Pages

Tuesday, August 6, 2019

MENGHANCURKAN

Di daerah gurun pasir. Maru bersama Lilin dan Taho sedang menjalankan misi rahasia. Dengan susah payah melewati gurun pasir di tengah hari yang panas banget sampai dehidradasi.

Pasir mulai naik ketika Maru menginjaknya dengan kawan-kawan. Keluarlah seekor makluk Kumbang raksasa.

"Monster," teriak Maru, Lilin dan Taho bersamaan.

Ketiganya berusaha melarikan dari si Kumbang raksasa. Tapi Maru ingin mengalahkan Kumbang raksasa denga penuh keberanian. Dengan mencabut pedangnya Maru berbalik menyerang Kumbang raksasa.

Berkali-kali Maru menyerang Kumbang raksasa dengan pedangnya tidak mempan karena sangat keras kulitnya. Maru tepeleset pada pijakan kakinya dan hendak di hajar dengan kakinya Kumbang raksasa yang kuat.

Maru dalam keadaan sulit pun masih berusaha. Dateng dengan cepat menolong Maru dan menghindari serangan dari Kumbang raksasa. Lalu Sasuke mencaput pedangnya dan menebas Kumbang raksasa jadi dua.

Maru, Lilin dan Taho berlompatan karena selamat dari Kumbang raksasa yang mau memangsa mereka. Ketiganya berterima kasih kepada Sasuke senior Maru, Lilin dan Taho dari perguruan ninja tersembunyi.

Sasuke pun pergi meninggalkan Maru, Lilin dan Taho di gurun pasir begitu saja. Maru dan kawan-kawan melanjutkan perjalan melintasi gurun pasir. Hari berubah menjadi malam pun akhirnya sampai di kediaman kakek Josin di sebuah oases yang menyenangkan banget.

Maru dan kawan-kawan di sambut baik oleh kakek Josin di rumahnya. Segera Maru mengeluarkan sebuah gulungan rahasia dan di berikan pada kakek Josin.

Karena urusan sudah selesai. Maru beristirahat di rumah kakek Josin. Sedangkan kakek Josin di dalam kamarnya membuka gulungan rahasia lalu di gunakan teknik rahasia untuk mengeluarkan benda yang di kunci dalam mantra pengikat gulungan.

Keluarlah setumpuk komik kesukaan kakek Josin dan segera di bacanya. Maru dan kawan-kawan asik makan malam setelah mandi air hangat. Sambil memandangin malam bertabur bintang dan bulan purnama yang indah ke tiganya dan melupakan kejadian yang mematikan di gurun pasir yang bertemu dengan Kumbang raksasa.

Tuesday, July 23, 2019

DEMIKIAN CINTA

Malam yang cukup tenang di kediaman Erwin. Sedang asik duduk sambil mengetik tugas sekolah di komputer tuanya. Terdengar langkah kaki dan mengetuk pintu kamar.

"Erwin....boleh...aku masuk," kata Risa dengan lembut.

"Silakan," jawab Erwin.

Risa masuk kamar Erwin. Terlihat pandangan mata Risa kamar cowok yang berantakan banget. Erwin pun selesai juga mengetiknya.

"Ada apa....Risa...main ke rumah saya?" tanya Erwin.

"Anu-anu....," kata Risa gerogi.

"Ngomong aja!" kata Erwin.

"Iya," jawab Risa.

Risa pun mendekati Erwin. Malah Risa jadi kacau banget di hadapan Erwin apalagi saat Erwin beranjak dari duduknya di kursi dan saling berpandangan dengan Risa. Sontak muka Risa memerah.

"Ada....apa Risa?" tanya Erwin.

"Aku...ingin memberikan surat ini pada mu!" kata Risa.

Erwin mengambil surat yang di berikan Risa.

"Kalau begitu....aku permisi dulu," kata Risa.

"Iya," jawab Erwin.

Risa keluar dari kamar Erwin dengan detak jantung berdebar kencang lagi. Sekalian Risa pamit pulang sama Ibu Erwin.

Erwin mencoba membuka surat yang di berikan oleh Risa. Di keluarkan surat dari amplonya. Dengan seksama Erwin membaca surat dari Risa.

Isi surat Risa :

"Selama ini saya menyukai kamu....Erwin dari awal pertemuan saat pertama kali masuk sekolah SMA. Rasa ini...selalu gak karuan saat bersama kamu....Erwin. Jadi aku ingin menyatakan sesuatu dari dalam hati aku.

Aku cinta kamu....Erwin"

Erwin membaca surat itu tidak terkejut banget. Malahan surat di taruh meja beserta amplopnya.

