Pages

Monday, November 18, 2019

DIBALIK CERITA PESONA ALAM BONO (PART1)

Suatu hari, di suatu senja langit sore, dengan suasana keindahan alam perkampungan yang masih terlihat sama, dan terasa sejuk nan damai. Dari ufuk barat, terlihat panorama cahaya mentari yang berwarna kemerah-merahan semakin menghiasi bibir sungai Bono yang berada di seberang kanan dekat rumahku. Sungguh, aku sangat bahagia, kerinduanku akan kampung masa kecilku kini telah tersampaikan. Bersama tiupan angin sore yang berhembus dari ujung sungai Bono tersebut, aku berjalan pelan, menyusuri jalan-jalan kecil yang berada di dekat tepi sungai Bono. Dengan riang, aku berjalan sembari merentangkan kedua tanganku, seraya kemudian memejamkan kedua mataku untuk merasakan gemiricik ombak Bono kecil yang saling bermain di pinggiran tepi sungai. Tidak lupa pula, dalam sepoian angin sore yang manja, aku bersenandung salah satu lagu kesukaanku yang senantiasa kunyanyikan bersama teman-teman masa kecilku.

Sebuah lagu yang kerap kali dinyanyikan oleh para anak kecil di kampung Pulau Muda, tempat kelahiranku.

“Indah sekali alam Bono kami. Alam yang indah yang tetap terlestari”, kataku, yang terus bersenandung melagukan lagu tersebut.

Namun, seketika saja, dimana aku hendak berjalan menuju ke rumah atukku, di persimpangan jalan, tanpa sengaja, aku berpapasan dengan para ibu-ibu yang membawa tempayan berisikan jagung-jagung yang telah dikupas. Sungguh, satu hal yang tiba-tiba menarik perhatianku, yaitu tingkah laku para ibu-ibu tersebut yang membawa tempayannya dengan menaruhnya di atas kepala mereka yang beralaskan sehelai kain panjang. Dan tidak lupa pula, dengan senyum sumringah, para ibu-ibu tersebut kemudian menyapaku. Tentu saja, di mataku, ibu-ibu tersebut adalah para ibu yang sangat kuat dan perkasa.

Kemudian, ketika dimana aku berniat akan melanjutkan perjalananku, seketika di persimpangan jalan kampung, aku melihat sepuluh anak kecil yang sedang berlarian tertawa bahagia sembari membawa sebuah jala yang sangat besar, namun, dengan tidak sengaja, tiba-tiba salah satu dari kesupuluh anak tersebut menabrakku yang sedang berjalan. Dengan tutur kata melayunya yang begitu sopan, anak tersebut kemudian mencoba meminta maaf kepadaku, dan kemudian akupun membalas permintaan maafnya dengan senyuman yang ramah dan sopan pula.

Tetapi, seketika dimana mereka hendak pergi melanjutkan perjalanan, begitu takjubnya diriku kepada kesepuluh anak kecil tersebut. Dimana, dengan badannya yang masih kecil dan mungil, mereka dengan kuatnya membawa beberapa ikan-ikan yang cukup banyak dan besar-besar yang disangkutkan di antara lilitan jala-jala yang mereka bawa. Aku dapat menerkanya, pastilah kesepuluh anak kecil tersebut, merupakan anak-anak di kampungku yang baru saja pulang dari menjala ikan di dekat tepi sungai Bono.

Tentu saja, setelah melihat tingkah laku dari kesepuluh anak kecil tersebut, spontan saja aku teringat akan sebuah kenangan masa kecilku dahulu di kampung ini. Masih sangat jelas di ingatanku, dimana ketika aku masih kecil dahulu, bersama Sobri, Sanib dan Udin, disetiap sorenya sepulang dari sekolah madrasah, dengan hati yang riang, sembari membawa sebuah jala, aku bersama mereka mencoba membantu atukku untuk menjala ikan di tepian sungai Bono yang berada didekat rumah atuk. Sungguh, ini adalah kenangan dimasa kecilku yang tidak akan pernah kulupakan.

