Pages

Saturday, December 16, 2017

STORY JONI


Sore itu cuaca sangat dingin, angin berhembus menusuk nadi yang bernyanyi. Membuat bulu roma menjadi tegang. Kala itu  Joni sedang di rumah Nenek di Desa Gading Rejo. Nenek Joni, perempuan berparubaya, bertubuh tinggi, berkeriput, rambut yang menipis dengan bola mata berwarna keabu-abuan. Nenekku bernama Tini. Awan yang berwarna biru tiba-tiba berubah menjadi kehitaman dan petir datang saling sahut-sahutan. Selang berapa menit setelah itu turunlah hujan, hujan yang besar dengan petir-petir yang menyambar pepohonan. Sore itu Joni kedinginan sampai badannya berasa menggigil bak dipeluk batu es.

Sekitar pukul 19.00  Joni masih saja kedinginan dan tidak nyaman dengan suhu malam ini. Mungkin Joni memang terbiasa dengan suhu di sini. Tidak lama kemudian tanganku yang mulus ini ternyata timbul bentol-bentol yang kecil seperti digigit nyamuk, tetapi bentol ini bukannya karena gigitan nyamuk tetapi karena Joni alegri dengan suhu yang dingin seperti ini. Akibatnya bisa sampai seperti ini, tangan, kaki, badan sampai seluruh tubuh banyak sekali bentol-bentolnya. Kata orang orang dulu si dinamakan "Giduan" Rasanya sangat gatal sekali.

Omku bernama Ujang bertumbuh tinggi, berbadan kurus, berkulit putih. Ia berkata. "Joni, kenapa tangannya?" Ujar Om Ujang sambil menoleh ke arah tanganku. .

"Iya ini Om tangannya pada bentol-bentol." jawabku.

"Kok bisa?"

"Karena alergi dingin om jadi seperti ini bentuknya!"

"Ya sudah mendingan kamu lekas pergi ke Abah Cinong, tempat pemandian air panas. Siapa tahu bisa mengurangi rasa gatal pada tubuhmu."

"Memangnya masih buka Om jam segini?"

"Masih buka, minta antar sana sama Bonbon!"

Bonbon itu sepupuJoni yang berumur 18 tahun, hanya selisih 3 tahun dari umur Joni. Karena Omku menyarankan untuk Joni pergi ke Abah Cinong, tempat pemandian air panas akhirnya Joni meminta tolong kepada Bonbon sepupunya.

"Hayo Joni kita berangkat." Ujar Bonbon.

"Ya sudah tunggu sebentar, Joni ingin ganti baju dulu." Sahutnya.

Setelah ganti baju Joni dan Bonbon bergegas pergi ke Abah Cinong, tempat pemandian air panas. Di perjalan sangatlah dingin udaranya kebetulan Joni tidak memakai jaket waktu itu lupa membawanya. Sepi sunyi di jalanan, apabila ramai hanya kendaraan saja berlalu-lalang melintas. Sesampainya di Abah Cinong, Joni melihat suasananya sangat nyaman sekali dan hawanya hangat. Joni mencari tempat yang nyaman sekali. Ketika sudah berendam di air panas. Subhanallah Allohhu Akbar Alhamdulillahirobil Alamin rasanya benar-benar nikmat sekali. Rasa gatal di tubuhku segenap sirna dengan air panas itu. Berendam sampai seluruh tubuh tidak kelihatan. Walaupun pertamanya sangat panas rasanya tetapi setelah itu rasa panas hilang menjadi hangat.

"Bagaimana Joni rasanya, panas bukan?" Teriak Bonbon.

"Waaaahh, sangat nikmat sekali rasanya!" Sahut Joni.

"Hayolah turun, kita berendam bareng."

"Iya Joni!!"

Baru saja berendam sebentar tiba-tiba perut sudah keroncongan saja. Ketika itu Joni bergegas membeli pop mie dan kopi susu yang sudah di seduh oleh Bonbon di tempat pemandian air panas. Sambil menikmati makan pop mie dan minuman kopi susu. Joni pun masih berendam, rasanya tak ingin terlewatkan masa-masa yang seperti ini. Selesai makan dan minum kopi Joni, diam sejenak dan tiba-tiba Joni mendengar suara orang yang sedang bernyayi, seperti ada orkes di kampung ini.

"Bonbon, dengar suara itu tidak?" Tanya Joni.

"Suara apa memangnya Joni?" Jawabnya sambil mencari suara tersebut.

"Sepertinya ada orkes dangdut ya di kampung ini?"

"Sepertinya sih begitu."

"Memang ada apa Joni?"

"Oouuuh, bagaimana kalau nanti ketika pulang kita mampir dahulu ke tempat itu!"

"Oke Joni , setuju."

Sambil menikmati hangatnya air yang membasahi badanku, Joni juga menikmati dan mendengarkan suara orkes dangdut di kampung ini. Ketika itu Joni pulang dan langsung menghampiri parkiran untuk pulang ke rumah dan sebelum pulang Joni nonton orkes dangdut di kampung itu dengan sepupunya Bonbon. Ternyata benar dugaanku kalau ada orkes dangdut di sini, ya itu juga karena ada yang hajatan maka dari itu hiburannya adalah organ tunggal. Nonton paling belakang. 

Menonton biduan yang sedang bernyayi di atas panggung dengan pakaian yang seksi sekali. Biduan itu bertubuh tinggi, bebadan sekal, berkaki jenjang, berambut panjang dan lurus, memakai sepatu high heels dan rok mini. Sangatlah waaaaw sekali pakaiannya. Menonton dengan asiknya bersama sepupu Joni.

Sekitar 30 menit Joni menonton okres dangdut, lalu Joni segera pulang. Sekitar pukul  22.00 WIB. Joni pulang ke rumah Neneknya di Desa Gading Rejo. Suasananya yang dingin, sepi, sangat gelap di sepanjang perjalanan, sampai tibalah Joni di rumah Neneknya. Secepatnya Joni dan Bonbon bergegas ke kamar masing-masing. Kebetulan orang rumah sudah tidur. Sangat dingin sekali tidur di kasur ini sampai-sampai Joni mengunakan selimut yang sangat tebal. Tidak lama kemudian Joni tertidur dengan lelapnya. Joni bermimpi kalau Joni itu menjadi seorang penyayi. Bernyayi, berjoget, gembira dan bahagia dalam mimpi Joni. Namun, mimpi itu hanya kembang tidur Joni saja. Keesokan harinya ketika Joni bangun dari tidur Joni. Joni merasa gatal-gatal lagi di seluruh badan Joni. Ternyata yang  Joni alami bukanlah menjadi seorang penyayi melaikan penyakitnya masih bereaksi sekujur tubuhnya.

Embun pagi dan kicauan burung menemani cahaya mentari. Joni ingin sekali lari pagi agar tubuh Joni dapat berkeringat dan tidak kedinginan dan gatal-gatal lagi. Joni lari pagi ingin mengajak sepupunya.

"Bonbon, bangun Bonbon." Teriak Joni sambil mengetuk pintu kamarnya.

"Hoooaaammss....." Jawabnya.

"Bonbon, bangun Bonbon." Teriak Joni sambil mengetuk pintu kamarnya.

"Hoooaaammss....." Jawabnya.

"Bonbon, cepat bangun. Hayo kita lari pagi bareng!"

"Emmh, iya iya tunggu sebentar. Bonbon cuci muka dulu."

"Setelah Bonbon sudah rapih, Joni dan Bonbon berangkat untuk lari pagi di sekitar kampung ini. Sangatlah ramai di pagi hari, ternyata banyak juga yang sedang berolahraga di kampung ini. Sekitar 45 menit lamanya berolahraga lalu Joni dan sepupunya istirahat sebentar di bawah pepohonan. Suara air yang mengalir membuat hati terasa tenang dan damai. Kala itu  bentol-bentol yang ada di tubuh Joni sudah hilang karen badan Joni mulai berkeringat. Tidak lama kemudian Joni dan Bonbon kembali pulang ke rumah Nenek untuk istirahat dan sarapan pagi, sesampainya di rumah Nenek Joni melihat Nenek sedang di dapur. Kebetulan Nenek Joni sedang memasak untuk sarapan. Joni bergegas menuju dapur.

"Selamat pagi, Nek."Ujar Joni.

"Pagi Cu!" Jawabnya.

"Lagi apa Nek? Pagi-pagi begini sudah sibuk di dapur."

"Laagi masak ini, untuk sarapan nanti."

"Waaahh, enak dong Nek. Nenek masak apa?"

"Nenek masak nasi goreng kesukaanmu Cu."

Sangat harum sekali masakan  yang nenek masak. Tidak lama kemudian Joni dan saudara-saudaraku, menyantap makanan yang sudah disediakan Nenek di meja makan. Setelah makan perut Joni mulai kekenyangan dan mata Joni terasa berat, mungkin karena  Joni kekenyangan jadi hawanya ngantuk sekali. Karena mata sudah berat rasanya lalu Joni bergegas menuju kamar, sambil tidur-tiduran dan rebahan di sana. Tidak terasa tiba-tiba Joni sudah memejamkan mata. Nyaman sekali tidur di kamar sampai-sampai Joni mimpi indah menjadi seorang penyayi di kampung ini, padahal Joni bukan orang sini, tapi entah mengapa Joni bisa bermimpi seperti itu. 