"Ah....jaman sekarang cewek duluan yang menyatakan cinta. Aku...aja masih belum memikirkan....sejauh itu....untuk menyatakan cinta," celoteh Erwin.

Erwin pun malah menghidupkan Ps 4nya dan segera memainkan game sepak bola.

"Asik....main game dari...pada ngurusin perasaan cewek," gerutu Erwin.

Erwin memilih tim kesukaannya  sepak bola dan segera memainkan dengan penuh kegembiraan dan melupakan tentang ungkapan perasaan Risa lewat surat cinta.

Risa sampai di rumahnya segera masuk kamarnya dan berusaha menghilangkan rasa dak dik duk di jantungnya yang gak karuan.

"Rasanya....aku...malu banget deh...udah berani menyatakan cinta duluan," ocehan Risa sambil melihat dirinya di kaca.

Risa memutus main ke rumah Mentari....tetangganya di samping rumahnya sekaligus teman satu sekolah. Risa bercerita tentang masalah pribadinya berkenaan dengan cinta bersama Mentari di pinggir kolam renang.

Dengan baik Mentari menanggapi ocehan dari Risa yang panjang lebar berkenaan surat cinta ke Erwin.

"Cinta...cinta...cinta...membuat dilema bagi siapa saja yang merasakan dari rasa cinta yang bergelora di dada," kata Mentari.

"Ya....begitu..lah," saut Risa.

Risa terus bercurhat ke Mentari sampai perasaannya puas banget gak ada beban di hati dan pikiran sampai malam hari.

***
Esok harinya di sekolah Risa bertemu dengan Erwin di sekolah. Seperti biasa rasa dak dik duk masih berdetak keras sekali di dada Risa. Mentari sebagai sahabat baik menemani Risa saat pertemuan di sekolah yang kadang di sengaja atau tidak sengaja.

Erwin tetap biasa menanggapi Risa seperti biasa. Malahan Erwin lebih sibuk bergaul dengan teman-teman cowok dari pada teman cewek. Risa jadi bingung dengan sikap Erwin.

Risa pun curhat lagi dengan Mentari saat teman-teman tidak ada di ruang kelas. Seperti biasa Mentari menanggapi curhatan dari Risa.

"Cinta....cinta...cinta....bikin bimbang aja gara perasaan yang gak menentu," kata Mentari.

"Ya....begitu lah," saut Risa.

"Saran...aku...sih. Ada 2 cara," kata Mentari.

"Apa...itu?" Risa memotong omongan Mentari.

"Yang pertama lupakan cinta...kamu...sama Erwin karena mengganggu aktivitas kamu....Risa setiap hari. Yang....kedua....sabarin aja jalan sekarang...sampai....itu Erwin membalas cinta...kamu dengan pernyataan I LOVE YOU...RISA," kata Mentari.

Risa pun berpikir sejenak mengenai sarannya Mentari. Risa pun telah mempertimbangkan masak-masak mengenai urusan cintanya yang gantung gak ada jawaban.

"Aku...memilih yang pertama," kata Risa.

"Yang pertama lebih baik. Baru deh aku.....menemukan...sahabat aku yang bebas dan tidak terjebak oleh keadaan karena urusan cinta. Masalahnya....kita ini...masih anak sekolah 1 SMA belum waktunya  ngurusin pacaran. Masih banyak yang harus kita kejar...untuk menggapai masa depan gemilang," kata Mentari.

Risa dan Mentari berpelukkan tanda keakraban antara teman baik. Curat pun selesai dengan perasaan pol di dada Risa. Bell pun berbunyi tanda masuk kelas melanjutkan pelajaran. Mentari keluar dari kelas Risa menuju ruang kelasnya.

Dengan tenang mengikuti proses belajar mengajar sampai selesai. Baru deh pulang ke rumah Risa dengan keadaan diri yang tidak memiliki beban apa pun berkenaan tentang perasaannya dengan Erwin. Risa pun menjalankan aktivitasnya biasa-biasa aja bersama Mentari. Saat bertemu dengan Erwin pun jadi biasa-biasa aja tak ada beban perasaan apa pun karena Risa sudah melupakan cintanya sejenak.

Erwin pun menanggapi Risa seperti biasa kaya gak pernah terjadi pengungkapan perasaannya Risa lewat surat cinta.

Wednesday, June 26, 2019

MITOS KUPU KUPU AJAIB

Pagi ini seperti biasa aku membawa gitarku ke padang rumput, aku duduk di bawah pohon besar. Di padang rumput itu hanya ada satu pohon besar yang aku duduki saat ini, perlahan aku memetik senar gitar yang mengeluarkan alunan yang indah. Ory, itulah namaku. Aku tinggal di rumah kecil dengan sawah dan hutan, beberapa KM dari rumahku terdapat jalan raya yang menghubungkan ke kota. Aku tinggal bersama nenekku, dimana desa ini masih percaya dengan mitos-mitos zaman dahulu. Namun aku tidak mempedulikan itu. Gitar yang kubawa ini, aku beli sendiri ke kota. Aku memang jago bermain gitar.

