Pages

Sunday, November 10, 2019

KENYATAAN HIDUP

Seperti biasanya Budi berangkat bangun pagi-pagi. Saat sarapan bersama Ibu, Budi mendengar tetangga depan rumah menghidupkan musik dangdut. Budi memang menikmati musik yang di dengarkan, tetapi tahu siapa yang menyetel musik pagi-pagi dengan suara keras membuat sedikit kesal di dalam hati Budi. Akhirnya Budi bercelotehlah "Apa hidup ku satu saat sama sama seperti tetangga ku. Sebatas sekolah SMA pendidikannya. Kerjaannya lebih banyak nganggurnya. Walau pernah membangun usaha pun banyak gagalnya dan dalam pernikahan pun gagal satu kali dan menikah lagi. Bikin repot orang tua dan tetangga sekitar dengan sikapnya yang sok dewasa tapi kekanakan banget."

Budi melupakan ocehannya dan menyelesaikan sarapannya. Berangkatlah Budi ke sekolah dengan berjalan kaki, sampai ujung jalan naik mobil mikrolet untuk mengantarkannya ke tujuannya. Saat di mobil Budi teringat dirinya belum membuat Pr alias lupa. Maka itu setelah sampai di sekolah Budi langsung ngobrol dengan Teguh teman sekelas Budi untuk melihat hasil kerjaan Pr-nya. Teguh pun memberikan buku Pr-nya ke Budi untuk di salin, karena Budi memberikan alasan dirinya lupa membuat pekerjaan Pr. Segera Budi mengerjakan menyalin Pr-nya Teguh dan untungnya itu Pr akan di kumpulkan saat jam pelajaran ke dua.

Dengan cepat menyelesaikan menyalin Pr-nya Teguh dan wal hasil beres juga. Buku Pr-nya Teguh di kembalikan Budi. Pelajaran pertama di mulai. Dengan biasanya Budi dan teman-teman sekelas menjalankan aktivitas belajar seperti biasanya. Sampai jam pelajaran ke dua. Ternyata Ibu guru yang mengajar tidak dateng karena sakit. Budi langsung menghelakan nafasnya dan berkata "Susah payah menyalin Pr, Ibu guru gak masuk."

Budi seperti biasa belajar sendiri di kelas begitu juga teman-temannya karena Ibu guru tidak dateng untuk mengajar. Terkadang Budi teringat dengan keadaannya tadi pagi dan berkata dalam hatinya "Apa kah jalan hidup ku bisa gagal juga dengan tetangga di depan rumah ku itu ya."

Budi terus berpikir dengan seksama untuk mencari perbandingan yang lain. Budi teringat dengan Omnya yang hidupnya tidak jauh berbeda dengan tetangga di depan rumahnya kalau urusan pekerjaan, tetapi kalau urusan rumah tangga sih Omnya Budi belum mendapatkan anak dari hasil perkawinan sampai sekarang. Lagi-lagi Budi menghelakan nafasnya dan berkata dalam hatinya "Moga-moga jalan hidup ini bisa berhasil setelah lulus sekolah SMA."

Budi terus menjalankan aktivitasnya di sekolah untuk mendapatkan pendidikan dan bergaul dengan baik dengan teman- teman sekelasnya. Saat pulang sekolah Budi dan juga saat di dalam mobil mikrolet, lagi-lagi Budi mengela nafasnya ketika melihat Pak sopir dalam hatinya berkata "Jika aku gagal dengan pendidikan ku maka aku akan jadi seperti Pak sopir mikrolet."

Budi terus berusa tidak memikirkan lagi semuanya yang membuat dirinya resah. Sampai di lingkungan dekat rumah. Budi lagi-lagi melihat tukang ojek dan penjual batagor yang ada di pinggir jalan. Budi lagi-lagi mengela nafasnya dan berkata dalam hatinya berkata "Jika aku gagal dalam pendidikan ku aku akan sama seperti tukang ojek dan penjual batagor." Budi terus berusaha tidak memikirkannya dan sampai di rumah.

Tapi ketika melihat Ibu dan Ayahnya, Budi lebih tersadar lagi. Dalam hati Budi berkata "Ayah seorang pekerja keras, hanya bisa menjadi guru ngaji saja karena lulusan pondok pesantren dan Ibu pun jadi guru agama Islam karena lulusan S1 untuk menggapai mimpi dan harapan jadi kenyataan jadi orang yang sukses di pendidikan, pekerjaan dan rumah tangga."

Budi pun langsung masuk kamarnya dan belajar dan belajar di kamarnya agar menjadi orang berhasil dan tidak mau jadi orang gagal seperti orang-orang di sekitarnya, minimal sama kedudukannya dengan orang tuanya yaitu sukses di pendidikan, pekerjaan dan rumah tangga.

GELENG GELENG RAPAI GELENG

Pemuda itu duduk bersila seraya menyenderkan kepalanya di salah satu sisi rangkang. Ia menarik nafas, lalu dihembuskan perlahan. Wajahnya menunjukkan ketertarikannya dengan udara segar pagi ini. Sang surya bersinar cerah, namun cahayanya dihalangi oleh hamparan awan-awan putih gading yang rapi tersusun di bawahnya. Ditambah dengan suara merdu desiran ombak yang seirama, beserta deretan kepiting yang kelihatan sangat sibuk berkejar-kejaran. Tak henti-hentinya pemuda itu bertasbih. Betapa bersyukur dirinya merasakan semua keindahan ini.

