Pages

Wednesday, December 19, 2018

TIME TO EAT SNACKS

Pagi yang cerah di hutan belantara. Seekor Singa bangun pagi-pagi sekali. Sedang bermain di melompat-lompat di halaman rumahnya sambil berteriak keras "Bergembira ria." Singa terus saja melakukan kegiatan itu sampai menemukan tongak kayu lalu di gunakan memukul pepohonan di hutan untuk tanda seperti genderang. Kadang pohon yang sudah tumbang yang mulai membusuk pun tidak luput dari pukulan si Singa yang sedang riang gembiara untuk buat genderang untuk menciptakan kehebohan. Singa melakukan kegilaannya terus-menerus sambil berteriak keras "Bergembira ria."

Sampai di rumah Zebra pun Singa tetap memukul pada benda-benda terbuat dari kayu yang dibuat untuk jadi bel rumah. Singa tetap saja heboh memukulnya dengan rasa heppy. Keluarlah Zebra dari rumah dengan membawa sepiring makan yaitu kue lapis. Zebra melihat ulah Singa yang terlalu riang.

"Hey Singa seperti biasanya kamu terlalu berisik," kata Zebra.

"Saya lagi bahagia. Zebra tetapi bukannya belum waktunya makan siang."

"Oh makan ini. Cuma kudapan."

"Apa itu kudapan?" tanya Singa sambil mendekati Zebra.

"Kudapan itu makanan yang di makan antara sarapan dan makan siang. Saat saya mulai lapar pada antara waktu itu"

"Jadi lebih tepatnya sih camilan sebelum makan siang ya Zebra."

"Ya...bisa dibilang begitu...sih Singa."

"Saya boleh meminta kue lapis kamu Zebra! Saya sedikit lapar."

"Boleh Singa," kata Zebra sambil memberikan sepotong kue lapisnya.

Singa ingin memakan kue lapis yang enak itu. Ternyata Singa punya pemikiran yang lain.

"Bagaimana kita makan kue lapis ini di tempat yang tenang?," kata Singa.

"Boleh juga ide kamu Singa."

"Kalau begitu kita siap-siap untuk makan kudapan di tempat yang lebih tenang lagi."

Singa tidak jadi makan kudapan dan di taruh di sebuah rantang makan bersama kue si Zebra. Bergegaslah Singa dan Zebra meninggalkan tempat tinggal Zebra. Lalu keduanya mencari tempat yang tenang untuk makan kudapan. Sampai di suatu tempat yang tenang tidak jauh dari rumah Jerapah. Mulai Zebra ingin makan kudapannya. Sedangkan Singa bertingkah heboh dengan mengetok-ngetok kelapa pada batu dan berteriak "Bergembira ria."

Jerapah teusik dengan ulah Singa yang berisik begitu juga Zebra ingin makan kudapan tetapi harus menenangkan dulu ulah Singa yang Hiperaktif. Jerapah pun keluar dari rumahnya.

"Siapa itu yang berisik di samping rumah ku?" tanya Jerapah dengan suara keras.

"Hay.....Jerapah saya yang sedang bermain di sini."

"Kamu..Singa seperti biasanya terlalu heboh saja. Ada apa kamu main kesini?"

"Ah..saya cuma ingin makan kudapan bersama Zebra saja. Ya kan Zebra!"

"Iya...saya ingin makan kudapan saja." saut Zebra.

"Boleh saya meminta kudapannya Singa karena sedikit lapar sih."

"Boleh Jerapah." kata Singa sambil mengambil kue lapis di rantang dekat Zebra dan diberikan ke Jerapah.

"Terima kasih atas kuenya. Kalau begitu saya makan ya." kata Jerapah melahap kue lapisnya.

Jerapah menikmati kue lapis, lalu bergerak masuk ke rumah dan meninggalkan Singa dan Zebra begitu saja.

"Kayanya makan di sini kurang tenang. Kita pindah aja ya Zebra." kata Singa.

"Pada hal saya baru mau memakan kue saya. Sudah harus pindah lagi. Ya sudahlah saya bereskan duu."

"Biar saya saja Zebra yang membereskan."

"Terserah kamu Singa."

