Pages

Tuesday, November 3, 2020

SAHABAT


Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya langsung ke dapur untuk membuat kopi. 

"Hidup itu di nikmatin," kata Tony.

Kopi pun jadi buat Tony.

Tony pun meminum kopi buatannya.

"Eeee enak," kata Tony. 

Tony membawa gelas kopi ke halamanan belakang rumah ke tempat Dodo yang sedang asik main game di Hp-nya. Tony duduk di sebelah Dodo sambil minum kopi.

"Dodo, kerjaannya main saja," kata Tony, sambil menaruh gelas kopi di meja.

Dodo pun menghentikan main game di Hp-nya.

"Ya....tidak ada kerjaan. Main saja kan. Menghibur diri dan menghilangkan rasa bosen ini dan itu," kata Dodo.

"Gimana.....tugas kuliah mu Dodo?" kata Tony.

"Kalau itu sih sudah bereslah," kata Dodo.

"Hidup kita ini masih menyenangkan. Ya beban kita ini cuma belajar dan belajar saja," kata Tony.

"Jelas menyenangkan di tuntut sama orang tua belajar saja. Biaya hidup di beri sama orang tua. Walau sebenarnya kita...ini jauh dari orang tua. Anak perantauan. Padahal di tempat asal aku ada Universitas bagus juga sih tapi di coba tes masuk Universitas yang terkenal dengan kualitas dari jebolan Universitas yang hasilnya kerja di perusahaan dan pemerintahan. Eeee di terima dengan baik di terima di Universitas yang aku ikutin tes. Ya di jalanin aja dengan baik, ya jauh dari orang tua. Demi masa depan yang baik," kata Dodo.

"Itu semua kan berkat Dodo rajin belajar, maka di terima masuk Universitas unggulan. Kedudukannya tidak jauh beda dengan aku," kata Tony.

"Memang sih aku rajin belajar dan rajin main game di Hp ku. Hidupku, ya aku atur dengan baik," kata Dodo.

"Kalau lulus dari Universitas. Dodo mau kerja di mana?" kata Tony.

"Kata orang tua sih, ya di suruhnya ke pemerintahan. Ya ikut tes masuk pemerintahan. Maka sekarang ini aku mencari banyak informasi agar bisa masuk pemerintahan, ya agar lulus tesnya. Kan...susah juga. Di seleksi dengan baik," kata Dodo.

"Memang sih aku akui. Selesksi masuk pemerintahan di selesksi dengan baik, agar yang masuk di pemerintahan yang di cari adalah orang-orang berkualitas dan dapat memajukan sistem kerja di pemerintahan......jadi lebih baik lagi," kata Tony.

"Maka itu....aku masih banyak waktu menikmati hidupku yang belum punya beban, ya kerja dan kerja itu," kata Dodo.

"Santai di rumah itu baik," kata Tony. 

Tony mengambil gelas kopi di meja dan meminumnya.

"Kalau Tony lulus dari Universitas, ya kerja di pemerintahan atau perusahaan?" kata Dodo.

"Perusahaan atau pemerintahan. Kayanya aku coba dulu usaha. Maka itu aku mengumpulkan banyak data-data yang baik untuk menigkatkan usaha yang aku ingin laksanakan dengan baik," kata Tony.

"Kalau usaha...sih, ya tidak perlu setelah lulus dari Universitas. Di mulai sekarang lebih baik," kata Dodo.

"Iya, aku memang sudah memulainya. Tetap saja, aku ingin santai menikmati masa-masa kuliahku.....tidak di bebanin dengan kerja dan kerja," kata Tony.

"Sambilan toh. Ketika lulus dari Universitas...baru deh fokus," kata Dodo.

"Ooo iya. Dodo...gimana hubungan dengan Lisa teman satu fakultas dengan mu Dodo?" kata Tony.

"Oooo Lisa. Tetap teman saja. Tidak lebih," kata Dodo.

"Cuma teman. Tapi akrabnya bukan main, kaya pacaran saja," kata Tony.

"Pacaran. Nanti dululah pacaran. Yang penting itu adalah selesaikan kulian dulu," kata Dodo.

"Oooo tidak mau pacaran toh. Berarti langsung nikah dong!" kata Tony.

"Bisa...jadi. Lagian Ibu ku itu susah di kompromiin urusan tentang cewek, ya pilihan ku," kata Dodo.

"Ooo berarti di tolak sama Ibu toh. Cewek pilihan Dodo. Ya tidak jauh beda dengan ku," kata Tony.

"Nikamatin aja keadaan ini yang jomlo. Santai...tidak di bebanin dengan urusan cewek yang ini dan itu," kata Dodo.

"Bener omonganmu Dodo," kata Tony.

"Sudah ah ngobrolnya, aku mau main game di Hp ku!" kata Dodo.

"Iya," kata Tony.

Tony mengambil gelas kopi di meja dan meminumnya. Dodo melanjutkan main game di Hp-nya dengan penuh keasikkan dan juga santai banget. Tony menghabiskan kopinya, ya bergeraklah Tony ke dapur untuk mencuci gelas tersebut. Gelas pun bersih di taruh di rak piring.

"Jomlo....itu menyenangkan," kata Tony.

Tony ke teras rumah dan duduk di teras rumah sambil melihat lingkungan. Tony melihat cewek cantik yang melintas di depan rumah. Tony mengenal tuh cewek yang lewat depan rumah.

"Tia tetangga sebelah, ya kuliah juga dan anak perantuan juga," kata Tony.

Tony mengambil koran di meja dan di bacanya dengan baik. Dodo pun menyelesaikan main game di Hp-nya. Dodo pun ke teras depan rumah. Duduklah Dodo bersama Tony di teras depan rumah.

"Keadaan lingkungan sini tenang banget," kata Dodo.

Tony pun menghentikan baca korannya.

"Iya, tenang banget keadaan lingkungan di sini," kata Tony.

"Tony  main yuk, kemana gitu?!" kata Dodo.

"Main ke mall aja yuk. Nonton bioskop gitu!" kata Dodo.

"Boleh itu," kata Dodo.

Dodo dan Tony yang sepakat untuk main ke mall, ya berbenah diri dulu. Setelah itu berangkatlah keduanya ke mall dengan menggunakan motor. Sampai di mall Tony dan Dodo bertemu dengan Lisa dan Ayunda teman baiknya Lisa. Dodo dan Tony mengajak Lisa dan Ayunda untuk nonton film di bioskop gitu. Dodo jadi lebih dekat dengan Lisa. Sedangkan Tony, ya di dekatin sama Ayunda.....jadinya deket banget. Keempatnya menikmati nonton film yang bagus banget di ruangan bioskop. 

Saturday, February 1, 2020

JALAN KUCING

Kucing sedang asik tiduran di depan toko, ya di lantai. Pemilik toko,ya manusia mengusir Kucing yang tiduran di lantai. Ya Kucing pun bangun meninggalkan tempat situ, ya gak jauh-jauh sih.......jadinya tiduran di rerumputan di bawah pohon.

Toko pun makin ramai sih dengan pembeli. Pemilik toko sibuk dengan melayanin pembeli. Kucing melihat dari jauh kecurigaan sih dari pembeli yang mengambil kesempatan dari pemilik toko yang lengah.....jadi ke toko lagi Kucing, ya benar sih pembeli yang niat buruk mengambil uang yang di bayarkan pembeli ke pemilik toko lupa di simpen....gara-gara pengalihan dari pembeli yang lain.

Kucing pun cuma bisa meong saja, ya sebenarnya ingin memberitahu bahwa ada pencuri di salah satu pembeli. Kucing tidak bisa di pahami bahasanya. Pemilik toko langsung frustasi setelah toko sepi pembeli.

"Uang ku hilang. Kerjaan ku sia-sia," kata pemilik toko.

Pemilik toko murung menjalankan usahanya dengan sia-sia hari ini. Kucing pun meninggalkan tempat tersebut dengan berjalan menuju sebuah rumah makan, ya karena perutnya lapar. Kucing menunggu ada manusia yang membuang sisa makan gitu. Di tungguin tetap gak ada juga yang membuang sisa makan. Kucing pun murung meninggalkan tempat tersebut dengan jalan dan jalan lagi.

Sampai di akhirnya Kucing menemukan ayam yang di bungkus plastik dan tergeletak di jalan. Kucing segera menggigit plastik tersebut dan berlari menuju tempat yang sepi. Kucing merobek plastik dengan giginya yang tajam dan segera makan ayam goreng tersebut.

"Enak," kata Kucing.

Kucing menikmati makannya. Dateng anak Kucing yang kelaparan gitu. Kucing sebenarnya tidak ingin membagi makanannya, karena hidup di dunia binatang adalah yang kuat yang menang dan bertahan hidup. Kucing pun berniat membunuh anak Kucing itu, kalau anak Kucing hidup dan bertahan jadi dewasa.....mungkin menjadi lawan dan bisa saja membunuh Kucing. Niat itu pun di urungkan Kucing, ya jadi memberikan makanannya ke anak Kucing.

"Makanlah," kata Kucing.

Kucing pun meninggalkan anak Kucing yang makan ayam yang di berikannya. Kucing terus berjalan dan berjalan.....sampai di rumah ibadah. Para manusia berkumpul di rumah ibadah menjalankan kewajibannya. Kucing hanya mondar mandir saja di situ dan akhirnya istirahat, ya tiduran.

"Hidup manusia lebih baik dari hidup aku. Berkumpul untuk membangun kebaikan dan berbagi makanan dengan sesama. Beda dengan hidup ku. Bertarung demi bertahan hidup, walau sebenarnya pertarungan hidup adalah sia-sia," kata Kucing.

Kucing tetap santai di situ, ya tiduran di lantai. Dateng anak manusia yang suka sama Kucing...
jadi bulu Kucing di elus dan juga memberi makan berupa roti. Kucing senang di beri makan sama anak manusia.

"Bener-bener....anak manusia yang baik," kata Kucing.

Anak manusia, ya mendengar omongan Kucing tetapi tidak mengerti bahasa Kucing....jadi yang di mengerti dari bahasa Kucing hanya "Meong....meong...meong".

Anak manusia pun meninggalkan Kucing yang sedang asik makan dan kembali ke kerumunan para manusia, ya orang tuanya anak manusia tersebut.

"Anak manusa anak baik," kata Kucing memuji anak manusia

Kucing terus menikmati makan kue dengan perut kenyang. Ya meninggalkan tempat tersebut. Berjalan terus berjalan. Hujan pun turun. Hari pun menjelang malam. Kucing pun masuk ke dalam toko dan bersembunyi di bawah meja. Ya pemilik toko tidak tahu Kucing di dalam toko. Sampai hujan berhenti dan pemilik toko menutup toko. Kucing tetap di dalam toko, ya tiduran dengan keadaan gelap sih.

"Selamat malan," kata Kucing.

Pemilik toko meninggalkan tokonya, ya pulang ke rumahnya. waktu berjalan dengan semestinya sampai esok harinya. Pemilik toko membuka lagi tokonya, ya berjualan gitu. Kucing pun keluar dari toko, ya menjalankan kehidupannya sepert biasanya.


Monday, January 27, 2020

SEPERTI BIASANYA

Kucing berjalan-jalan, ya waktu malam. Gerombolan remaja yang bernyanyi-nyanyi tengah malam gitu di halaman depan rumah, ya sambil main gitar. Kucing lewat rumah tersebut.

"Berisik amat para remaja di lingkungan sini," kata Kucing.

Kucing pun menyeberang jalan, ya duduk di bawah pohon yang rindang.

Tikus lewat di depan Kucing.

"Kucing tumben gak ngejar aku!?" kata Tikus.

"Males....ah," kata Kucing.

Tikus yang meninggalkan Kucing begitu saja. Kucing tetap bersantai sih. Para remaja sedang asik bernyanyi di halaman depan rumahnya, tetap gak berhenti juga. Kucing mendengarnya dengan baik nyanyian remaja yang bernyanyi, ya waktu sudah tengah malam.

"Berisik aja...para remaja zaman sekarang kerjaannya. Gak inget waktu kalau nyanyi-nyanyian. Pada hal gangu tetangga yang sedang istirahat. Kebiasaan didikan orang kaya di...manja. Anak pejabat. Tetangga mana mau menegurnya, males menghadapi anak pejabat yang dekingan polisi dan tentara," kata Kucing yang kesal mendengar suara berisik dari nyanyian remaja....yang buruk.

