Pages

Wednesday, November 13, 2019

DUA PULUH ENAM

Sebuah perahu terombang-ambing lembut di lautan Barat Indonesia. Aku duduk tepat di tengah lubang besar yang tercipta pada angka nol besar di sebuah tugu. Seorang nelayan di mataku memugar kendaraannya agar nanti malam ikan-ikan di sana mau mendatanginya. “Ini lautan tak berujung, nak. Mungkin sekarang saya tak dapat ikan banyak, namun besok di lain tempat akan ada ratusan ikan menunggu takdirnya untuk ku tangkap.” Di Ujung Batu yang ku pijak hari ini, ku dapatkan kalimat terbaik di kilometer 0, Sabang, Aceh.

“Matahari yang terbenam di batas cakrawala laut bukan berarti lautan itu berujung.”

Tebing tinggi mengitari genangan air dalam yang tenang namun menenggelamkan. Hampir saja tubuhku terperosok ke dalamnya.

“Kubangan besar ini menjadi bukti terbesar dari kehebatan ledakan Gunung Tambora di masa lampau. Tak bisa terkira bagaimana bisa lubang ini bisa terbentuk menjadi sebuah danau terbesar di Indonesia. Entah ada seseorang yang mengisinya atau ada hujan berkepanjangan yang datang dahulu kala.”

Nada bicaranya menggebu-gebu khas Medan membuat mata dan telingaku tak pernah mengatup ketika ia menceritakan sejarah bagaimana danau ini terbentuk. Jemari tanganku melepuh. Ku tahan rasa sakit ini dengan gigitan kecil di bibirku. Ada rasa takut ketika aku sudah berada di tengah tebing curam yang keras ini. Angin yang menerpa membuat phobia ketinggianku mulai datang. Ku lanjutkan panjatanku dengan hati-hati. Tak ingin aku jatuh dari sini lalu memulainya dari awal lagi.

“Ini yang namanya perjuangan! Anggap permukaan datar di atas sana adalah keinginanmu, dan jurang di bawah sana sebagai masa lalumu. Teruskanlah panjatanmu! Ini masih belum seberapa!”

Detak jantungku memburu kembang-kempisnya dadaku yang tak beraturan ini. Demi melihat Ngarai Sianok dari atas sana dengan latar belakang sebuah gunung yang puncaknya terselimuti awan. Benar-benar perjuangan.

Gemericik air yang membasahi dedaunan anggrek tampak berkilau dalam mata. Suara-suara anak kecil yang berlarian di taman membuatku teringat masa di mana waktu kecilku dulu. Bebungaan anggrek dengan hiasan warna-warni di kelopaknya membuat mataku syahdu menikmatinya.

“Taman ini didirikan karena terinspirasi dari seorang perempuan yang ingin mempersatukan setiap varietas anggrek di Indonesia maupun di dunia. Kau tidak akan bisa menghitung berapa jenis anggrek yang hidup di sini. Namun perpaduan warna mereka membuat jiwa kita nyaman menatapnya.”

Sebuah awal yang sepele namun memiliki arti yang menyindir seluruh bangsa di dunia. Mempersatukan tanaman anggrek dunia di Taman Sri Soedewi. Suatu keajaiban bisa datang ke tempat ini. Bermodal muka tembok hanya untuk mencari bantuan kapal-kapal nelayan di Riau ini demi mencapai kepulauan kecil bernama Anambas. Pulau-pulau kecil yang terhampar di lautan perbatasan Indonesia. Pasir putih nan luas serta air laut bak kaca jernih menyambut kedatanganku, sama sekali belum terjamah tangan manusia.

“Alam kita itu penuh dengan keajaiban. Beberapa pulau di sini akan menghilang ketika malam dan di pagi harinya akan muncul kembali. Bersyukurlah kau lahir di bangsa ini.”

Ditaburinya jala-jala ikan di lautan, katanya untuk makan keluarganya di rumah untuk nanti malam. Ku daki bebukitan yang tanahnya mulai licin terguyur hujan. Terhitung sudah lima kali aku harus mencium tanah basah di hutan hujan tropis ini. Dedaunan liar di hutan itu basah dan menciptakan irama musik alami yang menenangkan.

“Nah, inilah tumbuhan yang kalian cari.”

Ku lihat lima lembar kelopak bunga yang besar dan merekah sempurna. Warnanya merah darah dengan bintik putih yang tersusun rapi di atasnya. Baunya memang bukan seharum melati atau mawar, karena baunya adalah busuk untuk menarik perhatian serangga di sekitarnya. “Ini adalah salah satu keunikan yang kita miliki, Rafflesia Arnoldi. Maka dari itu, mari jagalah alam Indonesia ini.” Airnya begitu dingin dan biru. Alirannya lembut dan cantik. Bebatuannya berundak-undak, sehingga menciptakan air terjun yang menawan. Aku berendam di sana layaknya seorang bidadari dari kayangan yang turun untuk sekedar membersihkan diri.

“Cantik, bukan? Kecantikannya sesuai dengan namanya, seperti bidadari,” kata seorang pengunjung kepada istrinya di sampingnya.

Puluhan gajah berlari serentak menuju padang rumput di sana dengan dipandu seorang pawang gajah. Bumi seakan berguncang karena kekuatan mereka yang benar-benar besar. Ku hampiri pawang tersebut, lalu ku pegang kaki gajah yang ia tumpanginya dengan belaian lembut. “Mereka adalah makhluk yang baik hati. Ia sangat bersahabat dan mudah dilatih untuk melakukan sesuatu. Tapi jangan sekali-kali mengganggu mereka, atau kau akan berhadapan dengan kekuatan mereka yang tiada tara.”

Tiba-tiba puluhan gajah itu meneriakkan suatu kata secara bersama-sama. Pekikannya keras hingga telingaku berdenging. Mungkin mereka mengatakan “Selamat datang di Way Kambas!”

Setidaknya ada harapan di balik gegap gempitanya ibukota Jakarta di Pulau Harapan. Dermaga kecil menyerupai jembatan yang terbuat dari kayu menjadi tempat duduk yang menenangkan. Tepat di tepian dermaga itu, ku turunkan kedua kakiku hingga menyentuh air laut yang biru nan jernih. Ku mainkan kakiku hingga airnya tersirat ke depan.

“Kau mencari harapan di sini, nak? Jangan tentang percintaan, ya? Saya sudah bosan mendengarnya dari setiap remaja yang datang ke sini.”

Aku tertawa lepas bersama seorang nelayan tua yang semenjak tadi mondar-mandir di dermaga ini. Lagi pula, harapanku sudah hampir terwujud. Setengah atap gedung yang melengkung itu terbuka layaknya sebuah pintu. Bersamaan dengan itu, sebuah teleskop luar angkasa muncul menatap langit hitam yang penuh dengan kilauan bintang. Semua pengunjung di sana takjub akan kecanggihan teleskop itu yang usianya mencapai satu abad lebih. “Lihatlah bulan dan bintang di atas! Mereka semua adalah cita-cita tinggi para astronom di dunia. Di sana masih tersimpan rahasia-rahasia yang ingin diketahui banyak orang.”

Bahkan alam semesta pun masih bisa dilihat dengan jelas dari sudut pandang Indonesia, dan Bosscha adalah perantara yang baik. Ada sebuah tengkorak kecil di kotak kaca museum itu. Ku lihat papan ilmunya yang ada tepat di depannya. Pithecanthropus erectus. Di sebelahnya, ada sebuah tengkorak, namun ukurannya lebih besar dari sebelumnya, bahkan melebihi ukuran tengkorak manusia saat ini. Meganthropus paleojavanicus. Mulutku hanya bisa menganga melihat umur mereka yang sudah menembus ratusan ribu tahun lamanya.

“Ini adalah tengkorak manusia purba yang ditemukan tepat di Sangiran, tempat yang kalian pijak sekarang. Mereka bisa dikatakan sebagai nenek moyang bagi bangsa Indonesia. Mereka juga adalah bagian dari sejarah berdirinya negara kepulauan ini, Indonesia.”

Kepalaku hanya bisa mengangguk-angguk tanda mengerti. Namun perkataannya tadi menimbulkan jutaan pertanyaan di pikiranku. Leherku menengadah melihat puncak candi paling besar di kompleks ini. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi, kata penjaga candi ini. Begitu megah dan luas kompleks candi ini menjulang. Tak bisa ku bayangkan betapa jayanya kerajaan yang menciptakan candi ini. Tersusun rapi tanpa ada sedikit kesalahan. Padahal sebelumnya semua candi ini terkubur tanah, sebelum akhirnya ditemukan.