Singa pun membawa kue lapis yang di simpan di rantang. Lalu keduanya bergerak menuju tempat yang lebih tenang. Sampai di suatu tempat yang tenang di pinggir sungai. Mulai Zebra membuka rantangnya dan ingin memakan kue lapis. Tapi tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing. Ternyata Buaya menunjukkan diri di tepi sungai saat sedang bermain  disungai dengan perahu buatannya. Singa pun langsung menyapa Buaya "Hey asik benar main airnya di atas perahu."

"Eh kamu Singa membuat saya terkejut saja kehadiran kamu. Gak biasanya kamu bermain di pinggir sungai bersama Zebra lagi."

"Saya hanya ingin makan kudapan saja." saut Zebra.

"Makan kudapan toh alias camilan ya kan....Zebra.

"Benar sekali.....makan kudapan. Apa kamu Buaya?" kata Singa menawarkan kue lapis punya Zebra.

"Boleh juga tawaran kamu Singa. Saya sedikit lapar, walaupun belum waktunya makan siang."

"Ini kuenya...Buaya." kata Singa sambil mengambil kue di rantang dan berikan ke Buaya yang berada di atas perahu.

"Terima kasih Singa. Saya makan ya kue lapis ini yang enak." kata Buaya sambil mengunyah kue lapisnya.

Buaya pun menikmati kue lapis enak. Setelah itu Buaya pun pergi bermain lagi di air dengan mendayung perahu dan menjauh dari Singa dan Zebra. Singa yang merasa tidak tenang makan kudapan bergegas membereskan semuanya. Sedangkan Zebra hanya mengikuti maunya Singa. Sampai lah di dekat rumahnya Gajah. Kemudian Gajah pun menyapa Singa "Hey Singa tidak biasanya kamu main ke sini. Ada angin apa kamu mau main di tempat saya?"

"Oh kamu Gajah cuma ingin makan kudapan saja Ya kan Zebra!"

"Iya Singa. Saya ingin makan kudapan saja." saut Zebra.

"Kudapan ya. Boleh saya merasakan kudapan itu Singa. Karena saya sedikit lapar karena habis membereskan mobil kesayangan saya."

"Boleh Gajah." kata Singa sambil mengambil kue lapis dari rantang dan diberikan ke Gajah.

"Terima kasih atas kuenya ya. Saya makan ya." kata Gajah sambil mengunyah kue lapis.

Gajah menikmati kue lapis, lalu meninggalkan Singa dan Zebra begitu saja karena ada urusan yang lain. Dengan segera Gajah membawa mobilnya. Singa merasa tidak tenang lagi makan kudapan, lalu bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut bersama Zebra. Sampai di tempat yang tenang di hutan yang lebih tenang lagi. Mulailah Singa dan Zebra mau makan kudapan. Tapi tiba-tiba muncul Monyet dan turun dari ayunannya menggunakan sulur dan berada di tengah Singa dan Zebra.

"Hey kalian berdua sedang apa?" tanya Monyet.

"Oh..kamu Monyet saya ingin makan kudapan." kata Singa.

"Iya saya ingin makan kudapan," saut Zebra.

"Oooo kudapan toh. Boleh saya mencicipinya ....ya Singa!"

"Boleh...Monyet."

Singa memberikan kudapan ke Monyet dan segera di makannya. Lalu Monyet pun pergi lagi dengan menggunakan sulur berayunan ke sana ke sini. Singa merasa ada yang aneh. Ternyata kudapan yang ada di rantang habis. Ternyata kue terakhir di berikan ke Monyet. Singa begitu tenang saja tidak punya sedikit bersalah. Tetapi Zebra ingin makan kudapan tidak jadi. Akhirnya Zebra memisahkan diri dari Singa dan pergi menjauh. Zebra berjalan menuju rumahnya sambil menggerutu "Kalau bukan ulah Singa pasti saya sudah makan kudapan saya."

Singa sadar dengan ulahnya yang sedikit keterlaluan dengan Zebra. Bergeraklah cepat Singa menemui teman-temannya dan langsung  bertemu di rumah Zebra. Saat Zebra sampai di rumahnya Singa menghadang langkahnya. Zebra sedikit terkejut dengan ulah Singa. Ternyata bukan Singa saja di rumah Zebra, tetapi teman-teman yang lain berkumpul. Lalu Singa memberikan kue lapis yang enak ke Zebra.

Dengan penuh bahagia Zebra memakan kue lapis pemberian Singa dan segera di makannya.