Kucing pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Berjalan terus berjalan sampai tempat yang sunyi, ya rumah kosong gitu. Melintas hantu di depan Kucing.

"Aduh hantu berwujud manusia ini bikin jengkel saja. Mati jadi penasaran..., hidup pun penasaran...jadi hantu," kata Kucing.

Kucing tidak jadi masuk rumah kosong, ada hantu. Berjalan dan berjalan lagi. Ada manusia yang keluar dari pagar rumah orang kaya dengan diam-diam dan memakai topeng hitam, ya segera naik motor untuk pergi dari situ bersama temannya.

"Pencuri di sini, masuk rumah orang kaya. Di sana gerombolan remajanya cuma bisa nyanyi-nyanyi dengan suara yang buruk," kata Kucing.

Kucing tidak mau berurusan dengan urusan manusia, ya gak penting. Berjalan dan berjalan sampai pos kamling. Terlihat para penjaga malam sedang duduk di pos kambling, ya ada yang ngiter ke sana ke sini.

"Di sana pencuri. Yang jaga malam ini gimana kerjanya?" kata Kucing.

Kucing, ya tidak peduli urusan manusia yang gak genah. Berjalan dan berjalan Kucing sampai di kantor polisi. Terlihat polisi yang jaga malam, ya biasa cuma duduk aja nunggu laporan dari polisi yang patroli malam gitu.

"Pencurian di sana. Polisinya cuma begini kerjaannya..nunggu laporan masyarakat. Ah...gak guna," kata Kucing.

Kucing pun meninggal tempat tersebut sampai di depan rumah makan ya...tutup sih. Kucing tidur di pinggir rumah makan, ya istirahat...cape jalan-jalan.

Sunday, January 26, 2020

YA TIKUS LAGI

uSebuah bakso menggelinding ke lantai, karena mangkok mie tumpah di senggol Kucing yang nakal saat Tuannya ingin makan itu bakso tersebut. Kucing ya melompat sih dari meja untuk mengejar bakso tersebut. Tikus, ya mencium bau yang enak gitu dan berkata "Bakso".

Tikus mengikuti bau bakso tersebut. Ternyata terlihat juga bakso tersebut, ya menggelinding di lantai gitu. Kucing pun hampir mendapatkan bakso yang menggelinding di lantai. Tikus pun dengan cepat berlari, ya menyalip pergerakan Kucing dan mendapatkan bakso tersebut dengan di gigitnya. Tikus lari dengan sangat cepat membawa bakso di mulutnya.

"Jangan lari kamu....Tikus. Hey pencuri," Kucing.

Kucing berlari cepat dan lebih cepat dari Tikus dan juga menghadang Tikus.

"Sial aku terjebak," kata Tikus dengan menggumam

Tikus balik arah dan segera berlari dengan sangat cepat menuju sarangnya. Kucing ya tidak tinggal diam, segera bergerak cepat mengejar Tikus sampai akhirnya Kucing kaki kanan Kucing mengenai Tikus dan bakso di mulut Tikus terlepas.

"Makan ku," kata Tikus.

Bakso menggelinding di lantai. Kucing pun dengan cepat mengambil bakso yang menggelinding tersebut.

"Aku dapat bakso ini," kata Kucing.

Ya Kucing segera memakan bakso tersebut untuk memuaskan dirinya dari rasa laparnya. 

"Aku gagal. Kalah sama Kucing. Iiiiiii....benci....benci," kata Tikus yang kesal.

Tikus pun, ya berjalan menuju sarangnya di balik dinding rumah. Lagi-lagi Tikus mencium bau enak gitu di luar rumah. Tikus segera berlari menuju keluar rumah, ya lewat pintu belakang yang terbuka lebar. Pemilik rumah membuang bakso beserta mie di dalam tempat sampah, yang tadi di tumpahkan Kucing tidak sengaja dari mangkoknya. 

Tikus senang banget dengan makanan yang enak, ya segera berlari menuju tempat sampah. Lagi-lagi ada Kucing liar yang masuk ke dalam tempat sampah, ya menikmati makan gitu. 

"Aku kalah cepat lagi dengan Kucing," kata Tikus.

Tikus pun lagi-lagi murung, ya lebih baik jalan-jalan gitu di halaman belakang rumah, ya ada kebon pisang sih. Tikus lagi-lagi mencium bau enak, ya segera mencarinya. Ya ketemu sih bau enak tersebut buah Sirsak yang matang, ya jatuh di jatuhin Kalong. Tikus segera mendekati buah Sirsak tersebut.

"Makan enak," kata Tikus.

Tikus mau makan buah Sirsak, ya muncuk seekor Ular Cobra yang besar banget.

"Predator....ganas banget," kata Tikus.

Tikus pun, ya berlari menjauh dari buah Sirsak dan juga Ular Cobra. Ya Ular Cobra....ya gagal menangkap Tikus, karena berlari sangat cepat. Tikus terus berlari dan berlari sampai ke sarangnya dan mengurungkan niatnya untuk mencari makanan lagi. Ya Tikus yang capek dan letih karena berlari ke sana dan ke sini lebih baik, ya tidur di sarangnya.

Saat nyantai di sarangnya. Ada Tikus kecil yang main ke sarang Tikus, ya sambil membawa kue yang enak. Tikus pun senang di kunjungin Tikus kecil tersebut, masih keluarga sih yang terpenting adalah makan yaitu kue dari Tikus kecil yang membawanya. 


Monday, January 20, 2020

PETUALANGAN TIKUS

Malam yang tenang sih, ya perut Tikus keroncongan. Tikus ke luar dari sarangnya, ya tengok sana sini agar tidak ketahuan Kucing.

"Aman," kata Tikus.

Tikus pun berjalan-jalan dengan penuh hati-hati. Sampai di dapur. Tikus mencium bau yang enak, ya langung mencari bau enak itu. Ketemu di bawah lemari es, ya sepotong ayam goreng.

"Makan enak," kata Tikus.

Tikus ya segera makan sepotong ayam goreng di lantai. Kucing menginjak ekor Tikus.

"Sakit," teriak Tikus.

Tikus ya keluar dari bawah lemari es sambil menggigit sepotong ayam goreng. Karena melihat Kucing, ya jadinya sepotong ayam goreng terlepas dari mulutnya Tikus.

"Maaf Kucing," kata Tikus yang ketakutan.

Kucing melepaskan pijakan pada ekor Tikus, ya segera menginjak sepotong ayam goreng.

"Sekarang kamu pergi dari sini. Aku lagi baik!" kata Kucing.

"Iya, Iya," kata Tikus.

Tikus pun langsung lari cepat meninggalkan Kucing gitu. Ya Kucing segera memakan sepotong ayam goreng gitu.

"Emmmm enakkkk!!" kata Kucing yang menikmati makannya. 

Tikus pun terus berlari sampai masuk ke dalam kamar, ya pintu agak terbuka sedikit....maksudnya sih pintu terganjel sendal gitu. Di dalam kamar, eeee Tikus menutup telinga karena sepasang manusia yang bertengkar gitu.

"Hubungan kita sampai di sini, Cerai!" kata Wanita.

"Baik, kalau mau mu itu," kata Pria.

Wanita keluar dari kamar, ya segera keluar rumah membawa mobilnya meninggalkan rumah tersebut. Tikus pun keluar dari kamar, ya tidak peduli urusan dengan manusia yang bertengkar karena hubungan pernikahan yang tidak jujur dalam menjalankannya.

Sampai di luar rumah. Tikus mencium bau yang enak, ya arahnya menuju tong sampah. Muncul Kucing liar di dekat sampah, ya mencari makanan gitu. Tikus tidak jadi ke tempat sampah. Ya Tikus berjalan di rerumputan di halaman depan. Seekor Ular Cobra muncul di hadapan Tikus.

"Celaka. Mala petaka  di depan aku," kata Tikus.

Tikus pun ya segera berlari untuk menjauh dari Ular Cobra. Ya Ular Cobra mengejar Tikus.

"Aku di kejar Ular Cobra. Jadi lebih baik aku berlari menuju Kucing liar berada," kata Tikus.

Tikus pun terus berlari dan berlari sampai di tempat sampah, ya masuk ke tempat sampah agar selamet. Kucing tahu yang masuk tempat sampah adalah Tikus, ya padahal Kucing lagi asik makan gitu. Ular Cobra di hadapan Kucing.

"Musuh ini mah," kata Kucing.

Ular Cobra ya biasa menunjukkan kebuasaannya dengan menyerang Kucing. Ya Kucing yang instingnya tajem ya menghindari serangan Ular Cobra. Ketika waktunya tepat ya menyerang Kucing ke Ular Cobra dengan cakar gitu. Ular Cobra terkena cakarnya Kucing, sampai berdarah. Ular Cobra yang kalah bertarung dengan Kucing lebih baik pergi alias mundur dari pada mati konyol di bunuh Kucing.

"Lawan aku yang hebat ini," kata Kucing yang bangga pada dirinya.

Tikus ya namanya Tikus....ada kesempatan yang baik untuk mengenyangkan perutnya, ya makan. Kucing pun mau makan lagi, tapi kaget makannya habis. Tikus ya sudah kabur menuju sarangnya di dalam rumah gitu.

Kucing, ya meratapi keadaannya yang makannya di makan Tikus, jadinya Kucing berjalan lagi mencari makan di malam yang makin larut.

Saturday, January 18, 2020

KUPU-KUPU DAN TEMAN

Kupu-kupu terbang menuju sebuah taman bunga di sekolah taman kanak-kanak. Ya Kupu-kupu pun hinggap di bunga yang cantik, biasa menghisap sari bunga.

Anak-anak TK di ajarkan dengan guru untuk memahami sesuatu. Kegembiraan terpancarkan pada raut anak-anak yang rata-rata umur 5 tahun.

"Meriah banget keadaan lingkungan sini," kata Kupu-kupu sambil menghisap sari bunga.

Capung ya hinggap di daun bunga dekat dengan Kupu-kupu yang asik menghisap sari bunga.

"Kupu-kupu asik banget!" sapa Capung yang akrab gitu.

"Iya lah asik, menikmati sari bunga yang manis," kata Kupu-kupu.

"Rame juga, banyak anak-anak manusia di sini," kata Capung.

"Ya....namanya juga tempat sekolahan, ya rame banyak anak-anak manusia," penjelasan Kupu-kupu.

"Oh begitu," saut Capung.

Angin yang tenang berubah jadi bertiup kencang. Kupu-kupu dan Capung terbawa tiupan angin yang kuat. Dengan mengepakan sayap mereka berdua bisa bertahan dari hembusan angin yang kuat banget. Kembali tenang angin.

"Hampir celaka aku," kata Capung.

"Iya," saut Kupu-kupu.

Air jatuh dari langit.

"Mau hujan," kata Kupu-kupu dan Capung.

Air hujan turun dari langit tidak deras, tapi rintik-rintik. Kupu-Kupu dan Capung berusaha menghindari butiran air mengenai sayap dan tubuh ke duanya.

"Kita, kaya berperang," kata Capung.

"Maksudnya?! di tembakin peluru ke arah kita dengan beruntun dan kita hindari agar tidak mati," kata Kupu-kupu.

"Iya," saut Capung.

Air hujan pun makin turunnya makin deras sekali. Kupu-kupu dan Capung terbang cepat menuju ruang kelas yang pintunya terbuka dan hendak di tutup oleh Ibu guru karena hujan dan udara makin dingin. Capung dan Kupu-kupu berhasil masuk ke dalam kelas dan mencelok di atas lemari.

"Selamet," kata Kupu-kupu.

"Iya, selamet," kata Capung juga.

Cicak yang menempel di dinding melihat Capung dan Kupu-kupu.

"Makan," kata Cicak.

Cicak berjalan di dinding dengan cepat dan melompat ke atas lemari, ya berhasil.

"Predator," kata Kupu-kupu.

"Predator. Cicak....kabur," kata Capung.

Cicak berlari sangat cepat untuk menangkap Kupu-kupu dan Capung. Tapi Capung dan Kupu-kupu terbang gitu.

"Aku gagal mendapatkan mangsaku," kata Cicak yang kesal.

Kupu-kupu dan Capung berusaha keluar dari kelas. Hujan berhenti. Pendidikan di TK pun selesai. Pintu di buka Ibu guru. Anak-anak TK keluar dari kelas, ya Ibunya anak-anak TK sudah menjemput mereka dan menunggu di teras gitu. Capung dan Kupu-kupu segera keluar dari ruang kelas, ya melihat keadaan gitu.