Petikan gitarku ini mengundang seekor kupu-kupu yang indah. Berwarna putih dengan garis hitam mengikuti garis sayapnya. Baru pertama kali aku melihat kupu-kupu seindah itu. Kupu-kupu yang bercahaya! Cahayanya berwarna putih, menambah keindahan kupu-kupu itu. Lalu aku memberhentikan sejenak alunan gitarku. Aku menangkapnya dan mengajaknya ngobrol.

Seperti anak kecil saja, maklumlah di desaku ini tidak ada remaja yang seusiaku. Jadi aku selalu pergi ke padang rumput untuk menghibur diri. Aku juga tidak bersekolah karena faktor biaya, namun sehari-hari nenekku selalu mendapat uang dari hasil kerja kami. Aku bekerja membantu nenek dengan cara menjual hasil panen ke kota, seharusnya diusiaku yang masih terbilang muda ini bersekolah ditingkat SMA. Selain menjual hasil panen ke kota, aku juga mengajar ngaji anak-anak kecil di desa. Jangan heran jika aku pandai bermain gitar, karena aku selalu mendapat buku-buku bekas dari orang kota. Di desaku ini juga ada banyak ustadz yang mengajariku mengaji.

Aku lanjutkan petikan gitarku, kupu-kupu yang indah itu seakan menari-nari di hadapanku. Subhanallah! Dengan indahnya kupu-kupu ini seakan mengerti arti alunan musik gitarku ini. Setelah berlama-lama di padang rumput, aku pulang ke rumah. Aku mengerjakan pekerjaanku sehari-hari.

Hingga sore pun tiba, setelah lelah bekerja pulang pergi ke kota. Aku pergi ke padang rumput itu lagi sambil membawa gitar. Lagi-lagi, kupu-kupu itu datang lagi. Sepertinya ia menyukaiku hehehee. Kejadian bertemu kupu-kupu itu membuatku tak bisa tidur, masih terngiang-ngiang di benakku. Berhari-hari, berminggu-minggu aku memang selalu menemui kupu-kupu itu. Hingga aku tak nyaman dengan keadaan ini karena kupu-kupu itu selalu datang tepat waktu ketika aku membunyikan senar-senar gitarku, kemudian kupu-kupu itu selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Sangat mengganggu bukan? Kemudian aku menceritakan hal ini pada nenek.

“Nek, akhir-akhir ini aku selalu diikuti kupu-kupu Nek. Dan anehnya lagi, setiap aku pergi ke padang rumput setiap pagi dan sore, kupu-kupu itu datang tepat waktu!” kataku.

“Kupu-kupu? Bagaimana ciri-cirinya?” tanya nenek yang sambil meramu jamu.

“Kecil sih, warnanya putih bersih banget, terus ada garis hitam di pinggir sayapnya, dan bercahaya putih!”

“Kupu-kupu ituu…” nenek terlihat sedang mengingat sesuatu, aku semakin bingung dengan nenek. Bukannya memberiku solusi, ia malah termangu. “Sebaiknya, kamu bawa kupu-kupu itu ke sungai! Lalu, kamu cepat-cepat pulang!”

“Kenapa begitu? Aneh,” kataku.

“Kamu tidak tahu cerita soal kupu-kupu bercahaya itu?” nenek bertanya padaku yang membuat aku semakin penasaran, sebenarnya ada apa dibalik semua ini?

“Cerita apa sih Nek? Itu kan kupu-kupu biasa,”

“Kupu-kupu itu sebenarnya di desa ini hanya tinggal satu-satunya,” kata nenek yang masih tetap meramu jamu.

“Emang nenek pernah ngitungin banyaknya kupu-kupu? Ada-ada sajaa,” aku menanggapinya dengan cuek.

“Kamu tidak tahu ya, mau nenek ceritakan? Di desa ini ada mitos tentang kupu-kupu itu! Dan anehnya lagi, mitos itu terkadang masih dipercaya sama orang di desa ini,”

“Cerita nek ceritaa!” dengan senangnya aku mendengar cerita soal mitos desa, sambil mendengarkan nenek bercerita, aku merapikan rambut yang berantakan karena habis mandi.

“Dahulu, pas nenek masih muda, masih gadis, masih cantiiikkk jelita,” kata nenek dengan PDnya.