Joni menjadi seorang penyayi dari kampung ke kampung, dari desa ke desa. Tidak terpikirkan sebelumnya kalau Joni akan menjadi seorang penyayi. Karena sebelumnya Joni hanyalah hobi mendengarkan lagu-lagu dangdut dan  hobi menonton organ tunggal di daerah rumah Joni. Siapa menyangka ternyata tiba-tiba Joni menjadi seorang penyayi dan sering mendapat job manggung di mana-mana. Keesokan harinya Joni mendapatkan job manggung di daerah Batu Bantar. Joni mengajak sepupunya untuk menemaninya malam itu.

"Bonbon antarkan saya pergi manggung yuk," Pinta Joni.

"Manggung di mana Joni?" Tanya Bonbon.

"Di daerah Batu Bantar, tidak jauh kok dari rumah Nenek!"

"Oohh, ya sudah nanti Bonbon antarkan ke sana! Jam berapa manggungnya?"

"Jam 8 malam Bonbon, tolong ya antar ya."

"Oke deh nanti Bonbon antarkan deh."

Sebelumnya Joni sudah pernah manggung berkali-kali di kampung ini. Dan ini pertama kalinya Joni minta antarkan dengan sepupunya Bonbon. Akhirnya malam yang ditunggu-tunggu itu tiba, Joni dan Bonbon siap-siap berkemas dari rumah Nenek ke Batu Bantar untuk manggung dalam acara hajatan. Sekitar pukul 7 Joni berangkat berdua dengan sepupuku menaiki sepeda motor. Sepanjang perjalan sangat terlihat sepi sekali, hanyalah suara kodok dan tokek yang meramaikan malam itu.

Setibanya di acara hajatan itu ternyata sangatlah ramai, alat musik yang merdu sedang di mainkan. Ramahnya orang sana menyambut Joni dengan senyuman manis. Tidak lama kemudian Joni bergegas ke atas panggung diiringi dengan pagar bagus yang ada di sana. Sangat senang hatiku malam itu.

"Bonbon, Joni tinggal ke atas panggung dulu ya." Ujar Joni.

“Iya Joni, semoga lancar ya!" Jawab Bonbon.

"Iya Bonbon, Terima Kasih ya."

"Jangan lupa berdoa Joni!"

"Iya tenang."

Jam 9 Joni mulai bernyayi di atas panggung dan mulai menyocokan suara dengan orgen yang ada di sana. Ketika Joni sudah mulai bernyayi di sana, oh my god, tiba-tiba yang biasanya tidak terjadi dalam kondisi manggung akhirnya terjadi pula di malam ini. Tangan Joni yang sedang memegang mike itu tiba-tiba terasa gatal sekali. Joni takut kalau-kalau penyakit gatal-gatalnya datang menyerangnya karena memang di sini semakin malam semakin dingin hawanya. Akhirnya tangan Joni gatal-gatal  dan seluruh badan Joni juga gatal, Joni tidak konsentrasi dalam bernyayi. Apa yang tidak Joni inginkan akhirnya kejadian juga kalau gatalnya itu menyerang tubuh Joni, dan seluruh tubuh ini Joni dipenuhi dengan bentol-bentol yang membuat Joni tidak percaya diri dalam saat bernyayi.

Masyarakat Batu Bantar kecewa dengan penampilanku malam itu, karena kondisi Joni yang seperti ini. Tiba-tiba Joni dilemparkan makanan dan sepatu ke badan Joni dan warga berteriak menyuruh Joni turun dari panggung. Dari kejauhan Bonbon melihat kejadian itu. Bonbon pun sedih mengapa semua ini bisa terjadi pada sepupunya itu. Joni bergegas lari turun dari panggung dan menghampiri Bonbon. Sangatlah sedih hati Joni dengan kejadian malam ini karena Joni bukan penyayi yang menawan dengan banyak idola melainkan Joni seorang penyayi penyakitan.

Wednesday, July 26, 2017

BEAR



Seekor Beruang berjalan ke tebing batu di hari yang cukup terik. Sesampai di tebing batu sang Beruang menjulurkan lidahnya menjilatin madu yang mengalir.

“Emmm enak sekali madu ini,” kata Beruang.

Dengan asiknya Beruang menikmati setiap tetesan madu yang mengalir.

“Seandainya saja sarang lebah di atas tebing itu jatuh kebawah,” gumaman sang Beruang.

Beruang terus saja menikmati madu tersebut sampai puas.

“Eeeeeekkkk,” suara sendawa Beruang.

Beruang pun pergi meninggalkan tebing batu menuju sarangnya. Dengan perlahan-lahan Beruang berjalan menuju sarangnya di pinggir sungai. Ketika menuju turunan yang cukup licin sang Beruang terjatuh terselandung oleh akar pohon yang menghalangi langkah Beruang. Tergelicirlah sang Beruang sampai masuk ke dalam sebuah lubang cukup dalam.

“Dasar sial,” kata sang Beruang.

Beruang berusaha untuk menguatkan dirinya dan berusaha keluar dari lubang yang cukup dalam.

“Eeehhh...... susah banget lagi,” kata Beruang yang mulai kesal.

Beruang terus saja berusaha sampai keluar dari lubang. Pada akhirnya usaha Beruang tidak sia-sia. Beruang berhasil keluar dari lubang.

“Saya berhasil...........,” kata Beruang.

Beruang pun mulai melangkah tiba-tiba seekor Kijang berlari cepat menghindari kejaran dari Harimau yang buas. Sang Beruang berusaha menghindar alur lari dari Kijang dan Harimau. Beruang pun mundur beberapa langkah. Lalu sang Beruang terjatuh kembali ke dalam lubang.

“Dasar sial.......hari ini,” kata Beruang.

Beruang berusaha bangun dari jatuhnya dan kembali berusaha untuk keluar dari lubang. Dengan kegigihannya Beruang berhasil keluar dari lubang. Segeralah Beruang melangkah menuju ke sarangnya.

“Saya harus berhati-hati dalam melangkah,” gerutu Beruang.

Beruang terus berjalan menuju sarangnya. Baru sampai di depan rumahnya sang Beruang terpeleset dan jatuh. Sang berusaha bangun dari jatuhnya dan mencari penyebab jatuhnya. Beruang menemukan kulit pisang menempel di kakinya.

“Dasar sial hari ini...........gara-gara monyet sialan seenaknya membuang kulit pisang di depan goa saya,” kata Beruang yang berteriak keras.

Para binatang mendengar teriakan dari amarah Beruang pada ketakutan dan bersembunyi. Termasuk monyet yang bikin ulah. Beruang pun meredam amarahnya kemudian membuang kulit pisang sejauh mungkin. Beruang pun masuk ke dalam   sarangnya. Para binatang yang melihat Beruang masuk ke dalam sarangnya, lalu segera kembali beraktivitas seperti biasanya. Beruang tidur di dalam goa yang luas dan nyaman.

COCKROACHES


Siang hari yang panas. Jatuhlah sebuah tomat merah dari kresek belanjaan. Tomat tersebut bergulir sampai masuk ke dalam sebuah lubang selokan yang cukup dalam. seekor Kecowa melihat tomat tergeletak begitu saja di dalam selokan yang gelap.

“Makan......enak.....cihuyyyyyyy,” teriak Kecowa kesenangan.

Kecowa berlari menghampiri tomat tersebut.  Di depan buah tomat sang Kecowa memandangi buah tersebut dengan terkagum-kagum.

“Wah......makan dari surga........,” kata Kecowa.

Sang Kecowa mulai meneteskan air liyurnya yang cukup deras.

“Waktunya makan..........,” kata Kecowa.

Kecowa mulai menggigitin buah tomat merah yang segar tersebut.

“Emmmmmm.....enak sekali......,” teriak Kecowa.

Kecowa terus memakan buah tomat tersebut. Dalam keasikan menikmati makan. kawan Kecowa pun dateng ikut menyantap bersama. Lalu terdengar suara bunyi yang cukup nyaring yang membuat terusik kawan Kecowa. Dengan sigap kawan Kecowa melihat seekor Tikus dateng ingin merampas buah tomat. Kawan  Kecoa mulai mengelindingin buah tomat tersebut dengan sekuat tenaga. Hal hasil Tikus menghadang jalan kawan Kecowa.

Tanpa pikir panjang kawan Kecowa mulai menyerang Tikus. Dengan penuh pertahanan yang kuat sang Tikus menghempas Kecowa satu persatu sampai terhempas jauh. Tapi Kecowa masih ngeyel dan terus menyerang Tikus dengan menyatukan kekuatan mengerang secara bersamaan. Tikus pun mulai kewalahan dengan kawanan Kecowa yang mengerubunginya dan sekaligus mengigitin sekujur tubuh si Tikus.

“Ahhhhhhhh....,” teriak Tikus.

Tikus yang mulai kewalahan menghadapi Kecowa mulai bertindak cepat untuk meninggalkan tempat tersebut dengan berlari  terbirit-birit.

“Hore........menang kalau kita semua berkerja sama untuk mengalahkan makluk yang lebih kuat dari kita semua,” kata Kecowa.

“Bener.......bener.....sekali,” jawab Kecowa yang lain bersama-sama.

Kawan Kecowa kembali mendatengin buah tomat merah yang segar yang tergeletak begitu saja, lalu mulai memakan bersama-sama untuk merayakan kemenangan mengalahkan Tikus.

