Pages

Monday, November 18, 2019

WARISAN

Lisa, seorang anak remaja yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Dia anak dari keluarga yang kurang mampu. Beda dengan teman-temannya yang memiliki materi yang berkecukupan. Suatu hari, di kantin sekolah ramai anak-anak yang sedang membahas barang-barang baru yang mereka miliki seolah sedang berlomba siapa yang paling kaya di bangku itu.

“Eh, liat ini hape baruku, bagus kan? Dapat warisan dari keluargaku” kata arni. “Liat ini laptop baruku canggih dapat warisan juga dari kakekku” kata yuli. “kalung baruku cantik pacarku kasih dapat warisan juga kayaknya” kata mira. Mereka saling menyombongkan satu sama lain membuat Lisa kesal dan pergi dari kantin tersebut.

Di rumah Lisa, ibunya tengah sakit. Lisa yang memendam kekesalan, dia melampiaskan pada ibunya. “ibu kita kenapa miskin bu? Tidak adakah warisan dari keluarga kita bu?” kata Lisa. Ibunya memberikan Baju Adat Bugis yang biasa dipakainya saat menari. Namun, Lisa yang tidak mengerti maksud dari pemberian itu malah kembali marah “apa maksudnya bu!? Apa Cuma ini warisanmu!? Warisan dari keluarga kita!? Saya tahu ibu dulu penari adat bugis, tapi… (sambil terisak tangis)” kata Lisa sambil terisak tangis, lari menuju kamarnya.

Dalam kamarnya, Lisa mengenang masa lalunya ketika dia masih melihat ibunya sedang menari. “Ibu, cantik sekali, pintar menari Lisa mau kayak ibu” kata Lisa kecil. “Lisa juga cantik, ini adalah warisan kita anakku, warisan yang melebihi kekayaan manapun, karena hanya di tanah ini warisan ini lahir dan di tanah inilah warisan ini harus selalu diwariskan kepadamu dan anak-anak yang ada di tanah ini, jadi kita harus hargai dan menjaga warisan kita agar selalu membudaya di tanah ini dan negeri seberang” Ibu Lisa. Kembali ke masa ini, Lisa keluar dari kamarnya dan mengambil baju tersebut, mengenakannya, dan menari seperti ibunya.


Karya : Muhammad Fathur J

10 JUTA

Di bawah teriknya paparan matahari, di antara hamparan sawah yang menguning, dan pepohonan yang menari ditiup sang bayu, Adam mengayuh sepedanya dengan gembira bersama kedua temannya. Ia memang suka berkeliling desa kelahirannya itu.

“Wah, keadaan di Kajen memang top banget, ya?” kata Fadhil, salah seorang teman Adam.

“Tentu dong. Desa kelahiranku gitu lho.” sahut Adam.

“Pondok-pondok pesantren seolah-olah menyambut kita, begitu juga masjid. Lantunan ayat Al-Qur`an terus berdengung di kuping. Jadi adem banget di hati hehehe…” kata Agung.

“Kesannya Desa Kajen ini agamis banget.” kata Fadhil lagi.

“Oh ya, tentu. Kan di Kajen banyak orang-orang yang agamis, contohnya aku, hahaha…” sahut Adam sambil cekikikan.

“Kamu agamis? Agamis dari mananya?” ejek Agung.

“Dari matamu.. matamu.. Kumulai jatuh cinta. Hahahaha…” suara nyanyian Adam.

“Maho!! Masak cowok jatuh cinta sama cowok? Dasar!!” sahut Fadhil.

“Idihh.., siapa juga yang mau dicintai sama Adam?” kata Agung jijik melihat kelakuan Adam.

“Ada dong pastinya, hehe. Oh iya, nanti kita ke gubuk biasa, kan?” tanya Adam kepada kedua temannya.

“Pastinya!!” kata Fadhil dan Agung bersamaan.

Mereka bertiga pun mengayuh sepeda dengan secepat kilat. Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di sebuah gubuk kecil di tengah hamparan padi menguning yang bergoyang ditiup sang bayu. Mereka bermain dan bersenang-senang di sana.

“Segarnyaaa udara di siniii…” kata Adam.

“Iya, tapi kalau nggak ada kamu mungkin udaranya bisa tambah segar. Hahaha..” ejek Agung lagi.

“Maksud kamu aku setan, gitu?” tanya Adam kepada Agung.

“Lho, aku kan nggak bilang gitu, Dam. Tapi, alhamdulillah, kalau kamu nyadar.” jawab Agung santai.

“Wis.., wis ah!! Ayo pulang!! Sudah siang ini, nanti ibu kita marah, lho.” ajak Fadhil.

“5 menit lagi, Dhil.” kata Adam.

“Ya wis, 5 menit lagi.” kata Fadhil.

Setelah 5 menit berlalu mereka pun mengayuh sepeda lagi untuk pulang ke rumah masing-masing dengan perlahan. Tiba-tiba, Adam mengerem sepedanya tepat di depan makan Syekh Ahmad Al-Mutamakkin.

“Lho, lho, ada apa ini? Kok berhenti, Dhil?” tanya Agung kepada Fadhil.

“Mboh, Si Adam kok. Ada apa, toh, Dam? Kok mendadak berhenti?” tanya Fadhil kepada Adam.

“Lihat, deh! Itu ada apa di makamnya Syekh Mutamakkin? Kok rame banget?” tanya Adam.

“Oh itu tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin, Dam.” jawab Fadhil.

“Tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin? Tradisi apa itu, Dhil?” tanya Adam lagi.

“Itu tradisi yang ada di Kajen untuk menghormati jasa Syekh Mutamakkin, Dam.” jelas Fadhil.

“Syekh Mutamakkin itu siapa, Dhil?” tanya Adam lagi.