"Cinta Ibu pada anaknya," kata Kupu-kupu.

"Iya, Para Ibu menjemput anaknya yang di didik tempat ini," kata Capung.

Capung dan Kupu-kupu terbang meninggalkan tempat tersebut untuk mencari taman bunga lainnya.

"Kupu-kupu, terbang di langit," kata anak TK, melihat Kupu-kupu terbang di langit sambil menunjuk pake jarinya.

"Iya, anak ku sayang. Ayo kita pulang," kata Ibu.

Ibu dan anak tersebut berjalan menuju rumah, ya karena dekat rumah. Sedang Ibu dan anak yang lainnya pulang ke rumah dengan motor dan juga di mobil, ya maklum maklum zaman sekarang.

Thursday, January 16, 2020

KURA-KURA

Di pinggir sungai. Seekor Kura-kura sedang bersantai. Boby membawa pancingan untuk memancing di sungai. Di pinggir sungai Boby segera melemparkan kail ada umpannya ke ke air sungai.

Kura-kura yang di pinggir sungai langsung melompat ke air.

"Plung," bunyi suara Kura-kura masuk air.

Boby yang agak sensitif dengan keadaan gitu, ya mendengarkan sih bunyi 'Plung' itu. Ya di kirain Boby sih batu yang menggelinding dan masuk ke sungai.

Dengan sabar sih Boby memancing. Saat ikan mendekati umpan di kail gitu. Kura-kura, ya menangkap ikan dan memakannya.

Boby, jenuh banget dengan memancing gitu, karena ikan belum memakan umpan di kailnya. Kura-kura menangkap ikan lagi, saat ikan mau memakan umpan di pancingan. Boby tambah jenuh dengan keadaanya, ya memutuskan untuk balik ke rumah.

Kura-kura yang kenyang, ya keluar dari air.

"Manusia yang memancing di sini sudah pulang toh. Gak tahu, aku telah menangkap ikan sebelum ikan memakan umpan di pancingan," kata Kura-kura.

Kura-kura pun berjalan menuju pohon yang rindang di pinggir sungai. Anjing mencari makan, ya sambil mengendus-endus gitu. Mencium bau Kura-kura segera berlari dengan cepat, ya sampai menemukan Kura-kura di bawah pohon yang rindang. Kura-kura yang berjalan lambat, ya apa boleh buat bersembunyi di tempurungnya yang keras. Anjing pun menggulingkan Kura-kura ke sana ke sini pake kami depan sebelah tangan, kadang di gigitnya. Kura-kura bersabar di dalam tempurungnya dan kata hatinya "Tolong aku dari Anjing. Aku berjanji tidak nakal lagi".

Boby melihat Anjing yang mempermainkan kura-kura gitu di bawah pohon yang rindang. Ya Boby mengusir Anjing dengan sebuah tongkat di gebukin di tanah gitu, agar Anjing takut dan kabur. Anjing berhenti, tapi menggonggong gitu. Boby pun kembali menggunakan tongkat kayu di gebuk ke tanah untuk mengusir Anjing.

Anjing bukan pergi dari tempat tersebut, malah berlari menuju Boby untuk menyerang. Boby bertindak cepat, ya di pukulnya tubuh Anjing yang menyerang dirinya pake tongkat kayu.

"Buuuk," suara pukulan yang keras.

"Kaing....kaing," suara Anjing yang menahan sakit.

Boby pun memukul tongkat kayu ke tanah lagi, ya Anjing terkejut dan kabur karena ketakutan. Boby pun mendekati Kura-kura yang terbalik gitu, ya di balik tubuhnya.

"Kura-kura kamu telah selamat dari Anjing yang mau memangsa kamu," kata Boby.

Kura-kura keluar dari tempurungnya dan berjalan ke sungai dan dalam hati Kura-kura berkata "Terima kasih, manusia yang telah menolong aku".

Boby pun kembali memancing lagi, karena membawa umpan yang baru yang mungkin bisa mendapatkan ikan. Ya segera Boby melempar kail yang ada umpannya ke air. Dengan sabar gitu Boby menunggu umpan di makan ikan.

Kura-kura yang membales budi baik manusia yang menolong dirinya dari Anjing, jadinya menangkap ikan gitu. Boby ngantuk gitu saat mancing. Kura-kura mendapatkan ikan, ya satu ekor ikan, ya besar gitu lalu di bawa ke pinggir sungai dekat manusia. Kembali ke dalam air sungai nangkap ikan lagi satu ekor, ya besar gitu di bawa ke pinggir sungai dekat manusia. Boby tidak sadar ada dua ekor ikan di kakinya karena ngantuk gitu.

Kura pun menangkap ikan lagi satu ekor dan di kaitkan kepancingan dan tali pancing di tarik. Sontak Boby terbangun dari rasa kantuknya karena umpannya di makan ikan dan segera di tarik pancingan. Ternyata dapet ikan yang besar gitu. Boby lebih terkejut lagi ada dua ekor ikan di pinggir sungai.

"Ikan siapa ya? Ah sudahlah aku cup aja jadi ikan aku," kata Boby.

Boby pun membawa tiga ekor ikan pulang ke rumahnya dengan perasaan senang berhasil memancing gitu. Kura-kura di yang memunculkan kepalanya di permukaan air pun berkata "Aku telah membayar kesalahan ku tadi".

Kura-kura pun kembali berenang ke dalam air sungai dengan perasaan senang sekali.

Tuesday, January 14, 2020

KELINCI

Kupu-kupu terbang ke sana ke sini menyambut pagi yang cerah. Kelinci melompat-lompat di padang rumput yang luas banget. Lina sedang duduk termangu melihat pelangi yang indah banget.

Kelinci pun melompat dan melompat ke tempat Lina duduk. Pandangan Lina pun teralihkan dari mengagumi melihat pelangi. Lina segera menggendong Kelinci kesayangannya.

"Sahabat baik ku," kata Lina.

Lina pun meninggalkan tempat tersebut, ya berjalan menuju rumahnya. Kupu-kupu mencelok di bunga yang mekar indah dan harum baunya.

"Enak juga hidup Kelinci itu di pelihara oleh anak manusia yang baik hatinya," kata Kupu-kupu.

Lina sampai di rumahnya. Kelinci di taruh di kandangnya. Ibu Lina pun menghampiri anaknya tersayang.

"Lina, kamu tadi dari mana?" tanya Ibu.

"Lina, tadi melihat pelangi yang indah di sana!" kata Lina sambil jari telunjuknya diarahkan ke tempat Lina duduk di pandang rumput yang luas banget.

"Pelangi toh. Lakukan apa pun yang Lina sukai, tapi jangan jauh-jauh mainnya?" kata Ibu.

"Iya, Ibu," kata Lina.

Ibu pun meninggalkan Lina, karena masih sibuk memasak di dapur. Lina pun mengambil wartel di dapur, ya langsung di berikan ke Kelinci kesayangannya.

"Kelinci makan yang banyak ya. Supaya kamu gemuk dan sehat!" kata Lina.

Kelinci makan wartel dengan lahap banget. Lina senang melihat Kelincinya. Kupu-kupu pun terbang ke sana ke sini untuk menikmati jalan hidupnya. Saat melihay Kupu-kupu betina, ya di kejarnya oleh Kupu-kupu.

Lina pun melihat dua Kupu-kupu di udara, ya seakan-akan menari di udara.

"Cantiknya Kupu-kupu itu," kata Lina.

Lina pun mulai menari sambil bernyanyi riang gitu. Dua Kupu-kupu melihat anak manusia yang menari dengan penuh kebahagian. Angin bertiup lembut sekali sampai menerbangkan bunga-bunga ke arah Lina.

"Cantiknya," pujian dua Kupu-kupu.

Kelinci yang sibuk makan wartel, ya tersekima oleh tarian yang di lakukan tuannya.

"Cantik seperti tuan putri," pujian Kelinci.

Lina terus menari dengan baik sampai selesai. Ibu melihat Lina yang menari, ya langsung bertepuk tangan dan berkata "Putri....Ibu pandai menari".

Lina tersipu malu karena di puji oleh Ibunya. Dengan segera Lina berlari kecil ke Ibunya dan memeluk Ibunya tersayang.

"Putri...Ibu...yang cantik dan baik," pujian Ibu.

"Ibu," saut Lina sambil menunduk malu.

Ibu dan Lina pun masuk rumah, karena Ibu telah selesai memasak di dapur, ya sudah di hidangkan di meja untuk makan siang gitu. Kelinci kembali makan wartel dengan lahapnya. Dua Kupu-kupu masih main kejar-kejaran di udara.

"Aku kenyang," kata Kelinci.

Kelinci pun santai sambil memandangin langit yang cerah gitu. Dua Kupu-kupu pun, ya kecapean terbang jadi mencelok di bunga untuk istirahat.

Monday, January 13, 2020

JAGO

"Aku adalah Jago," katanya dengan bangga.

Jogo berjalan dengan gagahnya, lalu melompat sambil mengepakkan sayapnya seakan-akan terbang gitu. Jago berdiri tegak di atap kandang.

"Pagi baik, Kukuruyuk," kata Jago dengan lantangnya.

Ayam betina beserta anak-anaknya keluar dari kandang untuk bermain dan mencari makan di pagi yang cerah. Jago melihat temannya si Bebek yang masih di dalam kandang, ya mendatanginya.

"Bebek ayo kita main di luar kandang, menyambut pagi yang cerah," kata Jago.

"Males, dingin," kata Bebek.

"Kok omongannya gitu. Kaya manusia aja, yang males bangun. Kaya lagu seperti ini 'Bangun tidur. Tidur lagi. Bangun..... Tidur lagi'. Gimana Bebek?" kata Jago.

"Bodok amat," kata Jago.

"Nanti rezeki mu di patok Ayam," kata Jago.

"Apa kamu bilang?" tanya Bebek.

"Rezeki mu di patok Ayam," kata Jago dengan tegas.

"Bukannya Ayam itu kamu, Jago," kata Bebek.

"Oh, iya.....ya. Aku...Ayam. Aku kirain aku ini manusia," kata Jago.

"Becanda aja pagi-pagi. Aku bangun. Tidak ingin...makluk pemalas," kata Bebek.

"Sip deh kalau mengerti," kata Jago.

Jago pun mulai berjalan ke sana ke sini menikmati pagi yang baik. Seekor Ular Cobra sedang mengintai anak Ayam. Jago melihat Ular Cobra tersebut dan segera menyerangnya Ular Cobra dengan gagahnya. Ya terjadi pertarungan yang sengit antara Ayam Jago dan Ular Cobra.

Ular Cobra dengan bisa yang membuat takut makluk apapun?Ya termasuk Jago. Tapi demi melindungi keturunannya dihadapinya si Ular Cobra. Untung menang sih Jago melawan Ular Cobra. Ya jadinya Ular Cobra di patokin sama Jago sampe mati gitu.

"Aku pemenangnya. Aku hebat. Kukuruyuk," kata Jago dengan bangga.

Bebek berjalan mendekati Jago.

"Hebat kamu Jago mengalahkan Ular Cobra!" pujian Bebek.

"Aku gitu!!!!!," kata Jago dengan bangganya.

"Sudahlah aku mau berenang. Mau ikut gak Jago," kata Bebek.

"Ngeledek ya....!!!!" kata Jago.

"Oh iya, aku lupa. Kamu tidak bisa berenang sih. Hebat sih mengalahkan Ular Cobra, kalau gak bisa berenang sih. Ya....sudahlah...gak perlu di bahas lagi," kata Bebek.

"Dasar Bebek," kata Jago.

Bebek meninggalkan Jago begitu saja, ya segera berenang di kolam gitu. Jago ya biasa mengawasin Ayam betina dengan anak-anaknya. Boby pemilik peternakan dari tadi sudah menyiapkan makanan. Lalu makan di taruh di tempat makan gitu. Ayam betina dan anak-anaknya segera ke tempat makan gitu, untuk makan. Jago juga ikutan juga makan. Bebek yang baru berenang langsung segera menuju tempat makannya.

Boby yang telah memberikan makan Ayam dan Bebek yang dipeliharanya dengan baik, ya segera mengerjakan yang lain gitu di hari yang cerah dan baik.