“Yang kalian lihat sekarang adalah kemegahan Candi Prambanan yang begitu jaya. Sisa-sisa candi ini adalah bukti bahwa kerajaan Hindu di Yogyakarta ini begitu maju hingga sanggup membuat bangunan seperti ini.” Sebuah gerbang masa lalu ku lewati. Penyusunnya terbuat dari batu bata berwarna jingga kemerahan, bentuknya berundak-undak dan sangat tinggi. Namanya Candi Wringin Lawang. Konon inilah gerbang masuk menuju pusat kerajaan yang sangat besar berdiri, Kerajaan Majapahit. Setelah ke luar dari kompleks itu, ku temui barisan rumah penduduk yang serempak memproduksi batu bata.

“Kita kan cinta tanah air. Tanah dan air kami junjung di bahu kami demi mencukupi kebutuhan keluarga. Tanah lempung kami gali, air sungai kami timba. Mereka dibakar dengan api yang menyala-nyala, sehingga mereka semakin kuat dan kokoh. Semua itu karena kecintaan kami kepada bangsa ini, untuk pembangunan.”

Matahari mulai mengeluarkan warna jingga kemerahannya yang tenang. Sebuah pura di atas batu karang itu tampak menawan di mata pengunjungnya. Wewangian bunga kamboja khas Bali benar-benar merasuk setiap detail hidungku. Laut yang mulai pasang mencegahku untuk naik ke pura itu. Mungkin lain waktu.

“Semuanya boleh masuk ke pura itu,” kata tetua Hindu di pura itu.

“Namun harus dengan sopan santun. Kami tak ingin tempat peribadatan Hindu ini menjadi kumuh karena ulah orang lain.”

Para turis asing pun tak ingin melewatkan pemandangan sunset di Tanah Lot. Mereka semua menghargai agama Hindu, layaknya mereka menghargai agama mereka sendiri. Benar-benar menyentuh.

Seekor komodo yang panjangnya sekitar tiga meter berlari mengejar seekor kerbau di padang rumput itu. Aku bergerak mundur menjauhi adegan pengejaran itu. Keberaniannya sebagai hewan reptil benar-benar ditunjukkan dengan bantuan kecepatan kakinya yang lincah. Mereka benar-benar pemburu berdarah dingin.

“Lihatlah mata mereka! Mata mereka benar-benar menunjukkan sebuah ketegasan yang ada di diri seekor komodo. Mereka juga sangat berani melawan mangsanya yang lebih besar dari mereka.”

Ku lihat seekor komodo menegakkan dadanya di sebuah padang rumput yang dekat dengan pesisir laut Samudera Hindia. Sangat gagah dan berani. Sebuah kawah besar dengan air panas yang bewarna biru langit dan hijau terhampar luas. Kaldera raksasa di Gunung Rinjani menjadi bukti bahwa Gunung Rinjani adalah gunung yang kuat. “Tuhan memang adil menciptakan semuanya. Dahulu mungkin pulau ini hancur karena letusannya. Namun sekarang keindahannya tak terkira. Inilah yang kita dapat di negara kita.”

Ada sebuah tumbuhan dengan bunganya menyerupai kantong. Ada juga anggrek berwarna hitam yang dibudidayakan di Kersik Luway.

“Mereka harus lestari.”

Seorang perawat tumbuhan di sini datang kepadaku. Ia membeberkan bagaimana cara merawat tumbuhan-tumbuhan itu.

“Sifat kelestarian itu harus dimiliki setiap orang yang hidup di Indonesia,” tutupnya.

Panas matahari begitu menyengat setiap kulitku di sini. Kebetulan kedatanganku tepat di saat matahari berada tepat di khatulistiwa, sehingga Pontianak sedang panas-panasnya beberapa hari ini. Aku berkeliling di Tugu Khatulistiwa dengan lindungan topi biruku yang sudah usang, sehingga rambut dan kepalaku tetap dalam keadaan mendidih.

“Di sini memang sangat penuh dengan cahaya. Tetapi ketika malam, bintang-bintang di langit menjadi pengganti penerangan matahari. Jadi, jangan pernah khawatir kehabisan cahaya.”

Seekor anak Orangutan dengan baiknya mau bersalaman denganku. Ibunya pun tak marah ketika anaknya memintaku untuk menggendongnya. Di jembatan kayu ini, beberapa Orangutan sekedar duduk-duduk menanti makanan yang dibawa para pengunjung. Di samping kanan dan kirinya ada hutan mangrove yang masih sangat asri dan rindang.

“Mereka adalah hewan yang ramah. Namun keramahan mereka malah membuat hewan ini terancam punah. Aneh sekali.”

Penjaga Taman Nasional Tanjung Puting itu menceritakan pengalamannya yang paling mengesankan dengan para Orangutan.

“Suatu hari saya jatuh ke sungai. Ada tiga Orangutan yang berusaha mengulurkan sebuah ranting kayu besar kepadaku agar mereka bisa menarikku ke luar dari sungai itu. Mereka benar-benar hewan yang ramah dan penolong.”

Tiba-tiba ada satu perahu pedagang yang terbalik. Sontak beberapa pedagang di dekatnya langsung menceburkan diri ke Sungai Barito untuk menolong pedagang yang jatuh ke sungai itu. Beberapa perahu di sekitarnya mengambil keranjang sang pedagang yang terhanyut terbawa arus sungai. Beruntung pedagang itu sudah selesai berdagang sehingga hanya tersisa keranjang-keranjang dagang yang sudah kosong.

“Kita bukan bangsa penjiplak, kita itu bangsa gotong royong,” kata seorang pedagang kepadaku yang kata-katanya dikutip dari perkataan Ir. Soekarno.

Aku berusaha menyelam ke dalam lautan. Ku lihat himpunan batu karang menyatu dan menciptakan gugusan karang yang begitu serasi. Ikan-ikan dari ratusan jenis berkumpul di sini, di Bunaken. Yang paling bagus pastinya adalah ikan berwarna jingga dengan garis putih yang bersembunyi dalam Anemon Laut.

“Kami berusaha menjaga keberagaman di sini, layaknya menjaga suku-suku yang tersebar di penjuru Indonesia. Mereka adalah harta karun bagi kami,” kata seorang penyelam yang ternyata seorang aktivis laut di Bunaken. Suatu kehormatan bisa berbincang dengannya.

Ratusan kupu-kupu sudah ku temui semenjak masuk dari tempat ini. Corak mereka begitu indah, tak ada yang sia-sia. Warna mereka begitu cerah dan menyolok. Selama hidupku ini, baru pertama kali aku bisa menemui ratusan kupu-kupu yang indah. “Maka dari itu Taman Nasional Batimurung ini disebut dengan kerajaan kupu-kupu. Mereka berkumpul jadi satu, dan kami yang menjaga mereka.”

Keindahan yang tak pernah terlupakan, dan mereka semua adalah karya yang sangat baik. Ada ratusan pulau kecil yang tercecer di Wakatobi. Pulau-pulau itu tak berpenghuni dan tak pernah tersentuh tangan manusia sedikit pun. Ku beranikan diriku untuk mengitari satu per satu pulau yang ada di Wakatobi ini. Lautnya yang biru, pasirnya yang putih, anginnya yang lembut. Begitu sempurna bisa merasakan semua ini di sini. “Ini sudah jadi bukti bahwa negara kita adalah kepulauan,” kata seorang nelayan yang dengan baik hatinya memberiku kesempatan untuk mengelilingi Wakatobi ini dengan syarat membantunya menjaring ikan di sekitar lautan Wakatobi.

Begitu sulitnya mencapai harta karun di dalam hutan dekat dengan pesisir Donggala. Katanya ada sebuah lubang yang begitu indah. Aku terhipnotis dengan kata-kata penduduk Donggala itu. Sampai akhirnya ku temukan lubang itu setelah dua jam berjalan menuju tempat ini. Ternyata adalah sebuah sink hole yang membentuk sebuah laguna pusentasi yang begitu indah. Di dalam lubang itu ada air laut yang membanjiri lubang itu. Begitu jernih dan bersih.

“Ini seperti labirin menuju masa depan!” kataku kepada beberapa rombongan yang bersamaku sejak berangkat.

Pasirnya putih, lautnya berwarna biru muda tanpa ombak yang keras. Benar-benar sangat sempurna sebagai sebuah pulau di Maluku. Kejernihan airnya tampak seperti kaca tipis di lautan luas. Mataku tak berkedip melihatnya, bahkan tak sekalipun dalam tiga menit. “Ini yang kita miliki di Morotai. Semoga kau menikmatinya. Kami punya sesuatu yang dinamakan kejernihan, dan matamu akan merasa sejuk melihatnya.”

Aku tersenyum kepadanya. Pulau ini seperti sebuah rahasia alami dari Indonesia. Jika orang lain tahu akan hal ini, pasti ia akan bernasib sama denganku, tidak berkedip selama tiga menit.

Angin begitu kencang menerpa tubuh kami, para pendaki gunung. Cuacanya sangat dingin seperti keadaan di Eropa waktu musim dingin. Suhunya hampir menembus negatif, dan tinggal beberapa langkah lagi kami akan menyentuh salju abadi di puncak pegunungan ini.