5 MENIT KEMUDIAN

Bersama azan magrib yang berkumandang dari sebuah Surau tua yang berada diujung timur dekat sungai Bono, tibalah sudah aku di depan rumah atukku. Dengan sembari menebar senyum tipis, betapa bahagianya aku, setelah dimana satu tahun aku dan kedua orangtuaku pindah ke Jakarta, rumah atukku, masih terlihat seperti dulu. Rumah yang bermotif kayu tua dengan dicangga oleh 8 batang kayu hutan yang besar, menjadikan rumah atukku terlihat seperti rumah panggung yang gagah. Dan bukan hanya itu, di bawah kolong-kolong rumah panggung tersebut, berdirilah pula beberapa kandang ayam dan bebek, serta dua sampan kayu beserta pendayungnya yang juga diletakkan di bawah kolong rumah tersebut. Bahkan, di bawah kolong rumah atukku, kita dapat berdiri pula dengan tegap tanpa membungkukkan badan. Sungguh, ini sangatlah membuatku merasa bangga, dikarenakan ini merupakan salah satu peninggalan budaya yang masih berciri khas dan terlestarikan oleh para masyarakat Pulau Muda hingga sampai sekarang.

“Assalamualaikum. Atuk, atuk, oh atukkkkk”, aku mencoba berteriak memanggil atukku dari luar rumah.

“Waalaikum salam”.

Dan, seketika atukku baru saja membuka pintu rumahnya, dengan cekatan segera aku langsung mendekap atukku dan memeluk atukku dengan perasaan rindu yang mendalam.

“Atuk apa kabar?, sudah lama sekali kita tidak bertemu ya atuk?, rindu sangat Nazri dengan atuk”, ucapku kepada atuk dan kemudian mencium tangan atuk dengan hormat.

“Ohhhhhh, cucuku Nazri. Sungguh, atuk pun juga demikian, rindu sangat dengan dirimu nak. Jujur saja, semenjak engkau, mak, dan abah engkau pindah ke Jakarta, rasanya atuk merasa kehilangan. Nah, sepertinya hari ini rasa kehilangan atuk telah terobati sudah, karena akhirnya kamu datang kembali ke kampung kita ini. Hemm, sepertinya malam sudah menjelang, ayo nak kita masuk ke rumah, sebentar lagi, pasti mak cik engkau pasti sudah balik dari pasar”.

Kemudian, aku bersama atuk pun masuk kedalam rumah. Dan, seketika dimana aku kembali menginjakkan kakiku di rumah tersebut, aku merasakan ada suasana yang berbeda ketika aku berada di dalamnya. Walaupun tanpa pendingin ruangan maupun cahaya lampu pijar listrik yang menyala, tetapi, entah mengapa, suasana rumah tetap terasa dingin dan sejuk. Ini kurasakan, ketika aku berjalan menuju ke kamarku, dapat kurasakan dari celah-celah lantai kayu yang tersusun tersebut, seperti ada hembusan-hembusan angin malam yang meronggah masuk melewati celah-celah tersebut. (“Benar-benar nuansa kampung yang masih natural”), bisik hatiku semari tersenyum tipis.

Kemudian, selepas sembahyang magrib, sembari merebahkan punggung dan kakiku diatas kasurku, aku mencoba memejamkan mataku untuk beristirahat sejenak dan bersantai dari rasa lelah. Namun, seketika saja dimana aku akan tertidur dengan lelap, dari arah luar kamarku, terdengar dengan gemuruhnya, suara kerumunan anak-anak kecil bersendau gurau gembira berjalan di dekat rumah atukku. Dengan rasa penasaran, aku pun segera bangkit dari bilik tempat tidurku, dan kemudian kubuka dengan lebar jendela kamarku. Terlihat dengan jelas, di bawah malam yang sunyi, bersama deraian suara ombak kecil Bono yang saling bergulung, beberapa kerumunan anak-anak kecil yang memakai kopiyah dan mukena, terus saja berjalan menyusuri jalanan kampung yang gelap tanpa cahaya lampu listrik yang menyala. Sembari melantunkan shalawat, mereka terus saja berjalan, tanpa diiringi ada rasa takut yang menghantui mereka. Sungguh, ketika mereka berjalan dengan membawa sebuah al-quran yang di dekap ditangan kanan mereka dan sementara tangan kiri mereka membawa sebuah obor yang menyala- nyala, mereka terlihat seperti anak-anak kecil yang masih lugu dan tanpa dosa. Benar-benar ini adalah pemandangan malam, yang tidak akan kutemui di Kota Jakarta.