"Aku suka makan ini. Kukuruyuk," kata Jago.

"Aku juga. Tuan kita baik. Tapi kenapa selalu memberikan makan kita terlalu pagi....ya?" kata Bebek.

"Biasalah urusan manusia repot menggapai mimpi menjadi orang sukses," kata Jago yang sok tahu.

"Untuk jadi sukses di kalangan manusia harus pagi-pagi mengatur urusan semua urusan, ya repot juga," kata Bebek.

"Ya......begitulah. Urusan manusia. Beda dengan kehidupan kita. Bangun tidur, terus makan dan makan udah itu tidur," kata Jago.

"Kalau gitu mah. Lebih baik aku berenang lagi. Aku sudah kenyang," kata Bebek.

"Iya, terserah kamu," saut Ayam yang masik asik makan gitu.

Bebek berenang di kolam dengan riang gembira. Ya di kolam sih ada Katak gitu yang sedang asik berenang gitu, ya nikmatin hidup. Ayam kenyang juga, ya langsung melompat sambil mengepakan sayapnya dan mencelok di pagar rumah.

"Aku.....senang sekali di hari yang baik ini. Kukuruyuk," kata Jago.

Jago terus bertengger di atas pagar sambil mengawasi Ayam betina dengan anak-anaknya.

ADA KUCING

Seorang pemuda membawa motornya sangat ngebut sekali. Kucing menyebrang di jalan raya. Pemuda melihat Kucing menyebrang, ya sontak mengeremlah agar tidak menabrak Kucing.

"Meong, meong....artinya aku selamet," kata Kucing.

Kucing terus berjalan dengan berlari, karena pemuda berkata "Hus" tanda untuk mengusir si Kucing dari jalan raya. Pemuda segera menggegas motornya dan membawa motornya dengan kecepatan rata-rata.

Kucing masih berjalan di tortoar. Udara makin dingin banget, ya ada kabut gitu. Sesosok makluk gentayangan muncul gitu. Kucing melihat sosok hantu penasaran yang ingin godain tukang penjual nasi goreng keliling.

Kucing berlari dengan cepat sekali menuju penjual nasi goreng, yang berhenti karena capek mendorong gerobaknya. 

"Meong," kata Kucing.

Hantu penasaran pun menghilang karena ada Kucing, ya gak jadi godain penjual nasi goreng. Kucing mengelus-mengelus badannya ke kakinya tukang nasi goreng.

"Kucing manis," kata penjual nasi goreng.

"Meong-meong," kata Kucing.

"Jangan kamu lapar ya...Kucing," kata penjual nasi goreng.

"Meong....meong," kata Kucing.

Penjual nasi goreng memberikan nasi dan kerupuk untuk Kucing, ya segera di makan Kucing dengan lahapnya karena memang lapar sih....maklum hidup bebas tanpa tujuan. 

Mobil pun berhenti dekat gerobak penjual nasi goreng. Keluarlah dari mobil pemuda dan pemudi untuk beli nasi goreng dua porsi. Dalam hati penjual nasi goreng berkata "Rezeki ini, berkat berbagi rezeki sama Kucing".

Dengan cekatan penjual nasi goreng melayanin pembelinya. Eee baru selesai membuat dua porsi nasi goreng....ada yang memesan sih, ya pemuda yang membawa mobil gitu...malahan meminta 5 porsi di bungkus. Dalam hati penjual nasi goreng berkata "Bener rezeki, karena membagi rezeki sama Kucing. Mancing rezeki aku. Bener omongan Paman. Kalau memberikan makan Kucing, maka Kucing itu doa...in aku".

Penjual nasi goreng dengan lihainya menyiapkan pesan pembelinya. Kucing pun selesai makan, ya meninggalkan penjual nasi goreng yang laris manis gitu dengan dagangannya karena banyak pembeli yang ingin membeli nasi gorengnya.

Kucing terus berjalan dan berjalan sampai masuk ke dalam mobil mikrolet yang lagi mogok. Kucing pun tidur di tempat duduk. 

"Mobil selesai aku perbaiki," kata sopir mikrolet.

Sopir masuk ke mobilnya, ya segera di bawa mobil dengan baik sampai di rumahnya. Kucing gak bisa tidur sih, karena mobil jalan sih. Sampai di rumah sopir mikrolet. Mobil sudah diparkirkan dengan baik di depan rumah. Kucing keluar dari mikrolet.

Sopir pun kaget melihat Kucing yang keluar dari mobilnya....sampai berkata "Sejak kapan Kucing di dalam mikrolet?".

Kucing terus berjalan meninggalkan mobil mikrolet, sopir mikrolet tidak peduli dengan Kucing lebih baik masuk rumah untuk istirahat. Kucing sampai di pos kambling, ada hantu penasaran yang mau gangguin hansip yang menjaga lingkungan, ya bersama dua orang warga yang dapet jatah jaga malem gitu.

"Meong," kata Kucing.

Hantu penasaran pun menghilang karena ada Kucing, ya gak jadi di gangu hansip dan dua orang warga yang duduk di pos kambling. Kucing naik ke gardu pos kambling, ya langsung tidur gitu. Ya hansip dan dua orang warga, membiarkan Kucing di gardu pos kambling dan segera berkeliling lingkungan gitu.

Saturday, January 11, 2020

KUPU-KUPU

Kupu-kupu terbang kian kemari seperti biasanya di hari cerah sekali. Rasa letih pun datang pada Kupu-kupu, ya ia pun mencelok pada bunga angrek yang bagus banget di rawat oleh manusia yang menyukai bunga angrek tersebut.

Kupu-kupu, melihat anak-anak manusia bermain dengan gembira seusai sekolah. Keriangan anak-anak manusia membuat suasana lebih hidup lagi. Para orang tua tetap mengawasi anak-anaknya, walau masih sibuk dengan urusan pekerjaan di rumah sampai pekerjaan apa pun yang terpenting untuk menyambung hidup.

Kupu-kupu terbang kembali dari bunga angrek, karena rasa letihnya hilang. Terbang kesana kesini menikmati hidup ini. Sampai langit pun menjadi mendung dan segera hujan. Kupu-kupu segera mencelok di pohon mangga yang rimbun. Dengan sabar Kupu-kupu di situ sampai hujan reda.

Di aliran parit yang cukup deras ada beberapa Kodok yang sedang berenang, karena senang hari hujan. Tikus yang tinggalnya dekat selokan, ya kebajiran saat hujan sampai rongga tanah yang di buat tikus penuh air. Ya Tikus segera berlari cepat sekali dan sambil berkata "Banjir".

Kupu-kupu tertawa dengan ulahnya Tikus yang membuat sarang dekat selokan dan berakhir sarangnya penuh air, lalu Kupu-kupu berceloteh "Bodoh di piara. Pinter yang piara. Hidup selamet, tidak tertimpa musibah banjir".

Hujan makin lebat sekali sampai-sampai angin bertiup kencang sekali dan merobohkan pohon, ya jatuh di jalan. Ada mobil yang melintas di jalan tersebut, jadinya muter balik lewat jalan yang lain. Warga sekitar ya segera membereskan pohon yang tumbang di jalan, walau hari masih hujan banget.

Kupu-kupu terus melihat ulah para manusia yang membenahi jalanan dengan cepat. Kesabaran pun membuahkan hasil hujan pun berhenti juga. Jalan yang terhalangi pohon tumbang pun, sekarang bisa di lewati lagi. Kupu-kupu terbang lagi, karena hari cerah lagi.

Terlihat semua makluk hidup pada basa semua karena hujan. Kupu-kupu terus terbang ke sana ke sini sampai akhirnya mencelok lagi di kembang melati, yang baunya wangi banget. Kupu-kupu istirahat di situ. Ular cobra yang masih kecil berjalan di bawah kembang melati, ya biasa mencari mangsanya Tikus. Kadal pun naik pohon pohon melandingan. Kepik pun terbang, karena ada Kadal yang naik pohon melandingan.

Kupu-kupu, segera terbang lagi. Tak sengaja terkena jebakan dari jaring Laba-laba. Ya Laba-laba pun bergerak cepat untuk segera menangkap Kupu-kupu, yang masih berusaha lepas dari jaringnya. Air hujan yang di daun yang besar akhirnya jatuh di tiup angin dan langsung mengenai Kupu-kupu yang terjebak jaring.

Kupu-kupu terlepas dari jaring dan hendak jatuh ke tanah. Dengan usaha yang kuat, Kupu-kupu kembali terbang lagi dan terus terbang menuju sebuah pohon jambu yang rimbun untuk beristirahat, hari pun menjelang malam pula.

Friday, January 10, 2020

KUCING

Kucing berlari dengan cepat sekali mengejar Tikus sampai masuk ke dalam gedung. Di dalam gedung penuh dengan manusia yang berbaju merah. Kucing melupakan Tikus yang ia kejar dan berusaha menjauh dari para manusia. Tikus masuk terus masuk ke dalam sampai ekornya di injak oleh wanita.

"Ciiiiit," teriak Tikus kesakitan.

Wanita merasakan sesuatu di kakinya, menggeliat gitu. Di lihat seksama oleh wanita tersebut.

"Tikus......," teriak wanita yang ketakutan.

Semua manusia yang geli dengan Tikus menghindarinya, sedang yang berani dengan Tikus, ya mau membunuh Tikus dengan menginjak injaknya. Tikus bisa menghindari serangan para manusia tersebut dengan masuk lubang yang ada di bawah panggung.

Kucing yang dari tadi berusaha menghindari manusia, ya lebih baik keluar dari gedung dengan berlari cepat.

"Lebih baik di luar gedung dari di dalem banyak manusia yang pake baju merah berlambangkan banteng, nanti ngamuk," kata Kucing.

Kucing berjalan dan berjalan lagi. Sampai mencium bau yang enak gitu, ya Kucing segera berlari ke tempat bau yang enak. Terlihat dengan jelas Kucing restoran dengan ciri khasnya lampion berwarna merah.

Kucing pun dengan berjalan pelan-pelan menghindari langkah manusia ke sana ke sini demi mencium bau yang enak. Sampai di dapur, ada sih bekas makan gitu. Kucing mau menikmati makan tersebut, tetapi sudah ada Anjing di situ.

"Wah kalau nekat, aku mati," kata Kucing.

Kucing pun mengurungkan niatnya untuk tidak mendekati makan yang di jaga Anjing. 

"Restoran cina, ya pasti ada Anjing," kata Kucing.

Kucing pun berjalan dan berjalan gitu. Kucing melihat anak kecil yang sedang makan gitu, ya Kucing mendekati anak kecil tersebut dengan cara mengelus diri kucing ke kaki anak kecil.

Anak kecil kegelian dan menjatuhkan makannya di tangannya. Ya Kucing segera memakan makan tersebut, ya roti sih. Anak kecil tersebut mau mengambil makannya yang di makan Kucing, tapi sang Ibu melarang anak kecil itu mengambil makan yang sudah jatuh ke tanah. Ibunya anak tersebut membawa anaknya menjauh dari Kucing dan di berikan makan yang baru, ya sang anak senang makan rotinya.

Kucing senang dapet makan yang enak dari anak kecil yang menjatuhkan makannya. Setelah itu Kucing meninggalkan tempat tersebut menuju sebuah tempat yang penuh dengan anak-anak remaja yang sedang main game PS 4. Kucing mendekati pemiliknya seperti biasanya.

"Kucing dari mana saja kamu?" kata Boby.

"Meong," kata Kucing.

"Oh.....main sekitar sini," kata Boby.

"Meong....meong," kata Kucing.

"Aku punya kepala ikan nih," kata Boby.

Boby pun memberikan kepala ikan ke Kucing, yang biasa kalau makan nasi bungkus pake ikan lele, ya kepalanya gak di makan. Kucing segera makan kepala ikan lele dengan lahapnya. Boby ya kembali urusannya. Kucing terus makan kepala ikan sampai habis, ya akhirnya kenyang.

Kucing mencari tempat untuk tiduran gitu, ya di sebuah sofa buruk yang tidak terpakai lagi di taruh di belakang rumah. Saat Kucing mau tidur, eeee ada anak Kucing yang mau tidur di situ. 

Kucing jadi males tidur di sofa buruk tersebut, ya jadinya berjalan dan berjalan mencari tempat yang sepi di dan tenang. Kucing naik di tumpukan koran bekas, ya segera tiduran di situ dengan tenang.