Pengorbananku tak sia-sia ketika salju sudah menyentuh tanganku. Kami berteriak kegirangan ketika kami sudah berada di puncak, tidak lagi memanjat batuan pegunungan lagi. Aku berlutut di atas salju yang tebal. Ku ambil segenggam salju, ku rasakan dinginnya sebuah kesucian dari setiap genggam salju di sini.

“Akhirnya kita mencapai puncak Jaya Wijaya ini untuk pertama kalinya. Kita telah menemukan kesucian di Indonesia. Kita benar-benar bangsa yang hebat.”


Sebuah buku terjatuh sangat keras dari atas lemari yang ku bersihkan. Ku lihat buku itu sudah sangat usang dan berdebu. Bahkan aneh rasanya jika kertas berwarna cokelat itu masih utuh di tahun 2015. Kertasnya tergerai, terlepas dari pusat jilid buku tersebut. Ku baca sampul bukunya yang berwarna merah namun luntur. “Dua Puluh Enam”. Di bawah judul itu ada sebuah nama yang sudah tak asing lagi ku dengar. Ku baca kata pengantar yang ada di halaman pertama itu.

“Ini adalah bukti bahwa alam Indonesia adalah permadani dunia. Dua puluh enam arti yang ku dapat dari dua puluh enam provinsi di Indonesia, dan mungkin akan bertambah lagi satu per satu ketika Indonesia menjadi berkembang. Tak ada bangsa lain yang mampu menandingi alam Indonesia, dan bahkan tak akan pernah. Jagalah alam kita! Teruslah berjuang mencari arti Indonesia yang sebenarnya! Mojokerto, 30 Desember 1975”

Aku tersenyum membaca kata pengantar ini. Selama ini Kakek tak pernah berbohong ketika ia bercerita tentang angka dua puluh enam dengan petualangannya mengelilingi Indonesia.

“Mengapa kau hentikan pekerjaanmu, Ali?”

Kakekku datang melihatku dan buku tuanya yang sudah dua puluh tahun ia cari di tanganku. Hanya senyum simpulnya yang tampak dalam kulitnya yang menua.

“Apakah kau ingin mencari tiga puluh empat arti di tiga puluh empat provinsi di Indonesia saat ini, nak?”

“Ku harap begitu, kek.”


Karya : Dimas Misbachul Ichsan

WAYANG DAN PAKDE

“Pakde.. Pakde.. nanti malam ada wayangan di rumah Pak Lurah lihat ya Pakde.” teriakku sambil berlari mengejar Pakde. Pakdeku namanya Pakde Tirto, dia bekerja sebagai buruh tani dan dalang.

“Iya.. iya.. nanti malam kan Pakde yang jadi dalangnya.” jawab Pakdeku.

“Oiya, aku lupa.”

Di daerahku biasanya kalau ada orang yang punya kerja atau mau menikah pasti ada wayangan. Siapa yang tidak tahu wayang, kebudayaan asli Indonesia, yang tercatat sebagai warisan dunia UNESCO. Wayang yang terkenal sampai ke mancanegara. “Di.. Rudi.. nanti malam ada pertunjukan wayang di rumah Pak Lurah kita lihat yuk..” kataku kepada Rudi yang saat itu sedang membuat layangan, Rudi memang pintar membuat layangan.

“Iya.. teman-teman yang lainnya nanti aku kabari.” jawab Rudi. “Bu.. besok malam aku boleh ya pergi lihat wayangan di rumah Pak Lurah, besok kan Minggu Bu.. boleh ya.” pintaku kepada Ibu.

“Iya boleh.. tapi jangan sampai ketiduran loh ya.” jawab Ibuku sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa.

‘Ke rumah Pakde ah.. minta diajarin cara buat wayang.. pasti seru..’ batinku.

“Main dulu ya Bu.” kataku. Sesampainya di rumah Pakde ternyata sudah ada banyak temanku di sana, pasti minta diajarin buat wayang juga.

“Assalamualaikum.” salamku.

“Waalaikumsalam.” jawab semua temanku.

“Aku mau ikut bikin wayang dong.. ajarin ya Pakde.” pintaku.

“Iya.. ini alat dan bahannya.” kata Pakde sambil menyerahkan kulit kerbau yang sudah dikeringkan, pewarna, buluh, dan tali. “Kulit yang sudah dikeringkan lalu diukir atau ditatah menggunakan alat setengah lingkaran yang ada di kotak itu.” kata Pakde sambil menunjuk kotak di sudut ruangan.

“Setelah ditatah lalu kulit kerbau diberi warna sesuai tokoh wayang kalian masing-masing.” lanjut Pakde.

Setelah beberapa jam akhirnya jadi juga wayangku. Aku membuat wayang tokoh Werkudara atau Bima.

“Pakde, wayangku bagaimana bagus tidak?” tanyaku meminta pendapat Pakde.

“Sudah bagus kok bagi kamu yang masih pemula.” jawab Pakde sambil meneliti wayangku.

Hari sudah mulai malam, aku segera pulang ke rumah, mengingat nanti malam ada pertunjukan wayang di rumah Pak Lurah.

“Bu, lauknya apa?” tanyaku kepada Ibu yang sedang duduk santai di teras rumah.

“Di dapur ada sayur bayam, tempe goreng, dan tumis kangkung.” jawab Ibu.

Aku segera menuju dapur untuk makan, setelah itu aku menuju kamar mandi untuk ambil wudu dan salat maghrib.

“Wayangannya mulai jam 9 malam Bu.. Aku pergi ke rumah Pakde dulu ya Bu.. nanti malam Pakde yang jadi dalangnya. Ibu nanti malam lihat nggak?” kataku pada Ibu yang sekarang sedang melihat acara TV kesukaannya.

“Ibu tidak lihat.” jawab Ibu.

Sesampainya di rumah Pakde aku minta diceritakan kisah pewayangan tentang Perang Tandhing antara Adipati karena dengan Arjuna. “Ceritain ya i.” mintaku.

“Iya.. begini ceritanya.” Pakde cerita kira-kira 15 menit, dan sekarang sudah jam setengah sembilan malam.

“Pakde ayo kita pergi ke rumah Pak Lurah.. Pakde kan yang jadi dalangnya.” kataku.

“Iya bentar, Pakde siap-siap dulu.” jawab Pakde.

Sesampainya di rumah Pak Lurah, aku mencari teman-temanku dan duduk di barisan ketiga dari depan. Pertunjukannya dimulai tepat pada pukul 9 malam. Di sini ada sinden yang menyanyikan tembang-tembang Jawa dengan suara yang sangat merdu, Sinden berjumlah 4 orang, di samping Sinden ada alat-alat musik komplit, ada bonang, gong, saron, kenong, kendhang, kempul, rebab, dan banyak lagi. Pertunjukan wayang pada malam ini menceritakan tentang kisah Ramayana, yaitu kisah tentang Rama yang berusaha menyelamatkan Sinta kekasihnya. Pakde memainkan wayang di tangannya yang lincah dengan latar belakang kelir atau disebut sebagai layar lebar. Dengan rapi wayang dijajarkan di debog pisang, debog adalah pelepah pisang yang berada di bawah kelir.

“Ayo pulang, pertunjukannya sudah selesai.” kataku pada teman-teman. Pertunjukan wayang selesai tepat pada pukul 3 pagi. Para sinden menuju ruang ganti, banyak orang hilir mudik untuk mengangkut gamelan, debog, kelir, dan kotak wayang. Aku tidak lupa menghampiri Pakde dan mengatakan.

“Pakde pertunjukannya bagus sekali, aku dan teman-temanku sangat senang.” kataku pada Pakde dengan bergembira.

“Iya… makasih ya Anto.” jawab Pakde yang saat itu sedang melepas blangkonnya. Aku sangat senang sekali hari itu, bisa belajar membuat wayang, bisa melihat pertunjukan wayang, aku sangat berterima kasih sekali kepada Pakde yang sudah mau mengajarkanku membuat wayang.


Karya : Sahla Aurelia Purnadiva

PENARI

Namaku Putri Alviana, aku sering dipanggil Alvi, aku adalah seorang yang suka menari, kalau ada lomba menari, aku selalu ikut. Hari ini adalah hari pertama aku sekolah di SMP, ketika setelah libur UAS 2, kelas enam SD. Aku langsung menuju kelas, saat tiba di kelas, aku melihat seorang perempuan sedang duduk di bangku belakang, pojok kanan, dan aku menghampirinya.

“Hai namaku Putri Alviana, kamu bisa memanggilku Alvi, kalau nama kamu siapa?”

“Hai namaku Aprilia Rizkya Putri, kamu bisa memanggilku Lia.”

“Oh, baiklah, boleh nggak aku duduk di sampingmu?”

