Pages

Tuesday, October 8, 2019

LEGENDA LAU KAWAR

Dahulu kala, sebuah ada sebuah desa di tanah karo yang bernama desa Lau Kawar. Desa ini sangat subur dan di kelilingi oleh pemandangan alam yang indah. Suatu hari, penduduk desa itu mengadakan suatu acara adat sebagai bentuk syukur karena hasil panen penduduk yang melimpah ruah. Semua penduduk desa menghadiri acara itu, tetapi hanya ada seorang nenek yang tidak ikut datang ke acara tersebut. Nenek ini tidak sanggup untuk keluar menghadiri acara adat itu karena kondisi tubuhnya yang melemah. Si nenek rupanya belum makan seharian sehingga ia tidak memiliki tenaga bahkan untuk berjalan.

Nenek melihat ke arah jendelanya dan ia terkejut ketika melihat anak lelakinya beserta keluarganya berjalan ke acara ada itu. Si nenek berharap bahwa anaknya akan hampir ke rumahnya dan mengajaknya ke acara itu. Namun, anak nenek beserta keluarga tidak mampir dan mereka terus berjalan menuju ke acara adat itu. Nenek merasa sedih dan ia pun berbaring sambil menangis karena tidak ada yang memperhatikan dirinya.

Ketika acara adat itu selesai, si anak baru ingat kepada Ibunya. Ia pun meminta cucunya untuk membungkus makanan agar diberikan kepada nenek. Sang nenek pun terkejut sekaligus senang ketika cucunya datang membawakan makanan. Tetapi rasa senang itu tidak bertahan lama ketika sang nenek mengetahui bahwa isi bungkusan itu adalah sisa-sisa makanan dari acara adat.

Nenek itu pun memanjatkan doa kepada Tuhan. Ia berharap bahwa Tuhan membalas kedurhakaan anaknya agar anaknya mendapat pelajaran. Beberapa hari kemudian terjadilah gempa bumi, petir menyambar ke tanah, dan hujan turun tak henti-henti. Hujan turun begitu deras sehingga dalam waktu sekejap desa Lau Kawar sudah terendam dan menjadi sebuah kawah. Kawah itu yang kemudian dinamakan sebagai Danau Lau Kawar.



ASAL MULA DANAU SI LOSUNG DAN SI PINGGAN

Dahulu di daerah Silahan, Tapanuli Utara, hiduplah sepasang suami-istri yang memiliki dua orang anak laki-laki. Yang sulung bernama Datu Dalu, sedangkan yang bungsu bernama Sangmaima. Ayah mereka adalah seorang ahli pengobatan dan jago silat. Sang Ayah ingin kedua anaknya itu mewarisi keahlian yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia sangat tekun mengajari mereka cara meramu obat dan bermain silat sejak masih kecil, hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan pandai mengobati berbagai macam penyakit.

Pada suatu hari, Ayah dan Ibu mereka pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan obat-obatan. Akan tetapi saat hari sudah menjelang sore, sepasang suami-istri itu belum juga kembali. Akhirnya, Datu Dalu dan adiknya memutuskan untuk mencari kedua orang tua mereka. Sesampainya di hutan, mereka menemukan kedua orang tua mereka telah tewas diterkam harimau.

Dengan sekuat tenaga, kedua abang-adik itu membopong orang tua mereka pulang ke rumah. Usai acara penguburan, ketika hendak membagi harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua mereka, keduanya baru menyadari bahwa orang tua mereka tidak memiliki harta benda, kecuali sebuah tombak pusaka. Menurut adat yang berlaku di daerah itu, apabila orang tua meninggal, maka tombak pusaka jatuh kepada anak sulung. Sesuai hukum adat tersebut, tombak pusaka itu diberikan kepada Datu Dalu, sebagai anak sulung.

Pada suatu hari, Sangmaima ingin meminjam tombak pusaka itu untuk berburu babi di hutan. Ia pun meminta izin kepada abangnya.

“Bang, bolehkah aku pinjam tombak pusaka itu?”

“Untuk keperluan apa, Dik?”

“Aku ingin berburu babi hutan.”

“Aku bersedia meminjamkan tombak itu, asalkan kamu sanggup menjaganya jangan sampai hilang.”