“Ih nenek genit banget deh,”

“Iya, dulu pas nenek masih muda. Di desa ini pernah ada seorang laki-laki yaa usianya sama kayak kamu Ry. Dia itu hobi berfoto ke padang rumput sambil nyanyi, memang suaranya bagus. Terus ada kupu-kupu seperti apa yang kamu ceritakan barusan, kupu-kupu itu selalu menari-nari di depan si laki-laki itu, namun ia juga cuek. Beberapa hari kemudian kupu-kupu itu jadi selalu mengikuti laki-laki itu kemanapun ia pergi, sampai akhirnyaa,”

“Eittss, bentar dulu nek. Kok hampir sama kayak cerita aku ya?” tanyaku.

“Iya, makanya dengerin dulu,” nenek pun melanjutkan ceritanya.

“Sampai akhirnya laki-laki itu bosan dan ia membawa kupu-kupu langka itu ke sungai untuk dihanyutkan ke sungai, ehh ketika ia beranjak pergi, tiba-tiba ada yang memanggil namanya, seorang perempuan cantik,”

“Wah? Yang bener nek? Seriusan?” aku semakin yakin kalau kupu-kupu itu benar-benar jelmaan perempuan cantik.

“Jangan senang dulu,” kata nenek yang sedang meminum jamu. “Perempuan itu berkulit putih bersih, mengenakan pakaian berwarna putih dan rambutnya yang hitam digerai kedepan, selendangnya yang menyangkut di lehernya melayang-layang terkena angin sungai yang pada waktu itu cukup kencang,”

“Lalu?”

“Perempuan itu berkata; “Geeemaaa! Terima kasih kau sudah menyelamatkanku!” lalu si laki-laki yang bernama Gema itu berbalik dan melihat sosok perempuan cantik seperti bidadari dari Kayangan, Gema terpaku. Lalu berkata; “Ss, ss, ss, siapa kamu?”. “Akulah Vania! Aku dipelet oleh seseorang yang membenciku sehingga aku menjadi kupu-kupu selamanya, agar aku terlepas dari kutukan itu harus ada seorang laki-laki seusiaku yang melemparkanku ke air sungai!””

“Berarti apa kupu-kupu itu benar jelmaan wanita itu nek?” tanyaku penasaran.

“Nenek tidak tahu, lalu Gema pun percaya dengan apa yang dikatakan perempuan itu. Hingga akhirnya mereka bersahabat selamanya,” kata nenek. “Nenek diceritakan oleh buyut kamu, yang waktu itu sedang mendengarkan penjelasan sang pemuda yang bernama Gema itu, sampai sekarang cerita itu dibukukan dan disimpan di perpustakaan desa,”

“Apakah di jaman sekarang ini masih ada mitos itu? Dan masih berlaku?” aku bertanya sambil menyeduh segelas susu hangat.

“Nenek tidak tahu, tapi sepertinya cerita itu sudah tidak berlaku dijaman yang modern ini. Sudah-sudah! Kamu habiskan susumu, lalu pergi tidur! Hari sudah malam, besok nenek akan siapkan sarapan kesukaan kamu Ory!” perintah nenek padaku.

“Asiik dibuatin singkong rebus sama teh manis hangat niih,”

“Iyaa,”

Keesokan hari pun tiba, aku sudah melihat singkong rebus dan teh panas di atas meja, itu pasti nenek yang buat. Tetapi aku tidak melihat nenek. Nampaknya ada suara dari arah luar. Aku melangkah keluar dan ternyata nenek sedang membuat bakul dari anyaman bambu, karena bakul yang lama sudah rusak dan berbulu. Kemudian aku meminta izin pada nenek untuk pergi ke padang rumput seperti biasa sambil membawa gitar. Nenek pun mengizinkan.

Setibanya di padang rumput. Aku langsung saja bermain gitar sambil bernyanyi, kupu-kupu itu datang lagi. Ini cukup membuatku marah dan kesal karena kali ini perilaku kupu-kupu itu sangat agresif. Ia mengelilingi kepalaku dan hinggap di rambutku yang keren ini. Kemudian, aku tangkap kupu-kupu itu dan kubawa ke sungai seperti apa yang nenek ceritakan semalam.

Namun aku bukan karena ingin melihat sosok perempuan cantik itu, tapi karena kupu-kupu ini benar-benar membuatku bosan dan marah. Selama perjalanan aku memarahi kupu-kupu itu.

“Iih dasar kupu-kupu iseng! Ngapain sih kamu terus menggangguku bermain gitar? Lebih baik sekarang kamu aku hanyutkan saja ke sungai, nanti kamu akan bertemu dengan surgamu!” gerutuku. Aku tahu hal ini membuatku bodoh.