“Bi..”

Pemuda itu membantu anaknya menaiki rangkang, dan didudukkan di sebelahnya. Bocah kecil itu menunjukkan sebuah benda berbentuk seperti tempayan yang di bagian atasnya tertutup kulit. Pemuda itu menerimanya, lalu mulai memukulnya perlahan. Benda tersebut akan menghasilkan suara degungan yang besar jika dipukul di tengah-tengah, dan akan menghasilkan suara yang nyaring dan tajam jika dipukul pada bagian pinggir. Ia menghayati setiap pukulannya sampai matanya terpejam santai, lalu mulai melantunkan sebuah syair.

Meunyo ka hana raseuki

Nyang bak bibi rhot u lua

Bek susah sare bek seudeh hate

Tapike laen tamita

Mmmm ~

Bocah kecil itu menikmatinya. Biarpun terkadang abinya melupakan sedikit bagian dari syair tersebut, itu tetap enak di pendengarannya. Ia menghayati setiap katanya, biarpun tidak dapat dipahami otaknya. Suasana pagi ini sangat sesuai dengan syair-syair lembut dan dentuman benda itu. Ingin rasanya merasakan hal ini sepanjang hari.

Fais tersadar ketika setitik air mata jatuh dan mengalir di pipinya. Betapa kini ia merindukan kehadiran abi di sampingnya. Sudah bertahun-tahun ia lalui tanpa abi yang selalu mengantarkannya ke sekolah, yang sering meminta bantuannya untuk menyiram tanaman di kebun, yang selalu memarahinya jika menyisakan makanan. Sangat banyak kenangan yang Fais lalui bersama abi. Termasuk syair-syair indah di pagi hari yang selalu abi nyanyikan serta dentuman hangat benda itu yang masih sangat jelas diingatannya.

“Benda ini namanya rapai. Ada sebuah tarian etnis Aceh yang menggunakan rapai seperti ini, disebut Tari Rapai Geleng. Gerakan tarian tersebut awalnya lambat, lalu semakin cepat sesuai dengan syairnya, diikuti dengan gerakan tubuh yang meliuk ke kiri dan ke kanan dengan posisi duduk bersimpuh. Semakin cepat syairnya dinyanyikan, maka gerakannya juga semakin cepat. Begitupun sebaliknya. Pada setiap titik puncaknya, semua gerakan tadi berhenti, termasuk seluruh nyanyian syair. Nah, supaya menghasilkan suara, rapai ini harus dipukul,” abi melanjutkan dengan memukul rapai itu dan menyanyikan syair-syairnya.

“Beu reujang rayek banta sidang, jak tulong prang musoh nanggroe..” Fais terbawa suasana hatinya. Salah satu syair itu terlantunkan begitu saja dari mulutnya. Rindu pada abi yang selalu menyanyikan syair itu sebelum Fais tidur dan bahkan sampai Fais berpetualang di alam mimpinya.

Fais, murid SMA yang jauh dari desa, tinggal dengan umi dan adiknya. Bertahun-tahun sudah umi menjadi single parent setelah abi kembali kepada Allah. Untungnya, rezeki seperti tak pernah berniat untuk meninggalkan mereka. Setelah mereka ditimpa kesedihan dan kepedihan, berbagai mukjizat tak henti-hentinya datang. Umi diajak bergabung di sebuah perusahan sukses, sementara Fais dan adiknya lulus beasiswa sekolah terbaik di kota.

Ya, disinilah Fais sekarang. Sebuah kota yang sangat modern dengan berbagai fasilitas yang sudah canggih. Gedung tinggi dimana-mana. Kota yang selalu berpasangan dengan suara berisik kendaraan. Kota yang ingin bersahabat dengan oksigen, tetapi sudah direbut karbondioksida. Kota yang setiap paginya selalu diramaikan dengan karyawan-karyawan kantor yang terburu-buru berangkat kerja.

Rumah berlantai dua milik keluarga Fais berada di tengah-tengah kota itu, sangat jarang berpenghuni karena selalu disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Rumah yang indah biarpun tidak memiliki taman di halamannya. Rumah itu luas dan memiliki banyak kamar.

Ada satu kamar yang baru kali ini Fais sadari kehadirannya. Ruangan yang luas, tapi berisi barang-barang tak terpakai, atau bisa disebut gudang. Wajar saja, dulu saat pindah ke sana, Fais tengah disibukkan dengan ujian nasional, yang membuatnya tidak dapat membantu umi dan adiknya memberesi rumah. Nah, disitulah Fais sekarang. Di dalam gudang yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Di tangannya kini terdapat sebuah rapai yang penuh kenangannya bersama abi. Air mata jatuh setitik lagi dari sudut matanya. Buru-buru ia menyapunya, dan membersihkan debu yang terdapat di rapai itu.

Rapai itu dipukul sekali. Fais merasa betapa tenang hatinya saat ini. Dilanjutkan pukulan kedua, ketiga, dan seterusnya. Pukulan yang berlanjut itu menghasilkan sebuah musik yang pas. Pita suaranya mulai bergetar menghasilkan syair-syair lama yang penuh makna. Permainan itu terus berlanjut. Fais menikmatinya sendiri.

”Nanggroe Aceh nyoe teumpat lon lahe

Bak ujong pante pulo Sumatra

Dilee baroe kon lam jaroe kaphe

Jinoe hana le ka aman seuntosa..”