“Wis, nanti tanya bapakmu saja, sekarang kita pulang aja!!” ajak Fadhil.

Setibanya di rumah, Adam bertanya kepada Bapaknya mengenai tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin.

“Pak, Syekh Mutamakkin itu siapa, toh?” tanya Adam kepada Pak Abdul, bapaknya.

“Syekh Mutamakkin itu leluhur di Desa Kajen ini, le.” jawab Pak Abdul.

“Lalu tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin itu buat apa, Pak?” tanya Adam lagi.

“Itu tradisi buat mengormati jasa-jasa Syekh Ahmad AL-Mutamakkin.” jawab Pak Abdul.

“Seberapa besar, sih, Pak, jasa beliau? Kok sampai tiadakan tradisi kayak gitu.”

“Ya besar banget jasa beliau, le. Beliau itu sudah menyebarkan Islam di Desa Kajen dan sekitar Kota Pati.”

“Pak Abdul!!” suara seseorang dari luar rumah.

“Sebentar ya, le!” suruh Pak Abdul.

Pak Abdul pun pergi menuju ke teras rumah diikuti Adam di belakangnya.

“Piye, Pak? Sudah ngirim besek dan ambengan, belum?” tanya Pak Slamet, tetangga sebelah Pak Abdul.

“Sudah, Pak. Kemarin sore sudah tak antar.” kata Pak Abdul kepada Pak Slamet.

“Oh, nggih sampun, Pak Abdul. Matur nuwun.” kata Pak Slamet.

“Besek itu apa, Pak?” tanya Adam.

“Besek itu makanan yang dimasukkan ke dalam wadah dari anyaman bambu atau ditaruh di wadah berbentuk bundar, le.” jawab Pak Abdul.

“Kalau ambengan?” tanya Adam lagi.

“Ambengan itu nasi, lauk serta ayam utuh yang di masak dan ditaruh dalam wadah berbentuk bundar, le.” jawab Pak Abdul.

“Buat apa iu, Pa`e?” tanya Adam lagi.

“Buat bancakan bagi para peziarah di makan Syekh Mutamakkin. Setiap keluarga wajib membuat 3 besek dan ambengan, le. Sebelum dibagikan kepada peziarah, makanan tersebut dido`akan agar mendapat barokah.” jelas Pak Abdul.

“Itu termasuk serangkaian acara tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin, Pak?” tanya Adam.

“Bukan, besek dan ambengan itu cuma untuk dibagikan kepada peziarah, le.” jawab Pak Abdul.

“Kalau begitu apa saja acara-acara tradisinya, Pak?”

“Pertama-tama diadakan Tahtiman Al-Qur`an Bilghoib dan Binnadhor pada tanggal 6 Sura. Kemudian, setelah acara tersebut berakhir, besek dan ambengan dibagikan.” jelas Pak Abdul.

“Bedanya Tahtiman Al-Qur`an Bilghoib sama Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor apa, Pak?” tanya Adam.

“Kalau Tahtiman Al-Qur`an Bilghoib untuk tamu undangan saja, sedangkan Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor untuk khalayak umum yang tidak hafal Al-Qur`an.” kata Pak Abdul.

“Setelah itu apa ada acara lagi, Pak?” tanya Adam lagi.

“Ada, le. Pada tanggal 9 Sura, ada acara buka selambu makam lama dan pelelangan. Kedua acara itu dimulai dari jam 7 pagi.” kata Pak Abdul.

“Selambu makam? Apa itu, Pak? Adam kok nggak pernah tahu?”

“Selambu makam itu penutup makam, supaya makam itu tetap bersih dan suci.”

“Ohh gitu. Buat apa penutup makam dilelang, Pak? Memang ada yang mau? Terus mau diapakan, Pak? Buat besok kalau yang lelang meninggal?” tanya Adam berurutan.

“Hahahaha…, kamu ini ada-ada saja toh,le. Orang di sini percaya kalau selambu makam itu punya banyak kegunaan, diantaranya sebagai pengobatan, penglaris, menjaga keselamatan diri, dan masih banyak lagi. Bapak pun percaya tentang kegunaan selambu makam Syekh Mutamakkin.”

“Haaa??!!! Beneran itu, Pak?” tanya Adam seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh bapaknya.

“Iya, masak bapak bohong? Besok kamu ikut bapak ke makam Syekh Mutamakkin, ya! Nanti kita ikut Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor, ajak ibumu sekalian!” ajak Pak Abdul.

“Siap, Pak.”

Keesokan harinya, Pak Abdul sekeluarga pergi ke makam Syekh Mutamakkin.

“Wahh.., makamnya bagus banget! Nggak kayak makam-makam kayak biasanya.” kata Adam.

“Iya, Adam, ini kan makam leluhur Desa Kajen.” sahut Bu Fatimah, ibu Adam.

Setelah selesai mengikuti acara Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor, mereka bertiga kembali ke rumah. Setibanya, Bu Fatimah segera pergi ke dapur dan membuat teh serta membawakan biskuit untuk Pak Abdul dan Adam.

“Yee…, ibu bikin teh…” teriak Adam.

“Kamu ini kayak nggak pernah ibu bikinin teh aja.” sahut Bu Fatimah sambil senyam-senyum.

“Abisnya teh buatan ibu enak, sih…”

“Ah, kamu bisa saja.” kata Bu Fatimah.

“Assalamu`alaikum.” salam orang dari luar rumah.

“Wa`alaikumsalam.” salam Bu Fatimah lalu menuju ke luar rumah.

“Ehh, Pak Samad, silahkan masuk, Pak! Adam, ini Pak Samad sudah datang!” teriak Bu Fatimah.

“Kok tumben jam segini Pak Samad sudah datang? Biasanya setelah Maghrib?” tanya Adam kepada Pak Samad.