Sesampainya di sungai, langsung saja kuhanyutkan kupu-kupu yang indah nan cantik itu ke sungai. Aku berbalik arah bermaksud untuk kembali ke padang rumput. Namun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. “Ory!” suaranya seperti perempuan, tanpa basa-basi langsung saja aku berbalik arah dan melihat sesosok wanita cantik berbaju putih dan berambut panjang, namun keadaannya sangat basah kuyup. Aku terbelalak melihatnya, dia sangat cantik.

“Siapa kamu? Kenapa tiba-tiba ada kamu di sini?” tanyaku sambil menutupi wajah dengan tangan.

“Aku Putri, si kupu-kupu yang kamu hanyutkan. Terima kasih telah membuatku kembali ke bentuk semula!” kata kupu-kupu itu yang ternyata manusia bernama Putri. Terjadi percakapan diantara kami berdua.

“Jadi, yang diceritakan nenekku semalam itu benar?” kataku yang mulai membuka wajah dan masih terbelalak dengan kemunculannya yang tiba-tiba. “Kamu kupu-kupu?”

“Jangan kaget Ory, aku tahu semuanya. Kamu sudah membuatku bahagia, kamu membuatku terpesona dengan alunan gitarmu yang indah itu,” kata Putri sambil menunjuk ke arah gitarku.

“Sudah biasa,”

“Maukah kamu menjadi kekasihku wahai Ory?” tanya Putri dengan agresifnya.

“Apa? Kenapa secepat itu? Lagipula kamu ini kan perempuan, seenaknya saja kamu menembakku!” jawabku sok jual mahal.

“Tapi, bolehkah?”

“Baiklah, aku mau jadi kekasihmu. Akan kuperkenalkan kamu ke nenekku, maukah kamu?”

Putri hanya tersenyum dan mengangguk, pakaiannya yang basah kuyup membuatnya dingin. Lalu, aku pasangkan jaket yang kukenakan padanya. Namun sepertinya tetap saja itu membuatnya semakin dingin, biarlah dia mengganti bajunya di rumahku.

Sesampainya di rumah aku langsung mencari nenek, dan ternyata nenek ada di dapur.

“Neeekk, neneeekk,” teriakku dengan senangnya.

“Ada apa Oryy??” jawab nenek dari arah dalam rumah. Ketika nenek keluar rumah, ia kaget karena aku membawa seorang gadis berbaju putih dengan rambut terurai basah. “Kamukah kupu-kupu langka itu?” tanya nenek.

“Iya nek, cucumu sudah menyelamatkanku dari kutukan seorang sihir, tapi aku bukan kupu-kupu yang sama yang ditemukan oleh Gema,” jelas Putri.

“Tunggu-tunggu, kenapa kamu kenal Gema?” tanyaku.

“Aku Putri nek, aku ini saudara perempuan Vania yang jaman dulu pernah dipelet oleh orang yang membencinya, ternyata kutukan itu jatuh juga kepadaku karena dahulu warga desa ini sangat membenci dengan kecantikanku,”

“Tapi kenapa kamu masih hidup? Bukankah cerita itu terjadi sekitar 4 generasi yang lalu dari nenekku sekarang?” aku makin penasaran dengan apa yang diceritakan Putri.

“Sudahlah, sekarang kamu harus berganti baju. Nenek akan sediakan kamu baju sementara yang dahulu pernah nenek gunakan sewaktu masih muda sepertimu,” saran nenek pada Putri. Aku hanya duduk lemas tidak percaya dengan apa yang aku alami.

“Terima kasih nek,” kata Putri.

Sambil menunggu Putri berganti baju, aku kembali memainkan gitarku. Memetik senar-senarnya sehingga mengeluarkan suara yang indah, membuat Putri semakin menyukai alunan gitarku. Beberapa saat kemudian, keluarlah Putri dengan dress panjang berwarna merah jambu, namun ia tidak mengenakan alas kaki, kemudian aku ambilkan flatshoes biru muda milik ibuku dahulu, kebetulan sepatu itu tersimpan lama di bawah tempat tidur. Cocok sekali dengan Putri yang menggunakan dress merah jambu.

Kemudian aku mengajak Putri ke padang rumput untuk bernyanyi bersama, aku memainkan gitar dan Putri menyanyi sebuah lagu.

Tiba-tiba ia berhenti bernyanyi dan seperti mengingat sesuatu, lalu ia mengatakannya padaku.

“Ory,” kata Putri.

“Kenapa berhenti? Kamu mengingat sesuatu?” tanyaku.

“Iya, aku baru ingat bahwa sebenarnya masih ada masalah yang belum diselesaikan,” wajah Putri terlihat sangat khawatir.

“Apa itu? Bukankah kamu sudah berubah menjadi manusia kembali?”