Pemandangan malam yang memberikanku banyak makna dan pelajaran tentang kehidupan.

Namun sayangnya, ketika sejenak aku melihat dari sisi kanan dan kiri rumah-rumah penduduk yang berdekatan dengan rumah atukku, terlihat jelas jika rumah mereka sangatlah bungkam tanpa cahaya yang terang. Beberapa di antara rumah tersebut hanya terlihat terang dengan remah-remang cahaya yang berasal dari dua obor yang diikat disela-sela kayu penyangga rumah panggung mereka. Tentu saja ini membuatku menjadi sedih dan terharu. Entah mengapa, sudah satu tahun aku pergi meninggalkan kampung Pulau Muda ini, namun, tetap saja belum adanya perhatian dari pemerintah pusat untuk memberikan listrik di kampung Pulau Muda ini.

Padahal, jikalau dilihat, sudah banyak sekali pemandangan wisata alam yang sangat indah dan menakjubkan yang dimiliki oleh kampung ini, salah satunya adalah keindahan dari gelombang Bono. Dan bukan hanya itu, selain keindahan alam yang menakjubkan, kampung ini juga memiliki masyarakatnya yang sangat berbudaya melayu dan sangat mempertahankan adat istiadatnya. Jika saja ada perhatian dari pemerintah pusat untuk mengolah sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki oleh kampung Pulau Muda ini, pastilah, suatu hari kampung ini akan berubah menjadi sebuah kampung wisata yang banyak dikunjungi oleh para masyarakat diluar sana, dan juga oleh para wisatawan mancanegara.

“Kamu sedang melamun nak?”, tiba-tiba saja atuk datang mendekat kepadaku yang sedang melamun di dekat cendela kamarku.

“Oh iya atuk. Ini, tiba-tiba saja Nazri terpikiran dengan kemajuan kampung Pulau Muda ini. Seharusnya, di zaman moderen seperti ini, kampung kita sudah berubah dan tidak sama seperti dulu lagi tuk. Namun, sepertinya perhatian pemerintah pusat belum kepikiran sampai ke kampung kita ini. Sehingga, ingin sekali rasanya Nazri memajukan kampung kita ini menjadi sebuah kampung wisata dan dikenal oleh banyak orang di luar sana. Secara, kampung kita memiliki potensi alam dan keragaman budaya masyarakatnya yang sangat unik dan beradat”.

“Kamu benar sekali nak. Inilah selama ini yang selalu atuk pikirkan sebagai kepala adat di Kampung Pulu Muda ini. Sebenarnya, atuk dan Pak Rohim, Kepala Desa Pulau Muda, telah sama-sama mencari solusi bagaimana agar kampung ini mendapat perhatian dari pemerintah pusat, terutama dalam subsidi listrik bagi masyarakat disini. Dikarenakan, atuk dan pak Rohim, sangat kasian dengan para masyarakat di sini, yang setiap malam hanya berpelitakan dengan obor-obor bambu yang menyala. Dan kamu juga benar nak, atuk juga berpikiran ingin menjadikan kampung ini menjadi sebuah Kampung Wisata. Hal ini dikarenakan, di kampung Pulau Muda ini, terdapat salah satu fenomena alam yang sangat menakjubkan, dan pastinya tidak dimiliki oleh daerah lain. Yaitu Sungai Bono, sungai yang memiliki sebuah ombak yang sama seperti ombak yang ada di pantai-pantai. Namun sayangnya, sampai sekarang, atuk dan pak Rohim belum tahu, darimana memulai semua ini, nak”.

“Atuk tenang saja, insyaallah, sebagai mahasiswa Sejarah, Nazri janji, Nazri akan membantu atuk dan juga para masyarakat disini untuk memajukan kampung Pulau Muda ini menjadi lebih baik lagi. Nazri akan mengajukan cerita Dibalik Pesona Alam Bono yang ada di kampung kita ini, sebagai judul dalam perlombaan karangan ilmiah budaya nasional yang sedang Nazri ikuti saat ini. Insyaallah usaha kita untuk memperkenalkan pesona alam di kampung Pulau Muda ini akan berhasil. Percayalah tuk dengan Nazri”.