“Nanti malam Pak Samad mau pergi. Ayo, kemarin ngajinya sampai di mana?”

Adam pun segera membaca lantunan ayat-ayat Al-Qur`an. Sementara itu, Pak Abdul dan Bu Fatimah tengah asyik mengobrol sambil menonton televisi dan menikmati hidangan yang ada.

“Oiya, Bu, ibu tahu tentang pelelangan selambu makam Syekh Mutamakkin, nggak?” tanya Pak Abdul.

“Ibu tahu, Pak. Ada apa?”

“Bapak pengen lelang selambu itu.”

“Haa?!! Bapak mau lelang? Buat apa, Pak?” tanya Bu Fatimah.

“Selambu makam Syekh Mutamakkin, kan dipercaya bisa mendatangkan barokah, Bu.” jawab Pak Abdul.

“Memangnya bapak mau lelang berapa?” tanya Bu Fatimah lagi.

“10 juta.” jawab Pak Abdul singkat.

“10 juta? Bapak gila? Itu terlalu banyak, Pak? Selambu kayak gitu juga banyak di toko-toko pinggir jalan, malahan lebih murah.” kata Bu Fatimah.

“Itu bedalah, Bu. Itu nggak bisa mendatangkan barokah.”

“Ya penting murah, Pak.”

“Nggak bisa gitu dong, Bu!!”

“Ya bisa dong, Pak! Pokoknya ibu nggak setuju kalau bapak mau lelang 100 juta, kalau 1 juta ibu setuju.”

“1 juta? Mana dapet, Bu. Selambu kayak gitu yang lelang banyak, pengusaha-pengusaha lagi.” kata Pak Abdul.

“Pokoknya ibu nggak bolehin bapak lelang 10 juta. Mubazir, Pak. Cuma buang-buang uang aja! Mendingan uang 10 juta itu ditabung buat keperluan besok. Jangan malah dibuat lelang selambu kayak gitu.” kata Bu Fatimah dengan nada agak tinggi.

“Selambu itu bisa datengin barokah, Bu. Siapa tahu setelah kita beli selambu itu, kita dapet uang 1 milyar. Kan untung, Bu.” kata Pak Abdul menyakinkan.

“Iya kalau dapat, kalau enggak? Kan rugi. Hari gini kok masih percaya sama selambu kayak gitu. Itu cuma selambu biasa, Pak, di toko-toko pinggir jalan tuh juga banyak yang jual. So, ngapain harus lelang 10 juta kalau banyak selambu yang harganya paling cuma 100 ribuan. Mending uang 10 juta ditabung, Pak. Lebih berguna!!” bentak Bu Fatimah.

Saking kencangnya keributan antara Pak Abdul dan Bu Fatimah, Pak Samad, guru mengaji Adam jadi tidak fokus mengajar Adam. Pikiran beliau terus mengarah ke keributan itu.

“Astagfirullah.., ada apa itu, Adam?” tanya Pak Samad.

“Dari tadi bapak dengar ada keributan.” tambah Pak Samad.

“Iya, Pak. Adam juga dengar.” kata Adam.

“Sepertinya orangtua kamu bertengkar. Bapak ingin melerainya, tapi bapak tidak tahu permasalahannya. Kamu tahu tidak?” tanya Pak Samad.

“Adam juga nggak tahu, Pak. Biasanya bapak sama ibu nggak kayak gini.”

“Plaakkkkk…” suara tamparan Pak Abdul.”

“Allahu Akbar..” kata Pak Samad yang langsung berlari menuju ke sumber keributan disusul oleh Adam.

“Kamu beraninya main kasar, ya? Kamu pikir aku takut sama kamu? Haa?!! Nggak sama sekali!! Mentang-mentang kepala keluarga, bisa seenaknya sendiri. Kamu pikir cari uang gampang apa?” bentak Bu Fatimah.

“Seenaknya? Kalau mau ngomong dipikir dong!! Aku ngelakuin ini juga biar keluarga kita dapet barokah. Kamu bukannya dukung suami mau berbuat baik kok malah marah-marah!!” bentak Pak Abdul.

“Pyaarrrr…” suara vas bunga yang dibanting tepat di bawah kaki Adam.

“Aduuuhhhh…” teriak Adam.

“Adamm!!” kata Bu Fatimah, Pak Abdul, dan Pak Samad bersamaan.

Pak Abdul dan Pak Samad pun membopong Adam ke sofa, sedangkan Bu Fatimah mengambil P3K di kamarnya.

“Pak Abdul sama Bu Fatimah kenapa bertengkar? Ada masalah apa? Barangkali saya bisa bantu.” tawar Pak Samad.

“Ini, Pak, masak saya dilarang lelang selambu makam Syekh Mutamakkin sama istri saya.” kata Pak Abdul kesal.

“Iya jelas saya larang dong, Pak. Masak lelang 100 juta? Gila banget!! Dia pikir cari uang gampang apa?” kata Bu Fatimah.

“Kamu tuh yang gila. Suami mau berbuat baik malah dilarang. Pinter banget kamu!!!” kata Pak Abdul lagi.

“Memang aku pintar dari lahir. Sudah jelas-jelas kalau itu cuma buang-buang uang saja! Mubazir, ya kan, Pak Samad?” tanya Bu Fatimah.

“Ya enggaklah itu kan buat penghormatan kepada Syekh Mutamakkin. Lagipula hasil lelangnya juga buat kegiatan-kegiatan Islami.”

“Alahh…, nggak usah bohong kamu. Kamu pikir dengan kamu bilang kayak gitu aku jadi ngizinin kamu lelang gitu? Nggak bakal!!”

“Sudah.., sudahhh!!! Kok malah ribut lagi!!” bentak Pak Samad.