“Baiklah, Bang! Aku akan merawat dan menjaganya dengan baik.”

Setelah itu, berangkatlah Sangmaima ke hutan. Sesampainya di hutan, ia pun melihat seekor babi hutan yang sedang berjalan melintas di depannya. Tanpa berpikir panjang, dilemparkannya tombak pusaka itu ke arah binatang itu. “Duggg…!!!” Tombak pusaka itu tepat mengenai lambungnya. Sangmaima pun sangat senang, karena dikiranya babi hutan itu sudah roboh. Namun, apa yang terjadi? Ternyata babi hutan itu melarikan diri masuk ke dalam semak-semak.

“Wah, celaka! Tombak itu terbawa lari, aku harus mengambilnya kembali,” gumam Sangmaima dengan perasaan cemas.

Ia pun segera mengejar babi hutan itu, tetapi pengejarannya sia-sia. Ia hanya menemukan gagang tombaknya di semak-semak. Sementara mata tombaknya masih melekat pada lambung babi hutan yang melarikan diri itu. Sangmaima mulai panik.

“Waduh, gawat! Abangku pasti akan marah kepadaku jika mengetahui hal ini,” gumam Sangmaima.

Namun, babi hutan itu sudah melarikan diri masuk ke dalam hutan. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah dan memberitahukan hal itu kepada Abangnya.
“Maaf, Bang! Aku tidak berhasil menjaga tombak pusaka milik Abang. Tombak itu terbawa lari oleh babi hutan,” lapor Sangmaima.

“Aku tidak mau tahu itu! Yang jelas kamu harus mengembalikan tombok itu, apa pun caranya,” kata Datu Dalu kepada adiknya dengan nada kesal.”

Baiklah, Bang! Hari ini juga aku akan mencarinya,” jawab Sangmaima.

“Sudah, jangan banyak bicara! Cepat berangkat!” perintah Datu Dalu.

Saat itu pula Sangmaima kembali ke hutan untuk mencari babi hutan itu. Pencariannya kali ini ia lakukan dengan sangat hati-hati. Ia menelesuri jejak kaki babi hutan itu hingga ke tengah hutan. Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah lubang besar yang mirip seperti gua. Dengan hati-hati, ia menyurusi lubang itu sampai ke dalam. Alangkah terkejutnya Sangmaima, ternyata di dalam lubang itu ia menemukan sebuah istana yang sangat megah.

“Aduhai, indah sekali tempat ini,” ucap Sangmaima dengan takjub.

“Tapi, siapa pula pemilik istana ini?” tanyanya dalam hati.

Oleh karena penasaran, ia pun memberanikan diri masuk lebih dalam lagi. Tak jauh di depannya, terlihat seorang wanita cantik sedang tergeletak merintih kesakitan di atas pembaringannya. Ia kemudian menghampirinya, dan tampaklah sebuah mata tombak menempel di perut wanita cantik itu. “Sepertinya mata tombak itu milik Abangku,” kata Sangmaima dalam hati. Setelah itu, ia pun menyapa wanita cantik itu.

“Hai, gadis cantik! Siapa kamu?” tanya Sangmaima.

“Aku seorang putri Raja yang berkuasa di istana ini.”

“Kenapa mata tombak itu berada di perutmu?”

“Sebenarnya babi hutan yang kamu tombak itu adalah penjelmaanku.”

“Maafkan aku, Putri! Sungguh aku tidak tahu hal itu.”

“Tidak apalah, Tuan! Semuanya sudah terlanjur. Kini aku hanya berharap Tuan bisa menyembuhkan lukaku.”

Berbekal ilmu pengobatan yang diperoleh dari ayahnya ketika masih hidup, Sangmaima mampu mengobati luka wanita itu dengan mudahnya. Setelah wanita itu sembuh dari sakitnya, ia pun berpamitan untuk mengembalikan mata tombak itu kepada abangnya.