Thursday, January 9, 2020

JALAN-JALAN

Kucing berjalan menuju sebuah gedung yang besar lewat pintu yang terbuka. Terlihat Kucing, ramainya manusia di dalam gedung. Terdengar juga hingar bingar dari suara dari musik dan para penyanyi yang menyanyikan lagu di atas panggung.

"Manusia selalu berkumpul di satu tempat untuk menyenangkan dirinya bersama orang-orang," kata Kucing.

Kucing berjalan terus berjalan. Saat mencium bau yang enak, Kucing segera berlari cepat menuju bau yang enak. Ada sebuah kotak yang berisi makan di atas kursi yang di tinggal pemiliknya yang sibuk dengan pekerjaan pertujukan.

Kucing naik kursi dan langsung menggigit daging ayam dan bawa pergi. Pemilik nasi kotak dateng untuk makan dan melihat ayam di kotak tidak ada lagi.

"Jangan-jangan di colong Kucing. Gara-gara aku....tinggalkan makan aku sebentar karena ngurusin pekerjaan," kata pemuda.

Kucing asik makan ayam yang enak di bawah meja yang tidak di gunakan.

"Enakkkkk," kata Kucing.

Kucing pun kenyang, ya meninggalkan tempat tersebut. Berjalanlah Kucing ke panggung pertunjukkan. Terlihat banget manusia yang asik menikmati hiburan yang di persembahkan oleh penyelenggara acara. Kucing pun meninggalkan tempat tersebut dan terus berjalan terus berjalan. Sampai terlihat Kucing betina. Kucing mengejar Kucing betina.

Saat berjalan beriringan. Kucing ingin mengambil hati Kucing betina. Ternyata Kucing betina cuwek banget.

"Sikap Kucing betina, kaya manusia aja....ya lebih tepatnya cewek," kata hati Kucing.

Kucing pun ya lebih baik pergi meninggalkan Kucing betina. Eeee tahu-tahu Kucing betina di datengin Kucing jantan dan juga satu anaknya.

"Kucing betina sudah punya pasangan dan anak pula, pantes cuwek banget," kata Kucing.

Kucing pun terus berjalan dan berjalan sampai di sebuah ruangan yang gelap lebih tepatnya ruang kantor gitu. Kucing naik sofa dan molet molet, ya tiduran. Baru tiduran sebentar. Seorang Ibu-Ibu masuk ke dalam ruang kantor dan segera menghidupkan lampu dan duduk di sofa dan segera menghidupkan Tv.

Kucing turun dari sofa dan meninggalkan tempat tersebut yang tidak tenang lagi. Terlihat Tikus gitu. Ya Kucing mengejar Tikus dengan kerasnya. Tikus berlari dengan cepat agar tidak di tangkap Kucing. Sampai mencium bau enak lagi, Kucing melupakan mengejar Tikus untuk mencari bau yang enak tersebut.

Di pinggir tempat sampah ada kotak nasi yang tergeletak di situ. Segera Kucing memakan nasi dan ayam tersebut, tetapi sayur dan cabe hijaunya, ya gak di makan. Kucing pun menikmati makannya sampai kenyang banget. Setelah itu Kucing berjalan lagi ke panggung pertunjukkan.

Ketika penyanyi menyanyikan sebuah lagu dengan suara cemprengnya. Kucing pun kaget sampai bulunya berdiri semuanya. Kucing pun pergi dari tempat tersebut karena sakit mendengar suara jeleknya dari penyanyi yang cempreng banget. Sampai di luar panggung.

"Penyanyi suara cempreng bisa laku, aneh.....," kata Kucing.

Kucing pun terus berjalan dan berjalan sampai di semak-semak dan istirahat, ya tidur.


Saturday, December 28, 2019

CINTA ADALAH PELARIAN SAJA

Pagi yang cerah sekali. Kucing berjalan menuju sebuah ruang kelas dan istirahat di bawah meja. Ada seorang di dalam kelas, Tiana yang sendirian. Tapi di dalam dirinya Tiana pun berkata-kata "Aku menyukai Kakak ku".

Heru pun masuk ke dalam kelas.

"Tiana," kata Heru.

"Kakak, maaf....Guru," kata Tiana.

"Lagi ngapain kamu sendirian di dalam kelas?" tanya Heru.

"Anu.....anu," kata Tiana terbatah-batah.

Juliana masuk ruang kelas dan langsung ngobrol dengan Heru dengan akrab gitu. Tiana tidak melanjutkan omongannya, tetapi di dalam hatinya berkata "Aku menyukai Kakak Heru, tapi ia selalu dekat dengan Mbak Juliana..., guru ku juga".

Heru dan Juliana terus bicara dengan urusannya mereka berdua. Tiana pun permisi dari tempat tersebut. Jesen dateng menghampiri Tiana dan segera memegang tangannya Tiana, di bawalah Tiana oleh Jasen ke belakang sekolah.

"Tiana," kata Jesen.

"Jesen," kata Tiana.

Tiana dan Jesen saling berpandangan dan reaksi pun terjadi keduanya untuk berciuman. Memang Tiana merasanya nikmat berciuman dengan Jesen, tapi hati Tiana dan pikirannya selalu memikirkan Heru yang ia sukai. Jesen pun memang menikmati ciuman bersama Tiana dengan mersa gitu, tapi hati dan pikirannya selalu memikirkan Juliana.

Kucing melihat ulah dua manusia yang memadu kasih, lalu bersuara "Meong".

Jesen dan Tiana menghentikan kemersaan keduanya dan akhirnya memilih pisah begitu saja. Tiana pun berjalan menuju ruang kelas, masih memikirkan Heru padahal sudah pacaran dengan Jesen.

"Aku menjalankan cinta dengan Heru, hanya pelarian saja," kata hati Tiana.

Jesen pun masuk dalam ruang kelas, tetapi masih memikirkan Juliana padahal sudah pacaran dengan Tiana.

"Aku pelarian saja hubungan pacaran dengan Tiana, yang aku cintai......Juliana."

Guru Juliana masuk ruang kelas untuk membimbing muridnya. Jesen melihat Juliana, Mbaknya yang paling di sukai Jesen. Guru Heru masuk ruang kelas untuk memberikan pendidikan pada muridnya. Tiana melihat Heru, Kakaknya yang ia cintai dengan segenap jiwanya.

Sistem belajar mengajar terus berlangsung dengan baik. Tiana selalu tidak bisa konsentrasi karena selalu memikirkan Heru, Kakak yang di harapkan jadi kekasih idaman Tiana, bukannya Jesen.

Sampai usai proses belajar mengajar. Tiana berjalan menuju rumahnya. Saat berpapasan dengan Jesen, segera di pegang tangan Tiana dan di bawa Tiana ke taman di bawah pohon yang rindang.

Tiana dan Jesen saling berpandangan. Rasa hasrat gelora keduanya, walau sebenarnya Jesen dan Tiana saling membohongi diri mereka berdua karena hubungan yang di jalankan keduanya hanya pelarian saja.

Kucing lewat situ. Saat Jesen ingin mencium Tiana. Kucing pun bersuara "Meong". Jesen pun menghentikan niatnya mencium Tiana, ya Tiana membuang muka ke samping. Jesen memutuskan mengatarkan Tiana sampai di rumahnya.

Singkat waktu. Sampai di rumah Tiana.

"Sampai jumpa besok, Tiana," kata Jesen.

"Sampai besok juga, Jesen," kata Tiana.

"Tiana, aku cinta kamu," kata Jesen.

Tiana terkejut sekali dengan omongan Jesen tersebut, maka menjawab "Iya, aku cinta kamu juga".

Jesen pun berjalan meninggalkan rumah Tiana menuju rumahnya. Tiana berjalan menuju pintu rumah yang terkunci dan di buka dengan kunci yang di bawa Tiana. Terbukalah pintu.

"Aku pulang," kata Tiana.

Tiana segera menuju kamarnya.

"Ibu belum pulang, Ayah juga," kata Tiana.

Tiana berbenah diri dan setelah itu makan sambil nonton Tv.

"Aku tetap menyukai Heru, Kakak Heru yang ku sukai. Jesen hanya pelarian ku saja. Tapi sampai kapan hubungan pacaran ku dengan Jesen ini?" celoteh Tiana.

Tiana terus bersantai di rumahnya sampai Ayah dan Ibu pulang dari kantor. Di dalam kamar dan hari sudah malam juga. 

"Aku tetap merindukan Kaka Heru dari pada Jesen," celoteh Tiana.

Jesen di rumahnya pun selalu memikirkan Juliana.

"Aku suka Juliana, tetapi hubungan pacaranku dengan Tiana hanya pelarian saja. Cinta yang sebenarnya tidak bisa ku dapatkan, maka Tiana yang ku dapatkan demi menjadi bayang-bayang dari orang yang ku sukai, Juliana," celoteh Jesen.

Jesen pun melakukan kegiatannya mengetik di komputernya, karena ada PR yang harus di kerjakan dan besok di kumpulkan. 

Kucing pun di atas rumahnya Jesen dan bersuara "Meong". 

Esok paginya di sekolah. Tiana dan Jesen bertemu di belakang sekolah, ya ingin melakukan niat keduanya berciuman. Bel berbunyi tanda masuk kelas. Jadi Jesen dan Tiana tidak jadi melakukan niatnya dan melaksanakan kewajibannya sebagai murid SMA kelas 3.

Kucing berjalan-jalan menuju kantin sambil bersuara "Meong.....Meong....Meong".


Monday, November 18, 2019

KARTINI SELANJUTNYA

Aku tahu, jika sikapku ini akan mendapatkan pertentangan yang sengit, ketidaksetujuan yang lebih mendominasi. Tapi aku akan tetap melakukannya, meski seluruh dunia menentangku aku hanya perlu sebuah keyakinan besar yang tidak akan tergoyahkan oleh siapapun. ‘Bismillah’ Bisik hatiku.

“Lakukanlah nak.. Ini demi kebaikanmu.” Datu Martha, wanita tua yang paling dihormati di dukuh ini menatapku dengan mata sayunya, namun nada yang ia gunakan adalah nada diktator, seperti biasanya.

Bibirku masih terkunci, menunduk sembari menggenggam erat rok hitam polos yang kugunakan. Menunggu kalimat perintah yang dibungkus dengan irama lembut selanjutnya.

“Benar apa yang dikatakan datu nak Kartini, engkau harus menyetujuinya.” Bi Arti yang menjadi orang kedua mencoba membujukku. Aku menghela napas pelan, menguatkan tanganku yang bergetar.

“Maafkan saya, saya tidak bisa melakukannya. saya ingin memilih jalan hidup sendiri.” Detak jantungku berpacu mengiringi setiap kata yang kuucap.

Gendang telingaku mendengar dengan jelas dengusan kasar dari Datu Martha dan guratan tak percaya dari para orang tua, tetapi hal tersebut tidak akan menggentarkan keyakinanku.

“Engkau ingin membuat keluarga besar kita malu hah.” Teriak Datu Martha sembari berdiri cepat, sontak para orang tua juga ikut berdiri. Tinggal diriku yang duduk bersimpuh, menjadi objek tatapan ketidaksetujuan. Aku bagai seorang tahanan yang tengah menunggu vonis dijatuhkan.

Dari ekor mataku, aku melihat ibu yang menatapku nanar, antara sedih dan bahagia. Ya, beliau adalah satu-satunya orang yang mendukung keputusanku. “Datu… akankah kita perlu memikirkan ini semua, Kartini masih belia ia ingin mewujudkan mimpinya.” Ucap ibuku dengan pandangan memohon pada Datu Martha yang masih menyala-nyala.

Bukannya mereda, perkataan ibuku seolah menyiram bensin pada Datu Martha, wanita itu menunjukku dan ibu secara bergantian. “Saya tidak peduli Kartini masih belia atau tidak, Lamaran ini sudah kuterima. Untuk apa melanjutkan pendidikan jika akhirnya engkau akan menjadi wanita yang berumah tangga. Ini sudah menjadi takdir Kartini, keluarga Bapak Rahman orang yang termahsyur hidup engkau akan terjamin dengannya.”

Amarah tak mampu kutekan lagi, aku tidak bisa membiarkan budaya dengan pemikiran kolot ini terus berlanjut. Segera kuberdiri, menatap Datu Martha tanpa rasa takut, ‘Engkau tengah membela kebenaran’ Bisikku.