“Iya nih, bapak sama ibu kayak anak kecil aja! Sudah dong, jangan ribut lagi! Semua masalah kan bisa diselesaiin dengan kepala dingin. Jangan pakai emosi!!” sahut Adam.

Pak Abdul dan Bu Fatimah pun diam, kemudian Pak Samad menjelaskan semua yang menjadi permasalahannya kepada Pak Abdul dan Bu Fatimah.

“Begini ya, Bu Fatimah, bukannya saya mau memihak pada Pak Abdul, tapi memang apa yang dikatakan Pak Abdul itu benar, Bu. Selambu itu dapat digunakan sebagai penghormatan kepada Syekh Ahmad Al-Mutamakkin serta pembawa barokah seperti apa yang dikatakan Pak Abdul tadi. Selambu itu juga bisa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan lewat perantara Syekh Ahmad Al-Mutamakkin. Itu bukan buang-buang uang atau mubazir, Bu. Tapi, lelang itu merupakan sarana bagi kita untuk beramal. Karena, hasil dari pelelangan selambu tersebut, akan digunakan untuk keperluan Islami di Desan Kajen, seperti pembangunan masjid, dan lain-lain. Jadi, kita jangan hanya memikirkan dunia saja, melainkan akhirat juga, Bu. Semakin banyak jumlah uang yang kita sumbangkan semakin banyak juga pahala yang akan kita peroleh.” jelas Pak Samad.

“Jadi, yang saya pikirkan itu salah ya, Pak Samad?” tanya Bu Fatimah.

“Iya, Bu. Itu memang sudah tradisi yang diadakan setiap tahunnya di Kajen, Bu.” tambah Pak Samad.

“Ohh…, Pak…, ibu minta maaf, ya? Ibu sudah salah, ibu kira itu cuma buang-buang uang saja. Maafin ibu, ya, Pak?” pinta Bu Fatimah.

“Iya, Bu. Bapak juga minta maaf, ya, Bu, tadi bapak sudah menampar ibu?” kata Pak Abdul.

“Iya, Pak. Besok kita datang ke pelelangan bareng-bareng, ya, Pak?” tanya Bu Fatimah.

“Siapp, Bu!!” sahut Pak Abdul.

“Nah.., gitu dong, Pak, Bu, yang rukun!! Jangan berantem lagi!! Kayak anak kecil tau!! Hehehe…” sahut Adam.

Keesokan harinya, Pak Abdul sekeluarga mengadiri acara pelelangan selambu makam Syekh Ahmad Al-Mutamakkin dengan sukacita. Dan akhirnya, penawaran tertinggi jatuh pada Pak Abdul dengan nilai Rp. 10.000.000,00. Pak Abdul dan Bu Fatimah pun sangat senang bisa mendapatkan selambu tersebut dan mereka berdua berjanji akan menyimpannya dengan baik.


Karya : Almaida Lathifa

Sunday, November 17, 2019

SHILLA JATUH CINTA

Shilla adalah seorang gadis remaja yang sangat tidak suka dengan batik, baginya batik itu jadul, kuno, norak, ketinggalan jaman, dan tidak gaul, bahkan ia lebih pede mengenakan baju yang sedang ngetrend pada zaman sekarang dibanding dengan mengenakan baju batik. Ia juga sering melarang kedua orangtuanya jika mengenakan baju batik alasanya karena seperti orang-orang zaman dahulu dan terlihat lebih tua.

Shilla juga tak jarang berdebat dengan teman kelasnya yang bernama Yusuf, Yusuf adalah temannya yang sangat menyukai batik dari tas, buku, pena, pensil dan masih banyak lagi barang miliknya yang bercorak batik, mungkin semua barang miliknya bercorak batik.

Hingga suatu hari Wali kelas Shilla mengumumkan bahwa di kelasnya akan kedatangan siswi baru pindahan dari Inggris, tersungging sebuah senyuman di wajah putih gadis remaja itu penuh senang dan kemenangan. Senang karena di pikirannya akan ada yang membelanya nanti jika sedang berdebat dengan Yusuf, dan kemenangan karena ia akan menang di hadapan Yusuf sebab ada yang membelanya, selama ini kalau ia sedang berdebat dengan Yusuf tidak ada yang membelanya meskipun Yusuf juga tidak ada yang membelanya, teman-teman kelasnya hanya melerainya atau pun diam saja sebab perdebatan mereka sudah biasa. Shilla hanya ingin menang di hadapan Yusuf, Di pikaran Shilla siswi baru itu sama sepertinya, sama-sama menyukai sesuatu yang sedang ngetrend di zaman sekarang, ia begitu menunggu siswi baru itu.

Hari yang ditunggu-tunggu Shilla pun tiba, hari dimana siswi baru itu masuk di kelasnya. Setelah membaca do’a belajar Bu Lisa berbicara mengenai siswi baru itu, dan selama itu Shilla berdebat kecil dengan Yusuf.

“Aku nggak sabar siswi baru itu masuk, aku yakin ia pasti tidak suka dengan batik sama denganku, tidak seperti yang di belakangku semuanya batik, huh.. menyebalkan” sindir Shilla pelan namun Yusuf dapat mengengarnya.

“Kalau dia tidak suka batik, itu tidak masalah bagiku, mungkin dia sama denganmu tetapi, dia pasti lebih gaul dari pada kamu Shilla, bagaimana tidak dia saja tinggal di Inggris pasti barang-barang miliknya produk luar negeri semua, kalau kamu kan Cuma luar kota saja hahaha” sindir Yusuf pelan, tak mau kalah dengan Shilla. Shilla terdiam mendengar ucapan Yusuf yang diakuinya mulut Yusuf itu judes.