Abangnya sangat gembira, karena tombak pusaka kesayangannya telah kembali ke tangannya. Untuk mewujudkan kegembiraan itu, ia pun mengadakan selamatan, yaitu pesta adat secara besar-besaran. Namun sayangnya, ia tidak mengundang adiknya, Sangmaima, dalam pesta tersebut. Hal itu membuat adiknya merasa tersinggung, sehingga adiknya memutuskan untuk mengadakan pesta sendiri di rumahnya dalam waktu yang bersamaan. Untuk memeriahkan pestanya, ia mengadakan pertunjukan dengan mendatangkan seorang wanita yang dihiasi dengan berbagai bulu burung, sehingga menyerupai seekor burung Ernga. Pada saat pesta dilangsungkan, banyak orang yang datang untuk melihat pertunjukkan itu.

Sementara itu, pesta yang dilangsungkan di rumah Datu Dalu sangat sepi oleh pengunjung. Setelah mengetahui adiknya juga melaksanakan pesta dan sangat ramai pengunjungnya, ia pun bermaksud meminjam pertunjukan itu untuk memikat para tamu agar mau datang ke pestanya.

“Adikku! Bolehkah aku pinjam pertunjukanmu itu?”

“Aku tidak keberatan meminjamkan pertunjukan ini, asalkan Abang bisa menjaga wanita burung Ernga ini jangan sampai hilang.”

“Baiklah, Adikku! Aku akan menjaganya dengan baik.”

Setelah pestanya selesai, Sangmaima segera mengantar wanita burung Ernga itu ke rumah abangnya, lalu berpamitan pulang. Namun, ia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menyelinap dan bersembunyi di langit-langit rumah abangnya. Ia bermaksud menemui wanita burung Ernga itu secara sembunyi-sembunyi pada saat pesta abangnya selesai.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pada malam harinya, Sangmaima berhasil menemui wanita itu dan berkata:

“Hai, Wanita burung Ernga! Besok pagi-pagi sekali kau harus pergi dari sini tanpa sepengetahuan abangku, sehingga ia mengira kamu hilang.”

“Baiklah, Tuan!” jawab wanita itu.

Keesokan harinya, Datu Dalu sangat terkejut.

Wanita burung Ernga sudah tidak di kamarnya. Ia pun mulai cemas, karena tidak berhasil menjaga wanita burung Ernga itu. “Aduh, Gawat! Adikku pasti akan marah jika mengetahui hal ini,” gumam Datu Dalu. Namun, belum ia mencarinya, tiba-tiba adiknya sudah berada di depan rumahnya.

“Bang! Aku datang ingin membawa pulang wanita burung Ernga itu.

Di mana dia?” tanya Sangmaima pura-pura tidak tahu.

“Maaf Adikku! Aku telah lalai, tidak bisa menjaganya. Tiba-tiba saja dia menghilang dari kamarnya,” jawab Datu Dalu gugup.

“Abang harus menemukan burung itu,” seru Sangmaima.

“Dik! Bagaimana jika aku ganti dengan uang?” Datu Dalu menawarkan.

Sangmaima tidak bersedia menerima ganti rugi dengan bentuk apapun. Akhirnya pertengkaran pun terjadi, dan perkelahian antara adik dan abang itu tidak terelakkan lagi. Keduanya pun saling menyerang satu sama lain dengan jurus yang sama, sehingga perkelahian itu tampak seimbang, tidak ada yang kalah dan menang.

Datu Dalu kemudian mengambil lesung lalu dilemparkan ke arah adiknya. Namun sang Adik berhasil menghindar, sehingga lesung itu melayang tinggi dan jatuh di kampung Sangmaima. Tanpa diduga, tempat jatuhnya lesung itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah danau. Oleh masyarakat setempat, danau tersebut diberi nama Danau Si Losung.

Sementara itu, Sangmaima ingin membalas serangan abangnya. Ia pun mengambil piring lalu dilemparkan ke arah abangnya. Datu Dalu pun berhasil menghindar dari lemparan adiknya, sehingga piring itu jatuh di kampung Datu Dalu yang pada akhirnya juga menjadi sebuah danau yang disebut dengan Danau Si Pinggan.

Demikianlah cerita tentang asal-mula terjadinya Danau Si Losung dan Danau Si Pinggan di daerah Silahan, Kecamatan Lintong Ni Huta, Kabupaten Tapanuli Utara.