Permainannya terhenti karena ia menyadari kehadiran umi di sebelahnya. Umi tersenyum, lalu Fais berjalan keluar mengikuti uminya.

“Mendadak umi sangat rindu abi. Melihatmu memainkan rapai itu, umi ingat pada abi yang tak pernah libur memainkannya setiap hari. Pagi-pagi selalu umi lewati dengan syair-syair yang abi nyanyikan diiringi dentuman rapai. Abi pernah berangan-angan, ingin terus mengiringi bumi Aceh, nusantara, bahkan dunia dengan suara pukulan rapai lima puluh tahun atau seratus tahun kedepan. Sangat ingin dirinya melestarikan rapai ini, sampai ke cucu-cucunya nanti,” umi lalu tersenyum hangat, membayangkan kembali kejadian yang sudah lama itu.

Umi menarik nafas, lalu membuangnya perlahan. Tiba-tiba saja senyumnya menghilang, diikuti raut wajah yang menunjukkan kesedihan. Ia melanjutkan perkataannya, “Tapi mustahil rasanya. Di zaman yang sangat modern ini, tidak ada lagi yang memainkan rapai. Mungkin saja mereka bahkan tidak mengetahui bagaimana rapai itu. Rapai sudah dianggap sangat kuno, apalagi dengan munculnya banyak alat musik yang lebih canggih. Dulu sekali, menjelang maulid begini, suara pukulan rapai terdengar dimana-mana. Ingin rasanya umi mendengarkannya lagi,”

“Umi, doakan Fais supaya bisa mewujudkannya!” kata Fais penuh semangat.

“Kamu yakin, neuk?”

Fais masih ingat apa yang telah abi ajarkan. Bagaimana cara memainkan rapai agar terdengar pas jika dimainkan berbarengan. Ia masih ingat saat abi mengajaknya ke acara maulid di desanya dulu. Sekitar lebih kurang sebelas pemuda dua puluh tahunan memainkan rapai dengan sangat kompak. Banyak masyarakat yang menontonnya. Disetiap puncak tarian yaitu ketika sedang dalam gerakan yang cepat dan syair yang dinyanyikan cepat pula, lalu tiba-tiba berhenti, disitulah suara riuh tepukan tangan penonton terdengar.

Umi wajar saja merindukan hal itu. Pasti di luar sana ada juga beberapa orang yang merindukan hal yang sama. Termasuk Fais sendiri. Ntah kenapa tiba-tiba saja di kepalanya terpikir untuk menarikan rapai geleng bersama teman-temannya. Apa salahnya mencoba? 

“InsyaAllah umi, Fais akan mencoba,”

Ternyata, tidak mudah mengajak teman-temannya bergabung. Sesuai dugaan, mereka menolaknya karena dianggap terlalu kuno. Hampir semua teman-temannya sudah diajak, tapi belum ada seorangpun yang berminat. Beberapa orang yang menolak bergabung, mendukung Fais. Benar, usahanya belum gagal. Fais memutuskan untuk terus mengajak.

Banyak pertanyaan yang diajukan kepada Fais. Sebelumnya, Fais sudah menduga teman-temannya akan bertanya banyak hal. Jadi ia sudah menyiapkan segala jawaban, agar membuat teman-temannya tertarik. Tapi itu sama sekali tidak mempengaruhi. Rasa putus asa sudah menghampirinya.

“Kamu kenapa?” beberapa siswa menghampirinya. Dari seragamnya, terlihat mereka dari sekolah yang berbeda. “Kamu terlihat sangat murung. Ada apa? Ceritakan pada kami. Mungkin kami dapat membantumu,”

Fais baru menyadari dirinya sudah terduduk sangat lama di halte bus sendirian. Beberapa orang itu terlihat tulus ingin membantunya. Mereka lalu berkenalan. Mereka adalah Thariq, Abrar, Ikram, dan Ibrahim, beruntungnya lagi mereka sebaya dengan Fais. Fais pun mulai menceritakan segalanya. Kenangannya bersama abi yang mengajarkannya bermain rapai, saat ia menemukan kembali rapai itu di sudut gudang rumahnya, tentang tekadnya yang ingin mewujudkan impian abi, dan rasa putus asanya ketika teman-temannya tak ada yang berminat bergabung bersamanya menarikan rapai geleng. Fais terkadang berhenti, menarik nafas, dan menghela panjang ketika menceritakannya. Wajahnya menerawang. Teman-teman barunya terus mendengar tanpa mengomentari sedikit pun. Sampai akhirnya Fais selesai bercerita.

“Fais, apakah kamu tidak keberatan jika kami semua bergabung denganmu?” tanya Ikram. “Aku pribadi sih, tertarik dengan rapai geleng setelah mendengar cerita darimu. Aku juga ingin mengetahui dan merasakan bagaimana memainkan rapai. Sejauh ini, aku tidak pernah bermain alat musik lain selain gitar dan piano, apalagi alat musik tradisional. Jadi aku sangat penasaran. Bagaimana?”

Tentu saja Fais tidak keberatan. Fais sangat bersyukur bertemu dengan Ikram dan teman-temannya. Mereka bahkan tidak keberatan membantunya mengajak teman-teman yang lain. Ini semua diluar dugaannya. Ia tidak berpikir masih ada orang yang memiliki rasa ingin tahu terhadap alat musik lama itu. Mentari yang awalnya sedikit mendung, mendadak cerah seolah ikut bersemangat. Akhirnya sudah berjumlah sebelas orang. Mereka memutuskan untuk berlatih di setiap hari minggu, dan akan segera menampilkannya di acara maulid yang diadakan di kantor walikota.