Dengan penuh semangat dan sembari memberikan senyumanku yang sumringah kepada atuk, aku kemudian meyakinkan atukku dengan menggenggam kedua tanganku dengan penuh erat.

Kemudian, aku dan atukku pun meninggalkan kamarku, dan beralih menuju ke sebuah ruangan santai yang di sana hanya terdapat sebuah bilik kayu panjang untuk beristirahat. Sembari mengaduk-ngaduk kopiku yang masih panas, aku mencoba mendekati atukku yang sedang duduk membaca sebuah kitab kuning yang berwarna lusuh.

“Oh iya tuk, apakah atuk tahu, sejujurnya, Nazri sangat salut dengan kegigihan dan perjuangan anak-anak kecil di Kampung Pulau Muda ini. Walaupun gelap gulita tanpa ada penerang cahaya listrik, mereka tetap berjalan menyusuri jalan menuju ke Surau untuk belajar mengaji”, tanyaku kepada atukku.

“Ya begitulah nak. Walaupun di kampung Pulau Muda ini, gelap gulita, tanpa ada lampu listrik yang menyala, tapi, semangat-semangat anak-anak kecil untuk mengaji di surau beramai-ramai takkan pernah padam. Di kampung kita ini, wajib hukumnya anak-anak kecil sudah pandai mengaji. Jika ada dijumpai dirumah-rumah selepas magrib, anak-anaknya hanya duduk diam, wah, berarti mak dan abah mereka tidak tahu betapa pentingnya ilmu agama untuk bekal anak-anak mereka nanti”, kata atukku sembari membolak-balikkan kitabnya dengan penuh hati-hati.

“Apakah kewajiban harus pandai membaca al-quran bagi anak-anak di kampung kita ini, juga merupakan salah satu adat istiadat di kampung kita yang harus dipatuhi ya tuk?”, tanyaku kembali kepada atuk.

“Oh, tentu saja. Sudah tradisi turun-temurun, semua anak-anak yang ada di kampung kita ini, harus pandai membaca al-quran. Dan, mereka harus mengaji bersama-sama di Surau kita ini. Semua ini dilakukan, agar kampung kita ini terlepas dari marabahaya kemaharan ombak Bono yang kerap kali datang dengan tiba-tiba, serta agar senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah SWT”.

Kemudian, tiba-tiba saja, pandanganku tertarik kepada sebuah kitab yang berwarna kuning lusuh yang dibaca oleh atukku tersebut, dan sembari mendekat kepada atukku, aku mencoba menanyakan rasa penasaranku tersebut, “Atuk, apakah kitab yang atuk baca ini?, apakah ini adalah sebuah kitab melayu yang sangat sakral?, kenapa bentuknya sangat lusuh seperti ini, tuk?”.

“Oh ini, kemarilah nak atuk beri tahu. Ini bukan kitab sakral, melainkan, adalah kitab kuning gundul, yang hanya boleh dibaca oleh para pemangku adat yang berada di kampung Pulau Muda ini. Kitab Melayu ini, berisikan tentang petuah-petuah adat yang wajib dipatuhi oleh masyarakat yang ada di kampung kita ini. Dan juga, setiap petuah-petuah yang tertuang di dalam kitab ini, tidak boleh satupun dilanggar oleh para masyarakat Kampung Pulau Muda. Jika dilanggar, maka akan mendapatkan ganjarannya”.

“Hemmm begitu ya tuk. Oh iya tuk, apakah di dalam kitab melayu gundul ini, juga berisikan tentang asal-usul dari mana Bono berasal?. Karena, Nazri pernah membaca dari salah satu sumber di internet, bahwa ada beberapa cerita mistis yang mengawali dari adanya gelombang Bono tersebut, tuk. Bisa tidak, atuk ceritakan kepada Nazri, sebetulnya Bono itu apa, dan bagaimana asal-usulnya?. Soalnya, Nazri tidak begitu paham dengan penjelasan yang ada di internet. Sebagai anak kampung Pulau Muda, tentunya, Nazri harus tahu kan tuk?. Lumayanlah, ini bisa jadi referensi bahan tambahan dalam tulisan karangan ilmiah Nazri, tuk”.