Tuesday, July 25, 2017

EAGLE


Langit terlihat cerah sekali. Angkhsa sang burung elang bangun pagi. Menggerakan seluruh tubuhnya sambil meregangkan sayapnya. Dengan pola pikir yang polos bertindak sesuai nalurinya Angkhsa melompat dari sarangnya berada di atas bukit yang terjal. Hidup sendiri untuk bertualang menjelajahi langit luas dengan anugrah yang di dapatkan dari lahir.

Melesat seperti anak panah. Melewati aliran udara. Mengepakan sayap untuk meningkatkan kecepataan. Menuju tempat satu ke tempat lain dengan insting. Melihat  dari langit untuk mencari sasaran buruan. Angkhsa terus melayang di udara. Sampai pada sebuah makluk yang berjalan di permukaan bumi dengan mengendap dan melompat. Angkhasa sudah melihat target tersebut di kunci di dalam radar otaknya. Siap menyerang dengan sekali hempasaan kepakan sayap.

Angkhasa mulai menukik tajam tanpa ketahuan sasaran tembak. Lesatan terus seperti tombak udara. Sampai menerkam kelinci putih dengan cakarnya yang tajem. Kulit kelinci robek darah mengalir. Angkhasa sambil mengepakan sayapnya untuk mendarat dengan sempurna.

Tanpa di sadari seekor Macan Akar menerkam. Insting Angkhasa mulai bergerak. Menghindari sasaran melesat ke udara melepaskan buruaannya.

Macan Akar menerkam kelinci dengan gigi yang tajam. Hendak membawa kelinci putih kabur. Angkhasa tidak tinggal diam buruannya di ambil. Pertarungan terjadi. Dengan lesatan Angkhasa menyerang macan akar agar melepaskan buruaan di mulutnya.

Macan Akar mengeluarkan cakarnya yang tajam bertarung dengan kuku Angkhasa yang tajem dan kuat. Pada akhirnya kebrutalan pertarungan tersebut membuahkan hasil yaitu terlepaslah kelinci putih dari terkaman mulut Macan Akar.

Setiap serangan dari udara di balas dengan dari darat tidak ada yang mau mengalah. Hal hasil keduanya terluka setiap serangan tersebut. Musuh kalah meninggalkan buruan dan Angkhasa menerkamnya mayat kelinci. Mengoyaknya kulit dan daging dengan paruh yang tajam dan kuat. Pada akhirnya Angkhasa menikmati buruaannya sampai puas meninggal bangkai kelinci putih habis di koyak-koyak.

Angkhasa sudah kenyang pergi ke udara untuk kembali ke sarangnya karena hari sudah sore. Sisa daging kelinci putih   beserta tulang belulangnya di sergab oleh tikus-tikus hutan yang kelaparan yang telah lama mengawasi dari tadi.

Monday, July 24, 2017

SQUIRREL


Hari makin larut sekali. Seekor Bajing berjalan menuju sarangnya di sebuah pohon  dengan membawa  makan. Saat masuk ke dalam sebuah lembah yang gelap terlihat seekor Kera yang sedang terdiam dan memelas sekali. Bajing pun iba sekali memberi makan yang dibawanya. Sang Kera menyambutnya dengan senang hati.  Dengan  lahap menyantap buah yang di berikan oleh Bajing. Tiba-tiba saat Bajing  lengah makannya yang di pegangnya di curi oleh kawan Kera lainnya. Bajing pun marah dan mengejar Kera tersebut dengan sekuat tenaga.

Tanpa henti-hentinya Bajing mengejar kawan Kera pencuri. Bajing pun gagal mengejar para kawan Kera dan tersesat di dalam lembah yang gelap. Dengan perasaan takut Bajing pun berusaha untuk keluar dari lembah yang bukan jalur menuju sarangnya. Dengan hati-hati melewati pepohonan yang rindang. Tiba-tiba Bajing pun  suasana yang mencekam dengan istingnya.

Terdengar suara yang merdu masuk ke dalam telinganya. Bajing pun terasa terhipnotis oleh suara tersebut. Bajing berusaha menyadarkan diri dengan menutup telinganya dengan ke dua tangannya. Tapi suara yang merdu tersebut makin kuat sekali membuat Bajing kewalahan. Tubuhnya Bajing terasa tidak bisa terkontrol mengikuti panggilan yang merdu tersebut.

Bajing pun melangkah menuju suara yang memangilnya. Terlihat sosok Ular Pyton di hadapan Bajing. Sang Ular mulai melilitkan bagian tubuhnya ke tubuh Bajing. Tanpa perlawanan sama sekali Bajing siap untuk di santap Ular Pyton dengan mulut yang terbuka lebar.

Tiba-tiba seekor makluk hutan menghajar Ular Pyton dengan cakarnya yang kuat. Bajing pun terlepas dari lilitan Ular Pyton dan terjatuh ke tanah.  Ular Pyton pun kewalahan dari cakar mematikan dari Macan Kumbang. Pada akhirnya Ular Pyton mati di terkam oleh Macan Kumbang.  Bajing pun mulai menyadarkan dirinya. Terlihat di hadapannya simbah darah di mana-mana dan seekor Macan Kumbang yang sedang menyantap makannya.

Bajing pun merasa ngeri dan takut. Tanpa berpikir panjang berlari cepat  menuju sarangnya. Sampai di sarangnya Bajing pun bersembunyi di bawah selimut daun-daun kering.

“Ngeri......sekali membayangkannya,” kata Bajing yang menggigil ketakutan.

Bajing berusaha menenangkan dirinya sampai terlelap. Malam pun tiba sinar rembulan masuk ke dalam sarangnya di atas pohon. Bajing pun keluar dari sarangnya untuk melihat suasana sekitar.

“Indahnya......rembulan itu. Hari ini saya selamat dari marabahaya. Besok hari saya harus lebih berhati-hati,” kata Bajing sambil menikmati pemandangan di malam hari.
Bajing pun kembali masuk ke dalam sarang dan kembali istirahat tidur.

Tuesday, July 18, 2017

LIZARD


Hari panas di sebuah pinggir jalan. Seekor Kadal mencari sebuah minuman dengan berjalan menuju sebuah sampah. Terlihat oleh Kadal dari jauh air di dalam sebuah botol kaca.  Bergegas Kadal dengan berlari menuju botol berisi air. Sampai di botol berisi air Kadal berusaha masuk ke dalam botol.

“Ah....segarnya,” kata Kadal.

Kadal terus minum air di dalam botol sampai rasa kehausan hilang. Saat mau keluar dari Kadal terjepit pada mulut botol.

“Haaaaaa....gimana ini?" saya tidak bisa keluar dari botol,” kata Kadal.

Kadal pun berusaha dengan keras terbebas dari masalah menimpanya. Tiba-tiba dateng Tikus mendatengin Kadal.

“Kenapa kamu Kadal?. Terjebak di dalam botol.......ha....ha....ha,” kata Tikus meledek di barengin tertawa.

“Saya lagi ke susahan bukannya di bantuin. Malah tertawa. Seneng ya...melihat saya susah,” kata Kadal yang kesal.

“Iya...deh...saya tolong,” kata Tikus.

Tikus sekuat tenaga menarik Kadal agar keluar dari botol yang menjebaknya. Tapi hal yang tidak sangka-sangka terjadi ekor Kadal terputus karena di tarik Tikus.

“Aduh...sakit tahu,” kata Kadal.

“Maaf gak sengaja memutus ekor kamu Kadal. Tapi kenapa masih bergerak ya?. Ihh jijik lah,” kata Tikus.

Tikus membuang ekor kadal yang terputus. Lalu Tikus mulai menarik kembali Kadal yang terjebak di dalam botol dengan sekuat tenaga. Kadal hampir keluar dari botol.

“Ayo Tikus sedikit lagi,” kata Kadal.

“Iya....ini lagi usaha tahu,” saut Tikus.

Tikus menarik Kadal dengan sekuat tenaga agar keluar dari botol. Pada akhirnya usaha Tikus berhasil mengeluarkan Kadal dari botol dengan posisi terpental cukup jauh.

“Hore..berhasil,” kata Kadal.

“Berhasil-berhasil tapi jangan mendudukin saya,” kata Kadal.

“Maaf posisinya tidak menguntungkan buat kamu Tikus,” kata Kadal.

Kadal pun bangun begitu juga Tikus.

“Sebelum dan sesudahnya saya terima kasih banyak,” kata Kadal.

“Iya....sama-sama. Lain kali hati-hati. Oh ya ngomong-ngomong gimana dengan ekor mu?” kata Tikus.

“Ekor....ahhhh tidak jadi masalah. Nanti tumbuh sendiri,” kata Kadal.

“Ohhhhh.....begitu,” kata Tikus.

Saat lagi asik berbicara antara Tikus dan Kadal di pinggir jalan. Mobil lewat melemparkan sampah ke pinggir jalan mengenai Tikus dan Kadal.

“Dasar manusia,” kata Kadal yang jengkel.

“Sudah jangan biarkan ulah manusia itu yang penting makan enak,” kata Tikus.

“Haaaaa...pizza. Makan enak.......hore...hore,” kata Kadal.

Kadal dan Tikus menyantap pizza lezat di pinggir jalan.

MONKEY


Hari yang cerah di iringi nyayian burung perkutut di pohon yang rindang. Seekor Monyet berjalan melewati pohon rindang menuju sebuah pohon pisang di tepi sungai. Monyet memeriksa beberapa pohon pisang kalau-kalau sudah buahnya telah masak. Terlihat oleh Monyet salah satu pohon pisang buahnya telah masak.

“Waktunya memanen,” kata Monyet.