“Kata siapa? ada kok barang milik aku produk luar negeri ada yang dari Singapur, Malaysia, Viatnam, Hongkong dan masih banyak lagi, dari pada kamu barang-barangnya produk dalam negeri semua, hah.. nggak ngetrend banget sih jadi orang” balas Shilla tak mau kalah dengan Yusuf dengan nada yang masih pelan.

“Dari Asia Tenggara saja kan? tidak ada yang dari Eropa, Korea dan yang lain? haha kurang ngetrend tu” cetus Yusuf, Shilla diam mulutnya terbungkam setelah mendengar kata-kata pedas dari mulut Yusuf. Shilla tak sempat membalas Yusuf karena suara Bu Lisa yang meninggi.

“Baik…anak-anak.., jika kalian ingin kenal dengan teman baru kita, nak.. mari masuk dan perkenalkan dirimu” pinta Bu Lisa, sembari menghadap ke arah luar pintu.

“Baik Bu, terima kasih” suara dari luar pintu, dengan perasaan tak sabar Shilla berkata “Cepat dong masuknya nggak sabar nih.., anak itu pasti gaul dan trendy seperti aku, tidak seperti Yusuf yang norak! huh..” sindir Shilla sembari menoleh ke arah Yusuf yang duduk di belakangnya.

“Biarin aja, aku yang norak kok kamu yang sewot?” kata Yusuf lalu diam sejenak” Tapi… sepertinya dugaan kamu salah seratus persen Shill, karena siswi baru itu biasa saja dan jauh dari dugaanmu, dia mengenakan seragam yang sama seperti kita dan rapi ditambah dengan jilbab putih yang menutupi kepalanya hingga lengan” lanjut Yusuf seperti sedang menerawang.

“Eleh… sok tau kamu Suf, tau dari mana kalau dia seperti itu? dia itu tinggal di luar negeri bukan seperti kamu di kampung” cetus Shilla.

“Kalau kamu tidak percaya lihat saja ke depan!” kata Yusuf santai, Shilla pun menurut sembari mencibir Yusuf, dari wajah Shilla yang tak percaya tiba-tiba berubah menjati merah padam. Ia terkejut “Itu… siswi baru dari Inggris kan? tapi kenapa penampilanya biasa saja? meskipun wajahnya agak kebulean, penampilannya masih kalah sama aku! ternyata benar apa kata Yusuf” batin Shilla, Shilla tak percaya bahwa gadis seumuranya yang sedang berdiri di depan papan tulis itu adalah siswi baru yang kata Bu Lisa pindahan dari Inggris, karena dilihat dari penampilanya terlalu biasa.

Tak lama kemudian lamunan Shilla buyar karena mendengar ucapan salam.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…” ucap siswi baru itu.

“Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh” balas semua murid beserta Bu Lisa.

“Hai.. kawan, perkenalkan nama saya Nadiah Al Husna, panggilan saya Husna. Saya pindah dari Inggris ke Indonesia Karena Ayah saya pindah tugas, Saya senang bertemu dengan kawan-kawan semua di sini, semoga kawan-kawan dapat menerima kedatangan saya, sekian pekenalan diri saya, Wassalamu’alaikum wr, wb.” jelas siswi baru itu yang bernama Husna.

“Wa’alaikum salam wr, wb.” balas semua murid dan Bu Lisa sembari melangkah mendekati Husna

“Terima kasih Husna, kamu sudah memperkenalkan diri. Jika kalian ingin lebih mengenal Husna nanti saat jam istirahat tanya saja ke Husna ya nak…, baik Husna kamu duduk di sebelah Shilla, di bangku yang kosong di sana” jelas Bu Lisa sembari menunjuk ke arah bangku di sebelah Shilla.

“Baik Bu, terima kasih” kata Husna sembari melangkah menuju bangku yang ditunjukkan oleh Bu Lisa.

Setelah Husna duduk ia tersenyum kepada Shilla yang sedang terbengong-bengong memperhatikanya, seketika lamunan Shilla buyar karena Husna menyapanya.

“Hai.. nama saya Husna, nama kamu siapa?” Tanya Husna sembari mengulurkan tanganya ke Shilla.

“Mmm… namaku Shilla” jawab Shilla gugup.

“Nama yang cantik” ucap Husna sembari mengeluarkan alat-alat tulisnya, saat itu juga Shilla terkejut, karena melihat tas Husna bercorak batik, bahkan ia lebih terkejut ketika Husan telah mengaluarkan alat-alat tulisnya, karena semua bercorak batik!. “Apa…! semua barang miliknya bercorak batik? bagaimana bisa? jangan-jangan husna sama seperti Yusuf kalau memang benar jadi, ia menyukai batik?” pekik batin Shilla.

Selama pelajaran berlangsung Shilla tidak memperhatikan Bu Lisa yang sedang menerangkan pelajaran Bahasa Indonesia, pikirannya masih tertuju kepada gadis remaja di sebelahnya.

Tidak seperti biasa ketika bel istirahat berbunyi Shilla masih duduk di bangku kelasnya.

“Shilla kamu tidak ke kantin?” Tanya Husna.

“Tidak.. lagi malas keluar” jawab shilla, husna mengangguk mengerti.

“Malas… atau malas…” timpal yusuf dari belakang sembari asyik menggambar kesukaanya di atas kertas gambar.

“Apa’an sih kamu Suf, nyambung aja..” kata Shilla sebal, suara Yusuf membuat Husna menoleh ke arahnya dan ia menangkap Yusuf yang sedang menggambar batik.
“Kamu suka batik ya..?” Tanya Husna pelan.

“Iya” jawab Yusuf singkat.

“berarti kita sama, saya juga suka batik” kata Husna senang.

“Oh.. ya? jadi, aku ada teman yang sama-sama suka batik…” kata Yusuf senang sembari melirik ke arah Shilla.