“Iya memang begitu, tapi orang yang mengutukku sewaktu dulu, ia sudah bersumpah agar jika aku sudah berubah menjadi manusia, aku akan segera menyusul saudaraku Vania yang sudah meninggal,” matanya Putri mulai berkaca-kaca dan berlinangan air mata.

“Tapi kenapa itu bisa terjadi? Dan kenapa nasibmu sama dengan Vania?”

“Kutukan itu berlaku sampai mitos kupu-kupu ajaib ini benar-benar sudah tidak dipercaya lagi oleh warga desa ini, sekarang sepertinya aku harus pergi, melalui kamu, aku minta bagaimanapun caranya agar warga desa ini tidak percaya lagi dengan mitos kupu-kupu ajaib, supaya tidak ada lagi korban sepertiku, terutama gadis-gadis desa. Mereka rawan sekali dengan kutukan ini, aku mohon Ory,” Putri sangat memohon kepadaku sehingga aku melihat air matanya menetes sedikit demi sedikit.

“Baiklah jika itu maumu, tapi apakah warga desa percaya dengan omonganku dan ceritaku?” tanyaku sambil memegang tangannya.

“Aku yakin mereka percaya, karena mitos itu masih dipercaya! Baiklah, aku harus pergi dan jangan cari aku,” selangkah Putri menjauhiku lalu berjalan cepat menuju sungai yang diujungnya terdapat air terjun. Aku mengetahui apa yang akan dilakukan Putri, aku mencegahnya agar ia tidak pergi, namun dengan berat hati ia harus melakukan hal ini agar bisa mengakhiri mitos ini dan ia bertemu dengan saudaranya yang sudah meninggal.

Dengan sedih aku melihat Putri berjalan perlahan ketika mendekati air terjun yang amat deras itu, ia tersenyum. Lalu melemaskan diri sehingga ia terjatuh ke derasnya air terjun. Aku tidak sanggup melihatnya, padahal aku baru saja menemui bidadari cantik nan ajaib. Setelah itu, aku berpikir bagaimana caranya membuat warga desa ini tidak percaya dengan mitos kupu-kupu ajaib, supaya tidak ada korban lagi.

Aku menemukan ide! Aku pulang ke rumah untuk menemui nenek dan menceritakan semuanya, lalu aku mengadakan pertemuan dengan warga desa di depan balai desa dan menceritakan semuanya, hingga semuanya benar-benar percaya dengan ceritaku dan mulai menghilangkan mitos itu, akhirnya warga pun setuju untuk menghapus mitos itu dari desa dan tidak akan pernah diingat dan diceritakan ulang ke keturunan mereka, sudah cukup sampai generasi ini saja yang percaya dengan mitos itu, semoga anak cucuku suatu saat nanti tidak akan pernah tau mitos ini, agar tidak ada lagi korban selamanya.


Karya : Lingga Bhatavinurel Irawan

KEJUTAN

Tet… tet… tet…

Bel tanda istirahat berbunyi terdengar nyaring di telinga siswa siswi SMK Negeri 1 Purwodadi, selang beberapa detik kemudian terdengar teriakan dari seorang siswi, teriakan itu mengagetkan siswa siswi dan membuyarkan lamunan Setyo, siswa kelas 12 TKJ

“Siapa sih” kata Setyo sambil beranjak dari kursi.

Dan tanpa diduga siswi tersebut menyebut nama Setyo sambil berteriak.

“Sepertinya aku mengenal suaranya” kata Setyo semakin penasaran, sambil berjalan tergesa gesa menuju pintu.

Braak…

Hampir saja siswi tersebut jatuh tapi untungnya Setyo menangkap siswi yang ditabraknya tadi.


“Rey…??” kata setyo dengan wajah bingung sambil melepaskan tangan Setyo dari Rey

“Kak Setyo…” kata rey sambil menangis.

“Kamu kenapa Rey?” kata Setyo memegang bahu Rey.

Tangis Rey semakin menjadi-jadi.

“Ya udah ayo masuk ke kelas kakak” kata Setyo sambil menarik tangan Rey.

Rey dan Setyo baru bertemu saat PLSPD bulan kemarin, namun Setyo diam diam menaruh rasa ke Rey, Rey adalah siswi kelas X AKL.

“Kak Setyo sih nggak percaya sama aku tadi pagi” kata Rey membuka percakapan.

“Percaya apa?” kata Setyo pura pura bingung.

“Ihh kak Setyo… nyebelin” kata Rey sambil memasang wajah cemberut.

“Jangan cemberut gitu dong nanti kamu nggak cantik lho” rayu Setyo.

“Biarin” kata Rey.