Hari ini acara maulid diadakan. Langit cerah dan berawan ikut memeriahkan. Suasana kantor walikota sudah sangat ramai dengan anak-anak yang sudah ditinggal oleh orangtuanya. Nasi kotak sudah tersusun rapi di atas meja. Suara-suara lantunan zikir kepada nabi SAW dilantunkan. “Ya Nabi Salam ‘Alaika, Ya Rasul Salam ‘Alaika..”

Tiba saatnya penampilan rapai geleng diperkenalkan ke seluruh masyarakat. Fais dan teman-teman berdiri bersaf di atas panggung. Ibrahim sebagai syeh bersiap dengan mikrofonnya. Fais memukul rapai sekali sebagai pertanda untuk hormat, lalu mereka duduk berbanjar. Ibrahim mulai menyanyikan sebait syair yang berisi puji-pujian kepada Allah.

Alhamdulilah pujoe keu Tuhan

Nyang peujeuet alam langet ngon donya

Teuma seulaweuet ateueh janjongan

Pang ulee alam rasul ambiya

Rapai dipukul mengikuti syair. Gerakan badan juga sesuai dengan tempo syair dinyanyikan. Badan penari meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan, tapi masih tetap dalam posisi duduk. Kepala diangguk-anggukkan sesuai dengan tempo. Saat tempo sedang cepat, diikuti gerakan yang cepat pula, lalu tiba-tiba syair berhenti dinyanyikan, dan penari juga ikutan berhenti gerakan. Sesaat terdengar suara gemuruh tepukan tangan penonton dari bawah panggung. Fais mencoba menyembunyikan senyumnya, tapi bibirnya tetap memaksa untuk tersenyum. Saat syair kembali dinyanyikan, mereka kembali menari.

Suara tepukan tangan dan teriakan-teriakan penonton mengakhiri pertunjukan rapai geleng. Fais dan teman-temannya disambut dengan hangat oleh sang walikota. “Kalian hebat! Teruslah lestarikan budaya Aceh, saya sangat bangga pada kalian!” serunya. Ia memeluk Fais dan teman-temannya, serta memberi mereka penghargaan, yang pastinya tidak pernah akan bisa Fais lupakan. Fais lalu memeluk uminya yang sedari tadi menontonnya dengan penuh keharuan, “Umi bangga dengan Fais, terima kasih neuk!”

Walikota dengan semangat yang menggebu-gebu mengajak seluruh masyarakat untuk menjadi seperti Fais dan teman-temannya, yang memainkan alat musik kuno di zaman yang sudah modern ini. Alangkah kayanya Aceh akan budaya, tapi sudah banyak ditinggalkan karena pengaruh globalisasi. Pasti diantara banyak penonton tadi, hanya beberapa yang mengetahui tentang kesenian rapai geleng. Ini adalah hal yang bagus dicontoh sebagai generasi penerus nanggroe. Lestarikanlah semua budaya yang berasal dari daerah kita, baik kesenian, tradisi, makanan, dan lain-lain, agar anak cucu kita dapat ikut merasakannya.


Karya : Raihan Khaira

ELANO (MENGETAHUI YANG ORANG PIKIRKAN)

Elano, seorang pemuda spesial yang dapat mengetahui apa yang sedang orang lain pikirkan. Entah itu bisa disebut sebuah anugerah atau musibah, yang jelas ada sisi positif dan negatifnya saat dia mengetahui pikiran orang.

Dia mendapatkan kemampuan tersebut saat terbangun dari tidur, awalnya dia bingung dengan apa yang dia rasakan, dia seperti bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan anggota keluarganya, salah satunya emaknya yang sedang memikirkan cicilan panci. tetapi perlahan dia mengingat bahwa saat dia sedang tidur, dia bermimpi didatangi orang asing yang berasal dari Forks, yang bernama Edward Cullen. si Edward Cullen berbicara tentang kemampuan yang dia miliki yang akan ditransferkan kepada Elano. Apa mungkin gara-gara mimpi itu Elano jadi memiliki kemampuan seperti ini? siapa sebenarnya orang asing yang bernama Edward Cullen yang so kenal itu? Elano benar-benar tidak mengetahuinya.

Elano kemudian mencari nama Edward Cullen di google, dan dia menemukan fakta bahwa Edward Cullen adalah salah satu karakter di film Twilight, dan ternyata Edward Cullen memang memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain. Setelah dia menelusuri tentang apa sebenarnya film Twilight itu, akhirnya dia mengetahui secara garis besar tentang film tersebut,

“yah ini mah kayak film ganteng-ganteng Sering-galau”, ucapnya.

Ternyata Elano adalah penggemar Sinetron GGS (ganteng ganteng seringgalau), dia tidak pernah melewatkan satu pun episode dalam menonton sinetron ini. Dia malah tidak tahu sama sekali tentang film Twilight. film yang menginspirasi sinetron GGS.

“tapi masa iya gara-gara mimpi didatangi si Edward Ulen, gue jadi bisa mengetahui pikiran orang”, rancaunya.

Aneh tapi nyata takkan terlupa, kisah kasih di sekolah… eh.. (malah nyanyi).

Aneh tapi nyata, tapi itulah kejadian sebenarnya yang telah menimpa Elano, hingga saat ini dia memiliki kemampuan tersebut.