“Wahai datu, saya ingin memilih jalan sendiri, saya tidak ingin menikah dengan orang tua yang sepatutnya saya panggil ‘bapak’ itu-”

“TUTUP MULUT KARTINI.” Teriak Datu menyela kalimatku,

“Tidak Datu, ini memang faktanya, kekayaan dan kekuasaan tidak akan menjamin hidup saya nantinya. Wanita memang akan berumah tangga datu, tapi bukan berarti kita hanya diam. Kita juga punya hak yang sama. Saya ingin melanjutkan pendidikan agar kebodohan ini tidak semakin mengakar.”

“Apakah dengan pendidikan engkau akan kaya.?”

“Menimba ilmu bukan untuk harta datu, tapi untuk mengubah pola pikir kita yang selama ini mentok, budaya pernikahan dini ini harus dihentikan datu.”

Kulihat dada Datu Martha naik turun, menatapku dengan amarah yang membludak. “Berani sekali engkau ingin menghentikan budaya kita yang telah turun temurun ini Kartini.” Ucap Datu Martha sembari menggemelatukkan giginya. Kulihat ibu ingin menghampiriku, namun aku memberinya instruksi agar tetap di sana.

“Budaya seperti ini merugikan wanita datu, mereka punya hak yang sama. Masa remaja seharusnya dilakukan untuk bersenang-senang, bukan terperangkap dalam perjodohan yang tidak diinginkan. Hak kita dan para lelaki itu sama, wanita juga ingin bebas. Apa datu tidak kasian pada cucu datu yang telah datu nikahkan dan berakhir pada perceraian, perselingkuhan dan kekerasaan. Ini tidak benar datu.”


Hazelku menatap burung-burung yang tengah sibuk mengepakkan sayapnya, berputar kesana kemari. Menikmati kebebasan, tanpa ada sangkar yang menghalanginya.

Aku menarik napas berkali-kali, memantapkan hatiku. Kini aku berada di tempat yang jauh dari rumah. Meninggakkan masa kekangan yang sering kualami. Bermodalkan restu dan do’a dari ibu, aku meninggalkan semuanya demi cita-cita dan mimpiku selama ini.

“Kartini kudengar di kelas kita akan ada dosen baru.” Nadya, teman baruku yang berasal dari Jakarta, membuyarkan lamunanku.

Aku hanya tersenyum kecil, tidak seantusias Nadya yang kini sibuk berdandan. Seperti mahasiswi lainnya karena kabarnya dosen kali ini adalah orang yang muda dan tampan. Namun aku tidak peduli.

Aktivitas mahasiswi yang sibuk berdandan kini terhenti kala suara ketukan khas sepatu menggema, suara yang bising kini tergantikan dengan keheningan. Menanti siapakah gerangan yang akan muncul di balik pintu besar berwarna kecoklatan itu.

“Selamat siang semuanya, perkenalkan saya Fahrizal Haikal, dosen baru di sini.” Aku yang sedari tadi sibuk mencoret-coret buku coklat tua pemberian ibu terhenti karena Nadya yang terus menyenggol lengan kiriku, lalu mengedikan dagunya. Mengisyaratkan agar mataku menoleh ke depan.

Degg

Aku terpaku saat mataku berserobok dengan mata elang di depanku. Entah perasaan macam apa yang baru saja kualami saat ini. Aku seolah kehilangan cara untuk bernapas, jantungku yang memompa dengan kecepatan tak biasa. Jangan-jangan…


Karya : Daisy

DIBALIK CERITA PESONA ALAM BONO (PART 2)

Mendengar beberapa penjelasan yang atuk ceritakan kepadaku mengenai cerita lagenda asal-usul dari gelombang Bono, semakin membuatku begitu terpesona akan keindahan alam yang dimiliki oleh Sungai Bono tersebut. Tentu saja, ini semakin menguatkan keoptimisanku untuk melanjutkan cita-citaku memajukan Kampung Pulu Muda menjadi sebuah Kampung Wisata. Namun, seketika saja aku terkejut, denga suaranya yang parau, tiba-tiba wanita setengah baya yang sangat aku kenali dengan jilbabnya yang hanya diikat dileher, datang menemuiku sembari membawakanku semangkuk gulai ikan salais kesukaanku. Wanita tersebut adalah mak cikku, kakak dari emakku.

“Hah, seru sangat berceritanya Nazri dengan atuk engkau!. Nah, berhentilah bersendau gurau dulu, ayo, engkau coba dulu gulai ikan salais yang makcik masak ni. Pastinya engkau sudah sangat merindukan masakan ini bukan?”, kata mak cikku sembari menyodorkan semangkuk ikan salai tersebut kepadaku.

Namun, entah mengapa, seketika dimana aku akan mengambil piring dan sendok yang terletak dari kursi santai kayu di rumah atukku, tiba-tiba aku merakan ada sebuah getaran yang sangat kuat dari dalam tanah diiringi dengan guncangan yang sangat dahsyat seperti akan merobohkan rumah atukku. Dengan hatiku yang berdebar-debar ketakutan, aku melihat ke arah atukku, namun, terlihat wajah atukku yang terlihat santai seperti tidak terjadi apa-apa. Dan 2 menit kemudian, seketika saja, getaran tersebutpun kemudian berhenti. (“Mungkin hanya perasaanku saja”), kataku mencoba menenangkan hatiku. Namun, ketika aku akan mengaduk sayur di dalam mangkuk, tiba-tiba sebuah sendok yang kugenggam, dengan kuatnya terhempas dari tangan kananku. Aku kemudian terkejut, dan bertanya-tanya gerangan apakah yang terjadi malam ini. Ternyata dugaanku benar, malam ini, adalah sebuah malam dimana akan datang gelombang Bono yang paling besar dan terdahsyat melewati kampung Pulau Muda ini. Denga cekatan, kemudian atukku pun berdiri dan berjalan menuju ke pintu rumah. Dan seketika atukku membuka pintu rumahnya, ternyata, sudah beramai-ramai para penduduk kampung Pulau Muda berdiri di depan rumah atuk.

“Atuk, apa yang terjadi malam ini?, mengapa semua warga Kampung Pulau muda datang beramai-ramai kerumah kita?”, tanyaku dengan wajah bingung dan takut.

“Tenanglah nak, tidak perlu takut. Atuk lupa, jika sekarang ini, adalah tanggal 14 Desember. Jadi, Malam ini kita akan mengadakan upacara Semah bersama-sama di rumah kita. Ini adalah upacara berdoa bersama yang akan kita lakukan dalam waktu satu malam suntuk hingga pagi hari, sampai gelombang Bono tersebut selesai mengitari Kampung Pulau Muda ini. Jadi, sekarang ini, mari kamu ikut bergabung bersama warga, untuk bedoa bersama-sama. Kemungkinan, ombak yang akan datang adalah ombak jantan yang sangat besar sekali dan bahkan ombak tersebut besarnya melewati tinggi rumah kita ini. Tetapi, kamu tidak perlu khawatir, semua warga di sini sudah bersahabat dengan Bono, sehingga, cukup kita hanya berdoa kepada Allah dan berserah diri saja kepadanya untuk mendapatkan keselamatan”.

Aku hanya terdiam setelah mendengarkan beberapa penjelasan yang diberikan oleh atukku. Sulit untukku bayangkan, bagaimana guncangan yang sangat kuat akan terjadi jika gelombang Bono tersebut melewati kampung Pulau Muda ini. Jujur saja, ada rasa ketakutan di dalam hatiku yang sangat mendalam. Namun, kucoba menahan rasa takutku, dan dengan berani aku kemudian bergabung bersama warga untuk mengadakan upacara semah di kediaman rumah atukku.

10 MENIT KEMUDIAN

Dan seketika saja, disaat aku dan bersama para warga di kampung Pulau Muda sedang berdoa bersama, tiba-tiba aku merasakan ada sebuah getaran yang sangat kuat mulai terasa di dalam rumah atukku. Terlihat beberapa perabotan rumah atuk dengan sendirinya bergeser dan terlempar hingga kesudut-sudut rumah. Benar-benar kurasakan, jika terdengar dari luar rumah, suara-suara ombak Bono yang melintas memutari Kampung Pulau Muda bersuara dengan kuat dan menderu-deru. Sungguh, didalam hatiku yang paling dalam, aku begitu yakin jika ini adalah sebuah kekuatan alam yang sangat dahsyat yang telah Allah ciptakan kepada para umat manusia agar tidak bersikap sombong dengan sesuatu yang dimilikinya selama hidup di dunia. Sehingga, dengan adanya fenomena alam gelombang Bono inilah, yang kemudian menjadikan masyarakat Pulau Muda, menjadi masyarakat yang bermasyarakat, selalu bersyukur, dan selalu bersikap rendah hati serta bertutur kara ramah kepada semua orang.

DI PAGI HARI YANG CERAH

Bersama langit pagi yang kelabu, bersama secercah cahaya mentari yang mulai terbit dari timur, aku berajalan-jalan dengan telanjang kaki mengitari indahnya pesona alam yang terbentang di Kampung Pulau muda ini. Dengan ramah pula, aku menyapa para ibu-ibu dan bapak-bapak yang saling bergotong royong untuk memasak bersama dalam mempersipakan ritual upacara semah lanjutan di siang hari nanti. Aku kemudian dengan tawa terbuka memotret beberapa kebersaman yang dilakukan oleh mereka. Sementara itu, di dekat pertepian sungai Bono yang mulai tenang, terlihat kerumunan anak-anak kecil dan beberapa orang dewasa sedang mencoba berselancar dengan papan kecil yang mereka buat dari kayu hutan.

Dengan penasaran, aku mencoba mendekati mereka, dan tidak lupa pula segera aku memotret beberapa aksi tingkah laku mereka yang semakin membuatku sangat terkesima. Namun, seketika aku akan ikut serta dengan anak-anak kecil tersebut, tiba-tiba ponselku berdering, dan ternyata sebuah email baru telah masuk ke ponselku. Sungguh, begitu tekejutnya diriku, ternyata karya ilmiah yang kutulis mengenai Pesona Alam Bono, telah berhasil terpilih menjadi 5 karya ilmiah terbaik di lomba festival sayembara budaya nasional. Tentu saja, ini akan menjadi peluang bagiku, dan langkah awal terbaikku untuk mengenalkan tentang pesona alam Bono kepada para masyarakat di luar sana. Sehingga, dengan demikian, aku dapat mewujudkan cita-citaku, dan juga atuk, untuk menjadikan kampung Pulau Muda menjadi sebuah kampung wisata di Kabupaten Pelalawan. Dengan tergesa-gesa segera aku pulang kerumah, dan menyampaikan kabar terbaik ini kepada atukku. Dan, sesampai dirumah atuk, seperti yang aku harapkan, dengan raut wajah bahagianya, atuk kemudian memelukku dengan hangat sembari mengucapkan terimakasih.

“Terimakasih nak, sungguh, atuk sangatlah bangga kepada kamu. Atuk dan semua warga di sini akan berdoa, semoga dengan kembalinya kamu ke Jakarta untuk mempresentasikan pesona alam Bono yang ada dikampung kita ini, maka, ini semua akan menjadi awal bagi kita semua untuk menjadikan kampung Pulau Muda ini menjadi sebuah Kampung Wisata. Dan selanjutnya, akan membantu masyarakat di Kampung ini, menuju ke kehidupan yang lebih baik lagi”.

“Iya tuk, Insyaallah Nazri janji, setelah satu bulan Nazri di Jakarta, maka Nazri akan kembali lagi ke Kampung Pulau muda ini, dengan tidak sendiri, tetapi bersama para ibu-ibu dan bapak-bapak permerintah pusat yang akan membantu menjadikan kampung kita menjadi sebuah Kampung Wisata. Nazri akan tampil sebaik mungkin untuk menjadi juara, tuk. Dan akan meyakinkan kepada semua orang diluar sana, jika kampung kita, kampung Pulau Muda, memiliki fenomena alam sungai yang langka dan sangat indah. Percayalah dengan Nazri, tuk, Nazri akan tepati janji Nazri dengan atuk dan semua warga disni”. Denga senyum terbuka aku berusaha meyakinkan atukku, sembari memeluknya dengan hangat. Sesuai dengan janjiku terhadap kampung Pulau Muda ini, bahwa tiga bulan kemudian, aku akan kembali lagi, bersama sebongkah mimpi yang akan ku wujudkan unutk memajukan Kampung kelahiranku ini.