“O.. iya, nama kamu siapa?” Tanya Husna.

“Perkenalkan namaku Yusuf” jawab Yusuf.

“Nama yang bagus” timpal husna sembari memperhatikan gambar yang dibuat Yusuf.

“Gambar batiknya bagus ya” komen Husna, lalu diam beberapa lama.

Shilla yang sedari tadi diam membisu kini ia membuka suara untuk bertanya kepada Husna tantang dirinya.

“Husna aku boleh bertanya?” kata Shilla pelan.

“Boleh, memang kamu mau bertanya tentang apa?” kata Husna.

“Sebenarnya kamu asalnya dari mana? apakah kamu berasal dari Indonesia dan pindah ke inggris karena mengikuti Orangtuamu? atau kamu memang berasal dari Inggris?” Tanya Shilla pelan, Husna tersenyum simpul setelah mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Shilla.

“Jadi, itu pertanyaan dari kamu? Baiklah kalau begitu saya akan menjawabnya. Saya memiliki dua darah yaitu Inggris-Indonesia, ayah saya berdarah Inggris dan ibu saya berdarah Indonesia dan saya lahir di Inggris jadi saya berasal dari inggris dan berdarah Indonesia” jelas Husna, Shilla mengangguk paham.

“Tapi kenapa kamu bisa berbahas Indonesia dengan lancar? padahal kamu tinggal di Inggris, apakah sebelumnya kamu pernah ke Indonesia?” Tanya Yusuf.

“Sejujurnya ini adalah pertama kali saya ke Indonesia dan bagaimana saya bisa berbahasa Indonesia karena Ibu saya yang mengajarkan saya dari kecil” kata Husna.

“Husna, kalau sebelumnya kamu belum pernah ke sini bagaimana kamu bisa tahu dan suka dengan batik? padahal kan batik itu udah lama jadul, kuno dan ketinggalan jaman gitu..?” Tanya Shilla lagi.

“Bagaimana? itu karena, saya sering dikasih oleh-oleh dari tante saya yang tinggal di indonesia, dan suka karena bagi saya batik itu unik, cantik dan tidak semua orang bisa membuatnya” jelas Husna.

“Betul, betul, betul, aku setuju sama kamu Husna kalau batik itu unik dan cantik” sambung Yusuf.

“Husna tapi kan kamu tinggal di Inggris, pastinya kamu lebih suka sesuatu yang berasal dari produk luar dari pada produk sini” kata Shilla.

“Memangnya salah kalau saya yang berasal dari inggris suka dengan produk Indonesia? bahkan banyak orang-orang sana yang menyukai produk dari Indonesia karena bentuknya yang unik, apalagi batik pastinya banyak yang suka terutama keluarga saya, lagi pula batik itu budaya Indonesia yang seharusnya kita jaga dan lestarikan agar tidak hilang ditelan zaman” jelas Husna panjang lebar, Yusuf mendengarnya tersenyum senang sedangkan Shilla tersenyum kecut. “Tega sekali Yusuf, ia bahagia di atas penderitaan orang lain” batin Shilla.

Semenjak perkenalan itu terjalin persahabatan di antara mereka, meski terkadang Shilla dan Yusuf selalu berdebat tentang batik namun, Husna tetap sabar dan selalu melerai mereka tanpa membela Shilla maupun Yusuf yang sama sepertinya sama-sama meyukai batik. Shilla pun tak habis pikir kenapa Husna bisa suka dengan batik meskipun Husna sudah menjelaskan alasannya.

Hingga suatu hari Husna dan Yusuf mengajak Shilla ke suatu tempat yang terdapat banyak kain batik di mana-mana, tempat yang terdapat tungku api mini, di atasnya diletakkan sebuah kuali kecil yang berisikan cairan berwarna dan seorang ibu-ibu duduk di depan tungku itu sembari sesekali menciduk sebuah canting ke dalam kuwali kecil yang berisikan cairan berwarna itu lalu melukis sesuatu di atas kain berwarna putih polos di sampingnya, dengan lincah tanganya melukis titik demi titik, garis demi garis hingga menjadi susunan yang unik dan menarik. Dengan mata sinis Shilla menyapu sekeliling ruangan. “Ini tempat apa? kok banyak batik di mana-mana?” pikir Shilla.

“Husna kita di mana? kok banyak batik?” Tanya Shilla.

“Kita ada di tempat pengrajin batik Shilla” jawab Husna tenang.

“Apa… pengrajin batik? nggak, aku nggak mau, lebih baik aku pulang..” kata Shilla sembari melakangkah meninggalkan tempat tersebut namun, belum sampai dua langkah Yusuf langsung meraih datang menggenggam pergelangan tangan Shilla erat.

“Eee.. kamu mau ke mana Shilla?” sindir Yusuf.

“Aku mau pulang, aku nggak betah di sini! gerah tau” kata Shilla sebal.

“Mau pulang ke mana? udahlah di sini saja!” cetus Yusuf sembari mempererat genggamannya.

“Au… sakit tau.. lepasin!” pinta Shilla.

“Yusuf, jangan begitu lepaskan Shilla” pinta Husna lalu yusuf melepaskan genggamannya, Shilla mengelus-elus pergelangan tanganya yang sakit karena digenggam Yusuf erat.

“Shilla, mari ikut saya kita lihat-lihat saja dan belajar sedikit ya..” kata Husna tenang sembari tersenyum, Shilla menurut. Selama di sana mereka banyak diarahkan oleh seorang pengarah dan menjelaskan tentang sejarah batik, pembuatan batik, dan yang lain tentang batik, mereka juga belajar membuat batik, sampai-sampai Shilla ketagihan untuk membuatnya.