“Oh begitu ya?, baiklah-baiklah, dengarkan bagus-bagus ya. Atuk akan ceritakan kepada Nazri, bagaimana asal-usul terjadinya gelombang Bono yang sebenarnya. Bono adalah sebuah gelombang atau ombak yang terjadi di Muara Sungai Kampar Kabupaten Pelalawan, tepatnya di dekat Kampung Pulau Muda. Menurut kepercayaan warga Pulau Muda, dan sekitaran Kecamatan Kuala Kampar, gelombang Bono yang ada di dekat kampung kita ini, merupakan gelombang Bono jantan, sementara, gelombang bono yang betina terdapat di dekat Sungai Rokan, yaitu di Bagan Siapi-Api. Menurut pemikiran orang jaman dahulu, Bono di Kampung Pulu Muda ini, memiliki tujuh ekor yang berbentuk ekor kuda yang disebut dengan Induk Bono. Menurut cerita masyarakat melayu Pulau Muda, gelombang Bono merupakan perwujudan dari tujuh hantu yang sering menghancurkan sampan dan kapal yang melintasi daerah Kuala Kampar. Yang mana, gelombang Bono ini, dahulunya pernah menghancurkan sampan dan kapal-kapal hingga berkeping-keping. Namun, saat ini, ekor dari gelombang Bono tinggal enam. Dikarenakan, menurut kepercayaan masyarakat melayu Pulau Muda, salah satu ekor dari gelombang Bono, telah ditembak oleh kapal-kapal meriam milik pemerintahan Belanda, sewaktu pemerintahan Belanda menjajah Kampung kita ini . Nah, menurut kepercayaan adat-istiadat di kampung kita ini, gelombang bono akan memunculkan gelombangnya yang paling dahsyat dan terbesar tepat ketika terjadi Bula Purnama, yaitu di tanggal 15 Desember. Sementara di luar tanggal 15 Desember, gelombang sungai Bono masih bersemayam didalam perut bumi dan hanya terdapat anak-anak saja yang bermain di tepian sungai”.

“Wah, cerita asal-usul gelombang Bono ini, ternyata sangat lagendaris sekali ya tuk. Oh iya tuk, kemudian, ada tidak tuk, suatu upacara adat tertentu yang dilakukan oleh masyarakat di Kampung kita ini, jika akan datang gelombang bono yang paling dahsyat dan terbesar di kampung kita ini?”.

“Tentu saja nak, para masyarakat melayu yang terdapat di Kampung Pulau Muda ini, memiliki sebuah ritual upacara adat yang harus dilakukan ketika gelombang Bono yang paling dahsyat datang dan melintas mengitari kampung kita ini. Upacara tersebut adalah upacara Semah. Yaitu, upacara yang dilakukan sebelum tanggal 15 Desember dan dipagi hari setelah tanggal 15 Desember. Ini adalah upacara penyampaian doa agar ketika gelombang Bono melintas melewati kampung Pulau Muda, tidak akan mengganggu masyarakat yang ada dikampung ini, dan masyarakat akan terhindar dari marabahaya apapun. Upacara ini, akan dipimpin oleh atuk sendiri, sebagai seorang Datuk Kepala Adat di Kampung kita ini” .


Karya : Aisyah Nur Hanifah

PAHIT MANISNYA PERJALANAN HIDUP

Namaku Ayu, aku lahir di tanah Jawa. Tapi, sekarang aku menetap di Bali bersama kedua orangtuaku. Kartika Sari dan I Wayan Durma mereka adalah orang yang telah membesarkanku selama empat belas tahun ini. Aku seorang anak tunggal. Jadi, ketika aku berada di rumah aku tak mempunyai lawan main. Pada kesempatan itulah aku memanfaatkan waktuku untuk belajar dan membantu meringankan beban kedua orangtuaku saat bekerja. Ayahku seorang pengrajin anyaman bambu, namun pendapatannya tak seberapa. Ia mulai membuat anyaman bambu karyanya tergantung pada konsumen yang memesan anyaman. Ibuku seorang pengrajin batik. Penghasilan ibuku sedikit lebih besar dibandingkan dengan ayahku. Di wilayah Bali ini, banyak sekali peminat batik, terutama batik Denpasar sebagai ciri khasnya. Pada kesempatan inilah ibuku mulai memanfaatkan keadaan.