"Tunggu dulu..Zebra. Lebih enak makan kudapan bersama minuman yang segar," kata Singa sambil memberikan minuman dari buah kelapa yang segar.

"Benar sekali Singa," saut Zebra sambil mengambil buah kelapa dan segera meminumnya.

"Segarkan Zebra."

"Segar banget. Apalagi makan kudapan bersama teman-teman."

Mulailah pesta yang di buat oleh Singa dengan makan dan minuman yang di kumpulkan dari dirinya dan teman-temannya. Suasana pun meriah banget.

MISSING VOICE

Dalam hutang belantara ada seekor Singa yang baru bangun dari tidurnya. Keluar Singa dari rumahnya untuk menikmati pagi yang cerah sambil berjingkrak-jingkrak di depan rumah. Lalu Singa teringat dengan temannya si Gajah. Lalu Singa memutuskan untuk bermain ke rumah Gajah. Singa bergerak cepat sambil melompati batu-batu sekalian latihan ketangkasan. 

Sedangkan Gajah di rumahnya lagi mencuci mobilnya dengan penuh kegembiraan sambil bernyanyi riang. Tapi tiba-tiba Gajah kehilangan suaranya. Gajah berusaha keras mengeluarkan suaranya dengan semangat tetap saja tidak ada suara yang keluar dari mulut Gajah. Murunglah Gajah dengan keadaannya.

Singa pun dateng di rumah Gajah dan melihat keadaan temannya murung karena ada masalah.

"Hey...Gajah apa kabar mu?" sapa Singa dengan sopan.
Gajah pun menanggapi kedatangan si Singa dengan melontarkan kata-kata yang baik. Tetap saja Gajah tidak bisa mengeluarkan suaranya.  Singa terus mencoba mengajak bicara dengan Gajah, tetapi tidak ada tanggapan. Singa terus mencoba terus.

Gajah pun mencoba berintraksi seperti biasanya. Tetap Gajah tidak bicara. Cuma gerakan Gajah seperti bahasa isarat menunjukkan keadaannya tidak bisa mengeluarkan suara seperti biasanya. Singa lama kelamaan mengerti bahasa tubuh si Gajah.

"Jadi kamu kehilangan suara Gajah?" kata Singa.

Gajah pun menganggukkan kepala tanda "Iya." Singa berpikir cukup panjang untuk menolong Gajah. Akhirnya Singa punya ide yang cukup menarik.

"Gimana kita ke rumah Jerapah untuk mencari tahu keberadaan sakit kamu sampai-sampai kehilangan suara." saran Singa.

Gajah cuma mengangguk-anguk menunjukkan kesediaannya karena diberi solusi yang baik untuk menyelesaikan masalahnya kehilangan suara. 

"Kalau begitu kita ke rumah Jerapah pake mobil kamu Gajah," kata Singa.

Gajah pun ngangguk lagi tanda iya dan mengikuti saran Singa. Gajah pun bergerak ke mobilnya beserta Singa. Tapi yang ngopir bukan Gajah melainkan Singa, karena si Gajah lagi sakit. Dibawalah mobil dengan baik oleh Singa. 

Terlihat oleh Singa yang tidak begitu jauh. Buaya dan Zebra sedang bermain bulutangkis di tanah lapang di tengah hutan. Keduanya asik banget. Lalu Singa menghentikan mobilnya dengan baik dan memarkirkan mobil dekat pohon yang rimbun. 

"Hey...Singa dan Gajah apa gerangan kalian ke sini?" tanya Buaya.

"Iya gak biasanya," saut Zebra.

Singa mendekati Buaya dan Zebra setelah turun dari mobil dan berkata "Ada sedikit masalah. Teman kita. si Gajah kehilangan suaranya."

"Kehilangan suara. Bagaimana bisa kehilangan suara?" tanya Zebra.

"Aneh juga sampai kehilangan suara si Gajah. Apa yang dia lakukan sampai kehilangan suaranya?" kata Buaya.

"Saya juga tidak tahulah," saut Singa.

"Gajah bagaimana kamu kehilangan suara kamu?" tanya Buaya.

Gajah pun mendekati Buaya, Zebra dan Singa sambil memperagakan sesuatu dengan bahasa tubuhnya. Tetap saja Buaya dan Zebra tidak mengerti. Tapi Singa sedikit mengerti bawa Gajah berusaha menceritakan kejadiaannya sampai kehilangan suaranya. 