“Oke oke… jelasin ke kakak kamu tadi teriak-teriak, manggil-manggil nama kakak sambil nangis segala kenapa?” kata Setyo yang akhirnya mengalah.

“Uh… okelah.. tadi pagi kan aku cerita sama kak Setyo soal dua hari yang lalu aku diteror sama seseorang, pertama soal aku dikunci di kamar mandi” kata Rey dengan serius.

“Kan udah aku bilang kalau pintunya rusak” sela Setyo.

“Ih… dengerin dulu dong” sanggah Rey.

“Terus yang kedua ada yang mendorongku dari tangga sampai kakiku keseleo”

“Tapi kan kamu nggak punya bukti” sela Setyo lagi.

“Iya sih… memang saat aku jatuh aku hanya melihat tiga orang di belakangku dan aku kenal mereka, awalnya ku kira mereka yang mendorongku tapi mereka malah membantuku, dan hari ini di lokerku ada tikus mati kak.. aku takut” kata Rey histeris.

“Nggak apa apa… mungkin nanti di lacimu ada kucing mati” kata Setyo menggoda Rey.

“Aw… kayak ada yang jatuh di bahuku (Rey melirik ke arah bahunya) kak… ambil kak… cepat ambil…” kata Rey histeris.

Setyo tertawa melihat tingkah Rey dan dengan santai mengambil sesuatu di bahu Rey.

“Ha…” Setyo menyodorkannya ke arah Rey.

“Cepet buang” kata Rey ketakutan.

“Sama cicak mainan aja takut… makasih ya atas bantuannya Rik” kata Setyo.

“Sip bro…” kata Erik sambil mengacungkan jempol.

“Ih… kalian itu … nggak lucu tahu…” kata Rey dengan wajah manyun.

Rey beranjak dari kursi dan berlalu meninggalkan Setyo yang masih tertawa melihat tingkah Rey.

Pulang sekolah.

“Kak Setyo tunggu” kata Rey sambil berjalan menyusul Setyo dari belakang.

Dan mereka berjalan beriringan.

“Stoppp…!!!” kata Rey menghentikan langkah Setyo.

“Buku aku ketinggalan kak… tunggu ya.. mau aku ambil” kata Rey.

“Cepat!! aku tunggu di aula” kata Setyo kepada Rey yang berlari meninggalkannya.

Tak sampai dua menit Rey sampai di kelasnya, Rey cepat cepat mengambil bukunya dan bergegas menyusul Setyo yang menunggunya di aula. Sesampainya di aula, Rey melihat keadaan aula yang gelap gulita.

“Mana mungkin kak Setyo di sini.. tapi nggak mungkin kak Setyo bohong ke aku” tanya Rey kepada dirinya sendiri.

Rey mencoba mencari saklar lampu di dinding tapi hasilnya nihil. Rey memberanikan diri untuk masuk.

Byurr…

Belum beberapa langkah Rey berjalan sesuatu membasahi tubuhnya, ya sesuatu itu lengket dan berbau… anyir.

“Kak… kak Setyo… kak Setyo!!!!” panggil Rey histeris, Rey merasakan tubuhnya gemetar.

“HAPPY BIRTHDAY!!!” seru semua orang diikuti tepuk tangan.

Rey menatap orang-orang yang ada disitu dan mendapati Setyo.

Rey terjatuh ke lantai dan menangis histeris, tepuk tangan berhenti dan semua menatap Rey dengan khawatir, Setyo berlari menghampiri Rey, Setyo pun menyadari ada yang aneh dengan Rey hingga Setyo mencium bau amis.. ya… bau amis darah.

“Hey… kan udah aku bilang kalian masukin sirup merah ke ember bukan darah…!!!” kata Setyo menatap seluruh teman temannya…

Mereka tertunduk… menyesal dengan kenyataan itu… Namun seseorang menyaksikan peristiwa itu dengan penuh kepuasan.

“Hahaha… aku menang Rey… aku menang… rasakan apa yang aku rasakan…”

Tamat


Karya : Heni Wiji Utami

Monday, June 24, 2019

SQUIRREL'S GREATNESS


Pagi yang cerah sekali di pinggir pantai. Tupai keluar dari sarangnya dan melompat ke sebuah  akar pohon yang menggantung dan sambil berteriak "Auoooooo." Tupai berayunan di akar pohon lalu di segera di lepaskan pegangannya. Tupai pun melayang di udara dengan berputar-putar dan turun di pasir putih dengan ke dua kaki belakangnya dengan sempurna dan berkata "Tara."

Tupai langsung murung sekali karena tidak ada satu binatang yang bertepuk tangan menunjukkan simpatik dan jojong dengan kegiatan mereka.