Monyet yang senang memanjat pohon pisang sampai ke pucuk. Monyet dengan berusaha keras mematahkan tandan pisang pada pohonnya. Usaha Monyet berhasil tandan pisang jatuh ke tanah. Monyet segera turun dari pohon pisang segera membopong buah pisang di bawa ke rumah.

Monyet pun berjalan menyusurin jalan setapak menuju rumahnya. Terlihat oleh Monyet seekor Keledai yang sedang ke susahaan. Monyet menghampiri si Keledai sambil menaruh tandan pisang di bopongnya ke tanah.

“Bisa saya bantu Keledai?,” tanya Monyet.

“Oh..kamu Monyet. Saya sedikit mengalami kendala membuat rumah. Padahal bahannya cukup, tapi setiap saya susun pasti roboh. Apalagi hari terlihat mendung,” kata Keledai.

“Kalau di lihat sih memang benar langit mendung dan udara sedikit lembab. Saya akan menolong kamu membuat rumah,” kata Monyet menawarkan diri.

“Iya silakan,” saut Keledai.

Monyet mengumpulkan bahan-bahan yang di kumpulkan Keledai, lalu mulai di susunnya dengan rapih.

“Oh Keledai ternyata kamu kurang tali untuk mengikatnya,” kata Monyet.

“Ohh..........,” kata Keledai.

Monyet merangkai batang-batang kayu dengan rapih dan diikat oleh tali terbuat dari akar-akar pohon. Sedang untuk atapnya Monyet menyusun dengan rapih daun-daun yang lebar yang di kumpulkan Keledai. Tidak makan waktu banyak rumah Keledai jadi.

“Ok...semuanya beres Keledai,” kata Monyet.

“Wah ...bagus. Terima kasih atas bantuannya,” kata Keledai.

“Oh..saya punya sedikit makan untuk kamu,” kata Monyet.

Monyet  membagi dua buah bisang yang dibawanya, lalu di berikan kepada Keledai.

“Terima kasih banyak Monyet atas buah pisangnya,” kata Keledai.

“Sama-sama, kalau begitu saya permisi untuk pulang,” kata Monyet.

“Silakan,” jawab Keledai.

Keledai masuk ke dalam rumah yang baru dengan membawa buah pisang ke dalam rumahnya. Monyet melanjutkan perjalannya menuju rumahnya tidak lupa membawa buah pisangnya. Air hujan mulai turun rintik-rintik. Monyet  segera berlari cepat-cepat menuju rumahnya. Sesampainya di rumahnya Monyet segera masuk ke dalam. Hujan turun dengan sangat lebat sekali.

“Hampir saja saya basah kuyup,” kata Monyet.

Dalam rumah ada yang bergerak di sebuah tumpukan daun-daun. Monyet mendatenginnya untuk di periksa. Monyet mulai mengangkat lembar demi lembar daun terlihat hewan berduri.

“Haaaaaaa...Landak,” teriak Monyet.

“Jangan terlalu heboh gitu Monyet. Saya cuma numpang sebentar  untuk berteduh, karena hari mau hujan,” kata Landak.

“Eeeeh..seenaknya masuk rumah saya,” kata Monyet.

“Maaf....,” kata Landak.

“Ya maaf mu saya terima,” kata Monyet.

Landak bergerak menuju bau yang enak.

“Wah pisang yang matang. Boleh saya makan?” kata Landak.

“Silakan,” kata Monyet.

Landak memetik satu buah pisang matang, lalu di kupasnya kulitnya. Landak mulai memakan buah pisang matang.

“Enak.....sekali,” kata Landak.

“Enakkan buah pisang yang baru saya petik dari pohonnya,” kata Monyet.

“Iya itu benar sekali,” kata Landak.

Monyet dan Landak menikmati buah pisang yang enak sambil menunggu hujan berhenti.

Monday, July 17, 2017

FROG


Langit berubah menjadi  gelap, lalu turun lah hujan sangat deras. Seekor Kodok Kecil sedang berteduh di daun talas menunggu hujan berhenti.  Cahaya kilat dateng di barengin dengan suara geluduk membuat kaget sang Kodok Kecil. Petir pun menyambar ke sebuah pohon kelapa sampai hangus terbakar. Kodok pun menyaksikan fenomena alam tersebut di lebatnya hujan. Menunggu lama sang Kodok Kecil sampai hujan berhenti. Akhirnya hujan pun berhenti.

Kodok Kecil mulai melompat dan melompat ke sebuah kumbangan, lalu berenanglah dia.

“Wah segarnya air hujan ini,” kata Kodok Kecil.

“Itu benar sekali.....,” kata Kodok Gembul.

“Mengejutkan saja  kamu ini.......,” kata Kodok Kecil.

“Ngomong-ngomong sekarang musim kawin,” tanya Kodok Kecil.

“Memang sih.....tuh lihat di atas batu besar Kodok cewek sedang menunjukkan dirinya. Sedangkan Kodok cowok mengelilinginya dan mulai bernyayi untuk menarik perhatian Kodok cewek,” kata Kodok Gembul.

“Kamu tidak ikutan?” tanya Kodok Kecil.

“Males ah....masih nikmatin masa bujangan dan juga Kodok cewek itu bukan tipe ku............,” kata Kodok Gembul

“Jadi..kamu tipe Kodok cowok yang selektif dalam memilih pasangan,” kata Kodok Kecil.

“Mungkin iya mungkin juga enggak. Karena Kodok cewek itu minta banyak sekali. Bikin pusing,” kata Kodok Gembul.

“Oh.....begitu......,” kata Kodok Kecil.

Kodok Kecil pun berenang menuju ke pinggir kumbangan.

“Berenangnya sudah,” tanya Kodok Gembul.

“Sudah..........,” saut Kotak Kecil.

Kodok Kecil melompat dan melompat sampai ke sebuah semak-semak yang ada sarang laba-laba. Nyamuk hutan pun mulai bermunculan di musim penghujan untuk kawin. Sang Kodok Kecil menunggu nyamuk dateng melewati jebakan Laba-laba. Di tunggu dengan sabar oleh Kodok Kecil. Dateng nyamuk terbang melintasi daerah tersebut. Kodok mulai menggunakan lidahnya licin menangkap nyamuk yang terbang mengelilinginya.  Berkali-kali Kodok berhasil nyamuk.

“Emmmmmm....enak sekali,” kata Kodok sambil mengunyah makanannya.

Laba-laba pun turun dengan menggunakan jaringnya bergelantungan di hadapan Kodok Kecil.

“Hai Kodok Kecil jangan berburu makan di sini,” teriak Laba-laba yang jengkel.

“Kenapa saya tidak boleh berburu makan di sini?” tanya Kodok Kecil.

“Karena semua nyamuk lewat sini selalu saja kamu tangkap. Jadi saya tidak mendapatkan bagian,” kata Laba-laba.

“Ahhh...bukan jadi alasan. Rezeki sudah ada yang ngatur. Jadi bersabarlah pasti ada nyamuk yang terjerat perangkap mu. Jangan selalu mengusik pekerjaan orang lain. Lebih baik mawas diri dulu. Coba lihat baik-baik perangkap jaringmu banyak rusak. Kalau di benerin sekarang kemungkinan mendapatkan banyak makanan,” kata Kodok Kecil.

Laba-laba melihat sekeliling jaringnya.

“Bener sekali apa yang kamu katakan Kodok Kecil. Ternyata jaring yang ku buat banyak rusak akibat hujan. Kalau begitu saya berterima kasih sudah mengingatkan,” kata Laba-laba.

Sang Laba-laba segera memperbaiki jaring dengan cepat. Selang berapa saat perangkap jaring selesai di perbaiki. Lalu nyamuk pun terbang sekitar situ dan terjebak oleh perangkap Laba-laba.

“Nyam-nyam waktunya makan,” kata Laba-laba yang senang.

Laba-laba sibuk mengurusin makannya. Sedangkan Kodok Kecil mulai pergi meninggalkan tempat situ dengan melompat dan melompat  sampai sebuah lubang kecil. Kodok Kecil pun masuk ke dalam, lalu mencari posisi yang enak untuk beristirahat. Kodok Kecil pun menutupkan matanya. Tidurlah Kodok Kecil dengan tenang dengan perut yang kenyang.       
                                                                                                                          

Thursday, July 13, 2017

PUPPY


Di dalam hutan hiduplah seekor Anak Anjing bersama Ibu Anjing.  Anak Anjing lagi asik duduk di depan rumahnya melihat pemandangan yang indah sekali. Sang Ibu menghampiri Anak Anjing yang sedang santai. Dengan penuh perhatian sang Ibu Anjing membawkan makan untuk anaknya. Sepotong tulang yang segar untuk Anak Anjing dibawa dengan mulut sang Ibu Anjing.

“Nak ini makan untuk kamu,” kata Ibu Anjing.

“Ya...bu...terima kasih banyak,” jawab Anak Anjing.

Sang Anak anjing dengan segera menjilati  tulang yang lezat tersebut. Dengan cerianya menikmati makan yang disuguhkan Ibunya. Sedangkan Ibu Anjing pergi meninggalkan Anak Anjing di halaman depan rumah sendirian dan masuk ke dalam rumah.

Dari dalam hutan seekor Anjing Hitam dateng dengan sombongnya. Melihat anak anjing sedang asik menyantap makanannya sang Anjing Hitam dateng menghampirinya.  Dengan sifat jahatnya Anjing Hitam mengambil paksa makan si anak anjing,. Dengan ber tindak cepat Anjing Hitam membawa lari makan tersebut ke dalam hutan.