Pagi itu seperti hari-hari biasanya, Elano berangkat ke sekolah. Saat tiba di lingkungan sekolah, dia mendengar banyak suara dari apa yang orang-orang pikirkan. Ada yang mikirin PR yang belum dikerjakan, ada yang mikirin nanti malam mau makan apa (sett dah sampai segitunya, padahal ini masih pagi), ada yang lagi mikirin utang (sudah lumrah dan umum), bahkan ada orang yang lagi mikir dia lupa pake daleman, setelah Elano telusuri ternyata kasus terakhir adalah pikiran dari Sodikin, yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman sebangku Elano.

Elano menghampirinya,

“woy dikin, lo gak pake daleman ya?”, ledek Elano.

“lho kok tua?”, tanya Sodikin panik.

“parah sih lo dikin”, ucap Elano.

“jangan bilang siapa-siapa yaa”, pinta dikin.

“emangnya kenapa?”, tanya Elano usil.

“eh ini amanat lho, AMANAT”, jawab dikin.

Elano tidak bisa berkata lagi, kalau sudah menyangkut amanat, mana mau dia melanggarnya.

“El, lo kan tukang comblang. bisa gak lu nyomblangin gue sama Sarapova?”,

“duh mimpi lo ketinggian kin”, jawab Elano malas.

Memang sejak Elano memiliki kemampuan mengetahui pikiran orang, Dia menggunakannya untuk menolong teman-temannya. Dengan membaca pikiran teman-temannya, Elano dapat mengetahui perasaan cinta dari teman-temannya, Wiss.. Saat ada yang cocok alias ada cowok dan cewek yang ternyata saling suka, Elano menyuruh si Cowok untuk menembak si Cewek. Otomatis Elano dianggap tukang comblang. Sudah sekitar 7 pasangan yang sudah Elano satu kan, bahkan yang terakhir adalah pasangan antara Madara, si kutu buku, dengan Tsunade si atlet cheers, (emangnya cheers atlet ya?). Tidak ada orang yang menyangka bahwa ternyata mereka saling suka. Itulah kenapa dikin meminta Elano untuk mencomblangkannya dengan Sarapova.

Tetapi untuk kasus Sodikin dengan Sarapova rasanya tidak mungkin bisa Elano atasi. Elano sedikit ragu Kalau Sarapova juga menyukai Sodikin. keraguannya mencapai 100%. lho kok? katanya sedikit.

“gini aja kin, nanti pas istirahat, lo lewat depan neng Sarapopa, ntar gue lihat bagaimana kondisinya”, saran Elano.

“buat apa El?”, tanya dikin. Asal tahu aja Sodikin pun tidak tahu tentang kemampuan Elano. Elano pun tidak menceritakan kemampuannya itu kepada siapa pun karena takut malah dianggap wong gendeng oleh orang-orang.

“ya udah, lo lakuin aja”, paksa Elano.

Sodikin menyetujuinya.

Saat istirahat, Sodikin siap akan beraksi, Elano memperhatikan dibalik layar.

saat itu Sarapova sedang duduk di kantin bersama teman-temannya.

Tapi tiba-tiba Elano mendengar pikiran seseorang, “ihh si dikin jelek banget”,

Elano bingung, padahal kan Dikin belum beraksi, kemudian dia melihat ke sekeliling, ternyata pikiran itu berasal dari ibu penjaga kantin. “masa hutang sudah dua bulan belum dibayar”, lanjut pikiran si ibu kantin, Elano melihat wajah yang semrawut dari ibu kantin yang sedang memperhatikan dikin.

“huh dasar raja hutang”, kutuk Elano.

Si Dikin ternyata sudah memulai aksinya, dia berjalan di hadapan Sarapova, Elano memperhatikan apa yang akan Sarapova pikirkan setelah melihat dikin.

“ternyata deg degan juga”, ucap Elano.

ting.. Elano sedikit tidak percaya dengan apa yang dipikirkan Sarapova setelah melihat dikin berjalan di hadapannya. ketidak percayaan mencapai 100%. Wajah Elano memucat tanda kaget. penasaran kan apa yang dipikirkan Sarapova??

begini nih, “duh ada dikin, jadi grogi nih. meskipun dikin lumayan jelek. tapi aku menyukainya. andaikan dikin juga menyukaiku. ah aku cewek sih, jadi gengsi mau bilang duluan, bisanya cuma nunggu”, itulah yang dipikirkan Sarapova. Asalkan tau aja, Sarapova adalah ketua osis dan mungkin merupakan siswi paling cantik, pintar, dan ramah di sekolahan. dipuji, dihormati, dikagumi.

Sementara dikin? ah sudah lah.. tidak perlu dijelaskan.

Elano tiba-tiba lari ke kamar mandi, dia muntah di kamar mandi setelah mendengar pikiran dari Sarapova.

Sodikin bingung mendapati Elano sudah tidak berada di tempat tadi.

Kemudian dia mencari Elano, dan menemukan Elano terdampar di bangku depan wc.

“El, lo kenapa?”, tanya Dikin, “lo pucat bingit El”, lanjutnya.

“ng ng nggak, gu gu gue gak kenapa napa”. jawab Elano.

“lebih baik sekarang lo nembak neng Sarapopa, dia lagi nungguin lo”, lanjutnya, masih mual.

“heh lu jangan bercanda ya! masa iya Sarapova lagi nunggu gue nembak”, ucap Dikin marah sambil memegang kerah baju Elano.