RUSA DAN SI KULOMANG

Pada suatu hari yang cerah di hutan, para hewan sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Lia, Rusa yang terkenal dengan keahlianya dalam berlari sedang sibuk mencari lawan untuk memamerkan keahliannya. Dan saat ia sedang mencari lawan, lewatlah seekor siput yang dikenal sebagai binatang yang cerdik dan setia kawan. Siput itu bernama Kelomang. Rusa pun menantang Kelomang untuk berlomba lari.

Rusa menantang Kelomang untuk beradu lari sampai tanjung kesebelas dan bertaruh jika Kelomang kalah maka Kelomang harus memberikan rumahnya. Rusa tidak merasa khawatir karena ia sangat yakin bahwa ia akan menang. Rusa sudah banyak menantang hewan-hewan yang ada di hutan dan ia memenangkan semua tantangan itu. Di sisi lain, Kelomang pun mengetahui bahwa ia tidak punya kesempatan untuk menang karena ia berjalan sangat lambat dan yang membuatnya semakin lambat ialah rumah yang dibawanya. Namun, Kelomang tetap tidak menyerah dan ia berpikir keras bagaimana caranya mengalahkan rusa.

Sampailah pada hari yang telah ditentukan, rusa mengajak teman-temannya untuk memamerkan keahliannya dalam berlari.  Sedangkan Kelomang hanya mengajak sepuluh temannya. Kesepeluh temannya itu diperintahkan untuk berjaga di tanjung dua sampai ke tanjung kesebelas dan Kelomang bersiap di tanjung satu untuk berlomba dengan rusa.

Kelomang memberitahu kepada kesepuluh temannya untuk menjawab pertanyaan rusa dengan ucapan "Aku persis dibelakangmu".

Ketika pertandingan dimulai, rusa langsung melesat dan dalam waktu sekejap ia sudah sampai dia tanjung ke dua. Dalam keadaan berlari, rusa bertanya kepada Kelomang apakah Kelomang ada di belakang atau tidak dan terdengar suara Kelomang menjawab bahwa ia berada tepat di belakang sang rusa. Sang rusa pun panik dan ia berlari kencang sampai di tanjung ketiga. Di tanjung ketiga, rusa menanyakan hal yang sama dan ia terkejut ternyata Kelomang menjawab dengan jawaban yang sama. Rusa tadinya berencana untuk beristirahat bila Kelomang tidak menjawab pertanyaan.

Tetapi, rusa membatalkan rencananya karena Kelomang terus berada di belakangnya. Ia pun tidak beristirahat dan memaksakan diri terus berlari sampai tanjung kesebelas. Sesampainya di tanjung kesebelas, rusa tak dapat menahan kelelahannya. Akhirnya, ia jatuh karena kelelahan dan mati. 

KAKEK PEMEKAR BUNGA

Sepasang kakek-nenek yang baik hati memungut seekor anak anjing berwarna putih, dan membesarkannya seperti membesarkan anak sendiri. Pada suatu hari, anjing itu menggonggong sambil menggali-gali tanah di ladang. "Gali di sini, guk, guk!" begitu kata anjing itu hingga membuat kakek terkejut. Dengan memakai cangkul, kakek menggali di tempat yang ditunjukkan oleh anjingnya. Di tempat yang digali ternyata ditemukan uang keping emas (ōban dan koban). Kakek dan nenek begitu bahagia dan juga membagi-bagikan barang yang dibelinya kepada para tetangga.

Keberhasilan kakek dan nenek membuat iri sepasang suami-istri tetangga. Keduanya dengan paksa menyeret anjing milik kakek-nenek. Anjing itu disiksa agar mau menunjukkan lokasi harta. Namun setelah tempat yang ditunjukkan digali, di tempat itu hanya ditemui barang rongsokan, hantu, dan pecahan tembikar. Keduanya menjadi sangat marah, dan memukul anjing itu dengan cangkul hingga mati. Kakek-nenek pemilik anjing juga dimaki-maki.

