Pages

Wednesday, October 9, 2019

KISAH ARANG

Pada tahun 1600-an, pada masa pemerintahan Raja Myeongjong (Dinasti Joseon), di Miryang, Gyeongsang, terdapat seorang hakim bernama Yun yang dikirim dari ibu kota. Hakim Yun memiliki seorang anak perempuan cantik berusia 19 tahun bernama Arang. Bukan hanya cantik, tapi ia juga sangat pandai dan berbakat, baik hati pula, maka itu banyak pemuda datang melamarnya, walau selalu ditolak. Seorang pelayan di rumahnya yang bernama Jugi, tertarik pada Arang dan selalu menggodanya, tapi selalu tidak digubris oleh Arang. Tapi malahan hanya dibalas dengan senyuman. Sewaktu ditanya kenapa, Arang menjawab bahwa ia harus bersikap manis dan sopan dihadapan siapapun, termasuk bawahan Ayahnya. Jugi tertarik pada Arang sejak ia pertama kali melihat Arang datang mengantarkan makan siang Ayahnya.

Suatu hari, Jugi menarik tangan Arang, ia mau membicarakan sesuatu. Tapi ditolak dengan halus oleh Arang, lagipula ia harus membawakan makan siang Ayahnya secepat mungkin. Karena kesal ajakannya ditolak oleh Arang (walau secara halus ), ia dan Baekga akhirnya berkonspirasi untuk menjatuhkan Arang dan Ayahnya, apalagi Baekga juga benci pada Hakim Yun, karena itu berarti tindak korupsi para pejabat bakal ditindaklanjuti, sehingga ia berambisi merebut kekuasaan Ayahnya Arang, dan bahkan membuat janji dengan para pejabat korup, ia akan membebaskan mereka dari tindakan hukum.

Jugi lalu menyogok pengasuhnya Arang untuk membawa Arang jalan-jalan ke hutan bambu. Disanalah Jugi mencoba menyatakan cintanya pada Arang sekali lagi, tapi tetap ditolak dengan halus oleh Arang. Karena marah, Jugi lalu nekad menodainya dan tertawa-tawa berkata: "Wahahahaha! kamu sudah ternoda sekarang, jadi tidak ada pilihan bagimu untuk menikahi seorangpun kecuali diriku!!". Mendengar ini Arang kesal dan menendangnya sampai jatuh sebagai perlawanan, walau ia masih diikat dengan tali. Kesal melihat perlawanan dari Arang, Jugi membunuh Arang dan mengubur mayatnya di hutan bambu itu juga. Segera tersiar kabar ke seluruh kota bahwa Arang telah hilang. Hakim Yun menjadi sangat sedih dan kembali ke Hanyang tanpa Arang.

Setelah hakim Yun turun, beberapa hakim yang lain bergantian bertugas di Miryang dikarenakan pada setiap malam setelah naik jabatan, satu per satu meninggal secara misterius. Seorang pemuda yang berani dan ingin tahu bermarga Yi berusaha mencalonkan diri menjadi hakim selanjutnya. Pada malam pertama setelah diangkat menjadi hakim, pemuda tersebut didatangi oleh seorang wanita berambut panjang yang berlumuran darah yang tidak lain adalah hantu Arang. Semula Arang ragu untuk berbicara, tapi setelah dibujuk, ia lalu mengakui bahwa pengasuhnya disogok oleh Jugi untuk membawanya ke hutan bambu itu. Hakim Yi lalu meminta Arang pergi sebentar. Ia lalu menanyakan hal ini kepada pengasuh Arang, tapi ia bersikeras tidak tahu akan hal tersebut. Hakim Yi lalu mempersilahkannya keluar dari ruangannya. Baru sebentar saja, terdengar teriakan histeris. Setelah Hakim Yi mengecek ke lokasi, ia baru mendapati bahwa pengasuh Arang bunuh diri, dan ia juga mendapati surat tulisan tangan pengasuh itu yang mengakui kesalahannya dan ia sendiri tidak menyangka Jugi bakal membunuh Arang.

Sewaktu Arang kembali dan menerima surat itu, ia menangis tersedu-sedu seraya mengatakan ia sama sekali tidak menyalahkan pengasuhnya, ia sudah menganggapnya seperti Ibunya sendiri, tapi ia cuma kecewa karena pengasuhnya disogok Jugi. Setelah menceritakan kisahnya pada pemuda itu, hantu Arang mengatakan bahwa besok ia akan menjadi seekor kupu-kupu putih untuk menunjukkan siapa orang yang membunuhnya dan memohon agar Hakim Yi bersedia membantunya mengusut kasus ini. Hakim Yi menyetujuinya. Keesokan paginya, hakim baru itu memanggil semua pelayan. Seekor kupu-kupu putih terbang dan mendarat di topi salah satu pelayan, yakni Jugi, dan lalu pelayan yang lain, yaitu Baekga. Hakim itu lalu menginterogasi mereka. Pada awalnya mereka membantah, namun akhirnya mengaku bahwa merekalah yang berkomplot dan Jugilah yang telah membunuh Arang dan menguburkan mayatnya di rumpun bambu dekat Paviliun Yeongnam. Setelah digali, ternyata jenazah Arang masih utuh, kemungkinan karena arwahnya masih penasaran.