“beneran kin, gue kasihan sama neng Sarapopa”, ucap Elano masih lemas.

kemudian Sodikin senyum senyum sendiri.

“seneng kan lo?”, tanya Elano.

“oke, kalau lo maksa, gue akan nembak sarapova hehe”, ucap dikin yang mulai terlalu sangat percaya diri sekali, bangetttt.

“SIAPA YANG MAKSA!”, bentak Elano yang jijik dengan perkataan dikin.

Beberapa hari kemudian, Sodikin dan Sarapova pun jadian. satu sekolah gempar setelah mendengar berita buruk itu, banyak yang berduka cita, Bahkan banyak orang yang melakukan mogok mandi. (ga ada hubungannya).

Berbeda dengan Elano, dia malah senang mendengar berita itu, dia senang dapat membantu temannya, dikin, dia senang membuat orang-orang bahagia.

Berbagai macam pengalaman telah Elano dapatkan setelah mempunyai kemampuan mengetahui pikiran orang lain, bahkan sesuatu yang dianggapnya mustahil, sangat sangat mustahil, ternyata bisa saja terjadi. seperti Sarapova yang menyukai Sodikin.

Tetapi kadang, hal negatif pun didapat olehnya, seperti saat dia mengetahui ternyata ada orang yang tidak menyukainya, dan saat dia dengan tidak sengaja mengetahui aib dan privacy dari orang-orang, yang seharusnya menjadi rahasia dan Elano tidak berhak mengetahuinya. Jadi Elano tidak dapat menyimpulkan apakah baginya ini merupakan sebuah anugerah atau sebuah musibah.

Elano berdiri di lantai dua, memperhatikan Sarapova yang sedang mengajari Sodikin bermain basket di lapangan. Dia tersenyum, dia dapat merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh mereka.

tiba-tiba dia mendapati suara pikiran seseorang yang begitu jelas terdengar olehnya dari arah kiri,

“duh kak Elano tampan sekali, aku ingin berkenalan dan ingin akrab dengannya”.

deg, Elano kaget. dia memalingkan kepala ke arah kiri untuk memastikan asal dari suara pikiran tersebut. Kemudian dia melihat seorang gadis cantik berdiri satu meter di sampingnya, yang juga sedang melihat ke lapangan basket. gadis itu menoleh ke arah Elano, Wajahnya memerah, kemudian gadis itu masuk ke dalam kelas “11 ipa 3”. Elano hanya melongo, masih belum percaya dengan apa yang dia dengar barusan. kemudian Elano tersenyum.

Bersambung…


Karya : Ay Rahmatillah

TIDAK MENGERJAKAN PR

“Rafa, Yasmine, ayo bangun nanti telat ditinggal jemputan lhoo…” ayah memanggil namaku dan Rafa adikku, untuk segera bangun, dari tidurku yang nyenyak. Ayah menakut-nakutiku dengan cara bilang, ‘nanti ditinggal jemputan lho…’. Oh ya namaku, Amanda Yasmine Satria, nama panggilanku Yasmine. Kalau adikku, Rafa Putra Satria, atau Rafa.

“Aduhh, ayah aku masih ngantukk” jawabku.

“Ya mau gimana, kak kan kakak harus sekolah..”

“Iya, deh, iyaaa…” aku menjawab dengan malas.

Sampai di sekolah…

“Tri M!” aku memanggil tiga sahabatku ‘Tri M’ yang kumaksud adalah Manda, Michelle dan Mora.

“Ya, Mine!” mereka berhenti tepat di hadapanku.

“Why? ( kenapa?)”

“Kemaren ada PR gak sih??” aku bertanya.

“Yap”

“PR apa, ya?”

“LKS BAHASA INDONESIA hal. 58-64, PAP (Pendidikan Agama Protestan) Buku cetak hal. 124, Bahasa Inggris LKS hal. 24”

“Astaga!!” jawabku.

“Mm? (kenapa?)” mereka bertanya menggunakan bahasa isyarat.

“Aku cuma ngerjain, PAP doang…, gimana dong?” aku jadi kesal sendiri.

Tenonenenenet… Nenenet…

Aku masuk ke kelas, aku langsung berdiri di depan kelas.

“Baik, disiapkan PR dan buku cetaknya” kata Mr. Agus, guru Bahasa Inggrisku.

“Yasmine, gak bawa PR, atau gak ngerjain?” Mr. Agus bertanya padaku.

“Tidak, mengerjakan Mr.” aku menjawab.

“Ya, sudah sampai pejaran ini selesai kamu berdiri di depan kelas”

“Baik Mr.”

Sekarang PAP syukurlah, aku mengerjakan PR PAP.

“PR kumpulkan!” kata Bu Aline. Aku mengumpulkan PRnya.

Sekarang Bahasa Indo. aku berdiri lagi di depan.

“Yasmine gak bawa?” kata Bu Anita guru Bahasa Indonesiaku.

“Iya..”

“Boleh duduk”

Aku sangat senang dengan itu.

Pulang sekolah aku pergi ke Mochi Café, café itu milik bundaku.

Akhirnya aku pun pulang…

THE END


Karya : Aureliia Shalom Salman

DUNIA PISANG

Suatu hari ada seorang anak bernama Bunga sedang bermain di taman halaman rumahnya. Dia bermain bersama temannya yang bernama Tintia. Saat itu mereka sedang bermain sepeda di sekeliling taman dengan hati yang senang. Tidak beberapa lama kemudian, merekapun berhenti bermain sepeda karena kelelahan. Setelah lama bermain sepeda, merekapun duduk di kursi taman dan beberapa menit kemudian merekapun tertidur.