“Ternyata membuat batik itu menyenangkan ya, meskipun kita harus hati-hati dan teliti, dan sekarang aku baru sadar kalau batik itu memang unik” ujar Shilla sembari melukis batik yang masih belum sempurna.

“Kayaknya aku mulai jatu cinta sama batik karena batik itu memang cantik dan unik” sambung Shilla

“Alhamdulillah, kalau kamu mulai suka sama batik, saya senang mendengarnya” kata Husna.

“Dari kemarin dong jatuh cintanya kan biar nggak berdebat terus, capek tau” kata Yusuf polos.

“Suf, cinta itu tidak bisa dipaksa datangnya dari hati, dan butuh proses bukan sembarang cinta” tangan kanan husna menempel ke arah jantung.

“Mulai deh Husna kata-kata mutiaranya keluar hahaha” tawa Yusuf.

“Ya udah sekarang kita bertiga suka sama batik jadi, kita adalah pecinta batik, dan kita harus melestarikan batik, benar kan Husna?” seru Shilla.

“Benar, kita harus melestarikan batik agar batik tidak hilang dan agar anak cucu kita biasa tau batik” Jelas Husna.

“Aku bersyukur kepada Allah swt. karena batik adalah budaya kita, budaya Indonesia” kata Yusuf.

“Kita harus melestarikan Budaya Indonesia…!!!” seru mereka.

TAMAT


Karya : Nur Az Zahro

CINTA INDONESIA

Rafi berjalan memasuki wilayah gedung sekolahnya dengan langkah penuh percaya diri. Setelan seragam pramuka dipadukan dengan jaket jeans menjadi gayanya hari ini. Ketika melewati lobby, ia menyapa teman-temannya dengan ramah dan dengan gaya baratnya. “Hai guys!”

Sementara di sisi lain, Rois sedang menatap bendera merah-putih yang terletak di samping hutan sekolah dengan sejuta pikiran di kepalanya. Tak lama setelah itu, Rafi berjalan melewati hutan sekolah sambil mengutak-atik ponselnya dan sesekali ia menempelkan ponselnya itu ke telinganya untuk mendengar sebuah suara yang keluar dari ponselnya itu.

Rafi yang melihat Rois berdiri sendirian di depan bendera merah-putih segera menghampirinya. “Ngapain, bro?” tanya Rafi dengan heran.

“Aku sedang menatap bendera merah-putih kita.” jawab Rois santai.

Rafi yang masih sibuk dengan ponselnya berkata “Wah, kemarin Greenleaf abis ngerilis album rocknya nih!”

“coba dengerin!” lanjut Rafi sambil mendekatkan ponselnya itu ke telinga Rois. Rafi pun memutar lagu rock yang dimaksudnya tadi.

“Lagu apa ini?” Rois yang tidak tahu-menahu tentang lagu itu bertanya pada Rafi.

 Rafi pun mematikan putaran lagu itu dan menjauhkan ponselnya dari telinga Rois.

“Ini lagu band terkenal, dari California.” jelas Rafi.

Rois yang mendengar itu merasa heran dengan Rafi yang begitu menyukai hal-hal yang berbau luar negeri. “Apa yang kamu bisa banggakan dengan band-band luar negeri?” tanya Rois setengah kesal pada Rafi.

“Lagunya keren, bro!” jawab Rafi bangga.

“Banyak band-band di Indonesia. Band indi, band nasional, mereka semua sudah tembus internasional. Bukankah band-band itu juga mempunyai potensi untuk go internasional?” jelas Rois tak kalah bangga dengan Rafi.

“Seharusnya kamu bangga dengan lagu-lagu nasional.” lanjut Rois.

“Ah lagu nasional cuma bisa nyontek doang.” elak Rafi.

Lia dan Vio tiba-tiba datang menghampiri Rafi dan Rois dari arah koridor kelas 11 dan menghentikan pembicaraan mereka.

“Hey, Rois! Ngapain di sini?” tanya Lia pada Rois.

“Ini aku lagi berbincang-bincang dengan Rafi.” jawab Rois.

“Mending sekarang kita kerja kelompok aja.” usul Vio.

“Kerja kelompok apa?” tanya Rois.

“Sejarah peminatan, kan tugas kita belom selesai.” jelas Vio.

“Ohhh..” jawab Rois seadanya.

“Raf, kamu bisa ikut kelompok kami?” tanya Rois pada Rafi yang sedari tadi diam sejak kedatangan Lia dan Vio.

“Kerja kelompok? Ah lebih baik gue nonton konser.” jawab Rafi angkuh lalu meninggalkan Rois, Lia, dan Vio. Mereka bertiga yang melihat tingkah Rafi hanya bisa menggelengkan kepala.

Setelah meninggalkan Rois, Lia, dan Vio, Rafi berjalan melewati koridor kelas 11 IPS yang tampak sepi. Saat melewati salah satu kelas IPS, ia mendengar lagu nasional yang diputar cukup keras dari dalam kelas tersebut. Rafi yang merasa penasaran pun memasuki kelas tersebut, dan mendapati Fayaz yang duduk sendiri di kelas sambil mendengarkan lagu yang didengar Rafi dari luar kelas tadi.

“Hai, guys!'” sapa Rafi dengan gaya khasnya.

“Ini lagu apa kok keren sekali?” tanya Rafi penasaran dengan lagu apa yang sedang diputar oleh Fayaz.

Fayaz yang menyadari kehadiran Rafi pun menjawab sapaan Rafi.

“Lagu nasionalisme.” jawab Fayaz sambil menghadap ke Rafi.

“Judulnya apa?” tanya Rafi lagi.

“Garuda di Dadaku, dari band Netral.” “Coba kamu download, terus dengerin lagunya dari awal. Keren deh.” lanjut Fayaz.

“Ohhh..” jawab Rafi lalu segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana seragamnya. Rafi pun mendownload lagu yang dimaksud Fayaz tadi.