Anak Anjing yang tidak punya kemampuan apa-apa itu? menangis sedih karena makanannya di rebut.  Sang Ibu Anjing dateng untuk menghampiri anaknya yang menangis sedih.

“Kenapa kamu?” tanya sang Ibu Anjing.

“Heee...makan ku di di rampas Anjing Hitam yang jahat,” kata Anak Anjing sambil menangis.

“Kemana Anjing Hitam itu pergi?” tanya sang Ibu Anjing.

“Hheeeee...ke dalam hutan,” jawab Anak Anjing yang bersedih hatinya.

“Ya..udah ikhlasin aja......mungkin belum rezeki.....Ibu masih bisa memberi mu lagi makan yang baru,” kata sang Ibu Anjing yang bijak.

“Iya...bu....,” jawab Anak Anjing yang penurut.

“Ayo kita masuk ke dalam,” kata  Ibu Anjing yang baik hati.

“Iya bu....,” jawab  Anak Anjing yang nurut perintah ibunya.

Ibu Anjing dan Anak Anjing masuk ke dalam rumah kebetulan hari mulai sore hari. Sang Ibu Anjing menutup rapat pintu rumahnya. Di dalam rumah Ibu Anjing menyiapkan makan kesukaan anaknya dengan senang hati. Anak Ajing kembali ceria dan menghilangkan kesedihannya karena mendapatkan makan tulang yang enak dan lezat sekali.

Anjing Hitam terus melangkah ke dalam hutan dengan membawa tulang yang ada di mulutnya. Kemudian dengan melihat sekitar hutan Anjing Hitam berjaga-jaga tentang keberadaannya aman atau tidak.

“Kaya aman di sini,” gerutu Anjing Hitam.

Mulai Anjing Hitam menggali tanah dengan cepat dengan menggunakan ke dua kaki depannya.

“Kaya lubang cukup dalam.,” celoteh Anjing Hitam.

Segera Anjing Hitam menaruh tulang hasil rampasan  kedalam lubang yang di gali. Dengan cepatnya Anjing Hitam menguburnya. Tetapi dalam kegiatan Anjing Hitam ketahuan seekor binatang di balik semak- semak. Anjing Hitam segera meninggalkan tempat tersebut menjelajahi hutan kembali. Sedang binatang yang bersembunyi di semak-semak meninggalkan tempat tersebut.

Keesokan harinya seekor Anak Anjing Putih sedang asik makan tulang di pinggir hutan. Tiba-tiba dateng Anjing Hitam menghampiri Anak Anjing Putih. Segera merampas tulang yang di nikmati Anak Anjing Putih. Dengan segera Anjing Hitam pergi meninggalkan Anak Anjing Putih menuju ke dalam hutan. Anak Anjing Putih menangis  sedih karena kehilangan makanannya.  Saat Anak Anjing menangis dateng Anak Anjing lain mendatenginya.

“Kenapa kamu menangis?” tanya Anak Anjing.

“Anu....anu makan ku di rampas oleh Anjing Hitam,” kata Anak Anjing Putih.

“Oh...begitu...kemana Anjing Hitam pergi,” tanya Anak Anjing.

“Ke dalam hutan,” ujar Anak Anjing Putih.

“Ya .....udah coba untuk mengikhlaskan semua kejadian ini. Karena saya juga pernah mengalami hal yang sama,” kata Anak Anjing.

“Ya......saya coba......,” sahut Anak Anjing Putih.

Datenglah seekor Kelinci Coklat di saat ke dua anak anjing mengorbol.

“Sedang apa kalian berdua di pinggir hutan. Kelihatannya ada kesedihan yang mendalam,” tanya Kelinci Coklat.

“Iya Pak Kelinci Coklat........Anak Anjing Putih makannya di rampas oleh Anjing Hitam sama kejadiannya sama dengan masalah yang dihadapi saya kemarin,” kata Anak Anjing.

“Oh begitu .....ngomong-ngomong kemana perginya Anjing Hitam yang jahat itu?,” tanya Pak Kelinci Coklat.

“Ke dalam hutan,” sahut Anak Anjing.

“Ooooooooohhh...begitu...urusan ini segera di tanggulangi karena sudah 2 korban ulah Anjing Hitam yang Jahat,” kata Pak Kelinci Coklat.

Datenglah seekor Kelinci Putih menghampiri  mereka semuanya yang sedang asik membahas ulah Anjing Hitam.

“Maaf mengganggu pembicaraan kalian, tetapi saya melihat kegiatan Anjing Hitam mengubur makannya di rampas di sebuah tempat di dalam hutan. Saya bisa menunjukkannya,” kata Pak Kelinci Putih.

“Kebetulan sekali.......ayo kita semua selesaikan masalah ini,” sahut Pak Kelinci Coklat.

Berdasarkan petunjuk Pak Kelinci Putih segera mereka semua mendatengi sebuah tempat di mana Anjing Hitam menguburkan semua rampasannya. Sampai di tempat penguburan tulang segera Pak Kelinci Putih menggali dengan sangat cepat. Lalu menunjukkan tulang-tulang yang di rampas Anjing Hitam kepada Pak Kelinci Coklat dan ke dua anak anjing. Sangking senangnya ke dua anak anjing mendapatkan makan ke sukaannya kembali.

“Bagaimana dengan pelakunya di beri hukuman atau gak?” tanya Anak Anjing Putih.

“Oh malah itu gampang kita urus nanti,” jawab Pak Kelinci Putih.

Pak Kelinci Putih meninggalkan tempat tersebut bersama Pak Kelinci Coklat dan  ke dua anak anjing menuju rumah masing menyiapkan rencana jebakan. Saat Anjing Hitam mendatengi tempat menguburin tulang rampasan. Anjing Hitam melihat ada banyak jejak. Mulai Anjing Hitam memeriksanya  dengan seksama.

“Haaaaaa.....hilang......,” kata Anjing Hitam yang terkejut.

Anjing Hitam terlihat murung sekali karena kerja kerasnya jadi sia-sia. Anjing Hitam terus melangkah ke pinggir hutan dan bertemu dengan Pak Kelinci Putih.

“Kenapa murung hei Anjing Hitam?” tanya Pak Kelinci Putih.

“Eeeeeeee ......gak...kok...,” saut Anjing Hitam.

“Pasti ada yang hilang ya.....bagaimana rasanya kehilangan barang? Padahal barang tersebut asalnya bukan punya kamukan.......menyesal pun salah arti. Penipu tetap penipu apalagi menipu diri sendiri menjadi sok baik.......kedok aja......... apa yang terlihat suci ternyata kotor ?,”. ledekan Pak Kelinci Putih.

“Brengsek kamu ini.....................mau cari gara-gara.......,” kata Anjing Hitam yang marah.

“Ya bisa di bilang begitu...........pencuri tulang dari  beberapa binatang yang lemah,” kata Pak Kelinci Putih.

“Jadi kamu...biang...........nya mengambil rampasan tulang yang saya sembunyikan,” kata Anjing Hitam yang marah.

Anjing Hitam mulai menyerang Pak Kelinci Putih. Dengan kecepatan Pak Kelinci Putih berhasil menghindar. Dengan berlari sekuat tenaga menuju suatu tempat. Anjing Hitam yang marah terus saja mengejar. Pada akhirnya Pak Kelinci Putih terpojok di sebuah pohon yang besar dan tidak mampu menghindari kemarahan Anjing Hitam.

“Eeeeeet....tungggu dulu sebelum melampiaskan semua amarahmu........Anjing Hitam. Lihat sekeliling mu sekarang................,” kata Pak Kelinci Putih.

“Haaaaaaaa.......saya yang terpojok,” kata Anjing Hitam.

“Mereka semua adalah para binatang yang kamu rampas haknya. Pada akhirnya mereka semua bersatu untuk menangkap kamu dan juga untukmemberi balasan dari sakit hati mereka semua,” penjelasan Pak Kelinci Putih.

“Sial.....baget  kejebak.......mau gimana lagi iya saya menyerah. Selama ini saya yang berbuat jahat pada setiap binatang di kampung ini,” kata Anjing Hitam.

“Kalau begitu kita beri hukuman biar dia jera dulu,” sahut Pak Kelinci Coklat.

“Setuju............,” kata para binatang.

“Iya itu benar sekali...........yang berbuat kejahatan harus di hukum sesuai dengan hukum yang ada agar tidak lagi membuat kerusakan.....alias jera........karena mengganggu ketertipan umum,” penjelasan Pak Kelinci Putih.

“Itu benar sekali......kalau begitu kita tangkap dia sebagai peringatan bagi makluk yang berbuat jahat,” sahut Pak Kelinci Coklat.

“Setuju.......,” jawab semua para binatang.

Dengan murung Anjing Hitam karena ulahnya ketahuan. Dengan di jaga ketat dengan para binatang, Anjing Hitam mendapatkan sebuah hukuman yang di tentukan di pengadilan para binatang.

ELEPAHNT


Angin bertiup sepoy-sepoy  di antara pohon yang rindang. Di tengah hutan belantara seekor Gajah sedang berjalan sambil berdendang ria. Tiba-tiba seekor tikus melintas di depan mukanya. Gajah pun terkejut  sampai mundur beberapa langkah dan masuk ke dalam sebuah lubang yang cukup dalem.

“Tolong....,” teriak Gajah dari dalam lubang.

Berkali-kali Gajah meminta tolong tidak satu makluk yang menolong. Gajah terlihat murung di dalam lubang.

