalah suatu tarian yang menggambarkan tentang seorang putri yang sudah menginjak remaja hingga pada akhirnya menjadi dewasa karena itu harus menjaga kehormatannya.

2 jam menari akhirnya selesai juga terus laras kembali ke tempat tata rias untuk segera pulang karena di rumah masih banyak yang harus dikerjakan. Selain kuliah Laras juga seorang aktivis remaja masjid. Walaupun dia sudah kuliah tapi tetap masih mengurusi kegiatan masjid tersebut. Sampai di rumah Laras dapat panggilan dari salah satu remaja masjid untuk rapat di masjid karena bakal ada suatu acara pengajian ibu-ibu di masjidnya tersebut. Laras menyanggupi dan laras bergegas dengan mengenakan jilbab langsung menuju masjid. Kegiatan pengajian diadakan untuk tujuan positif jadi buat Laras itu tidak masalah.

Akhirnya kegiatan pengajian dimulai berlangsung dengan tertib dan dalam pengajian itu hikmah yang dibawakan oleh seorang ustad sangat membangun. Waktu sudah menjelang sore Laras kembali ke rumah karena kelelahan dia langsung beristirahat sejenak di dalam kamarnya. SMS muncul di hp Laras bahwa laras dapat tugas dari kraton untuk pergi ke negara Australia sebagai bentuk misi visi memperkenalkan budaya jawa disana khususnya budaya Yogyakarta. Dengan hati senang Laras akhirnya menyanggupi untuk pergi ke Australia. Selain dia jalan jalan Laras juga akan mencoba memperkenalkan budaya Indonesia.

Tiket ke Australia sudah Laras pegang Laras hanya menunggu libur semester. Alhamdulilah akhirnya libur semester juga begitu kata Laras dalam hati. Keesokan harinya laras berpamitan sama ibu dan adiknya yang masih tk untuk pergi ke bandara Yogyakarta. Sesampai di bandara Laras mendapat panggilan untuk segera masuk pesawat menuju negara tujuan yaitu negara Australia.

Tidak sampai 2 hari Laras sudah sampai di Australia dengan bekal bisa bicara bahasa Inggris itu pun sudah cukup baginya. Di negara Australia Laras berjalan dan mencari kendaraan yang bus menuju kampus university di Australia. Kampus yang para mahasiswanya diajarkan tentang bahasa Indonesia dan budaya Indonesia. Akhirnya terjawab juga Laras di kampus itu sebagai narasumber dan juga sebagai pelatih tari kebetulan dosen di kampus tersebut kenal dekat dengan pihak kraton Yogya jadinya lebih mudah baginya untuk mengenalkan diri. Saat itu ada seminar yang sangaat spesial yaitu tentang budaya Indonesia. Antusias mereka kepada Laras sangat luar biasa.


Karya : Bhinuko Warih Danardon

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...