Aku memang suka membantu kedua orangtuaku, namun aku juga tak lupa dengan tugas utamaku sebagai seorang pelajar untuk menuntut ilmu. Di waktu-waktu senggangku, aku habiskan untuk menjawab soal-soal ataupun mengulang kembali pelajaran yang baruku pelajari di sekolah. Maka tak heran jika aku selalu berprestasi di sekolah karena kecerdasan dan keahlianku.

Aku anak yang lugu, aku tak mempunyai banyak teman. Teman sekolahku banyak yang menjauhiku. Mereka enggan bermain denganku. Apa karena aku miskin? Entahlah, aku tak mengerti apa yang mereka pikirkan tentang diriku. Mereka berani pertama kali menemuiku ketika mereka membutuhkanku dan memanfaatkan kecerdasan dan keahlianku. Aku tidak mempermasalahkan semua ini. Aku tak mau memiliki banyak musuh. Hanya ada seorang gadis lugu berponi sama sepertiku yang ingin menjadi teman baikku. Dia adalah Gloria, teman sebangkuku. Gloria seorang gadis yang baik, rajin dan cerdas. Tapi sayangnya dia memiliki sifat yang ceroboh. Gloria sangat lihai dalam menggerakkan tubuhnya saat menari. Jari-jemarinya sangat lentik. Maka tak heran jika ia selalu menjuarai festival-festival tarian tradisional di Bali.

Tiba-tiba ponselku bergetar dan kuluangkan waktuku untuk membaca satu pesan singkat, karena penasaran. “Yu, kerajinan batik untuk besok sudah kamu selesaikan?” Ternyata pesan yang singkat itu berasal dari teman terbaikku, Gloria. 

“Sudah Glori, kerajinan batikku sudah selesai dua hari yang lalu. Kalau kamu gimana? Kamu sudah selesai belum?” Tanyaku penasaran. “Belum Yu, sepertinya hari ini akan kuselesaikan.” “Kebetulan sekali, bagaimana kalau aku bantu kamu selesaikan kerajinan batik itu?”, “Tidak usah Ayu, aku tidak mau merepotkan. Aku sering merepotkanmu.” “Gak masalah. Bagiku itu hanya langkah awal. Kamu sama sekali tidak merepotkanku.” “Gak papa Ayu, aku bisa selesaikan secepatnya”, “Bener nih gak apa-apa?” “Iya gak apa-apa. Kalau gitu sampai bertemu besok ya!”, “Sampai bertemu besok juga Glori!” Kataku, mengakhiri percakapan yang singkat itu.

Keesokan harinya, seperti biasa aku berjalan kaki menuju sekolah sejauh satu kilometer. Aku datang lebih awal. Aku berjalan kaki saat waktu fajar. Aku memang rutin melakukan hal ini, karena orangtuaku tidak mempunyai kendaraan. Penghasilan kedua orangtuaku hanya cukup untuk makan sehari-hari, belum lagi untuk membayarkan hutangnya. Tapi, aku tak keberatan melakukan hal ini, sebab sudahku niatkan diriku untuk menuntut ilmu. Aku berjalan kaki dalam suasana ramai yang dipenuhi oleh lalu lalang. Mengapa? Karena rumahku berada di daerah pasar yang banyak dilalui oleh wisatawan dalam maupun luar negeri yang biasanya mereka melalui jalan ini untuk membeli buah tangan yang akan dibawanya pulang.

Setelah lima belas menit berlalu, fajar pun mulai melihatkan cahayanya, suasana semakin ramai dan banyak teman sekolahku yang berlalu melewatiku bersama orangtuanya menggunakan kendaraan pribadi. Mereka melewatiku dengan begitu saja tanpa tegur sapa. Memakai seragam putih biru yang dilengkapi dengan atribut sekolah. Ya, sudah pasti mereka akan menuju ke sekolah.