“Kalau saja saya tidak terkejut melihat tikus. Saya tidak akan masuk ke dalam lubang ini,” gerutu Gajah.

Gajah terus saja meminta pertolongan sampai suaranya habis. Waktu terus berlalu sampai malam hari tidak satu binatang yang menolongnya. Gajah makin murung dan sampai ketiduran. Keesokan harinya Ayam Jago berkokok di atas pohon. Gajah pun terbangun dari tidurnya yang panjang. Gajah terus berusaha berteriak meminta bantuan. Saat itu muncullah seekor Macan Akar turun dari pohon menghampiri Gajah yang murung di dalam lubang.

“Bisa saya bantu ?” tanya Macan Akar.

“Iya...iya...tolong saya keluarkan saya dari sini,” saut Gajah  dengan memohon.

“Oh......itu masalahnya....tunggu sebentar ya,” kata Macan Akar.

“Iya..saya tunggu,” kata Gajah dengan penuh harapan.

Macan Akar pun pergi  dengan cepat menemui temannya si Badak yang lagi asik main di kumbangan lumpur.

“Maaf Badak saya mengganggu mu yang lagi asik,” kata Macan Akar.

“Oh kamu Macan Akar. Kamu tidak menggangu kok. Ada angin apa kamu main ke sini?,” tanya Badak.

“Begini saya ingin meminta bantuan kamu untuk menolong Gajah yang terjebak di dalam lubang,” kata Macan Akar.

“Itu masalahnya...ok saya bantu,” kata Badak.

Badak pun bangun dari kumbangan lumpur bergerak menuju ke tempatnya Gajah di tengah hutan bersama Macan Akar. Selang beberapa saat Macan Akar dan Badak sampai di tempat Gajah.

“Maaf Gajah menunggu lama,” kata Macan Akar.

“Oh..tidak apa-apa? Yang penting kamu mau menolong saya,” kata Gajah yang memelas.

“Sudah berapa lama kamu di sana?” tanya Badak.

“Sudah semalaman saya di sini,” jawab Gajah.

“Lama juga kamu di situ......ya,” kata Badak.

“Oh iya Gajah coba minggir ke dinding sebelah kiri kami berdua akan menurunkan batang kayu ke dalam lubang,” kata Macan.

“Oh iya,” jawab Gajah.

Gajah pun mengikuti intruksi Macan Akar sedangkan Badak dengan culahnya yang kuat di tancapkan ke batang kayu yang tergeletak di tanah, lalu dengan sekuat tenaga di doronglah batang kayu menuju lubang. Sedikit demi sedikit batang kayu bergeser sampai terjatuh ke dalam lubang.

“Sekarang kamu naik batang kayu tersebut,” kata Macan Akar.

“Baik,” saut Gajah.

Gajah mulai naik ke batang kayu yang posisinya miring. Dengan pelan-pelan akhirnya Gajah berhasil keluar dari lubang.

“Terima kasih banyak atas bantuannya,” kata Gajah yang senang.

“Iya sama-sama. Lain kali lebih berhati-hati,” saut Macan Akar.

“Iya saya akan lebih berhati-hati berjalan di hutan belantara,” kata Gajah.

Gajah, Badak dan Macan Akar meninggalkan tempat tersebut dengan penuh kebahagian.

FOX


Suatu hari  seorang anak laki-laki  bernama Daici menemukan sebuah buku kuno di laci tua milik kakeknya saat hendak membersihkan lemari. Daici membaca dengan seksama buku kuno  tentang legenda Rubah ekor sembilan.

“Ternyata Rubah ekor sembilan membawa bencana dan keluarnya di saat bulan purnama merah,” kata kesimpulan Daici membaca buku kuno.

Daici kemudian mengembalikan buku kuno ke dalam sebuah laci kembali. Lalu Daici keluar rumah untuk membeli makan. Dengan berjalan kaki menuju sebuah mini market berada tidak jauh dari rumahnya. Tiba-tiba Daici melihat seekor binatang seperti kucing lewat di depan mukanya.

“Haaaaa....apa saya tidak salah lihat....Rubah ekor sembilan?” kata Daici memperhatikan ekor binatang tersebut.

Binatang tersebut berlari cepat dan melompat ke atas rumah, lalu menghilang di kegelapan malam.  Daici mulai memperhatikan suasana sekitar.

“Bulan purnamanya berwarna merah. Jangan-jangan bener apa yang saya lihat?” kata Daici.

Daici sedikit ketakutan dengan keberadaan Rubah ekor sembilan. Tapi lama kelamaan suasana makin membuat merinding Daici. Dengan langkah hati-hati menuju mini market. Sontak terdengar suara ledakan tidak jauh dari tempat Daici. Kemudian karena penasaran Daici mencari tahu keberadaan ledakan tersebut.

Terlihat oleh mata Daici sebuah mobil menabrak pom bensin. Ledakan makin menjadi-jadi membakar segalanya. Para warga panik untuk mematikan api. Sedang pengendara mati dengan luka bakar yang parah.

“Apa mungkin ulah dari Rubah ekor sembilan?” kata Daici.

Terlihat oleh Daici di atap rumah di terangin oleh sinar bulan purnama berwarna merah seekor binatang berekor sembilan berdiri tegak.

“Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.............Rubah ekor sembilan,” kata Daici dengat terkejut.

Daici yang ketakutan terus berusaha menenangkan dirinya. Rubah ekor sembilan menghilang di selimuti oleh kabut yang kebal. Daici melihat hanya bisa terdiam dan terpaku.

“Ternyata buku kuno tersebut menyatakan kebenaran tentang legenda Rubah ekor sembilan pembawa bencana,” kata Daici.

Polisi dateng beserta mobil ambulan, dan armada pemadam kebakaran untuk menangani musibah yang telah terjadi. Daici pun  jadi penonton beserta warga sekitar. Setelah semuanya telah selesai di tangani dengan baik oleh polisi dan armada kebakaran memadamkan api. Daici dan para warga meninggalkan tempat kejadian. Lalu segera Daici pergi ke mimi market.  Setelah mendapatkan barang yang di belinya di mini market Daici pulang ke rumah. Selang berapa saat sampai di rumah Daici segera membuat makan makan malan. Lalu Kakek pun pulang dari rumah temannya. Daici pun merasa senang karena rasa ketakutannya mulai menghilang karena keberadaan Kakek di rumah.

Masakan matang semuanya kemudian Daici menyiapkan makan di meja makan. Kakek duduk bersama Daici menyantap makan yang di buatnya dengan cukup sederhana, tapi enak dan mengenyangkan. Kakek menikmati setiap masakan Daici sambil menonton televisi. Tiba-tiba lagi asik menonton tv Kakek melihat sosok yang membuat Kakek terkejut.

“Rubah ekor sembilan........,” kata Kakek.

Daici pun hanya bisa hanya bisa terdiam melihat makluk tersebut. Sedangkan Kakek juga hanya bisa terdiam. Lalu mereka berdua tetap melanjutkan makan malamnya. Setelah makan malam Kakek pergi untuk tidur. Sedangkan Daici berusaha melupakan musibah hari ini di timbulkan oleh Rubah ekor sembilan.

CAT

Malam makin larut sekali. Seeekor Kucing berwarna hitam sedang mengais makan di sebuah tempat sampah di sebuah gang sempit. Usaha keras Kucing hitam membuahkan hasil menemukan kepala ikan goreng.

“Rasanya lezat sekali,” kata Kucing hitam yang menjilati makannnya.

Kucing hitam menggigit kepala ikan goreng dan di bawanya keluar dari sampah pergi menuju tempat persembunyiannya. Tiba-tiba Kucing hitam di hadang oleh Kucing berwarna putih yang penuh dengan luka.

“Serahkan makan yang enak itu pada ku,” kata Kucing putih.

“Saya tidak akan menyerahkan makan malam saya yang enak ini,” kata Kucing Hitam.

“Apa boleh buat main kasar?” kata Kucing putih.

Kucing hitam mulai menjaga jarak dengan Kucing putih yang mulai mendekati. Dengan cepat berlari menyerang Kucing hitam yang membawa ikan goreng di mulutnya. Dengan perhitungan tepat Kucing hitam mengelak dari serangan Kucing putih, lalu berlari secepat mungkin.

“Sial dia kambur,” kata Kucing putih.

Kucing putih mengejar Kucing hitam  sampa masuk ke  halaman depan rumah yang di tumbuhin oleh rerumputan. Kucing putih meningkatkan kecepatannya dan melompat dan mengeluarkan cakarnya dan di tujukan ke muka Kucing hitam. Sontak dengan cepat berhasil dengan menghindar Kucing hitam, tapi sayang kepala ikan goreng terlepas dari mulutnya. Kucing hitam bergerak cepat untuk mengambil kepala ikan goreng tergeletak di rerumputan. Kucing putih sudah duluan dan menginjak kepala ikan goreng dengan kakinya.

“Saya dapatkan buruan ini yang lezat dan nikmat,” kata Kucing putih.

“Sial sekali terlepas,” kata Kucing hitam yang geram.

Kucing hitam mulai bergerak cepat untuk mengambil kepala ikan goreng dengan mencari sudut yang tepat untuk mencurinya. Kucing putih menjaga kepala ikan goreng tanpa bergeming sedikit pun. Kucing hitam mulai menyerang  dengan terkamannya. Tapi sayang di tangkis dengan sebuah trubukan dari badan yang besar Kucing putih.