Lalu Singa pun mengajak teman-temannya untuk menemui Jerapah untuk bisa menyelesaikan masalah Gajah. Karena Jerapah banyak tahu karena senang membaca buku jadi banyak informasi yang dapat menyelesaikan masalah Gajah. Akhirnya Buaya dan Zebra ikut naik ke mobil Gajah. Berangkatlah semuanya ke rumah Jerapah dengan membawa mobil dengan cepat sekali menerobos lebatnya hutan. Sampai-sampai semua ketakutan dengan ulah nyetir Singa yang sedikit ugal-ugalan.

Selang berapa saat sampai di rumah Jerapah. Singa, Gajah, Buaya, dan Zebra turun dari mobil setelah di parkirkan dengan benar oleh Singa. Saat itu Jerapah lagi santai di depan rumah menikmati alam yang indah. Singa pun mendekati Jerapah.

"Jerapah...bisa kamu menolong Gajah yang kehilangan suara?" kata Singa.

"Oh..kehilangan suara. Tunggu sebentar saya punya bukunya untuk menyelesaikan masalah si Gajah kehilangan suara," saut Jerapah.

Jerapah masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil buku. Dengan seksama Jerapah mencari buku yang di inginkan yang berada di rak buku dan langsung keluar dari rumah dan membawa bukunya.

"Solusi untuk permasalah si Gajah ke hilangan suara. Berdasarkan buku ini. Cuma butuh istirahat saja nanti suaranya kembali seperti semula," saran Jerapah.

"Oh..begitu ..," saut Zebra dan Buaya bersamaan.

Gajah pun mengerti apa yang di sarankan oleh Jerapah.

"Saya kirain suara hilang harus di cari," kata Singa yang sedikit ngeleneh.

"Yang aneh-aneh saja kamu Singa. Memangnya barang ilang," kata Jerapah.

Tiba-tiba Monyet turun dari udara berdiri di depan Singa, Gajah, Buaya, Jerapah dan Zebra setelah bergelayutan menggunakan sulur yang terikat pada pohon. Tapi anehnya Gajah tidak bisa mengeluarkan suara walau pun sudah terkejut. Sedangkan teman-temannya sudah panik mengeluarkan kata-kata yang aneh-aneh untuk menunjukkan expresi mereka semuanya dengan ulah Monyet yang pecicilan banget.

Gajah pun berusaha untuk bisa bicara dengan teman-temannya dengan menggerak tubuhnya sebagai bahasa isarat. Tetap teman-temannya tidak mengerti. Ketika satu gerakan yang lumrah mengelus-ngelus perut. Eh  teman-temannya mengerti. Bergerak cepat mencari makanan dan minuman untuk merawat Gajah agar cepat sembuh.

Gajah pun senang dengan perhatian teman-teman baiknya dengan membawa makanan dan minuman. Lalu dengan segera Gajah memakan dan meminumnya. Perasaannya senang sekali dengan mengungkapkannya dengan bahasa tubuh dengan penuh antusias sekali. Tetapi tetap saja teman-temannya Gajah tidak mengerti dari ungkapan bahasa tubuh.

Gajah murung sambil menghelakan nafasnya. Gajah langsung ngoceh. Ternyata suaranya kembali dan teman-temannya bisa mendengarkan suara Gajah kembali.

"Benarkan Gajah hanya perlu istirahat saja. Suara kembali lagi," kata Jerapah.

"Gajah kamu bisa mengeluarkan suara lagi dari mulut kamu," kata Singa.

"Akhirnya saya dapet mendengar suara Gajah lagi," kata Buaya.

"Ternyata Gajah telah sembuh dari sakitnya kehilangan suara," kata Zebra.

"Horrrrrre......kita bergembira semuanya," kata Monyet sambil berjingkrakan kegirangan.

Gajah pun senang sekali telah sembuh dan dapat mengeluarkan suara dari mulutnya. Gajah mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya lewat kata-katanya.

"Bahwa saya sangat bahagia bisa mengeluarkan suara saya lagi. Dan saya berterima kasih sama teman-teman terbaik saya yang menolong saya dalam keadaan sakit kehilangan suara."

"Itulah pentingnya teman," saut Singa.