"Bener-bener saya tidak begitu populer," kata Tupai.

Bebek langsung bertepuk tangan untuk Tupai yang telah melakukan atraksi menajubkan di udara. Tapi sayang Tupai tetap murung.

"Telat tahu......Bebek." kata Tupai.

Bebek pun menghentikan tepuk tangannya dan berkata "Kenapa telat?."

"Rasa...senang saya menghilang. Rasa murung saya dateng," kata Tupai.

"Ah..itu...sih derita kamu. Saya sih enggak tuh," kata Bebek.

Bebek meninggalkan Tupai begitu saja. Bebek berjalan menuju pantai dan langsung berenang. Bebek senang sekali main di air laut yang tenang sekali. Tapi Bebek tidak sadar ada Ikan Hiu yang lagi mengintainya dari dalam air. Semua para binatang mulai menyingkir dari air laut menuju pasir putih. Terlihat oleh Tupai dari jauh sirip Ikan Hiu. Tupai Yang khawatir memanggil Bebek agar menyinggkir dari air laut.

Para binatang pun ikutan berteriak supaya Bebek menyingkir dari air laut. Tetap saja Bebek yang lagi hepy tidak menggrubis peringatan orang-orang yang khawatir pada dirinya. Bebek tetap bermain air laut dan berenang ke sana ke sini. Tupai pun langsung bertindak mengambil sebuah akar pohon yang cukup panjang untuk di gunakan menjadi tali dan di gulung dengan baik oleh Tupai. Lalu Tupai mengambil kayu tua. Dengan cepat Tupai membawa 2 benda yang di pegang erat di tangannya.

Tupai mulai berenang menuju Bebek yang sedang bermain air laut. Ikan Hiu menunjukkan dirinya dengan melompat sambil membuka mulutnya lebar penuh dengan gigi yang tajam menuju arah Bebek. Lalu Bebek yang telat sadar karena mau di terkam oleh Ikan Hiu. Dengan cepat Bebek menghindari serangan Ikan Hiu yang mematikan. Serangan Ikan Hiu gagal menangkap Bebek yang lincah. Tetap saja Bebek dalam bahaya masih di air laut. Ikan Hiu terus mengitari Bebek.

Ikan Hiu mulai serangan berikutnya mau menerkam Bebek. Ternyata Tupai bergerak cepat dengan berdiri di atas kayu dan segera melepar tari ke arah Ikan Hiu saat mau menerkam Bebek. Serangan Ikan Hiu gagal di halangi oleh Tupai. Bebek dengan cepat berenang ke tepi pantai langsung menyentuh pasir putih yang lembut.

"Saya selamat," kata Bebek.

Semua binatang bertepuk tangan dan sorak-sorai dengan kehebatan Tupai. Bebek pun bingung dengan ulah para binatang dan membalikkan tubuhnya dan melihat ulah Tupai. Bebek pun bertepuk tangan dengan sorak-sorai yang paling melengking karena kehebatan Tupai berselancar di atas air laut sambil menjinakkan Ikan Hiu yang buas dengan seutas tali dari akar pohon yang mengikat pada mulut Ikan Hiu.

Tupai terus menunjukkan kebolehan atraksinya yang berbahaya di atas kayu dengan terpaan ombak dari air laut. Semua binatang menyukai hiburan yang begitu spektakuler dan melupakan kejadian yang berbahaya. Bebek tambah salut dengan kehebatan Tupai yang benar-benar menajubkan. Ikan Hiu pun keletihan karena di kalahkan oleh Tupai di wilayahnya. Tupai pun melepaskan pegangan di tali akar pohon dan membiarkan Ikan Hiu pergi menuju lautan yang luas. Tupai pun sampai di pinggir pantai dengan ombak air laut yang menerpa kayu.

Turunlah Tupai dari kayu yang di gunakannya untuk berselancar di air laut. Bebek yang bahagia karena nyawa selamat berkat pertolongan Tupai. Di peluknya Tupai dengan erat-erat sama Bebek.

"Terima kasih kawan baik," kata Tupai.

"Iya..tapi jangan kuat-kuat merangkulnya saya tidak bisa bernapas," kata Tupai yang sesak nafas.

"Oh..iya," saut Bebek sambil melepaskan rangkulannya pada Tupai. 

Semua binatang memuji kehebatan Tupai yang berani. Tupai pun menunduk malu karena di puji terus. Bebek malah lebih antusias dari para binatang lain dengan terus pertepuk tangan dan memuji "Kamu hebat Tupai yang pemberani." Tupai pun tambah malu karena pujian terus di lontarkan pada dirinya. Impian Tupai pun jadi kenyataan karena semua para binatang memuji kehebatan dan ketangkasan dirinya.

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...