“Ok. Thanks ya, bro!” jawab Rafi lalu pergi meninggalkan kelas tersebut.

Rois, Lia, dan Vio sedang berdiskusi sambil duduk-duduk di koridor kelas.

“Rek, gimana ini? Tugas Sejarah Peminatan kita tentang bab Kebudayaan Indonesia yang belum dikerjakan.” ujar Rois pada Vio dan Lia.

“Iya nih, gimana ya ngerjainnya?” tanya Lia.

“Kita ambil tema kebudayaan Indonesia yang di Jawa aja. Itu apa saja contohnya?” tanya Rois.

“Tari, upacara adat, apalagi ya?” Lia tampak sangat antusias.

“Kalo tari kan ada tari Remo. Upacara adat ada upacara Panggih Manten.” kata Vio.

“Tari Pendet juga tuh.” kata Lia.

“Tari Pendet itu dari Bali!” protes Vio dan Rois serentak. Lia yang mengetahui kelalaiannya hanya menyengir.

“Gimana kalo kita bagi tugas aja. Kalian berdua yang cari artikel, aku yang cari foto-fotonya.” ucap Rois pada Lia dan Vio.

“Ya udah gitu aja deh, biar cepat selesai.” kata Vio.

Di koridor kelas bagian ujung, Rafi sedang duduk sendirian sambil mengutak-atik ponselnya.

“Hai, Bro!” Arya teman Rafi yang sama-sama menyukai hal-hal berbau luar negeri menghampiri Rafi.

“Hei!” jawab Rafi.

Arya pun duduk di samping Rafi. “Gimana soal liburan ke California? Jadi kan?” tanya Arya sambil memegang pundak Rafi.

“Ya jadi lah, bro!”

“Ok. Gue bilang ke mama gue buat transfer uangnya sekarang.” ujar Arya lalu melepaskan tangannya dari pundak Rafi.

“Ok. Kalo gitu ayo sekarang kita pulang!” Rafi dan Arya pun bangkir dari duduknya lalu berjalan keluar dari koridor.

“Jadi, deadline tugasnya kapan nih?” tanya Lia pada Vio dan Rois.

“Nanti malam, kirim lewat email aku aja.” jawab Rois memtuskan.

Saat itu juga, Rafi dan Arya berjalan melewati mereka.

“Kalian mau ke mana?” pertanyaan dari Vio menghentikan langkah Arya dan Rafi.

“Ini sama Arya, mau nyiapin perlengkapan liburan ke California buat weekend besok.” jelas Rafi.

Lia yang merasa bingung dengan Rafi dan Arya yang tiba-tiba mempuyai rencana liburan ke luar negeri minggu ini pun bertanya pada Rafi. “Ngapain liburan ke luar negeri?”

“Ya nonton konser rock, bro.” jawab Rafi dengan sombongnya.

“Emang apa yang bisa kamu banggakan dengan budaya luar negeri?” Rois buka suara.

“Kalo soal liburan, di Indonesia banyak tempat-tempat yang keren. Seperti contohnya, ada pulau Raja Ampat yang lagi naik daun sekarang ini, ada pulau Bali yang sudah mendunia, dan juga pulau Lombok yang terkenal dengan viewnya yang terkenal.” lanjut Rois menjelaskan betapa banyaknya tempat wisata di Indonesia yang kebih keren dibandingkan dengan tempat wisata di luar negri.

“Pulau Komodo juga keren tuh. Bisa ketemu Komodo secara langsung di habitatnya.” celetuk Lia.

Rafi yang mendengar penjelasan dari Rois dan Lia pun segera mengambil ponselnya yang ada di saku celana, lalu ia mulai mencari informasi nama-nama pulau yang tadi disebutkan oleh Lia dan Rois.

“Wah.. Ternyata di negara kita banyak ya tempat wisata yang keren jika dibandingin dengan tempat wisata di Luar negeri. Ke mana aja gue selama ini?” ujar Rafi takjub setelah melihat hasil foto-foto dari ponselnya mengenai pulau-pulau tadi.

“Ya udah, Arya, kita ubah tempat liburannya aja.” lanjut Rafi bicara kepada Arya.

Keesokan harinya.

Rafi dan Arya berjalan di hutan sekolah menghampiri Rois, Lia, dan Vio yang sedang berbincang-bincang di gazebo.

“Heh rek, ayo melok aku!” ujar Rafi dengan semangat. Sementara Lia dan Rois merasa heran dengan gaya bicara Rafi yang sudah berubah total.

“Ke mana?” tanya Vio penasaran. Tanpa pikir panjang, Rois, Lia, dan Vio memutuskan untuk mengikuti Rafi dan Arya yang sudah berjalan lebih dulu.

Ternyata, tujuannya adalah letak bendera merah-putih yang berada di samping hutan sekolah. Mereka pun bebaris 1 shaf di depan bendera merah-putih. Rois, Lia, dan Vio bingung apa yang dimaksud oleh Rafi dan Arya.

“Seluruhnya, hormat.. Gerak!” ujar Rafi lantang lalu ia pun hormat pada bendera merah-putih. Arya, Rois, Lia, dan Vio pun mengikut Rafi. Mereka hormat dengan khidmat pada bendera pusaka kita, bendera merah-putih. Rois. Lia, dan Vio menyadari apa maksud Rafi mengajaknya menghadap bendera merah-putih.

Rafi dan Arya sekarang telah mencintai kembali negaranya, negara Indonesia, mereka berdua tidak lagi menggunakan gaya bahasa barat dalam kehidupan sehari-hari sejak mereka sadar bagaimana negara Indonesia yang jauh lebih seperti surga jika dibandingkan dengan negara lain.


Karya : MarceliaXoexo

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...