Gajah pun mengerti yang di omongin Singa begitu dengan yang lainnya. Lalu Singa, Jerapah, Buaya, Zebra, dan Monyet mulai menari bersama sambil bersorak-sorai mengikuti gerakan yang di pandu Gajah.

TRYING TO BE ANOTHER PERSON

Pagi yang cerah di sebuah hutang belantara. Yang melewati air terjun yang air jernih. Burung-burung berkicau tanda menyambut alam yang indah dengan nyanyian mereka yang merdua. Rumputan yang hijau di tanah yang lapang yang di tiup udara yang lembut sekali. Seekor Singa yang bermalas-malasan di tanah lapang, lalu bangun dan meraung dengan sangat kuat sampai semuanya jadi berisik banget.

Singa bermain-main di padang rumput yang hijau. Datenglah Jerapah dengan sibuk membaca. Singa langsung menghampiri Jerapah.

"Hay...Jerapah," sapa Singa.

"Kamu Singa....."

"Saya lagi main di sini Jerapah. Oh ya Jerapah suara angin seperti ini. Brubruru," kata Singa sambil mencoba menciptakan suara angin dengan mulutnya.

"Salah Singa. Yang benar wus......."

Singa merasa bingung dengan omongan Jerapah karena di ajarkan yang benar. Tetapi Singa berpikir "Apa saya harus menjadi orang lain agar bisa seperti Jerapah." Singa pun bergerak menjauh dari Jerapah dengan berlari. Lalu Jerapah memanggilnya dengan suara yang lantang.

"Hey Singa..mau kemana?"

Singa mendengar panggilan Jerapah dan diam langsung menjawab "Saya ingin menjadi orang lain."

Jerapah pun bingung dengan omongan Singa yang aneh. Singa terus berlari sampai ke tempat Monyet yang sedang bermain di taman bermain. Monyet turun dari atas dengan perosotan sambil berteriak "Winggggg." Sampailah Monyet  di bawah dengan aman sekali. Singa mendekati Monyet.

"Hey Monyet saya bisa menjadi seperti kamu," kata Singa.

"Coba ..saja...," saut Monyet.

Singa mulai melompat ke sana ke sini dan naik ke ayunan yang terbuat dari ban mobil yang diikat di tali. Singa pun bergelayutan seperti layaknya Monyet. Sedangkan Monyet lebih lincah lagi bergelayutan dengan sulur yang terikat di pohon. Singa pun turun dari ayunannya mencoba menjadi Monyet dengan menggunakan sulur. Terus bermain ke sana ke sini bergelayutan. Sampai bertemu Gajah yang sedang mencuci mobilnya.

Langsung Gajah menyapa Singa "Hay Singa." 

"Gajah saya berusaha menjadi Monyet yang bergelayutan di sulur ini," kata Singa.

"Oh..begitu. Tetapi kenapa kamu harus menjadi seperti Monyet. Saya saja pun tidak bisa bergelayutan seperti monyet. Saya hanya bisa menggunakan belalai saya saja. Itu pun sudah cukup. Terkadang saya meniup belalai saya dan berubah menjadi suara terompet," kata Gajah.

"Saya tidak bisa mengeluarkan suara seperti kamu Gajah yang mirip terompet. Tapi saya akan coba," kata Gajah.

Singa pun berusah mencoba menjadi Gajah. Sedangkan Gajah sibuk mencuci mobilnya. Singa terus saja mencoba cara bisa mengeluarkan suara terompet. Lalu bertemulah dengan Buaya yang sedang bermain lompat-lompat dengan sebuah alat yang kakinya di pasang per. 

"Hey ..Singa sedang apa kamu?" tanya Buaya.

"Saya mencoba menjadi Gajah dan berusah mengeluarkan suara seperti terompet," kata Singa. 

"Oh begitu.....ya..Singa. Menjadi orang lain,"

"Iya berusaha menjadi orang lain."

Singa pun berjalan ke sana ke sini meninggalkan Buaya yang sibuk bermain lompat sana dan sini. Singa terus mencari cara agar bisa seperti Gajah. Sedangkan Gajah baru selesai mencuci mobilnya langsung menggunakannya untuk mencari tahu tentang Singa dengan menemui Jerapah. Gajah pun sampai di rumah Jerapah, lalu menceritakan keadaan Singa.

"Loh Singa sampai seperti itu. Padahal lebih baik menjadi diri sendiri dari pada menjadi orang lainkan," kata Jerapah.