“Boleh, silahkan..”

Ketika bel istirahat sudah berbunyi, aku dan Lia melihat-lihat sekolah ini, mulai dari depan hingga belakang. Saat kami sedang berjalan tak sadar di samping kanan kami ada ruang tentang budaya tradisional, kami pun tertarik hingga masuk ke dalam. Ketika itu Lia melihat patung yang sedang menari yaitu menari kecak.

“Patung ini sedang menari apa? Dan berasal dari mana?” Tanya Lia.

“Patung ini sedang menari kecak, dan berasal dari Bali,” Jawabku.

“Oh.. tapi aku tidak suka golongannya tari-tari,” Ucap Lia.

“Kenapa?” Ucapku dengan sedikit membentak.

“Ya.. tari-tari itu kan jelek, uh menyebalkan!” Ucapnya Lia.

“Tidak, tari-tari itu tidak menyebalkan!” ucapku dengan membentak keras. Lia pun terdiam, aku dan Lia kembali lagi melihat ruangan budaya itu. Setelah sudah lama kita melihat-lihat ruangan itu. Amel pun menjadi tertarik dengan budaya termasuk dengan tarian.


Karya : Silvia Nur Arinda

3 RAJA KEDOKTERAN DI DUNIA INDONESIA

Kuil-kuil Melayu.

Hari itu di tahun 1976 pekerjaan rumah saya dari Malang terlambat, perjalanan ke Batu memakan waktu 30 menit. Mendekati malam ketika memasuki halaman yang biasanya ramai oleh 2 adik lelaki saya bermain dengan teman tetangganya. Itu tenang di halaman rumah saya. Saya menemukan mereka berdua bermain di ruang tamu.

"Di mana kamu, kamu dan Andi dan U'ut?"

"Pergi ke Malang, aku sakit. Kaki kirinya mengatakan dia sakit ketika disuruh berjalan. Tubuhnya panas, "jawab kakak perempuan saya Gus. Adik laki-lakinya terdiam, tetapi wajahnya yang sedih terlihat jelas.

Tak lama setelah Isya, Ibu dan dua adik perempuanku terlihat, tiba dari Malang.

"Ia pergi ke Rumah Sakit Umum. U'ut memeriksa dokter mengatakan dia punya nafsu makan kronis, besok pagi itu harus dioperasi, "kata ibu berikutnya.

“Karena kami belum mengunjungi nenek buyutmu di Path, kami telah singgah.”

“Kami baru saja pergi ke pagar Buyut untuk pergi, mas,” Adikku Andi mulai memberitahuku, “Di mana kata Buyut ini? Wanita dari rumah sakit Yang. Ini usus buntu. Dokter mengatakan besok pagi harus dioperasi. "

“Heh nafsu makannya mematikan?” Kata Buyut, “maka besok sebaiknya jangan dibawa ke rumah sakit dulu,” kata Buyut. Kemudian buyut memanggil Pak Jan dan menyuruhnya pergi ke pasar besar Malang. "

"Jan pergi ke pasar besar, ya. Di sisi timur toko obat herbal, belilah setengah lusin buah, ya. "Mr. Jan pergi ke pasar dengan sepeda ontel. Sekitar satu jam kemudian, Pak Jan memberinya sepotong uang yang dibelinya untuk Kakek Buyut.

"Lalu, buah dari ketiga biji ini dipakai. Terus tuangkan dengan air mendidih, setelah dingin. Berpegang pada gelas tidak lagi panas, dingin, minum anakmu, ya. Biasanya tiga kali atau empat kali minum itu baik untuk buntumu. "

"Yang merupakan nama prahara , bu. "

"Maaf. "Andi menunjukkan segenggam cokelat hitam gelap, potongan-potongan kecil berbulu. Sementara ibu pergi ke dapur mengambil ketel setengah matang dan menyeduhnya di atas kompor minyak tanah.

Kami sudah menyiapkan sebuah gelas minum kaca yang bening warnanya. Kami taruh kedalam gelas, tiga butir buah tempayang. Semua mata kami serumah tak hentinya menatap buah yang kami anggap sangat ajaib itu. Sudah kami bayangkan apa nanti buah ajaib itu dapat menggantikan biaya operasi Adik kami. Sebuah dana yang tidak sedikit bagi kami. Bapak kami sudah pensiun dari bintara angkatan darat. Ibu yang berjualan bahan keperluan sehari-hari di kedai depan rumah kami, sudah pasti telah berhitung dengan cermat untuk mempersiapkan biaya operasi Adik.

“Awas minggir ini air mendidih loh,” kata Ibu sambil membawa ketel yang mengeluarkan asap, menuju meja makan.

Di mana kami mengerumuni gelas kaca berisi buah tempayang, hening tak banyak gerak tak banyak bicara.

Air mendidih dituang Ibu ke dalam gelas. Sepi sekali rasanya, tak ada suara terdengar dari kami yang ada di dalam ruang makan itu.

“Eeh.. Kulitnya terkelupas sedikit, ke luar agar-agarnya.”

“Makin membesar dia, jadi agar-agar tapi tidak hancur ya.”

“jadi penuh satu gelas minum.” teriak Gus dan Adik bungsunya bergantian.

Jam 9 malam gelas diraba Ibu sudah dingin, diminumkan ke Adik yang sakit usus buntu. Tak lama kemudian Adik kami tersebut tertidur. Satu jam kemudian kami bergantian meraba dahi U’ut. Bergantian sedikit berebut. Sudah agak mereda panas badannya. Kami saling berpandangan. Malam itu tidur kami tidak begitu nyenyak. Ada dua kali ku terbangun, meraba Adik kami yang sakit, masih panas badannya. Tidak tahu berapa kali Ibu bangun.

“Masih terasa sakit untuk berjalan?” kata Ibu setelah melihat U’ut ke luar dari kamar mandi.

“Masih, tapi tidak sesakit kemarin pagi, bu.”

“Ayo bikin obat lagi, Ibu mau rebus air dulu”

Tiga butir buah tempayang dalam gelas, diseduh air mendidih, setelah dingin diminum. Pagi ini sekali, nanti sore sekali. Malam hari sewaktu U’ut tidur kami memegang dahinya, sudah tidak panas lagi. Ibu dan kami berdua yang sudah besar-besar berpandangan dan tersenyum lega. Tidak jadi operasi Adik kami. U’ut besok pagi hari kedua, masih meneruskan minum air buah tempayang yang sudah dingin. Sore hari kedua diputuskan tidak meminumnya lagi. U’ut sembuh dari sakit infeksi usus buntu, tidak jadi dioperasi.


Di tahun 1980. Di suatu hari di Sabtu pagi, saya mendatangi seorang gadis dari Kalimantan Barat yang sekarang menjadi istriku. Gadis tersebut membukakan pintu, wajahnya pucat dan jalannya agak pincang. “Saya sakit mas, kata dokter besok pagi harus operasi,”

“Kata dokter sakit apa dik?”

“Usus buntu sudah parah, Sudah tiga hari ini badan panas terus tidak turun-turun. Kemarin sore ke dokter, suruh secepatnya dioperasi. Kata dokter kalau terlambat berbahaya. Sudah ku telepon Ibu di Pontianak. Tidak tahu kabar kepastian selanjutnya, nanti sore mau telepon lagi ke Pontianak.”

Dilihatnya ku tersenyum mendengar ceritanya, agak marah rupanya dia. Lalu ku menceritakan kisah U’ut kepada gadis itu. Baru kemudian mereda amarahnya.

“Kalau begitu, antar saya ke pasar besar ya, mas. Membeli buah tempayang itu.”

Selesai kami membeli buah tempayang di pasar, aku kembali ke tempat kost melanjutkan skripsi bersama kawan-kawan sekuliah. Hari Minggu dan Senin pun berlalu. Hari Selasa sore sang Gadis harus dijenguk. Ketuk pintu beri salam, sekali dua kali tidak ada yang ke luar.. kali yang ke luar malah Ibu kostnya, “Dari pagi jam 10 tadi sudah ke luar sama kawan-kawannya sekampus, nak. Katanya sudah nggak sakit lagi. Nggak tahu sampai sore gini, kok belum pulang dia.” Aku pun berpamitan. Sudah sembuh dia.

Setahun dan beberapa bulan telah berlalu ketika aku pergi ke Pontianak untuk melangsungkan akad nikah dengan gadis buah tempayangku. Beberapa hari setelah semua acara selesai, di teras depan rumah mertua, “Mas, kata Nenek buah tempayang itu kalau di Pontianak ini namanya buah kembang semangkok. Gunanya untuk mengobati orang sakit panas dalam. Ditambah dengan biji selasih dan gula batu.”