“Aaahhhhhh,” teriakan Kucing hitam terpental jauh dan tersungkur.

“Rasakan kekuatan dari saya,” kata Kucing putih mulai menyombongkan dirinya.

Kucing putih mengigit kepala ikan goreng dan di bawa pergi  jauh dari tempat pertarungan. Kucing hitam bangun dari tempatnya tersungkur dan bergerak menuju ke tempat persembunyianya.

“Hari ini benar-benar sial. Makan  enak di rampas oleh hewan yang lebih kuat dari saya,” kata Kucing hitam yang putus asa.

Kucing hitam berjalan dengan penuh kesenduan sampai ke tempat persembunyian. Tiba-tiba di tengah jalan ada seorang manusia membuang sebungkus makan di pinggir jalan.

“Baunya enak sekali...kayanya bau ayam goreng,” kata Kucing hitam.

Kucing hitam bergegas ke bungkusan makan di tepi jalan. Lalu segera membuka bungkusan tersebut dengan kaki depannya dan mulutnya.

“Waaaaw....ternyata paha ayam goreng yang masih banyak dagingnya ditambah nasi putih yang enak,” kata Kucing hitam.

Kucing hitam memakan daging paha ayam goreng bersama nasi dengan lahap sekali.

“Mmeeemmm.....enak sekali.....bener-bener rezeki,” kata Kucing hitam.

Kucing hitam terus melahapnya  makannya. Tiba –tiba merasakan sesuatu yang tidak enak. Ada seekor Anjing mulai mendekat Kucing hitam. Dengan perhitungan tepat Kucing hitam menggigit daging paha ayam goreng dan bawa pergi dari situ secepat mungkin. Anjing mengejar Kucing hitam sampai ke pengkolan gang kecil. Kucing hitam langsung masuk dan melewati sebuah celah kecil di sebuah pager dan menuju ke persembunyiannya. Sedangkan Anjing berusaha keras mendobrak pager, tapi pada akhirnya menyerah meninggalkan tempat tersebut.

Kucing hitam  sampai di persembunyiannya di sebuah teras rumah.

“Hampir saja makan ini di ambil mangsa yang lain,” kata Kucing hitam.

Kucing hitam menikmati makan enaknya tanpa ada yang gangu.

“Kenyang sekali,” kata Kucing hitam.

Kucing hitam selesai menyantap makan malamnya dan mulai berleha-leha di lantai sambil memandangin bintang di langit yang gelap.  

TIGER


Suatu hari yang cerah di sebuah hutan belantara. Seekor Harimau sedang berjalan-jalan di rimbunnya pepohonan sambil mengendus-endus bau yang segar. Harimau mencari bau yang menyegarkan tersebut. Terlihat oleh mata Harimau yang tajam sebuah daging yang bergelantungan di antara dua pohon.

“Makan yang lezat,”  kata Harimau.

Harimau yang kelaparan menerkap daging yang bergantungan di antara dua pohon dengan taringnya yang tajam. Daging tertarik sampai ke tanah. Sebuah pengait tercantol di daging dan sambungkan oleh tali yang cukup kuat menarik sebuah kayu penyanggah. Pintu kandang tertutup  dengan rapat dan terkuci. Harimau terjebak dalam kurungan besi di pasang oleh pemburu.

“Saya terjebak ini.....gara-gara daging segar ini,” kata Harimau.

Harimau terus berputar-putar dalam kandang dan meraung-raung, layaknya raja rimba. Harimau jadi bingung di buat keadaan, mau gak mau hanya bisa duduk terdiam.

“Sampai kapan saya di kurungan ini?. Tolong.....tolong...,” teriak Harimau.

Tidak jauh dari keberadaan Harimau ada seorang Pertapa yang sedang semedi. Dengan khusuknya merapalkan mantra.  Pertapa terbangun dari semedinya, lalu dengan memperhatikan dengan suara yang begitu memilukan.

“Kayanya ada yang kesusahan,” kata Pertapa.

Pertapa beranjak dari duduknya berjalan menuju di mana suara berasal. Dengan menyisir jalan hutan dengan sebuah tongkat Pertapa menemukan Seekor Harimau yang lagi dalam kesusahan. Pertapa ingin membantu melepaskan Harimau dari jebakan pemburu, tapi di benak Pertapa ada khawatiran. Harimau pun bangun melihat seorang Pertapa.

“Tolong saya keluar dari kandang ini,” kata Harimau dengan memelas.

“Saya sih ingin menolong awalnya, tapi ada keraguan. Takutnya kamu di lepaskan menerkam saya untuk melapiaskan nafsu makan mu yang besar,” kata Pertapa berusaha bijak.

“Saya maklum itu, karena saya hewan predator. Tapi saya mohon tolong saya, dan saya berjanji tidak akan memangsa kamu. Wahai Pertapa yang baik,” kata Harimau meminta dengan penuh santun.

“Baiklah saya akan melepaskan  kamu, dan juga saya akan pegang janji kamu,” kata Pertapa.

Pertapa mencari pengait yang mengunci kandang besi. Dengan berusaha keras Pertapa mencongkelnya dengan tongkatnya. Pengait pun terlepas secara otomatis kandang pun terbuka. Harimau pun keluar dengan kandang dan mendekati Pertapa. Rasa ketakutan Pertapa berhadapan dengan Harimau yang mulai bertingkah aneh. Pertapa mulai berantipasi dengan tongkatnya. Harimau mulai menunjukkan raungannya yang hebat di hadapan Pertapa. Kaki Pertapa gemetaran sampai-sampai keringat dingin.

“Apa kamu mau melanggar janji mu tidak menerkam saya?”  tanya Pertapa yang ketakutan.

Harimau mulai mengendus-endus bau tubuh Pertapa.

“Saya sudah berjanji jadi pantang untuk di langgarnya. Karena saya adalah Raja rimba.  Saya berterima kasih karena pertolongannya,” kata Harimau yang bijak.

“Iya....sama-sam,” jawab Pertapa yang ketakutan.

Harimau pun pergi dengan berlari masuk ke hutan lebih dalam lagi dan meninggalkan Pertapa yang terdiam di pinggir kandang.

“Haaaa....... ternyata Harimau yang saya tolong bijak sana juga,” kata Pertapa sambil menghela nafas.

Pertapa pun beranjak dari situ segera kembali ke pondoknya. Dengan penuh ke hati-hatian Pertapa membelah hutan sampai ke kediamannya. Sampai di pondok Pertapa langsung masuk ke dalam untuk beristirahat siang. Baru saja mau merebakan tubuh, terdengar suara gaduh di luar pondok. Pertapa keluar untuk melihat kejadian di luar.

Tiba-tiba 2 bilah pedang di sodorkan di leher Pertama.

“Ada apa ini?” tanya Pertapa.

“Sudah jangan banyak bertanya kamu. Kami berdua akan jadikan kamu budak untuk kaum kami,” kata Penjahat 1.

“Jadi itu benar Pertapa. Karena kami masih butuh banyak orang untuk membangun istana untuk Raja kami,” kata Penjahat 2.

“Tapikan...saya hanya seorang Pertapa yang jauh dari urusan duniawi,” katanya berusaha membela diri.

“Sekarang diam... jangan banyak bicara. Lihat baik-baik seperti mereka di ikat  di sana di jaga teman-teman saya,” kata Penjahat 1.

“Iya...iya...saya nurut,” kata Pertapa.

Pertapa  bejalan dan di ikat dan tangannya dan di satukan dengan orang-orang yang di tangkap. Berjalan para penjahat dengan membawa budak menuju desanya. Melewati lembah sampai menyisiri sungai. Harimau selama ini masih mengawasi sang Pertapa yang baik dengan penciumannnya.  Ditengah Jalan seorang budak mengalami kram kaki karena perjalan jauh dan terjatuh. Penjahat 1 memecutnya dengan kuat layaknya binatang untuk menyuruhnya bangun dan berjalan lagi. Budak berusaha bangun, walaupun dalam ke sakitan. Tiba-tiba Harimau muncul dan menerkam Penjahat 1  bagian lehernya dengan taringnya kuat sampai mati.

Harimau pun meraung dengan sangat kuat di hadapan para manusia. Semua yang melihat kebuasan Harimau sangat ketakutan sekali. Penjahat 2 melihat temannya mati marah dan berusaha melawan Harimau dengan pedangnya. Saat Penjahat 2 mau membacok Harimau menghindar, lalu mencakarnya.

“Aaaaahhhh,” teriak Penjahat 2 dadanya robek bersimbah darah.

Harimau langsung melancarkan terkamannya ke leher sampai Penjahat 2 mati. Para penjahat lainnya ketakutan sekali. Harimau mendatangi Pertapa dengan mulut penuh darah manusia. Para budak yang penuh ketakutan sekali di datengin Harimau. Dengan giginya yang tajam memutus tali yang mengikat Pertapa.

“Terima kasih Harimau,” kata Pertapa.

“Iya...sama-sama,” kata Harimau.

Harimau meraung dengan sangat kuat di hadapan Pertapa dan para budak. Semua para budak yang melihat kebuasan Harimau ketakutan sampai ke terkencing-kencing. Harimau pun pergi meninggalkan semua manusia dengan berlari cepat masuk ke dalam hutan. Pertapa membuka semua ikatan para budak. Lalu mereka semua meninggalkan tempat kejadian kembali ke desa masing-masing. Pertapa sambil berjalan menuju pondoknya mengenang kebaikan dari Harimau yang menepati janji.