"Itulah masalahnya," kata Gajah.

"Kalau begitu kita harus mencari Singa! Gajah." 

"Iya....ayo."

Jerapah naik mobilnya Gajah dan bergerak mencari Singa. Sampai bertemu dengan Buaya, lalu di beri tahu arahnya. Kemudian Buaya pun ikut mobil Gajah. Sedangkan Monyet pingin ikutan dan baru turun dari bergelayutan dari sulur dan ketinggalan mobil Gajah. Jadi Monyet menggunakan sulur untuk bergelayutan mengejar Gajah dan kawan-kawan. 

Singa pun menemukan sebuah bambu dan langsung di pakai sebagai belalai Gajah dan berusaha meniupnya. Makin lama makin frustasi si Singa. Bertemu lah dengan Zebra.

"Singa sedang apa kamu?" tanya Zebra.

"Saya mencoba menjadi Gajah," kata Singa.

Datenglah Gajah dan kawan-kawan turun dari mobil dan mendatangi Singa begitu juga dengan Monyet.

"Singa jangan mencoba menjadi orang lain. Jadilah dirimu saja," saran Jerapah.

"Kenapa?" tanya Singa.

"Saya pun tidak bisa menjadi kamu. Si raja hutan," kata Gajah.

"Saya juga," saut Buaya.

"Saya juga," kata Zebra.

"Begitu juga saya tidak bisa," celoteh Monyet.

"Kan tidak semua orang bisa menjadi kamu," kata Gajah.

"Oh ternyata semua orang tidak bisa menjadi saya. Jadi harus menjadi diri sendiri toh."

Singa menyadari kesalahannya dan mulai meraung di padang rumput yang hijau di saksikan dengan teman-temannya.

"Itu baru Singa sang raja rimba," kata Jerapah, Gajah, Buaya, Monyet dan Zebra bersamaan.

"Saya mengerti...bahwa menjadi saya juga susah buat binatang yang lain."

Singa pun bermain kejar-kejaran dengan para binatang yang lain di padang rumput yang hijau terbentang.

SING WITH FRIENDS

Sebuah Hutan belantara yang tenang. Banyak makluk hidup di dalamnya saling berdampingan. Lebah senang bermain di dengan riang di taman bunga. Semut yang sibuk mengumpulkan makanannya ke sarangnya. Dan ada seekor Singa yang sedang bersantai di rumah sambil belajar menyanyi. Dengan susah payah Singa menyanyikan lagunya. Tetapi Singa merasa lagunya belum sempurna. Dalam ke adaan murung karena syair lagunya belum selesai. 
Singa mendengar suara yang merdu sekali. Singa pun punya pemikiran yang cemerlang "Jika saya menyatukan lagu saya dengan suara merdu itu mungkin syair lagu saya bisa cepat selesai."

Singa pun bergerak menuju mobilnya. Dengan perasaan senang Singa membawa mobilnya ke tempat suara merdu berbunyi. Sampailah di rumah Gajah. Singa langsung memarkirkan mobilnya dengan baik. Singa langsung mendatangin Gajah yang sedang bermain alat musik tiup.

"Gajah bagus banget alat musik yang kamu mainkan," pujian Singa.

"Memang bagus alat musik ini, tetapi belum selesai di buatnya. Singa."

"Jadi alat musik ini belum selesai toh. Padahal kalau di satukan dengan lagu saya mungkin bisa lebih menarik dan dapat menyelesaikan syair lagu saya. Gajah."

"Saya mengerti kamu Singa. Kalau kamu punya berbakat membuat lagu dan menyanyikannya dengan suara merdumu. Tetapi alat musik saya ini belum sempurna. Coba pegangin alat musik saya. Dan jangan dimainkan! Saya ingin mengambil sesuatu di dalam rumah untuk memperbaikinya."

"Iya saya pegang alat musik kamu ini dengan baik dan tidak memainkanya."

Gajah langsung bergerak masuk ke dalam rumah. Singa yang sedang menunggu Gajah di halaman merasa sedikit bosan. Lalu Singa mengabaikan perintah Gajah jangan memainkan alat musiknya yang belum sempurna.