Kakek dan nenek yang baik hati merasa sangat sedih karena anjing itu dulunya dibesarkan seperti membesarkan anak sendiri. Anjing itu lalu dikubur di halaman rumah, dan dibuatkan sebuah makam untuknya. Sebatang pohon ditanam di sisi makam untuk melindunginya dari angin dan hujan. Pohon ternyata tumbuh dengan cepat, dan menjadi sangat besar hanya dalam beberapa tahun. Dalam mimpi, kakek dan nenek melihat anjing itu hidup kembali. "Tebang pohon itu, dan buatkan aku sebuah lesung," begitu pintanya. Permintaan anjing itu dituruti. Keduanya kemudian membuat sebuah lesung dari kayu pohon yang tumbuh di sisi makam anjing. Dengan memakai lesung itu, kakek dan nenek menumbuk ketan untuk dibuat mochi. Ketika selesai ditumbuk, mochi berubah menjadi kepingan emas yang berlimpah-limpah.

Suami-istri tetangga kembali menjadi iri hati. Lesung mereka pinjam dengan paksa. Namun ketika dipakai, lesung itu bukan menghasilkan emas, melainkan kotoran yang bau. Keduanya menjadi sangat marah. Lesung dibelah-belah dengan kapak menjadi kayu bakar. Abu hasil pembakaran lesung diambil oleh kakek-nenek yang bermaksud mengupacarainya. Dalam mimpi, anjing itu kembali muncul, dan meminta agar abunya disebarkan ke pohon sakura yang sudah mati. Kakek-nenek mengikuti pesan itu. Secara ajaib, pohon sakura yang telah ditebari abu segera berbunga. Seorang daimyo yang kebetulan lewat, takjub dengan keindahan bunga sakura yang sedang mekar. Kakek dan nenek dipujinya. "Ayo kita mekarkan bunga di pohon yang sudah kering!" kata daimyo. Suami-istri yang tamak ingin pula dipuji. Keduanya ikut menaburkan abu ke atas pohon, tetapi bukan bunga yang mekar. Abu yang ditebarkan malah masuk ke mata daimyo yang sedang berada di bawah pohon. Tetangga yang tamak akhirnya dihukum karena bertindak kurang ajar.

PERTARUNGAN MONYET DAN KEPITING

Kepiting sedang berjalan membawa sebuah onigiri. Seekor monyet licik meminta kepiting agar bersedia untuk menukar onigiri dengan biji kesemek yang sebelumnya dipungut oleh monyet. Pada mulanya kepiting tidak mau, tetapi akhirnya terbujuk oleh ucapan si monyet, "Dari biji kesemek ini akan tumbuh pohon kesemek yang berbuah banyak."

Kepiting pulang ke sarangnya, dan segera menanam biji kesemek itu sambil bernyanyi, "Cepatlah bertunas biji kesemek. Kalau tidak, aku akan memotongmu dengan capitku!" Pohon kesemek tumbuh dengan cepat dan berbuah dengan lebatnya. Namun kepiting tidak bisa memanjat pohon untuk mengambil buah kesemek. Datang si monyet licik yang menggantikan kepiting memanjat pohon. Kesemek dimakannya sendiri. Kepiting tidak mendapat bagian kesemek sebuah pun. "Ayo cepat ambilkan juga untukku!" begitu kata kepiting. Monyet memetik buah kesemek yang masih hijau, lantas melemparkannya ke arah kepiting. Lemparan kesemek mengenai badan kepiting hingga anak-anak kepiting yang sedang dikandungnya lahir sebelum waktunya. Kepiting terluka hingga akhirnya mati.

Anak-anak kepiting bermaksud menuntut balas kematian induknya. Mereka pergi ke rumah monyet dibantu oleh kastanye, lesung, tawon, dan kotoran sapi. Kastanye menunggu kedatangan monyet sambil bersembunyi di dalam abu perapian. Tawon bersembunyi di dalam ember kayu. Kotoran sapi bersiaga di lantai tanah, dan lesung menanti di atap rumah.

Setelah sampai di rumah, monyet licik menyalakan perapian untuk menghangatkan diri. Kastanye pecah terkena panas api, dan pecahannya mengenai monyet hingga dia menderita luka bakar. Dengan tergesa-gesa monyet berusaha mendinginkan lukanya dengan siraman air. Namun di dalam ember sudah menunggu tawon yang langsung menyengatnya. Monyet terkejut dan melarikan diri ke luar. Ia jatuh terpeleset kotoran sapi. Dari atas atap jatuh lesung yang menimpa kepalanya hingga si monyet mati. Anak-anak kepiting berhasil menuntut balas kematian induk mereka.

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...