Setelah Jugi dan Baekga dihukum, hantu Arang tak pernah muncul lagi. Sampai sekarang, di Miryang masih diadakan peringatan setiap tanggal 16 bulan ke-4 kalender lunar untuk mengenang Arang. Sebuah kuil bernama Arang-gak dibangun untuknya.Konon,bila ada orang yang tersakiti mendatangi kuil itu dan berdoa, maka Arang akan datang pada sang pelaku sampai pelakunya minta maaf dan konon Arang akan mempertahankan cinta pasangan yang mengunjungi kuilnya secara bersamaan.

LEUNGLI

Pada zaman dahulu kala di sebuah desa hiduplah tujuh orang saudari yatim-piatu. Anak gadis bungsu adalah satu-satunya saudara tiri dari pernikahan mendiang orang tua mereka. Sifat kakak-kakaknya dan sifat si gadis bungsu sangat bertolak belakang. Si bungsu adalah anak yang rajin, baik hati, jujur, dan rendah hati. Sedangkan kakak-kakaknya pemalas, sombong, angkuh, dan pendengki. Keenam kakak-kakaknya yang pemalas ini selalu menyuruh si bungsu mengerjakan banyak pekerjaan rumah, mulai dari mencuci, memasak, membersihkan rumah, yang hampir semuanya dikerjakan si bungsu seorang diri.

Pada suatu hari si bungsu secara tidak sengaja menghanyutkan pakaian seorang kakaknya saat mencuci pakaian di sungai. Kakaknya memarahinya, menghukum dan memukulnya, serta memerintahkan mencari pakaiannya yang hilang sampai ditemukan atau si bungsu tidak diperbolehkan kembali ke rumah.

Dalam kesedihannya si bungsu pergi ke tepi sungai dan menangis seorang diri. Tiba-tiba muncullah seekor ikan mas bersisik keemasan, berlompatan kesana kemari berusaha menghibur si bungsu. Ajaibnya ikan mas ini dapat berbicara dengan manusia, dan namanya adalah "Leungli". Si Leungli membantu si bungsu menemukan pakaian yang hanyut, dan si bungsu pun berterima kasih kepada ikan mas lucu yang baik hati itu. Sejak saat itu si Leungli menjalin persahabatan dengan gadis bungsu malang tersebut dan selalu setia mendengarkan curahan hati, menghibur, bermain dan menggembirakan hatinya. Si bungsu selalu menyisakan nasi jatah makan hariannya yang sudah sedikit itu untuk dibagikannya kepada Leungli. Tiap kali ia ingin bertemu Leungli ia akan membawa sepincuk nasi, mencelupkan ujung rambutnya ke dalam sungai, dan menyanyikan pantun Sunda memanggil-manggil Leungli, maka ikan mas ajaib itu pun akan muncul.

Kakak-kakak perempuan si bungsu penasaran dengan perubahan sikap si bungsu. Belakangan ini ia tampak lebih tabah dan gembira, meskipun mereka senantiasa berlaku buruk terhadapnya. Kakak-kakaknya pun mengikuti si bungsu secara sembunyi-sembunyi, dan akhirnya mengetahui keberadaan ikan ajaib bernama Leungli itu. Kakak-kakak yang iri dengki itu bersiasat untuk menangkap si Leungli. Mereka mempelajari cara-cara memanggil Leungli yang dilakukan oleh si bungsu, yaitu dengan membawa sepincuk nasi hangat, mencelupkan rambut ke dalam air sungai, dan menyanyikan tembang pantun untuk memanggil si Leungli. Leungli pun tertipu dan terperangkap jaring kakak-kakak yang jahat tersebut. Dengan sia-sia ia mencoba untuk berontak, tetapi berhasil dilumpuhkan.