“Waaah.. jadi enak rasanya ya dik. Buah tempayang sendiri rasanya seperti air teh, ditambah biji selasih nanti jadi cendolnya dan manisnya gula batu. Obat dengan rasa sedap lah itu.” Kami tertawa bersama, terdengar juga suara tertawa perlahan di belakang kami. Rupanya Nenek yang sedari tadi duduk di ruang tamu di belakang kami. Beliau mengikuti pembicaraan kami berdua.

“Si Nung sahabatku sejak di asrama tentara. SD sampai SMP bersamaan terus, itu mas. Sebulan lalu sakit usus buntu juga. Aku beritahu supaya diobati pakai buah kembang semangkok, sembuh juga dia.”

“Beberapa bulan pulang ke sini itu, sempat juga Adik promosikan buah tempayang?”

“Ya. Tapi begitu saya sampaikan ke Nenek. Saya malah diketawain. Sambil masuk kamar ke luar lagi sambil membawa gelas isi buah tempayang campur biji selasih dan manis rasanya. Karena sudah ditambah gula batu.”

“Di Pontianak sini kita nggak bisa membanggakan buah tempayang, ya dik. Kalah sama Nenek kita.”

Tahun 2002-an, kami ditelepon Ibu Pontianak bahwa Adik sepupu Ibu lagi berada di Kediri mengunjungi anaknya yang bersuamikan anggota Kepolisian dan berdomisili di kota Kediri. Ibu menganjurkan kami untuk bersilahturahmi ke paman tersebut. Siang esok harinya, sehabis makan siang kami sudah sampai di Kediri, rumah Nurida sepupu istriku, anak perempuan Om Ki sepupu Ibu Pontianak.

“Assalamualaikum tante, mana Om.”

“Itu aa.. Om mu sakit panas, tadi malam badannya panas. Kata dokter terkena infeksi di perutnya, ususnya melintir.”

Langsung saja istriku menjawab, “Anu tante coba belikan buah tempayang di kedai jamu. Ambil tiga butir masukan dalam gelas, diseduh air mendidih setelah dingin suruh om Ki minumnya.”

Sore hari itu, kami sekeluarga kembali pulang ke Malang. Berminggu, berbulan, bertahun pun berlalu sudah. Tak ada berita dari Kediri atau Pontianak. Sampai kunjungan mudik kami per dua tahunan ke Pontianak. “Bagaimana kabar om Ki, bu.”

“Baik-baik saja. Memang ada apa?”

“Dulu waktu kami berkunjung ke rumah si Nung di Kediri beliau sakit usus melintir. Terus nggak ada kabarnya. Kami sempat khawatir.”

“Pergilah ke rumah Om Ki mu sana. Tahu kan rumahnya yang sekarang.”

Besok paginya kami pergi ke rumah Om Ki.

“Om Ki pulang ke Pontianak ngape tak bilang kami.. Om.”

“Minum buah semangkok terus sembuhlah. Sudah lama kami tinggal di Jawa jadi begitu sembuh langsung pingin pulang jak, haha.”

“Yaa.. om mu minum tiga hari jak. Tante ini yang bikinkan.”

Tahun 2015, aku kembali ditugaskan di Banda Aceh untuk yang kesekian kalinya. Dari pagi aku membuat air buah tempayang. Dulu di tahun 1999 pernah istri saya membeli buah tempayang di Banda Aceh yang namanya sama dengan di Medan ataupun di Pontianak, buah kembang semangkok. Sehabis makan siang air buah tempayang yang sudah dingin dan mengembang dalam gelas bening aku angkat mau ku teguk.

“Itu kembang semangkok ya pak,” kata Pak Edy rekan kerja kami.

“ya betul. Dari mana pak Edy tahu?”

“Nenek saya sering bikin kalau ada yang sakit panas dalam.”

“Pak Edy orang Padang ya.. Apa juga dicampur biji selasih dan gula batu?”

“Betul ditambah biji selasih dan gula batu. Bikinnya sore begini terus diembunkan. Baru besok paginya diminumkan. Kalau tidak begitu kata Nenek saya kurang mujarab.”

Jadi ingat kata mertua lelaki bahwa buah tempayang ini pohonnya besar, sejenis pohon meranti. Sekarang pohonnya banyak ditebang dijual sebagai bahan bangunan. Pohon ini menghasilkan buah tempayang setelah umurnya mencapai tiga puluh tahun. Pohon meranti yang berbuah tempayang hidup di tanah Sumatera dan Kalimantan. Orang Melayu yang menjadikan obat turun panas dalam. Buah tempayang untuk obat usus buntu dan infeksi organ tubuh bagian dalam lainnya, hanya ada di Indonesia.

Daun Kelindi dari Flores.

Pertengahan tahun 2010 telah satu tahun aku bersama keluarga bertugas di pulau Flores tepatnya di Kabupaten baru di bagian pantai sebelah Utara dikota Mbay. Rumah tempat kami tinggal dipagari oleh pohon angsana yang masih sebesar lengan. Ada tumbuhan liar menjalar melilit mengelilingi pohon itu, batangnya kecil sebesar lidi daun kelapa, warnanya hijau seperti kabel listrik, licin dan mengkilap. Memanjat pohon dengan melilit memutar.

Buahnya kecil sebesar Ibu jari tangan kita. Rupanya mirip seperti timun yang masih hijau. Begitu buah tanaman ini sudah tua dan masak, warnanya menjadi merah menyala. Orang Flores menyebut tanaman ini dengan nama kelindi. Buah kelindi yang sudah tua sekali, berjatuhan ke bawah. Biji kelindi juga mirip dengan biji mentimun. Bentuk daunnya pun mirip mentimun. Lebar daun sekitar 5 cm. Bedanya selain lebih kecil ukuranya, permukaan daun kelindi licin tidak berbulu. Mungkin kelindi adalah masih sekeluarga dengan mentimun.

Beberapa kali kami melihat tetangga seberang jalan mengambili daun kelindi ini.

“Untuk apa diambili, pak?” Tanya istri saya.

“Untuk dimasak bu. Pakai kelapa enak sekali daun ini, tetapi buahnya yang merah itu sangat beracun bu. Orang akan mati bila memakannya.”

Di lain waktu, istri kami menanyakan kepada tetangga orang dari Ende yang menghuni kamar kost sebelah kamar kami.

“Mengapa orang depan itu mengambil daun kelindi di malam hari ya bu Maria?”

“Ya, malulah bu Sofi. Dia kan tudak punya uang untuk beli sayur. Padahal kita di sini yang punya pagar, akan senang bila pagar kita dibersihkan orang.”

“Kalau ada orang yang mengambil daun kelindi di siang hari, itu tandanya daun kelindi itu mau dibuat obat.”

“Untuk mengobati sakit apa Bu Maria?”

“Obat sakit cacar bu Sofi. Orang yang sakit panas tinggi begitu tampak mau timbul bintik bisul di badannya berarti kena sakit cacar. Cepat orang mencari daun kelindi, ditumbuk lalu diminumkan. Apa pernah Ibu lihat di Flores ini orang yang mukanya berbintik-bintik hitam bekas terkena sakit cacar. Tidak akan pernah Ibu lihat kan?” kata bu Maria dengan bangga.

“Untuk obat cacar air apa juga dapat disembuhkan bu Maria?”

“Cacar kering saja sembuh. Bu.”

Penyakit cacar yang bagi suku bangsa di lain tempat di Indonesia ini atau di dunia ini, merupakan wabah yang sangat ditakuti. Bagi orang Flores, penyakit cacar adalah penyakit biasa-biasa saja. Obatnya ada di pagar tetangga. Gratis dan berpahala.

Ginseng dari Meulaboh.

Maunya untuk menambah penghasilan, di tahun 2001, membuka usaha rumah makan menjadi pilihanku dan istri. Bukan untung yang kami dapatkan. Kalah bersaing dengan rumah makan di ruko depan seberang jalan dan pedagang makanan kaki lima. Akibatnya makanan yang telah kami persiapkan untuk dijual, tidak semuanya laku. Sering berlebih. Untuk dikonsumsi sendiri adalah pemecahan masalahnya. Kesukaanku paru-paru sapi goreng kering dan usus sapi yang tidak dapat bertahan lama walau disimpan dalam lemari es, menjadi menu sehari-hariku.

Tiga bulan, empat bulan pun berlalu sudah. Tanah kavlingan sepetak, simpanan untuk masa depan juga ikut berlalu. Dijual untuk tambah modal. Kakiku mulai terasa sakit. Mungkin karena kecapaian berdiri, pikirku. Minta tolong istri pijit-pijit kaki yang sakit. Tambah membengkak. Pergi periksa ke kawan SMA yang jadi dokter, alternatif gratis. “Kena asam urat ini kamu, No. Obat penghilang asam urat tidak ada, No. Obat ini, hanya penghilang rasa sakit saja. Banyak minum air putih ya, dan banyak gerak.”