Singa mencoba meniup alat musik tersebut sambil bernyanyi riang. Alat musik pun rusak jatuh ke tanah, karena ikatan putus. Singa sedikit panik dan mencoba untuk memperbaikinya. Ternyata Gajah melihat ulah Singa yang sedang repot banget dari balkon rumah lantai dua.

"Kan sudah saya bilangin jangan di mainkan alat musik saya yang belum sempurna Singa!"

"Maaf deh...Gajah saya yang salah."

Gajah langsung turun dari lantai dua rumahnya dengan cepat menuju Singa yang terus mencoba memperbaiki alat musik.

"Sini alat musik saya Singa!" kata Gajah.

"Iya Gajah. Saya minta maaf telah merusak alat musik kamu," kata Singa sambil menyerahkan alat musik yang rusak.

Gajah langsung menerima alat musik dan di susun rapih dengan baik. Tetapi ternyata kurang satu. Singa pun mencarinya dengan baik. Ternyata malah Singa menginjak batang suling dengan kakinya yang kuat sampai patah menjadi dua. Singa rasa bersalah lagi karena merusakan alat musik Gajah lebih parah lagi. Singa mengambil alat musik yang patah dan di berikan ke Gajah.

"Singa alat tiup ini rusak parah dan suara pun parah. Tidak bisa di mainkan lagi," kata Gajah dalam keputus asahan. 

"Maaf deh Gajah. Saya akan menolong kamu memperbaiki alat tiup kamu itu."

Singa pun bergerak ke sana ke sini mencari sebuah kayu yang sama ukurannya dengan alat musik Gajah yang patah. Akhirnya Singa mendapatkan kayu yang cocok dan membawanya ke Gajah.

"Gajah bagaimana dengan benda yang aku temukan ini," kata Singa sambil meniupnya dengan baik.

Gajah mendengarkan suara yang keluar dari alat musik yang di tiup Singa.

"Singa ...ternyata suara yang di hasilkan terlalu sember," kata Gajah.

"Oh...begitu ya. Kalau begitu lebih baik kita cari di tempat lain saja. Siapa kita menemukan pengganti dari alat musik kamu yang rusak Gajah!"

"Ayo kita cari ke tempat lain Singa."

Singa dan Gajah pun bergerak menuju mobil mereka masing-masing dan berangkatlah mereka menuju tempat yang dapat memperbaiki alat musik. Sampailah di suatu tempat yang sunyi. Singa dan Gajah turun dari mobil mereka. Dengan penuh antusias Singa mencari benda-benda di hutan untuk memperbaiki alat musik Gajah. Gajah menemukan sebuah kayu yang cukup besar. Langsung ditunjukkan ke Gajah.

"Gajah bagaimana dengan benda yang saya temukan ini," kata Singa sambil meniupnya dengan kuat sekali.

Gajah mendengarkan suara yang keluar dari benda yang di tiup Singa.

"Singa...suaranya terlalu menggelegar sekali," kata Gajah.

"Oh......"

Singa mencari lagi dengan baik di hutan. Singa menemukan sesuatu yang baik yaitu kayu kecil banget. Lalu di bawa ke Gajah.

"Bagaimana dengan ini Gajah?" kata Singa sambil memainkannya.

Gajah mendengarkan dari alat yang di tiup Singa dengan baik.

"Singa ternyata suara yang di hasilkan dari benda itu terlalu nyaring banget."

"Oh begitu. Bagaimana dengan sebuah kelapa yang bolong di sana. Mungkin saja bisa menghasilkan suara yang bagus," kata Singa.

"Mungkin saja. Ehhhhh...mana mungkin ya," saut Gajah.

"Kalau tidak kita coba mana tahu Gajah."

"Iya..juga...Singa."

Singa menghampiri sebuah kelapa yang tergeletak di tanah bersama Gajah. Tiba-tiba monyet turun dari pohon kelapa langsung menghampiri Singa dan Gajah.

"Sedang apa kalian?" tanya Monyet.

"Kamu Monyet buat saya terkejut saya," kata Singa.

"Iya...kebiasaan kamu Monyet. Kalau muncul tiba-tiba," saut Gajah.

"Ah...kalian kaya tidak tahu saya aja. Ngomong-ngomong kalian berdua lagi ngapain di daerah ini?" kata Monyet mengajukan pertanyaan.

"Kami berdua di daerah sini untuk mencari benda yang sesuai untuk memperbaiki alat musik si Gajah yang rusak karena saya," kata Singa dengan terus terang.