3 BULAN KEMUDIAN…

Bersama riuhan angin pagi yang bersenandung, aku kembali lagi ke kampung Pulau Muda, dengan kebahagiaanku yang tak terkira. Sungguh, dipagi yang bersahabat ini, bersama siulan burung-burung yang bertengger di ranting-ranting pohon dekat sungai Bono, terdengar beberapa alunan musik gambus dan kompang yang menderu-deru menyambut kedatanganku dan juga beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak dari pemerintah pusat yang datang bersamaku. Bukan hanya itu, ketika dari sudut kanan memasuki alun-alun acara, ternyata, telah berdiri lima para gadis remaja di kampungku, yang dengan bahagiannya menyambut kedatangan kami dengan menampilkan sebuah tarian persembahan melayu, yang kemudian ditutup dengan menyuguhkan sebuah tepak yang berisikan sekapur sirih untuk dikunyah oleh kami, sebagai tanda penjamuan yang dilakukan oleh masyarakat melayu di Pulau Muda terhadap kami para tamu yang datang. Selanjutnya, ketika aku mencoba mengambil beberapa foto para gadis remaja yang menari tersebut, terlihat didepanku, atukku yang sedang berjalan menuju kearah dimana kami berdiri, dan dengan sapaannya yang ramah, menyambut kedatanganku bersama ibu-ibu dan bapak-bapak dari pemerintah pusat.

Dengan gagahnya, atukku sembari tersenyum seraya mengenakan pakaian adat melayu serta tajak di atas kepalanya.

Begitu juga dengan para lelaki di Kampung Pulau Muda yang juga mengenakan pakaian kurung adat melayu dan juga tajak diatas kepala mereka. Kemudian, bersama dentakan-dentakan kompang yang dimainkan, terlihat beberapa para remaja putri di Kampungku, yang menari tarian melayu Bono dengan indahnya. Sungguh benar-benar panorama budaya yang sangat indah dan sangat menawan. Sementara itu, disaat dimana aku dan beberapa tamu lainnya sudah terduduk dengan rapi di kursi tamu, tibalah sudah, saat dimana yang aku tunggu-tunggu. Yaitu, sebuah kata sambutan yang akan dikemukakan oleh pak Rohim, selaku Kepala Desa dari Kampung Pulau Muda, yang mewakili para masyarakat Pulau Muda dan juga atukku, untuk memberikan kata sambutan terimakasih kepada kami, para tamu yang hadir.


“Assalamualaikum, selamat datang kepada ibu-ibu dan bapak-bapak, yang telah datang di Kampung Pulau Muda ini. Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, inilah dia kampung Pulau Muda, sebuah perkampungan sederhana yang terletak di sudut timur Kabupaten Pelalawan, Kecamatan Kuala Kampar. Sebuah perkampungan masyarakat melayu yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat istiadat dan kekerabatan di dalamnya. Saya selaku Kepala Desa di kampung ini, mengucapkan terimakasih kepada nak Nazri, yang sudah berupaya menuangkan ide-ide kreatifitasnya untuk membantu memajukan perkampungan ini menjadi sebuah Kampung Wisata. Sungguh, saya sangat bangga sekali, dikarenakan di kampung ini, nak Nazri telah berhasil menuangkan prestasi yang membanggakan bagi kampung Pulau Muda ini. Dan selanjutnya, terimakasih saya ucapkan kepada para ibu-ibu dan bapak-bapak dari pemerintah pusat yang dengan senang hati, sudah mau memberikan motivasi dan bantuan material ataupun moril kepada kami, para masyarakat Kampung Pulau Muda, untuk dapat mewujudkan kampung ini, menjadi sebuah kampung wisata. Saya berharap, semoga hingga dimasa yang akan datang, kampung Pulau Muda dan juga kelestarian alamnya, yaitu keindahan gelombang Sungai Bono, dapat terlestarikan dengan baik dan dikenang oleh seluruh masyarakat melayu yang ada di kabupaten Pelalawan, maupun, oleh masyarakat yang ada di Indonesia serta mancanegara. Demikianlah kata sambutan ini, Wassalamualaikum,wr.wb”.

Dan, kemudian, selepas pak Rohim menutup kata sambutan yang disampaikannya, dengan serentak, terdengar begitu nyaring dan gembiranya, tepuk tangan yang sangat meriah, yang diberikan oleh para tamu yang hadir dan juga masyarakat Pulau Muda kepada pak Rohim tersebut. Sungguh, sebagai seorang pemuda yang lahir dari Kampung Pulau Muda, ada rasa kebanggaan tersendiri yang berada didalam diriku.

Dapat kurasakan dengan sempurna, segenap usaha dan tekad kuat yang selama ini selalu terpatri di dalam langkah kakiku untuk mewujudkan cita-citaku memajukan kempung Pulau Muda, sudah terwujudkan dihari ini.

Dan dengan mengucapkan bissmillahirahmanirahim, akhirnya diresmikanlah kampung Pulau Muda sebagai kampung wisata, surganya alam Sungai Bono, di Kabupaten Pelalawan. Inilah, cerita dibalik pesona alam Bono.-

TAMAT


Karya : Aisyah Nur Hanifah

DIBALIK CERITA PESONA ALAM BONO (PART1)

Suatu hari, di suatu senja langit sore, dengan suasana keindahan alam perkampungan yang masih terlihat sama, dan terasa sejuk nan damai. Dari ufuk barat, terlihat panorama cahaya mentari yang berwarna kemerah-merahan semakin menghiasi bibir sungai Bono yang berada di seberang kanan dekat rumahku. Sungguh, aku sangat bahagia, kerinduanku akan kampung masa kecilku kini telah tersampaikan. Bersama tiupan angin sore yang berhembus dari ujung sungai Bono tersebut, aku berjalan pelan, menyusuri jalan-jalan kecil yang berada di dekat tepi sungai Bono. Dengan riang, aku berjalan sembari merentangkan kedua tanganku, seraya kemudian memejamkan kedua mataku untuk merasakan gemiricik ombak Bono kecil yang saling bermain di pinggiran tepi sungai. Tidak lupa pula, dalam sepoian angin sore yang manja, aku bersenandung salah satu lagu kesukaanku yang senantiasa kunyanyikan bersama teman-teman masa kecilku.

Sebuah lagu yang kerap kali dinyanyikan oleh para anak kecil di kampung Pulau Muda, tempat kelahiranku.

“Indah sekali alam Bono kami. Alam yang indah yang tetap terlestari”, kataku, yang terus bersenandung melagukan lagu tersebut.

Namun, seketika saja, dimana aku hendak berjalan menuju ke rumah atukku, di persimpangan jalan, tanpa sengaja, aku berpapasan dengan para ibu-ibu yang membawa tempayan berisikan jagung-jagung yang telah dikupas. Sungguh, satu hal yang tiba-tiba menarik perhatianku, yaitu tingkah laku para ibu-ibu tersebut yang membawa tempayannya dengan menaruhnya di atas kepala mereka yang beralaskan sehelai kain panjang. Dan tidak lupa pula, dengan senyum sumringah, para ibu-ibu tersebut kemudian menyapaku. Tentu saja, di mataku, ibu-ibu tersebut adalah para ibu yang sangat kuat dan perkasa.

Kemudian, ketika dimana aku berniat akan melanjutkan perjalananku, seketika di persimpangan jalan kampung, aku melihat sepuluh anak kecil yang sedang berlarian tertawa bahagia sembari membawa sebuah jala yang sangat besar, namun, dengan tidak sengaja, tiba-tiba salah satu dari kesupuluh anak tersebut menabrakku yang sedang berjalan. Dengan tutur kata melayunya yang begitu sopan, anak tersebut kemudian mencoba meminta maaf kepadaku, dan kemudian akupun membalas permintaan maafnya dengan senyuman yang ramah dan sopan pula.

Tetapi, seketika dimana mereka hendak pergi melanjutkan perjalanan, begitu takjubnya diriku kepada kesepuluh anak kecil tersebut. Dimana, dengan badannya yang masih kecil dan mungil, mereka dengan kuatnya membawa beberapa ikan-ikan yang cukup banyak dan besar-besar yang disangkutkan di antara lilitan jala-jala yang mereka bawa. Aku dapat menerkanya, pastilah kesepuluh anak kecil tersebut, merupakan anak-anak di kampungku yang baru saja pulang dari menjala ikan di dekat tepi sungai Bono.

Tentu saja, setelah melihat tingkah laku dari kesepuluh anak kecil tersebut, spontan saja aku teringat akan sebuah kenangan masa kecilku dahulu di kampung ini. Masih sangat jelas di ingatanku, dimana ketika aku masih kecil dahulu, bersama Sobri, Sanib dan Udin, disetiap sorenya sepulang dari sekolah madrasah, dengan hati yang riang, sembari membawa sebuah jala, aku bersama mereka mencoba membantu atukku untuk menjala ikan di tepian sungai Bono yang berada didekat rumah atuk. Sungguh, ini adalah kenangan dimasa kecilku yang tidak akan pernah kulupakan.

5 MENIT KEMUDIAN

Bersama azan magrib yang berkumandang dari sebuah Surau tua yang berada diujung timur dekat sungai Bono, tibalah sudah aku di depan rumah atukku. Dengan sembari menebar senyum tipis, betapa bahagianya aku, setelah dimana satu tahun aku dan kedua orangtuaku pindah ke Jakarta, rumah atukku, masih terlihat seperti dulu. Rumah yang bermotif kayu tua dengan dicangga oleh 8 batang kayu hutan yang besar, menjadikan rumah atukku terlihat seperti rumah panggung yang gagah. Dan bukan hanya itu, di bawah kolong-kolong rumah panggung tersebut, berdirilah pula beberapa kandang ayam dan bebek, serta dua sampan kayu beserta pendayungnya yang juga diletakkan di bawah kolong rumah tersebut. Bahkan, di bawah kolong rumah atukku, kita dapat berdiri pula dengan tegap tanpa membungkukkan badan. Sungguh, ini sangatlah membuatku merasa bangga, dikarenakan ini merupakan salah satu peninggalan budaya yang masih berciri khas dan terlestarikan oleh para masyarakat Pulau Muda hingga sampai sekarang.

“Assalamualaikum. Atuk, atuk, oh atukkkkk”, aku mencoba berteriak memanggil atukku dari luar rumah.

“Waalaikum salam”.

Dan, seketika atukku baru saja membuka pintu rumahnya, dengan cekatan segera aku langsung mendekap atukku dan memeluk atukku dengan perasaan rindu yang mendalam.

“Atuk apa kabar?, sudah lama sekali kita tidak bertemu ya atuk?, rindu sangat Nazri dengan atuk”, ucapku kepada atuk dan kemudian mencium tangan atuk dengan hormat.

“Ohhhhhh, cucuku Nazri. Sungguh, atuk pun juga demikian, rindu sangat dengan dirimu nak. Jujur saja, semenjak engkau, mak, dan abah engkau pindah ke Jakarta, rasanya atuk merasa kehilangan. Nah, sepertinya hari ini rasa kehilangan atuk telah terobati sudah, karena akhirnya kamu datang kembali ke kampung kita ini. Hemm, sepertinya malam sudah menjelang, ayo nak kita masuk ke rumah, sebentar lagi, pasti mak cik engkau pasti sudah balik dari pasar”.

Kemudian, aku bersama atuk pun masuk kedalam rumah. Dan, seketika dimana aku kembali menginjakkan kakiku di rumah tersebut, aku merasakan ada suasana yang berbeda ketika aku berada di dalamnya. Walaupun tanpa pendingin ruangan maupun cahaya lampu pijar listrik yang menyala, tetapi, entah mengapa, suasana rumah tetap terasa dingin dan sejuk. Ini kurasakan, ketika aku berjalan menuju ke kamarku, dapat kurasakan dari celah-celah lantai kayu yang tersusun tersebut, seperti ada hembusan-hembusan angin malam yang meronggah masuk melewati celah-celah tersebut. (“Benar-benar nuansa kampung yang masih natural”), bisik hatiku semari tersenyum tipis.