Tanpa mengetahui nasib buruk yang telah menimpa sahabatnya, si bungsu berusaha memanggil si Leungli. Tapi semua itu sia-sia karena si Leungli tak pernah muncul kembali. Dengan sedih si bungsu pun pulang ke rumah, tetapi sesampainya di dapur, betapa terkejutnya ia saat menemukan sisik ikan mas dan tulang-belulang ikan sisa-sisa jasad si Leungli di atas piring. Rupanya kakak-kakaknya yang jahat telah memasaknya untuk makan siang. Sambil menangis si bungsu pun menguburkan jasad si Leungli di kebun halaman belakang rumahnya. Beberapa hari kemudian secara ajaib di atas kuburan si Leungli muncul sebuah pohon emas, berdaun emas dan berbuah intan permata. Anehnya, siapa pun kecuali si bungsu, akan gagal saat bermaksud memetik daun emas dan buah permata itu, karena tiap kali akan dipetik daun atau buah itu berubah menjadi debu dan musnah.

Kabar mengenai pohon emas ajaib itu sampai ke keraton, dan membuat pangeran putra mahkota yang tampan tertarik untuk melihat pohon ajaib itu secara langsung. Pangeran akhirnya mendengar kisah Leungli sesungguhnya dan terkagum-kagum akan keluhuran budi, kebaikan, dan kecantikan si bungsu. Mereka pun bertemu dan saling jatuh cinta. Akhirnya si putri bungsu diboyong ke keraton, dinikahi oleh sang pangeran, dan mereka pun hidup bahagia bersama selamanya.

BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH

Zaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama Bawang Putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski Ayah Bawang Putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari Ibu Bawang Putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang Putih sangat berduka demikian pula Ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak Bawang Merah. Semenjak Ibu Bawang Putih meninggal, Ibu Bawang Merah sering berkunjung ke rumah Bawang Putih. Dia sering membawa makanan, membantu Bawang Putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan Ayahnya mengobrol. Akhirnya Ayah Bawang Putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikahi saja dengan Ibu Bawang Merah, supaya Bawang Putih tidak kesepian lagi.

Dengan pertimbangan dari Bawang Putih, maka Ayah Bawang Putih menikah dengann Ibu Bawang Merah. Awalnya Ibu Bawang Merah dan Bawang Merah sangat baik kepada Bawang Putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi Bawang Putih dan memberinya pekerjaan berat jika Ayah Bawah Putih sedang pergi berdagang. Bawang Putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang Merah dan Ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja Ayah Bawang Putih tidak mengetahuinya, karena Bawang Putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari Ayah Bawang Putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang Merah dan Ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang Putih. Bawang Putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan Ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang Putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat Ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Pagi ini seperti biasa Bawang Putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang Putih segera mencuci semua pakaian kotor yang di bawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang Putih tidak menyadari bawasalah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan Ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju Ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang Putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada Ibunya.

“Dasar ceroboh!” bentak Ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan Ibu tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang Putih belum juga menemukan Baju Ibunya. Dia  memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju Ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang Putih melihat seorang pengembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang Putih bertanya: “Wahai Paman yang baik, apakah Paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawa pulang.”

“Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata Paman itu.

“Baiklah Paman, terima kasih!” kata Bawang Putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang Putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang Putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang Putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.

“Permisi….!” Kata Bawang Putih.

Seorang perempuan tua membuka pintu.

“Siapa kamu nak?” tanya Nenek itu.

“Saya Bawang Putih nek. Tadi saya sedang mencari baju Ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Boleh saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang Putih.

“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya Nenek.

“Ya Nek. Apa….Nenek menemukannya?” tanya Bawang Putih.

“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata Nenek.

“Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta Nenek.

Bawang Putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang Putih pun merasa iba.

“Baiklah Nek, saya akan menemani Nenek selama seminggu, asal Nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang Putih dengan tersenyum.

Selama seminggu Bawang Putih tinggal dengan Nenek tersebut. Setiap hari Bawang Putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah Nenek. Tentu saja Nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, Nenek pun memanggil Bawang Putih.

“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju Ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata Nenek.

Mulanya Bawang Putih menolak diberi hadiah tapi Nenek tetap memaksanya. Akhhirnya Bawang Putih milih labu yang paling kecil.

“Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya.

Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang Putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang Putih menyerahkan baju merah milik Ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya Bawang Putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke Ibu tirinya dan Bawang Merah yang serakah langsung merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa Bawang Putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang Putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita Bawang Putih, Bawah Merah dan Ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini Barang Merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya Bawang Merah sampai di rumah Nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti Bawang Putih, Bawang Merah pun di minta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti Bawang Putih yang rajin, selama seminggu itu Bawang Merah bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu Nenek itu membolehkan Bawang Merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya Nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya Bawang Merah.

Nenek itu terpaksa menyuruh Bawang Merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat Bawang Merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi. Sesampainya di rumah Bawang Merah segera menemui Ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut Bawang Putih akan meminta bagian, mereka menyuruh Bawang Putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Bintang-bintang itu langsung menyerang Bawang Merah dan Ibunya hingga tewas. Itulah balasan begi orang yang serakah.

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...