Beberapa menit kemudian, dari kejauhan aku melihat pagar yang akan ditutup oleh Pak Satpam. Hatiku semakin tidak tenang dan jantungku berdebar sangat kencang, sebab aku tahu aku akan terlambat dan aku akan kehilangan sedikit ilmu, karena tak mengikuti pelajaran pertama dan kedua. Ketika itu, aku bergegas mengambil langkah panjang, berlari seperti angin dengan cepatnya. Aku tak memikirkan resiko yang akan terjadi. Benar saja, aku terjatuh dan tanpa kusadari, keranjang yang kubawa dari rumah terjatuh, dan barang daganganku hancur tak karuan. BRAAAAKK!!! “Aw, aduh… Ya ampun gimana ini??!!!” Ucapku dengan ekspresi dan nada yang khawatir. 

“Yang benar saja, kue-kue yang dibuat ibu jatuh semuaa… hikss.” Seketika itu, aku mulai menangis, aku tak tau apa yang harus kulakukan selain mengekspresikan keadaanku. Mataku tak mampu menahan air mataku yang perlahan-lahan keluar dari kelopak mataku, sebab kue yang seharusnya habis terjual harus bersentuhan dengan debu dan aspal. Aku memang selalu berjualan kue-kue tradisional buatan ibuku di sekolah. Aku tak malu. Aku ingin meringankan beban orangtuaku.

Ketika itu, orang-orang yang melintas di jalanan tempat aku tergores luka ringan mulai membantuku secara perlahan. “Kamu gak apa-apa?” Tanya seorang pengendara jalan. “Tidak apa-apa kok, saya hanya mengalami luka ringan saja.” Ucapku, karena aku tak ingin merepotkan sang pengendara jalan lain.

Aspal berhasil memahat dengkulku. Dengkulku kini dipenuhi cairan merah nan kental. Terpaksa aku menahan ke sakitan ini saat akan melanjutkan perjalananku ke sekolah. Setibanya di sekolah, aku sudah tak dapat mengikuti pelajaran pertama dan kedua, sebab aku harus menjaga pagar untuk sementara.

“Duuuhhhh… Ayu ke mana ya??!! Sebentar lagi kan pelajaran pertama akan dimulai. Gak seperti biasanya dia seperti ini..” tuturan kata terlontarkan dari mulut Gloria yang sedang berada di dalam kelas, karena khawatir dengan keadaan Ayu yang tak kunjung datang.

Detik demi detik telahku lewatkan, menit demi menit telahku lalui, hingga sang surya mulai memancarkan sinarnya yang mulai membara. Sebentar lagi telah tiba waktuku untuk memasuki lingkungan sekolah. Aku sudah tak sabar. Aku ingin segera mendapatkan ilmu yang baru. Karena aku sedikit kecewa dengan diriku yang ceroboh tadi pagi. Kreeeekkk “Kamu sudah diperbolehkan masuk, lain kali jangan terlambat ya” Pak satpam membukakan jalan untukku. “Iya pak, terimakasih” Aku sangat-sangat berterimakasih, aku sudah tak sabar bertemu dengan teman dan guruku.

Setibanya di kelas, keadaan kelas sangat gaduh, ada beberapa teman yang mengusikku. “Yaaeelah, ngapain sih si udik datang, padahal udah bagus-bagus tadi dia ga ada di kelas ini.” “Tau nih, bikin suasana kelas jadi panas aja!” Ya, itu adalah contoh cacian dari teman kelasku. Mereka memang sering mencaci-makiku. Mereka hanya memandangku sebelah mata. Tapi aku selalu menghiraukan itu. Aku tak ingin mencari-cari masalah.

“Ke mana aja sih kamu? Jam segini kok baru datang?” Tanya Gloria karena khawatir.

“Iya Glo, tadi aku udah datang pagi banget dari rumah, mungkin karena jalanku yang lambat.” Jawabku agar Glori tidak curiga. “Loh, kok daganganmu sudah habis? Kamu dagang dulu ya?” Tanya Gloria sambil memaksa ambil keranjang daganganku. “Awww…”, “Loh, kamu kenapa Yu?” “Duuuhhh.. eesstt” Spontan aku memegang luka ku sambil berdesah.