Beberapa hari kemudian, dengan kaki masih menahan sakit dan masih membengkak, aku pergi ke Batu. Membersihkan rumah kos-kosanku yang letaknya di samping rumah Ibu. Selesai membersihkan kamar yang kosong, aku beristirahat di teras rumah Ibu. Terlihat tanaman ginseng di depanku. Bibit ginseng ini dibawa Ibuku dari Palu, Sulawesi Tengah. Sewaktu beliau mengunjungi kami di Palu tahun 1983.

Sambil duduk-duduk di teras itu, teringat aku sewaktu masih di SMA dulu. Hobi sering membaca cerita silat Cina. Diceritakan dalam buku saku silat Cina, bahwa Ginseng adalah obat penambah umur, obat segala penyakit. Saya cabutlah sebuah ginseng. Umbi tercabut di tanganku. Berbentuk seperti anak kecil gendut. Teringat pada gambar yang disertakan pada botol anggur kolesom produksi salah satu pabrik anggur dari Semarang. Ginseng ku bersihkan kulit luarnya dengan mengeriknya. Cuci bersih, masukkan panci, tambah air seliter, rebus sampai mendidih, angkat dan dinginkan. Ambil satu gelas, minum. Tambah air satu gelas lagi, didihkan, angkat, dinginkan, ambil satu gelas, minum. Pagi, siang dan sore. Hari ketiga rasa sakit dan bengkak hilang.

Ibukota Kabupaten Aceh Barat, Meulaboh, menjadi tempat berikutnya sebagai tempat aku mencari nafkah di tahun 2006, mengikuti proyek pekerjaan rehabilitasi sarana dan prasarana fisik yang hancur akibat dari bencana tsunami satu tahun sebelumnya. Kami ditempatkan oleh perusahaan di daerah yang terbebas dari bencana dahsyat tersebut. Sakit akibat asam uratku kambuh. Entah akibat makanan yang mana, aku sendiri kurang memperhatikan makanan yang kami konsumsi sehari-hari.

Di waktu sore hari, kami sering pergi ke pantai tempat para nelayan pulang melaut. Dari para anak buah kapal ini, kami sering berusaha mendapatkan ikan-ikan yang menjadi sebagian dari upahnya melaut. Nelayan anak buah kapal yang membantu juragan kapal motor mencari ikan di laut. Upah bagian dari melaut selain uang ini, yang selalu kami coba untuk membelinya. Sebagian besar nelayan menjawab mau untuk makan sendiri sekeluarga. Tetapi kami selalu berhasil mendapatkannya. Lebih murah, sepertiga dari harga yang harus kita bayarkan apabila kita beli di pasar umum Meulaboh. Satu paket bagian mereka isinya beragam, kadang dapat ikan, udang, dan kepiting. Kami mendapat ikan dengan harga murah, akibatnya kakiku kaku dan bengkak.

“Wah cari obat asam urat di sini susah ya, Pak Rahmad,” aku mulai bercerita kepada team leaderku. “Kemarin cari buah sirsat di pasar tidak ketemu. Apalagi mau cari ginseng.”

“Pak No mau cari ginseng. Itu di depan rumah kita. Kemarin sebagaian sudah dicabuti oleh yang mengontrak rumah depan. Coba Bapak lihat itu depan pagarnya.”

“Pak Rahmad kok tahu kalau itu ginseng?” kataku sambil berjalan ke depan, ke halaman.

“Di supermarket kota saya Solo kan banyak pak, di sana dijual daun ginseng. Tadi sewaktu pulang dari lapangan saya melihat setumpuk ginseng yang dibuang diluar pagar”

Betul juga kata Pak Rahmad, di tepi jalan di luar pagar rumah depan, nampak ada satu tumpukan sampah ginseng kecil-kecil yang dicabuti oleh penghuni baru rumah depan. Aku pun melongok ke halaman dalam pagar rumah depan itu. Masih banyak ginseng-ginseng yang ditanam belum dicabuti. Aku perkirakan yang dibuang di luar pagar itu adalah ginseng masih berumur muda. Aku masuk ke dalam halaman rumah depan, dan mencabut salah satu ginseng yang lebih besar dari ginseng-ginseng yang ada di sekitarnya. Berat aku menariknya. Terpaksa aku mengambil pisau di dapur. Sekeliling pokok ginseng ku gali dulu tanahnya. Lima belas sentimeter masuk ke dalam tanah.

Bentuk umbi ginsengnya agak lain dari pada yang biasa ku tanam di Malang atau di rumah Ibuku di Batu. Sudah digali masuk 15 cm, masih belum nampak umbinya membesar seperti biasanya. Hanya sedikit lebih besar dari pada pokok atasnya. Melihat umurnya dari ginseng-ginseng yang sudah dicabuti. Ginseng yang mau ku cabut ini berumur lebih dari 6 tahun. Aku coba cabut lagi masih berat. Dengan kekuatan yang ekstra lebih kuat lagi, dan hati-hati tercabut juga akhirnya. Bentuk yang lain dari ginseng biasanya lebih kecil dan langsing tidak bercabang dan panjang sampai 40 cm.

Ginseng ku kerik kulit luarnya, masuk panci almunium, tuang air satu liter. Kompor dinyalakan, begitu mendidih kompor ku matikan. Satu jam didinginkan, ambil satu gelas aku meminumnya. Begitu air masuk mulut, aku terkejut sekali. rasa pahit yang melebihi pahit butrowali yang ada dalam mulut. Langsung ku keluarkan dari mulut air ginseng tersebut. Tetapi pikiran sadar mau untuk segera sembuh, pelan-pelan aku mulai minum lagi. Habis satu gelas. Pahitnya masih terasa walaupun ditambah satu gelas air putih ku minum ekstra.

Hebat sekali besok pagi kakiku yang bengkak sudah kempes. Tidak ada terasa sakit. Seperti biasanya kalau ku terapi obat dari ginseng. Tambahkan air ke panci ginseng, didihkan, diminum lagi satu gelas. Tambahkan lagi air, didihkan, minum lagi satu gelas. Pagi siang, sore. Satu buah ginseng ku habiskan dalam tiga hari. Di Meulaboh ini aku menghabiskan dua buah ginseng yang pahit itu. Ginseng satu-satunya yang sangat pahit rasanya, hanya ku temukan di Meulaboh. Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Ginseng pemberian rekan ahliku dari Korea Selatan dalam kemasan botol kaca sebesar botol 660 ml dengan ginseng sebesar 3 Cm panjang 12 cm utuh di dalam botol, tidak pahit. Ginseng Malang yang ku tanam sendiri tidak pahit. Ginseng ku beli di kedai obat Cina tidak pahit.

Mulai dari sejak saat itu, di tahun 2006 sampai 2011, segala pantangan makanan yang biasanya membuat kakiku kesakitan akibat mengkonsumsi makanan yang banyak purin yang membuat kakiku bengkak dan sakit, seperti makan udang atau cumi-cumi agak banyak, makan kaldu ayam atau kaldu sapi yang bekas rebusan jerohannya. Tidak pernah lagi membuat kakiku bengkak dan merasa sakitnya asam urat. Kalau jerohan seperti hati sapi atau hati ayam, paru, dan usus memang tidak pernah berani aku untuk mencobanya.

Sampai di tahun 2011 di Flores, kakiku bengkak lagi karena setiap hari makan semangka dalam dosis lebih dari satu kilo setiap harinya. Di hari ke-15 bengkaklah kakiku. Yang tersembuhkan dalam tiga hari lebih, dengan mengkonsumsi buah sirsat total sebanyak kurang lebih tiga kilogram. Lumayan menderitanya. Inilah 3 buah rajanya obat di dunia yang dapat ditemukan di bumi tanah air kita, Indonesia.


Karya : Suyono Mardjuki

MUTIARA DI KAMPUNG HALAMAN

Liburan semester adalah hal yang paling dinantikan oleh hampir seluruh mahasiswa. Pasalnya hiruk pikuk tumpukan tugas dan ujian–ujian tidak akan kami dengar beberapa bulan kedepan. Dan liburan kali ini, aku memutuskan untuk berangkat ke rumah Nenek. Nama aku Zukhruf, tapi keluarga dan teman–teman lebih senang memanggil aku Zu. Aku mahasiswa semester 4. Aku punya hobi hiking. Kedengarannya agak ekstrim gimana gitu, secara kan aku nih perempuan tapi hobinya naik–naik gunung.

Ya, mau gimana lagi dong aku emang suka kalau lagi di alam yang terbuka. Bangun tenda, masak–masak, jelajah hutan, nangkap ikan di sungai. Pokoknya seru deh. Tapi sayang, kata Ayah, “anak gadis itu jauh lebih baik kalau berada di dalam rumah,” I know. But I need something different in my live. Kadang aku sempat mikir, enak yah jadi anak laki–laki, mau kemana aja boleh, ngelakuin kegiatan apa aja boleh, pulang jam berapa aja boleh. Nah, kalau perempuan segala tingkah lakunya mesti punya aturan. Susah juga ya jadi perempuan, harus berdampingan dengan peraturan.Tapi kata temanku, jadi perempuan itu enak karena bisa punya surga di kakinya. Kalau dipikir–pikir, benar juga sih. Daripada cuma bisa naik gunung, mending punya surga dong.