"Iya..untuk membenarkan alat musik saya yang rusak," saut Gajah.

"Oh begitu. Mungkin saya bisa menolong kalian untuk menyelesaikan permasalahan kalian yang tidak terlalu rumit ini," kata Monyet.

"Tetapi....Monyet.. suara yang di hasilkan tidak sember, menggelegar, dan nyaring," kata Gajah.

"Benar itu ...kata Gajah. Suara yang di hasilkan jangan sember, menggelegar, dan nyaring," kata Singa.

"Oh..begitu. Kalau begitu saya coba dengan kelapa ini," kata Monyet sambil meniup kelapa dari lubangnya.

Gajah mendengarkan dengan seksama suara yang di hasilkan dari kelapa yang di mainkan Monyet.

"Ternyata suara kecil....banget," kata Gajah.

"Iya...Monyet ..suaranya terlalu kecil," saut Singa.

"Kalau begitu bagaimana dengan ini?," kata Monyet sambil meniup dari mulutnya sampai lidahnya keluar.

Gajah mendengarkan suara yang di mainkan Monyet. 

"Ah..itu mah kacau banget. Kamu mah becanda Monyet," kata Gajah.

"Guyon lebih baik. Dari pada terlalu serius banget. Nanti bisa stres tahu," kata Monyet.

"Bener juga apa yang di omongin Monyet. Kalau terlalu serius banget kita bisa stres untuk menemukan benda pengganti untuk alat musik gajah yang rusak," kata Singa.

"Ya...udah deh. Lebih baik kita cari tempat yang lain," saran Gajah.

"Ayo...cari tempat yang lain," jawab Singa.

"Idem..saya ikut," saut Monyet.

Gajah, Singa, Monyet bergerak menuju mobil mereka masing-masing. Mereka berkeliling sekitar saling beriringan. Sampailah di tempat yang sangat indah dan nyaman. Singa, Gajah, dan Monyet langsung memarkirkan mobilnya. Bergerak ketiganya  menurunin tangga sampai ke lembah. Ternyata ada Jerapah, Zebra, dan Buaya yang sedang piknik di tepat wisata air terjun yang bagus banget dengan kejernihan airnya.

"Hai Jerapah bisa kamu menolong saya untuk memperbaiki alat musik saya yang rusak....!" kata Gajah memohon.

"Oh...kamu Gajah.  Kamu dalam masalah toh. Maka kamu ganggu saya yang lagi santai di sini bersama teman-teman. Ya deh saya tolong kamu untuk menyelesaikan masalah kamu," kata Jerapah.

"Masalah sepele. Saya bisa juga menolong kamu," saut Zebra.

"Saya juga akan menolong kamu Gajah. Pentingnya teman itu. Saling tolong menolong," saut Buaya.

Lalu Jerapah mencoba mengumpul benda yang ada di sekitar. Lalu di mainkan secara bergantian. Tetap saja tidak satu pun suara yang pas untuk memperbaiki alat musik Gajah yang rusak. Gajah mulai putus asa banget. Lalu menghelakan hapasnya pada sebuah benda. Singa mendengarkan dengan suara yang merdu yang di hasilkan. Kemudian Singa menyuruh Gajah untuk menghelakan nafasnya sekali lagi. Ternyata Singa mendapat suara merdu tersebut dari sebuah botol minuman tidak terpakai lagi.
"Wah suara benar-benar pas banget," kata Gajah.

Gajah langsung merakitnya botol minuman bersama alat tiup yang lainnya. Setelah itu Gajah langsung memainkannya dengan baik. Gajah pun senang sekali karena alat musiknya telah jadi dengan sempurna. Singa pun mulai menyanyi untuk menyelesaikan syair lagunya yang belum selesai. Dengan bantuan teman-temannya memainkan alat musik yang di bawa atau di dapatkan di lingkungan sekitar alias  barang sampah atau tidak terpakai lagi, tapi mengasilkan suara yang cukup bagus setelah di padukan. Akhirnya syair lagu Singa jadi dengan baik dan sempurna berkat kerja sama yang baik.

Singa pun bernyanyi dengan riang dan gembira mengalunkan suaranya yang merdu dan indah di bantu dengan alat musik yang mainkan semua teman-temannya. Acara piknik tambah meriah lagi dengan kegembiraan yang luar biasa.

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...