SPARROW


Hujan pun berhenti. Langit menjadi terang kembali. Di sebuah pohon melinjo seekor Burung Gereja berteduh, lalu mulai ancang-ancang untuk terbang. Pada saat Ular Hijau merayap di batang pohon melinjo Dengan cepat menangkap Burung Gereja dan mengelibatnya.

“Sial.....saya terjebak oleh Ular Hijau yang berbaur dengan hijaunya daun,” kata Burung Gereja.

“Saya akan menghancurkan tulangmu dan akan ku telan,” kata Ular Hijau.

Burung Gereja berusaha terus agar bisa terlepas dari lilitan Ular Hijau. Semakin bergerak semakin Ular Hijau melilit dengan sangat kuat.

“Aaahhhhh,” teriak kesakitan Burung Gereja.

Burung Gereja pun berusaha  terus  agar bisa lepas dari Ular Hijau.

“Tolong.................,” teriak Burung Gereja.

“Teriaklah sesuka hatimu tidak ada berani menolong kamu termasuk kaummu,” kata Ular Hijau menyombongkan dirinya.

Burung Gereja terus berusaha untuk terlepas dari Ular Hijau.Tiba-tiba seorang Anak Manusia keluar dari rumah berjalan di pekarangan belakang untuk memetik buah melinjo dan daunnya untuk di buat sayur.

“Haaaaa.................Ularrrrrrrr,” teriak terkejut Anak Manusia.

Anak Manusia mengambil sebatang bambu yang biasa untuk mengambil buah melinjo. Tanpa berpikir panjang Anak Manusia memukul ke arah Ular Hijau yang sibuk melilit Burung Gereja. Serangan Anak Manusia tersebut mengenai bagian tubuh Ular Hijau sampai jatuh ke tanah bersama Burung Gereja.

“Eeeeehhh.....aaahhh...sial....tubuh ku rasanya mati rasa.,” kata Ular Hijau.

“Saya bebas......dari lilitan Ular Hijau,” kata Burung Gereja.

Burung Gereja mulai menggerakkan badannya sebisa mungkin dan berusaha terus agar bisa terbang. Dengan tertatih-tatih Burung Gereja melompat. Pada akhirnya usahanya berhasil untuk mengepakan sayapnya. Terbanglah Burung Gereja terus menjauh dari Ular Hijau.

“Saya selamat hari ini dari Ular Hijau yang ingin memangsa. Terima kasih Anak Manusia yang baik. Puji syukur saya panjatkan kehadiran mu ya Tuhan,”  celoteh Burung Gereja saat melayang di udara.

“Gagal mendapatkan makan......kalau diam di sini saja saya akan mati di pukul Anak Manusia,” kata Ular Hijau.

Ular Hijau berusaha dengan cepat melarikan diri mengerakkan seluruh tubuhnya masuk ke dalam semak-semak.

“Kemana pergi Ular Hijau?” kata Anak Manusia.

Anak Manusia terus memukul tongkat ke tanah untuk membunuh Ular Hijau. Karena ketakutan dengan ulah Anak Manusia sang Ular Hijau pun terus melarikan diri masuk ke hutan belantara.

“Kayanya sudah pergi Ular Hijau, tapi kayanya ada Burung Gereja yang mau di lahap Ular. Kemana ya Burung Gereja itu kok di cariin gak ada?,” kata Anak Manusia.

Anak Manusia mencari terus Burung Gereja dengan melihat sekeliling.

“Kayanya saya lihat,” kata Anak Manusia.

Anak Manusia mulai memetik buah melinjo dan daun mudanya, lalu di taruh di dalam sebuah kresek plastik yang cukup besar. Setelah terkumpul banyak Anak Manusia masuk ke dalam rumah dan tidak lupa menaruh batang bambu di tempatnya semula.

“Alhamdulilahhirobil alamin hari ini panen banyak,” kata Anak Manusia.

Di dalam rumah Anak Manusia segera memasak melinjo dan daun mudanya  di campur bahan yang lain untuk dibuat sayur asem yang enak.                                                                                               

CHICKEN


Siang hari panas sekali. Seekor Ayam  Babon dengan 5 Anak Ayam bermain di pinggir hutan. Tuannya keluar dari rumah dengan membawa secanting beras ke halaman belakang.

“Ker....ker....ker,” teriak Tuannya.

Ayam Babon mendengar panggilan Tuannya.

“Ayo anak-anak kita pulang ke rumah. Tuan kita memanggil,” kata Ayam Babon

“Iya.....Ibu....,” jawab semua Anak Ayam

Ayam Babon dengan 5 Anak Ayam berjalan menuju rumah Tuannya.  Beras telah di sebar di halaman belakang oleh Tuannya. Ayam Babon dan 5 Anak Ayam senang sekali melihat banyak makan di yang tersebar di halaman belakang.

“Ayo anak- anak ku ada makan enak dari Tuan kita yang baik,” kata Ayam Babon.

“Iya...Ibu.......,” jawab 5 Anak Ayam.

Ibu Ayam senang momong anak-anaknya yang berusaha tumbuh untuk dewasa. Ayam  Jago dateng dengan menunjukkan kegagahannya.

“Kokoook.......,” kata Ayam Jago.

Tuannya pun mendengarnya dan melihat hewan piaraannya berkumpul.

“Jangan main......jauh-jauh,” kata Tuannya sambil menyebarkan beras ke tanah.

Ayam Jago, Ayam Babon dan 5 Anak Ayam sibuk mengais- mengais beras di tanah.

“Kookkkkkk,” kata  Ayam Jago.

Beras di canting habis di sebar oleh Tuannnya. Lalu segera Tuannya masuk ke dalam rumah.

“Buuuu....Tuan kita baik ya.....,” kata Anak Ayam 1.

“Bener sekali...makan yag sebarkan ini banyak sekali,” kata Anak Ayam 2.

“Moga-moga rezeki Tuan kita di tambah,” kata Anak  Ayam 3.

“Tuhan semoga...Tuan saya di mudahkan rezeki,” kata Ayam 4.

“Ah...inikan biasa......setiap....hari kita di beri makan, tapi enak juga sih...moga-moga Tuhan menambah Rezekinya....agar saya dapet makan ini terus sampai saya dewasa seperti Ibu dan Ayah,” kata Anak Ayam 5.

“Anak...anak Ibu yang baik Tuhan selalu menyertai doa dan usaha kita. Doa kalian selalu di kabulkan dengan makan yang banyak ini,” kata Ibu Ayam.

“Kkkokkkkk........benar sekali, pandai-pandailah bersyukur, maka Tuhan akan memurahkan rezeki kita semua,” kata Ayam Jago.

Ayam Jago pun terus mengais tanah semakin lama temboloknya penuh. Ayam Jago mencari minum yang sudah di siapkan Tuannya di pinggir rumah. Ayam Jago meminum dengan penuh ketenangan.

“Wah lega sekali tenggorokan saya ini,” kata Ayam Jago.

Ayam Babon terus membimbing anak-anaknya mengais makan di tanah. Anak-Anak senang makan dan bermain mengelilingi Ayam Babon.

“Dasar anak-anak...........,” kata Ayam Babon yang senang merawat anaknya.

“Main lagi ah.....,” kata Ayam Jago.

Ayam Jago berlari cepat menuju pinggir hutan sambil mencari makan. Sang Ayam Babon lalu berjalan menuju pinggir rumah untuk minum dan ke 5 Anak Ayam mengikuti ulahnya. Ayam Babon pun duduk di pinggir rumah untuk berteduk  dari teriknya matahari. Sedangkan ke 5 Anak Ayam bersembunyi di sayap Ibunya.

“Hangatnya.........kasih sayang Ibu,” kata Anak Ayam 1.

“Benar sekali......,” jawab ke 4 Anak Ayam secara bergantian.

“Dasar....anak-anak manja,” kata Ayam Babon.

Ayam Babon terus duduk di situ sampai sore hari. Lalu bergeraklah Ayam Babon ke kandang.

“Ayo...anak-anak waktunya pulang......,” kata Ayam Babon.

Tuannya keluar dari rumah melihat Ayam Babon dan ke 5 Anaknya di dalam kandang.

“Ayam-ayam yang pintar.....,” kata Tuannya memuji.

Lalu Tuannya sadar si Ayam Jago yang nakal belum masuk ke kandang.

“Main kemana lagi Ayam Jago ini?. Sudah sore bukannya pulang,” kata Tuannya.

Tuannya sibuk ke sana ke sini mencari Ayam Jago.

“Kerrr.....kerrrrrr,” panggilan Tuannya.

Ayam Jago mendengarnya dengan celingak-celinguk.

“Tuan saya memanggil. Hari sudah sore. Waktunya pulang,” kata Ayam Jago.

Ayam Jago dengan berlari menuju pulang, lalu melompat  ke atas kandang.

“Kuuuuuruyukkkkk,” teriak Ayam Jago menunjukkan dirinya.

“Di cariin malahan udah nengkreng di atas kandang,” kata Tuannya.

Ayam Jago bergegas masuk ke dalam kandang. Tuannya segera menutup pintu kandang.

Setelah itu Tuannya masuk ke dalam rumah  untuk melakukan hal yang lain.

“Selamat.....tidur semuanya,” kata Ayam Jago yang bertengger di kandang.

“Selamat ..tidur,” saut Ayam Babon.

Ayam Babon menyelimuti ke 5 Anaknya dengan sayapnya. Ke 5 Anak Ayam terasa hangat dan tidur dengan pulas.

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...