Hari pertama liburan di rumah Nenek adalah momen yang tidak akan aku lewatkan begitu saja. Agenda pertama adalah membuka jendela kamar. Kenapa harus jendela kamar? kata Ibu, kalau anak gadis itu harus pagi–pagi ngebuka jendela kamar, mitosnya sih supaya enteng jodoh. Hubungannya? Aku juga nggak tahu pasti, tapi yang namanaya perkataan Ibu–ibu itu mujarab 90 persen loh. Sebenarnya aku buka jendela itu bukan sepenuhnya karena mitos Ibu sih, tapi karena pemandangan dari jendela kamar aku luar biasa bagus, indah, sedap dipandang mata.

Dari depan jendela, langsung berhadapan dengan gunung yang menjulang tinggi dan pohon-pohon hijau berbaris rapi di sekitarnya, tak ketinggalan juga aroma udara pagi yang segar merasuk hingga ke dalam sanubari. Kebayang dong, gimana sejuknya itu udara. Di samping rumah ada kebun bunga. Ada bunga mawar warna–warni, kembang sepatu beraneka ukuran, bonsai dengan berbagai bentuk dan masih banyak lagi jenis bunga lainnya. Udah kayak istana bunga gitu. Perpaduan yang super duper juara dan menjadi alasan kenapa aku betah berlama–lama di depan jendela.

“Zu.. sarapan dulu nak,” suara yang selalu ku nantikan setiap pagi. Siapa lagi kalau bukan suara Nenek tersayang. Mendengar suara Nenek, aku pun melambaikan tangan seolah mengucapkan salam perpisahan bagi pemandangan indah pagi ini. Aku bergegas mandi dan bersiap menemui Nenek. Jilbab pink terpasang rapi di kepala, kupluk abu–abu juga tidak kalah memaniskan penampilan, baju abu–abu dan rok pink dengan corak bola abu–abu menjadi style hari ini. Jangan lupa siapkan camera.

“Loh, kok udah rapi gitu. Mau kemana sih?”

“mm, mau keliling kampung Nek,”

“oh, ya udah, habisin sarapan dulu gih,”

Sarapan sudah beres, saatnya menuju bagasi untuk ngucapin salam pagi sama si Vio. Iya, Vio itu sepeda kesayangan aku. Warnanya biru muda, punya keranjang di depan dan pastinya akan menjadi teman setia seharian ini.

Ku kayuh sepeda menyusuri perjalanan setapak demi setapak sambil memandangi hamparan sawah menguning, gunung menjulang tinggi nan kokoh di seberang sawah, pepohonan berjejer lurus di sepanjang jalan, dan suara burung-burung saling bersiul sahut-sahutan satu sama lain, serta tidak ketinggalan para perempuan–perempuan tangguh yang ikut ke sawah. Sungguh sangat memanjakan mata.

Sepeda semakin ku kayauh dengan cepat, seraya ingin mengetahui kejutan apa selanjutnya yang menanti. Perjalanan kali ini tidak semulus perjalanan diawal. Aku harus beradu dengan tanjakan yang seakan memintaku menguras seluruh tanaga. Tapi itu tidak sia–sia, pemandangan di ujung tanjakan ini tidak kalah indah dari pemandangan yang ku lihat sepanjang jalan tadi. Dari ketinggian ini kita bisa melihat hamparan sawah menguning dari atas jalan dan rumah–rumah penduduk yang terlihat bagai miniatur. Tidak hanya itu, tantangan yang menyenangkan berikutnya adalah meluncur dari atas bukit. Wuiihh, serasa lagi terbang.

Pemandangan terasa berbeda setelah sampai di bawah. Kali ini, aku melihat anak–anak yang sedang berkumpul dan asyik bermain. Aku berhenti sejenak dan membawa Vio menepi di pinggir jalan. “Vio, jangan kemana–mana ya, aku nggak lama kok,” Aku berjalan meninggalkan Vio menuju tempat anak–anak berkumpul. Ku pandangi dengan seksama dari balik pagar. Gelak tawa terdengar jelas di telinga, rupanya mereka sedang asyik memainkan sebuah permainan tradisional yang tidak asing bagiku.

Melihat mereka bermain dengan riang, membuat aku kembali menerawang, mengingat masa kecilku bersama teman–teman. Ya, dulu kami sering memainkan permainan itu, namanya egrang. Sebuah permainan tradisional yang terbuat dari dua pasang bambu bulat yang panjangnya bervariasi, mulai dari 2 meter hingga 3,5 meter dan diberikan pijakan kaki pada bagian bawahnya. Jarak antara ujung bambu bawah dengan tempat pijakan, rata–rata hingga 1 meter.

Cara memainkannya memang sedikit sulit bagi pemula. Hal pertama yang harus dilakukan adalah berusaha berdiri tegak di atas egrang. Kedua kaki bertumpu pada tempat pijakan dan kedua tangan berpegangan pada bagian atas bambu. Setelah menemukan titik keseimbangan dengan baik, barulah kita mulai melangkahkan kaki perlahan dan berjalan seperti biasa. Sungguh sangat sulit dan menguras tenaga, tapi tetap menyenangkan.

Ketika sedang asyik mengambil foto mereka sedang bermain, tiba–tiba saja terdengar suara teriakan.

“Zuuu, Zuuu, Zukhruf,”

Aku berbalik sambil memandangi seorang pemuda yang sedang menghela napas dengan terengah–engah. Dia memandangiku seraya tersenyum.

“masih ingat aku?”

“mmm,” aku berpikir beberapa saat, “maaf, siapa?”

Dia kembali tersenyum dan mengatakan, “aku Adnan, teman kecilmu dulu,”

Betapa terkejutnya aku melihat dia yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Adnan yang ku kenal dulu. Sekarang dia tumbuh menjadi sosok lelaki dewasa dan sepertinya sangat menyenangkan. Setelah berkenalan kembali beberapa saat, dia mengajak aku untuk melihat permainan egrang lebih dekat lagi. Dan ternyata kelompok permainan tradisional itu adalah milik Ayah Adnan yang sekarang ini dikelola oleh Adnan.

Kata Adnan, dia sangat prihatin dengan kondisi masyarakat kita saat ini, khususnya anak–anak. Mereka sudah tidak mengenal kebudayaan lokal yang kita miliki, khususnya permainan tradisional. Mereka hanya mengenal permainan modern yang diperoleh melalui gadget atau teknologi canggih lainnya. Sungguh miris melihat keadaan ini. Padahal permainan tradisional kita tidak kalah menarik dengan permainan modern. Contohnya saja egrang ini. Permaianan yang ramah lingkungan, tidak membutuhkan banyak uang untuk memilikinya. Andai saja seluruh masyarakat mau bersama–sama melestarikan kebudayaan lokal yang kita miliki, sudah pasti Negara kita akan menjadi tujuan utama para wisatawan asing.

Coba pikir, apa yang tidak dimiliki oleh Indonesia. Mulai dari wisata kuliner, pantai yang indah, masyarakat adat, dan masih banyak lagi kekayaan yang dimiliki oleh Negara kita ini, hanya saja kita terlena akan modernisasi yang semakin “menina bobokan” kita. Menjadikan kita manja dengan kehidupan praktis yang serba cepat. Aku tercengang mendengarkan pembahasan Adnan tentang arti penting kebudayaan. Ternyata dia sangat mencintai kebudayaan, khususnya permainan tradisional. Dia seakan mengingatkan aku akan pentingnya memiliki rasa cinta terhadap kebudayaan. Ketika kita merasa memiliki, maka kita akan selalu menjaganya, tidak akan membiarkannya hilang apalagi dirampas oleh orang lain.

Saudaraku, Budaya lokal adalah cikal bakal lahirnya budaya Nasional yang akan menjadi icon atau penanda sebuah Negara. Ketika kebudayaan lokal tidak lagi terjaga, maka Kebudayaan Nasional akan tergerus, dan jika kebudayaan Nasional tergerus, maka tunggulah kehancuran bangsa ini. Oleh karena itu, marilah kita jaga mutiara–mutiara yang tersembunyi itu, dan jadikan dia bersinar sepanjang masa.


Karya : Risma Ariyani

STUDY TOUR

Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu olehku. Hal yang sangat menyenangkan itu akan segera tiba. Yup, Study Tour!!! Yey I like it! Hari ini tanggal 18 Desember 2013, SDN Beji 5 akan mengadakan acara study tour ke Museum Gajah, Monumen Nasional dan Museum Wayang. Yess. Aku senang! Karena bisa belajar di outdoor alias luar ruangan.