Saat Bunga terbangun ia pun terkejut karena pemandangan di sekelilingnya berubah. 

“Ada di mana aku, bukankah aku dan Tintia tadi berada di taman?” ucap Bunga dengan terheran-heran. 

Dia pun langsung membangunkan Tintia yang sedang tertidur di sampingnya, “Tintia, ayo bangun” ucap Bunga dengan suara yang keras. 

“Ada apa, ada apa?” ucap Tintia sambil mengucek-ucek matanya. 

Saat Tintia melihat pemandangan yang ada di sekitarnya, dia pun terkejut dan bertanya-tanya kepada Bunga. 

“Bunga, kita ada mana? Mengapa kita ada di sini?” ucap Tintia dengan terheran-heran. Tetapi Bunga tidak bisa menjawab pertanyaan Tintia, karena Bungapun tak tahu kenapa mereka berada di sini dan bagaimana mereka di sini. Beberapa saat kemudian merekapun mulai tenang dan melihat di sekeliling, mereka melihat pohon yang berbuah kue. Karena penasaran, merekapun berusaha mengambil buah yang berbentuk kue itu.

Tintia pun berhasil mengambilnya. Saat Tintia mencoba kue itu, ternyata kue itu mempunyai rasa pisang yang manis. Saat Bunga melewati rerumputan, rerumputan itu harumnya seperti pisang. Dia pun mencoba mencabut rumput itu, saat dia mencoba memakannya ternyata rumput itu berasa pisang juga. 

“Sebenarnya kita ada di mana?” ucap Bunga ke Tintia. 

“Aku juga gak tahu” ucap Tintia kepada Bunga. 

“Tadi kamu mencoba kue itu dan rasanya seperti pisang, aku juga mencoba rumput itu rasanya juga seperti pisang”.

“Jangan-jangan kita berada di…” ucap Bunga, lalu mereka berkata serempak “Dunia Pisang!!!” mereka pun baru menyadari bahwa di sekelilingnya dipenuhi dengan benda-benda yang berhubungan dengan pisang. Dari pohon kue dengan rasa pisang, rumput dengan rasa pisang. Taman bunga yang tidak berbunga seperti biasanya, melainkan bunganya menyerupai pisang dan mereka juga baru menyadari bahwa dunia tempat berada sekarang didominasi dengan warna kuning seperti warna pisang. Merekapun bingung dan tidak percaya bahwa mereka terperangkap dalam suatu jaring dan terangkat ke udara, mereka dilempari suatu benda dan benda itu mengeluarkan gas dan beberapa saat kemudian merekapun pingsan. Sesuatu telah menangkap mereka dan membawa mereka ke sesuatu tempat yang mereka tidak ketahui.

Saat mereka terbangun dari pingsan, mereka melihat satu kerajaan yang megah dan mewah dan mereka di bawa ke hadapan seseorang. Saat mereka melihat orang yang di hadapan, mereka berdua terkejut. Ternyata orang itu adalah Ibunya Bunga, “hah, ibuuu” ucap Bunga dengan terkejut. 

“Hah, ibuuu” ucap orang yang berada di hadapan Bunga dengan terkejut, “kau mirip sekali dengan wajah ibuku” ucap bunga denga malu.

“Ratu, apakah tujuan anda membawa mereka berdua ke dunia kita” ucap seorang pengawal Ratu yang berbentuk pisang. 

“Saya membawa mereka berdua ke dunia kita, karena saya ingin mereka membawakan dongeng untuk anak-anak di desa kecil dekat hutan. Agar anak-anak di desa tersebut merasa senang“. 

“Tapi, bagaimana kami berdua bercerita kepada anak-anak yang berada di desa?” ucap Tintia dengan bingung. 

“Saat kalian kecil pasti kalian didongengkan cerita sebelum tidur oleh ibu kalian. Bagaimana ibu kalian bercerita, begitu juga kalian bercerita kepada anak-anak di desa” ucap Ratu kepada mereka berdua dan Ratu pun membawa mereka ke desa di dekat hutan itu.

Semua penduduk di desa itu berbentuk pisang yang kuning dan mereka pun mulai bercerita kepada anak-anak yang berada di desa tersebut. Satu jam kemudian merekapun telah selesai menjalankan perintah Ratu dan mereka kembali ke kerajaan bersama para pengawal yang berbentuk pisang. Saat mereka telah sampai di kerajaan merekapun bertanya kepada Ratu “perintah Ratu telah kami laksanakan, sekarang apa yang harus kami berdua kejakan” ucap Bunga kepada Ratu “sekarang kalian boleh pergi ke dunia kalian dan saya akan memberikan hadiah kepada kalian berdua” “apa hadiahnya Ratu?” ucap Bunga dan Tintia dengan bersemangat “kalian akan saya berikan gelang lucu yang berhiaskan manik-manik berbentuk pisang yang lucu” ucap Ratu kepada mereka berdua sambil memberikan gelang itu ke tangan mereka masing-masing. “terima kasih Ratu” ucap mereka dengan penuh keceriaan dan Ratu pun mengembalikan mereka ke taman tempat mereka bermain dengan cara menutup mata mereka masing-masing.

Saat mereka berdua terbangun dari kursi taman, mereka telah melihat hari sudah sore dan mereka pun saling mengucapkan salam perpisahan dan mereka pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Mereka pergi dengan keadaan ceria sambil membawa gelang dari Ratu. 