Kemudian, selepas sembahyang magrib, sembari merebahkan punggung dan kakiku diatas kasurku, aku mencoba memejamkan mataku untuk beristirahat sejenak dan bersantai dari rasa lelah. Namun, seketika saja dimana aku akan tertidur dengan lelap, dari arah luar kamarku, terdengar dengan gemuruhnya, suara kerumunan anak-anak kecil bersendau gurau gembira berjalan di dekat rumah atukku. Dengan rasa penasaran, aku pun segera bangkit dari bilik tempat tidurku, dan kemudian kubuka dengan lebar jendela kamarku. Terlihat dengan jelas, di bawah malam yang sunyi, bersama deraian suara ombak kecil Bono yang saling bergulung, beberapa kerumunan anak-anak kecil yang memakai kopiyah dan mukena, terus saja berjalan menyusuri jalanan kampung yang gelap tanpa cahaya lampu listrik yang menyala. Sembari melantunkan shalawat, mereka terus saja berjalan, tanpa diiringi ada rasa takut yang menghantui mereka. Sungguh, ketika mereka berjalan dengan membawa sebuah al-quran yang di dekap ditangan kanan mereka dan sementara tangan kiri mereka membawa sebuah obor yang menyala- nyala, mereka terlihat seperti anak-anak kecil yang masih lugu dan tanpa dosa. Benar-benar ini adalah pemandangan malam, yang tidak akan kutemui di Kota Jakarta.

Pemandangan malam yang memberikanku banyak makna dan pelajaran tentang kehidupan.

Namun sayangnya, ketika sejenak aku melihat dari sisi kanan dan kiri rumah-rumah penduduk yang berdekatan dengan rumah atukku, terlihat jelas jika rumah mereka sangatlah bungkam tanpa cahaya yang terang. Beberapa di antara rumah tersebut hanya terlihat terang dengan remah-remang cahaya yang berasal dari dua obor yang diikat disela-sela kayu penyangga rumah panggung mereka. Tentu saja ini membuatku menjadi sedih dan terharu. Entah mengapa, sudah satu tahun aku pergi meninggalkan kampung Pulau Muda ini, namun, tetap saja belum adanya perhatian dari pemerintah pusat untuk memberikan listrik di kampung Pulau Muda ini.

Padahal, jikalau dilihat, sudah banyak sekali pemandangan wisata alam yang sangat indah dan menakjubkan yang dimiliki oleh kampung ini, salah satunya adalah keindahan dari gelombang Bono. Dan bukan hanya itu, selain keindahan alam yang menakjubkan, kampung ini juga memiliki masyarakatnya yang sangat berbudaya melayu dan sangat mempertahankan adat istiadatnya. Jika saja ada perhatian dari pemerintah pusat untuk mengolah sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki oleh kampung Pulau Muda ini, pastilah, suatu hari kampung ini akan berubah menjadi sebuah kampung wisata yang banyak dikunjungi oleh para masyarakat diluar sana, dan juga oleh para wisatawan mancanegara.

“Kamu sedang melamun nak?”, tiba-tiba saja atuk datang mendekat kepadaku yang sedang melamun di dekat cendela kamarku.

“Oh iya atuk. Ini, tiba-tiba saja Nazri terpikiran dengan kemajuan kampung Pulau Muda ini. Seharusnya, di zaman moderen seperti ini, kampung kita sudah berubah dan tidak sama seperti dulu lagi tuk. Namun, sepertinya perhatian pemerintah pusat belum kepikiran sampai ke kampung kita ini. Sehingga, ingin sekali rasanya Nazri memajukan kampung kita ini menjadi sebuah kampung wisata dan dikenal oleh banyak orang di luar sana. Secara, kampung kita memiliki potensi alam dan keragaman budaya masyarakatnya yang sangat unik dan beradat”.

“Kamu benar sekali nak. Inilah selama ini yang selalu atuk pikirkan sebagai kepala adat di Kampung Pulu Muda ini. Sebenarnya, atuk dan Pak Rohim, Kepala Desa Pulau Muda, telah sama-sama mencari solusi bagaimana agar kampung ini mendapat perhatian dari pemerintah pusat, terutama dalam subsidi listrik bagi masyarakat disini. Dikarenakan, atuk dan pak Rohim, sangat kasian dengan para masyarakat di sini, yang setiap malam hanya berpelitakan dengan obor-obor bambu yang menyala. Dan kamu juga benar nak, atuk juga berpikiran ingin menjadikan kampung ini menjadi sebuah Kampung Wisata. Hal ini dikarenakan, di kampung Pulau Muda ini, terdapat salah satu fenomena alam yang sangat menakjubkan, dan pastinya tidak dimiliki oleh daerah lain. Yaitu Sungai Bono, sungai yang memiliki sebuah ombak yang sama seperti ombak yang ada di pantai-pantai. Namun sayangnya, sampai sekarang, atuk dan pak Rohim belum tahu, darimana memulai semua ini, nak”.

“Atuk tenang saja, insyaallah, sebagai mahasiswa Sejarah, Nazri janji, Nazri akan membantu atuk dan juga para masyarakat disini untuk memajukan kampung Pulau Muda ini menjadi lebih baik lagi. Nazri akan mengajukan cerita Dibalik Pesona Alam Bono yang ada di kampung kita ini, sebagai judul dalam perlombaan karangan ilmiah budaya nasional yang sedang Nazri ikuti saat ini. Insyaallah usaha kita untuk memperkenalkan pesona alam di kampung Pulau Muda ini akan berhasil. Percayalah tuk dengan Nazri”.

Dengan penuh semangat dan sembari memberikan senyumanku yang sumringah kepada atuk, aku kemudian meyakinkan atukku dengan menggenggam kedua tanganku dengan penuh erat.

Kemudian, aku dan atukku pun meninggalkan kamarku, dan beralih menuju ke sebuah ruangan santai yang di sana hanya terdapat sebuah bilik kayu panjang untuk beristirahat. Sembari mengaduk-ngaduk kopiku yang masih panas, aku mencoba mendekati atukku yang sedang duduk membaca sebuah kitab kuning yang berwarna lusuh.

“Oh iya tuk, apakah atuk tahu, sejujurnya, Nazri sangat salut dengan kegigihan dan perjuangan anak-anak kecil di Kampung Pulau Muda ini. Walaupun gelap gulita tanpa ada penerang cahaya listrik, mereka tetap berjalan menyusuri jalan menuju ke Surau untuk belajar mengaji”, tanyaku kepada atukku.

“Ya begitulah nak. Walaupun di kampung Pulau Muda ini, gelap gulita, tanpa ada lampu listrik yang menyala, tapi, semangat-semangat anak-anak kecil untuk mengaji di surau beramai-ramai takkan pernah padam. Di kampung kita ini, wajib hukumnya anak-anak kecil sudah pandai mengaji. Jika ada dijumpai dirumah-rumah selepas magrib, anak-anaknya hanya duduk diam, wah, berarti mak dan abah mereka tidak tahu betapa pentingnya ilmu agama untuk bekal anak-anak mereka nanti”, kata atukku sembari membolak-balikkan kitabnya dengan penuh hati-hati.

“Apakah kewajiban harus pandai membaca al-quran bagi anak-anak di kampung kita ini, juga merupakan salah satu adat istiadat di kampung kita yang harus dipatuhi ya tuk?”, tanyaku kembali kepada atuk.

“Oh, tentu saja. Sudah tradisi turun-temurun, semua anak-anak yang ada di kampung kita ini, harus pandai membaca al-quran. Dan, mereka harus mengaji bersama-sama di Surau kita ini. Semua ini dilakukan, agar kampung kita ini terlepas dari marabahaya kemaharan ombak Bono yang kerap kali datang dengan tiba-tiba, serta agar senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah SWT”.

Kemudian, tiba-tiba saja, pandanganku tertarik kepada sebuah kitab yang berwarna kuning lusuh yang dibaca oleh atukku tersebut, dan sembari mendekat kepada atukku, aku mencoba menanyakan rasa penasaranku tersebut, “Atuk, apakah kitab yang atuk baca ini?, apakah ini adalah sebuah kitab melayu yang sangat sakral?, kenapa bentuknya sangat lusuh seperti ini, tuk?”.

“Oh ini, kemarilah nak atuk beri tahu. Ini bukan kitab sakral, melainkan, adalah kitab kuning gundul, yang hanya boleh dibaca oleh para pemangku adat yang berada di kampung Pulau Muda ini. Kitab Melayu ini, berisikan tentang petuah-petuah adat yang wajib dipatuhi oleh masyarakat yang ada di kampung kita ini. Dan juga, setiap petuah-petuah yang tertuang di dalam kitab ini, tidak boleh satupun dilanggar oleh para masyarakat Kampung Pulau Muda. Jika dilanggar, maka akan mendapatkan ganjarannya”.

“Hemmm begitu ya tuk. Oh iya tuk, apakah di dalam kitab melayu gundul ini, juga berisikan tentang asal-usul dari mana Bono berasal?. Karena, Nazri pernah membaca dari salah satu sumber di internet, bahwa ada beberapa cerita mistis yang mengawali dari adanya gelombang Bono tersebut, tuk. Bisa tidak, atuk ceritakan kepada Nazri, sebetulnya Bono itu apa, dan bagaimana asal-usulnya?. Soalnya, Nazri tidak begitu paham dengan penjelasan yang ada di internet. Sebagai anak kampung Pulau Muda, tentunya, Nazri harus tahu kan tuk?. Lumayanlah, ini bisa jadi referensi bahan tambahan dalam tulisan karangan ilmiah Nazri, tuk”.

“Oh begitu ya?, baiklah-baiklah, dengarkan bagus-bagus ya. Atuk akan ceritakan kepada Nazri, bagaimana asal-usul terjadinya gelombang Bono yang sebenarnya. Bono adalah sebuah gelombang atau ombak yang terjadi di Muara Sungai Kampar Kabupaten Pelalawan, tepatnya di dekat Kampung Pulau Muda. Menurut kepercayaan warga Pulau Muda, dan sekitaran Kecamatan Kuala Kampar, gelombang Bono yang ada di dekat kampung kita ini, merupakan gelombang Bono jantan, sementara, gelombang bono yang betina terdapat di dekat Sungai Rokan, yaitu di Bagan Siapi-Api. Menurut pemikiran orang jaman dahulu, Bono di Kampung Pulu Muda ini, memiliki tujuh ekor yang berbentuk ekor kuda yang disebut dengan Induk Bono. Menurut cerita masyarakat melayu Pulau Muda, gelombang Bono merupakan perwujudan dari tujuh hantu yang sering menghancurkan sampan dan kapal yang melintasi daerah Kuala Kampar. Yang mana, gelombang Bono ini, dahulunya pernah menghancurkan sampan dan kapal-kapal hingga berkeping-keping. Namun, saat ini, ekor dari gelombang Bono tinggal enam. Dikarenakan, menurut kepercayaan masyarakat melayu Pulau Muda, salah satu ekor dari gelombang Bono, telah ditembak oleh kapal-kapal meriam milik pemerintahan Belanda, sewaktu pemerintahan Belanda menjajah Kampung kita ini . Nah, menurut kepercayaan adat-istiadat di kampung kita ini, gelombang bono akan memunculkan gelombangnya yang paling dahsyat dan terbesar tepat ketika terjadi Bula Purnama, yaitu di tanggal 15 Desember. Sementara di luar tanggal 15 Desember, gelombang sungai Bono masih bersemayam didalam perut bumi dan hanya terdapat anak-anak saja yang bermain di tepian sungai”.

“Wah, cerita asal-usul gelombang Bono ini, ternyata sangat lagendaris sekali ya tuk. Oh iya tuk, kemudian, ada tidak tuk, suatu upacara adat tertentu yang dilakukan oleh masyarakat di Kampung kita ini, jika akan datang gelombang bono yang paling dahsyat dan terbesar di kampung kita ini?”.

“Tentu saja nak, para masyarakat melayu yang terdapat di Kampung Pulau Muda ini, memiliki sebuah ritual upacara adat yang harus dilakukan ketika gelombang Bono yang paling dahsyat datang dan melintas mengitari kampung kita ini. Upacara tersebut adalah upacara Semah. Yaitu, upacara yang dilakukan sebelum tanggal 15 Desember dan dipagi hari setelah tanggal 15 Desember. Ini adalah upacara penyampaian doa agar ketika gelombang Bono melintas melewati kampung Pulau Muda, tidak akan mengganggu masyarakat yang ada dikampung ini, dan masyarakat akan terhindar dari marabahaya apapun. Upacara ini, akan dipimpin oleh atuk sendiri, sebagai seorang Datuk Kepala Adat di Kampung kita ini” .


Karya : Aisyah Nur Hanifah

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...