Malam ini.

Aku mempersiapkan segala keperluan. Mulai dari baju ganti, payung, celana, topi, kertas untuk mencatat dan sebagainya. Lalu aku tidur di kamar dengan pulas. Aku tidur jam 21.00 agar tidak telat di kemudian hari.

Jam 04.00

Drettttt! Alarm berbunyi dan aku terbangun dari tidur sambil menguap dan meregangkan otot-ototku. Lalu aku turun dari lantai 2 rumahku, karena kamarku di lantai 2. Setelah itu, aku wudu dan salat subuh. Lalu it’s time to take a bath. Aku mandi lalu memakai baju merah batik, karena kami wajib memakai baju itu agar bajunya sama dan seragam. Setelah itu aku sarapan sedikit. Makannya telur ceplok dengan abon yang yummy! Minumannya air putih biasa. Mulai makan, nyam. Selesai deh makannya. Lalu, aku mengangkut tasku keluar dari ruang makan. Setelah itu, aku berangkat ke sekolah.

Sesampainya di sekolah. Aku masuk ke gerbang sekolah dan di sana sudah ada Cantika, Zahra dan Shabrina. Mereka sedang menunggu ke datangan teman-teman yang lain.

“Hy girls!” sapaku kepada Cantika.

“Hy, vin!” katanya.

“loh. Kok yang lain blum pada dateng sih?” tanyaku penasaran sekaligus basa-basi.

“ya. Mungkin pada masih di jalan kaliii,” kata Zahra santai.

“oh, Iya juga ya,” kataku.

Tiba tiba Amanda datang dengan menenteng tas di punggungnya.

“Hy all!” sapa Amanda.

“hay,” kataku.

“nungguin Nurillah, Humaira, Awandini and Kamila ya?” tanyanya.

“Iya dong. Kan kita forever friend,” jawabku sekenanya.

Nurillah, Humaira, Awandini, dan Kamila pun datang. Kami pun segera berbaris karena sebentar lagi akan naik ke bus dan perjalanan akan dimulai. Aku berbaris dan memakai slayer merah. Karena kami bus satu, aku dan teman-teman lain memakai slayer merah. Anak bus satu adalah anak kelas 4A dan 6 orang anak kelas 6A. Barisan bus satu berangkat paling dulu ke AlfaMidi dekat sekolah kami. Tapi sebenarnya cukup jauh juga sih. Kami harus melewati lapangan Jalan Jawa yang luas banget.

Saat menembus perempatan, kami harus menyeberang dan sampailah kami di AlfaMidi tempat parkiran bus. Aku dan teman-teman naik ke bus dengan plang bus satu. Aku dan teman-teman duduk di tempat yang berbeda. Aku duduk di baris 2 bagian depan. Aku duduk bertiga bersama Kamila dan Awandini. Zahra duduk di belakangku baris 3 dari depan. Dia duduk bersama Nurillah dan Humaira. Cantika duduk bersama Amanda dan Chaerani di belakang Zahra baris 4 dari depan. Setelah semua masuk ke bus dan beberapa anak sudah didata dan sudah berdoa agar perjalanan lancar, akhirnya kami pergi menuju tujuan pertama yaitu museum gajah. Yesss. Petualangan kami dimulai.

Di perjalanan, ada beberapa lagu yang menemani kami. Tak ada yang bersedih dan semuanya bergembira dan menyanyi. Kami bernyanyi lagu wali. “aku lagi sibuk sayang. Aku lagi kerja sayang. Untuk mencari beras dan sebongkah berlian.” kami bernyanyi dengan gembira. Oh ya. Bu Dian Novita, guru kami yang paling kocak, menyanyi balonku sambil menunjuk kami semua dari belakang sambil bernyanyi. Anak yang ditunjuk dan lagunya sudah selesai dialah yang akan bernyanyi. Aku mengambil kamera dan berfoto-foto. Aku memfoto Cantika, Kamila, Awandini, Amanda dan lainnya. Aku juga memfoto guru-guru. Termasuk guru-guruku yaitu bu puji, pak alan, dan my favourite teacher, Bu Dian Novita.

Setelah lama berjalan. Akhirnya kami sampai di museum gajah. Nama aslinya Museum Nasional. Karena ada patung gajah, jadi disebut Museum Gajah. Anak anak turun dari bus. Mulai dari bus satu sampai bus lima turun dari bus. Dengan guru-guru di bus, kami pergi ke dalam museum. Di sana ada beberapa peninggalan sejarah. Ada dari sabang sampai merauke pun ada. Ternyata Indonesia kaya akan budayanya. Mulai dari alat musik, budaya, makanan, pakaian -favoritku sih.. Batik- dan lain lain. Alamnya pun sangat kaya dan beragam.

Di dalam, aku dan teman teman melihat rumah-rumahan khas indonesia seperti miniatur yang dibuat dari kayu dipajang di mana-mana. Alat musik dari jawa, bali, dan banyak lagi. Di sana memfoto berbagai barang sejarah. Aku dan teman-temanku senang sekali dengan tempat ini. Oh, ya di sana juga ada guide yaitu orang yang menjelaskan pariwisata. Aku memperhatikan sambil mencatat tentang sejarah tempat ini. Aku memang pencinta budaya indonesia. Setelah lama di museum ini. Kami melanjutkan perjalanan ke monumen nasional atau monas.

Kami kembali masuk ke bus. Di bus, aku dan teman-teman yang lain memakan french fries punya temanku Jordan. Sambil joget oplosan dan kereta malam. Pake suara alami bukan lip sync. Supir bus sampai bingung melihat tingkah kami yang setengah gokil dan rada cerewet.

Setelah sampai di Monumen Nasional. Aku dan teman-teman masuk ke dalam monas dengan kereta kecil di daerah tersebut. Aku dan anak anak slayer merah naik duluan karena kami bus satu. Setelah sampai di depan monumen, sudah ada orang yang akan menerangkan tentang monas. Kami duduk di lantai satu monas yang luas. Anak-anak mencatat sejarah monas dan mefoto benda sejarah. Hmm, this is So FUN! Oh, ya kami juga mendengarkan pembacaan sebuah teks proklamasi yang dibacakan oleh Ir. Soekarno saat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Setelah selesai mengunjungi Monas, aku dan teman-temanku serta bus lain pun makan di depan halaman monas yang digelar tikar biru. Makannya adalah Jreng! Jreng! Jreng! Hmm. Nasi dan Ayam bakar. Yey. Aku sangat menyukainya. Karena gurih dan lapar, dan air liurku yang hampir menetes, aku memakannya dengan lahap dan rakus. Begitupun semua teman-temanku.

Setelah makan, kami membuang sterofoamnya ke tempat sampah dan kembali berjalan menuju bus kami, bus satu. Hari ini sangat berkesan dalam hidupku. Di bus aku dan teman-teman memainkan game di gadget kami. Seperti android, tabb, Ipad. Aku dan teman-teman juga menikmati lagu lumpuhkanlah ingatanku yang distel di bus kami. Semuanya sedang sibuk sendiri dan ada beberapa yang mengobrol dengan temannya. Kami sangat menikmati perjalanan itu.

Setelah lama berjalan, kami sampai di museum wayang. Setelah masuk, kami melihat lihat ke dalam. Namun berdasarkan sejarah, museum wayang termasuk dalam ruang lingkup kota tua dan tempat ini dulunya adalah gereja orang jepang dan mayatnya di kubur di sini. Duh. Aku dan teman-temanku berlari saat melewati gudang. Dan setelah itu ada guide. Dia menceritakan tentang wayang-wayang yang terbuat dari kulit, kayu. Wayang ini tidak dapat dibuat sembarangan. Dan membuatnya bisa lebih dari beberapa tahun lamanya. Ada beberapa wayang yang kulihat bagus. Tapi aku juga melihat boneka yang mirip Annabelle Conjuring. Menyeramkan!

Setelah lama di dalam museum wayang. Kami pergi ke sebuah tempat seperti bioskop untuk menonton film tentang arjuna, ksatria, dewa, yang agak tidak ku mengerti. Karena itu kisah Hindu atau Budha, tapi yang jelas Cantika tahu karena dia orang Hindu.

Setelah film selesai, kami bermain sepeda ontel yang ada di halaman kota tua. Jika ingin menyewa harus membayar Rp.15.000,00. Aku naik sepeda ontel biru dan difoto sama Mimi. Aku bermain sepeda ontel hanya sebentar. Dan setelah itu, anak kelas 4A, 4B, 5A, 5B, 6A, dan 6B berfoto bersama sambil memegang spanduk SDN Beji 5. Kami senang dan riang gembira. Pengalaman ini tidak akan ku lupakan seumur hidupku!


Karya : Vindasya Almeira

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...