TAMAT


Karya : Yana

ULAR YANG LICIN

Suatu siang di dalam hutan, hiduplah seekor ular.

“Ular.” sapa siput.

“Ehh.. Siput, kenapa?” balas ular.

“ular besok adalah hari ulang tahunku, kamu datang yah.”

“siap siput”

Siput mengajak ular ke ulantahunya dan ularpun setuju untuk pergi.

Keesokan harinya ular pergi mencari hadiah untuk siput, dalam perjalanannya untuk mencari hadiah, ular ketemu dengan tupai.

“Eh Ular, mau kemana tuh?” tanya tupai.

“Tupai, kawanku, aku mau cari hadiah nih”

“untuk siapa ular?”

“untuk siput”

“kenapa kamu mau kasih hadiah untuk siput?” tanya tupai.

“Tupai hari ini adalah ulang tahun siput.”

“ulang tahun siput? Kok siput tidak mengajakku?” cakap Tupai dalam hatinya.

“baiklah Tupai aku pergi dulu, aku buru-buru sih.”

Tupaipun kaget mendengar kalau hari ini ulang tahun siput, karena tupai tidak diajak ke ulang tahunnya siput, dan tupaipun mulai berlaku jahat.

“ular tunggu..!!” panggil tupai.

“yah tupai.?”

“ular kamu tidak tau, kalau siput itu agak…”

“agak apa?”

“siput itu agak berlendir dan licin”

“lalu?” tanya ular.

“jadi jika kamu ke pesta siput nanti badanmu yang cantik itu akan menjadi licin dan berlendir seperti siput!”

“yang benar nih tupai.”

“ia betul”

“kalau gitu tidak jadi ah aku ke rumah siput.”

“gitu dong ular”

Akhirnya tupai berhasil menghasut ular untuk tidak pergi ke pestanya siput.

Keesokan harinya siput datang ke rumahnya ular.

“ular. Ular..?” siput memanggil ular.

“ia, eh siput ada apa?”

“ular kenapa kamu kemarin tidak datang ke pestaku?”

“siput aku minta maaf, sebenarnya aku tidak mau badanku ini menjadi berlendir dan licin sepertimu!”

“ohh.. Jadi seperti itu ular, sampe hati engkau menganggapku seperti itu.” siput menjadi beraedih.

“sudahlah siput aku minta maaf, kita kan teman.”

“teman. Katamu?. Sampe hati ular”

Siputpun pergi dari ular.

Saat beberapa jam ular menyadari kesalahannya atas perilakunya terhadap siput, ularpun pergi mengejar siput dengan menelusuri jejak lendirnya siput, sampai sampai tubuh ular telah terpenuhi lendir siput dan tanah, hingga hingga tubuh ular menjadi coklat.

Setelah mengikuti jejak siput ketemulah ular dan siput dengan tubuh yang penuh lendir di pinggir sawah.

“Siput…” teriak ular.

Siputpun berbalik.

“siput aku minta ma…” ularpun terjatuh ke sawah.

“kamu siapa?” tanya siput.

“ini aku siput. ular”

“ular..? Ular tidak coklat pecek dan belendir seperti engkau, engkau bukan ular.”

“siput ini aku.”

“BUKAN..!, Ular tdk suka lendirku, dan engkau bukan ular.”

“siput” ularpun bersedih dan menyesal telah memarahi siput, dan ular itu pun sudah tidak dikenal lagi, dan ular itupun memutuskan tinggal di dalam lumpur untuk selama lamanya.


Karya : Afnei.N.B.Tumba

KENA BATUNYA

Masa sekolah adalah masa yang paling menyenangkan, karena dapat berkumpul bersama teman-teman. Seperti halnya Gilang. Tahun ini ia baru masuk SMP favorit di salah satu kota di Indonesia.

Gilang ingin seperti teman teman yang lainnya, yang bisa mengendarai sepeda motor. Padahal ayah Gilang telah menasihatinya bahwa dibawah umur 17 tahun, belum boleh mengendarai sepeda motor. Namun Gilang tetap bersikeras ingin dibelikan sebuah sepeda motor. Akhirnya permintaan Gilang dituruti oleh ayahnya. Namun dengan satu syarat, apapun kerusakan yang ada pada motor itu, Gilang yang menanggungnya.

Setelah dibelikan sebuah sepeda motor, Gilang menjadi malas belajar. Setiap hari ia hanya balapan bersama teman-temannya.

Suatu hari, Gilang dan kawan-kawan hendak berbalapan lagi. Awalnya balapan tersebut berjalan dengan lancar seperti biasanya. Ketika giliran Gilang yang mengetes kendaraannya, tiba-tiba saja seekor anak kucing melintas tepat di depan motornya. Gilang pun mengerem dengan mendadak. Alhasil ia pun oleng ke kiri jalan dan jatuh terjerembap ke dalam selokan. Teman teman Gilang panik dalam situasi ini. Lagi pula, mereka jauh dari puskesmas, sedangkan Gilang sedang terluka.

“Waduh!bagaimana ini? ayo kita bawa dia pulang saja” ajak Wiranto.

Mereka pun membawa Gilang pulang ke rumahnya. Setelah sampai, Gilang segera diobati dan beristirahat.

Itulah akibat tidak menuruti perkataan orangtua, akhirnya kena batunya.


Karya : Viera S

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...