“Aku tadi tak sengaja jatoh Glo.” Terpaksa aku jujur karena Gloria semakin mendesakku. “Jatoh di mana? Kok bisa? Kamu sih ga hati-hati. Terus daganganmu juga jatoh?” Reaksi Gloria dalam keadaan khawatir. “Glo kamu nanya-nya satu satu dong. Aku juga gak tau gimana aku bisa jatoh. Mungkin karena aku terburu-buru karena pintu pagar sudah mau ditutup.” “Oh gituu, terus barang daganganmu?”. “Oh iya lupa aku sampaikan. Barang daganganku juga jatoh. Aku bingung bagaimana cara aku beri kabar sama ibuku. Aku takut ibuku marah Glo.” Jelasku. “Ya sudah, kalau gitu kamu ngomong baik-baik saja dulu dengan ibu kamu. Kamu jelaskan semua.” Ucap Gloria memberi saran.

Seketika itu suasana kelas yang gaduh beralih menjadi hening. Ya, benar saja, pelajaran selanjutnya akan dimulai. Pelajaran Seni Budaya, pelajaran yang aku gemari. “Hari ini ibu akan mengambil nilai seni kerajinan batik yang sudah ibu berikan tugasnya pada minggu lalu. Yang tidak membawanya terpaksa ibu kosongkan nilainya. Dan kalian juga tidak boleh masuk pelajaran ibu selama satu minggu.” Ujar guru seni budaya dengan tegas.

“Asgata, aduh Ayu…, gimana iniiii. Aku lupaaaa… Tugasnya belum ku selesaikan.” Ujar Gloria, panik. “Loh kok bisa? Bukannya semalem kamu yang ingatkan aku?” Tanya aku penasaran. “Iya, tapi kemaren aku diajak jalan-jalan ke pantai sama orangtuaku mendadak. Sehabis setelah itu, aku kembali di rumah. Aku sampai dirumah sekitar pukul enam sore. Karena aku kecapean, aku langsung tidur.”

Aku tak tega dengan keadaan Gloria, meskipun ini kesalahannya sendiri, aku tetap tak tega. Kusodorkan kain batik dengan balutan plastik hitam yang sudah kubuat selama empat hari dengan susah payahnya.

“Apa ini?” Tanya Gloria. “Sudah, kamu ambil saja ini. Nanti akan kubuat lagi kok.”, “Tttttaapii,…”. Ujar Gloria, tak dapat menerukan pembicaraannya karena aku langsung memotong pembicaraan. “Sudah, kamu ambil saja. Aku tidak apa-apa.” Kataku meyakinkan. “Bukan itu masalahnya Yu, taapii…”, “Hey kalian yang di belakang, dari tadi yang ibu dengar suara kalian saja. Kalau kalian tidak mau ikut pelajaran ibu, silahkan keluar! Dan yang gak membawa tugas membatik silahkan ikut keluar!” Seru Bu Mirna, guru sini budaya.

Lantas aku dengan sigapnya beranjak meninggalkan kelas.

Setibanya waktu pulang sekolah, seperti biasa, aku masih memikul tas dan keranjang yang ku bawa. Dalam perjalanan pulang sekolah aku masih dalam keadaan yang sama, dan aku berjalan dengan pincangnya karena peristiwa tadi pagi. Aku berjalan pincang, dengan keadaan ini membuatku semakin lama aku bisa melihat istana kecilku. Ya, benar sekali aku sedikit terlambat sampai di rumah. Sesampainya di rumah aku langsung di lemparkan beberapa pertanyaan dari ibuku. “Dagangan laku ora?”. “Ora, bu.” Aku memberanikan diri untuk jujur, agar ibuku tidak marah lagi karena ulahku. “Laah terus iki dagangan ne neng endi?” “Dagangan ne ambruk bu.” “Laah, piye toh.” “Aku ambruk di dalan bu. Dan dagangan ne juga ambruk. Nuwun bu, aku ora sengojo.”, “Duh gustii gustiii… Yo wes, pengen opo mene. Koe ngganti baju sana!” “Yo bu” Ya, semuanya memang tak bisa terelakkan. Aku melakukan hal yang bodoh. Aku membuat lebih banyak hutang orangtua ku untuk modalnya kembali.

Ya, hari ke hari telah berlalu. Masih seperti sedia kala, aku rutin berjalan kaki kesekolah. Hingga suatu hari, aku mendengar kabar akan ada festival budaya yang akan dilaksanakan minggu-minggu ini. Aku tertarik mendengar kabar yang bagus ini. Lantas kabar ini segera aku bagikan kepada teman terbaikku. Siapa lagi kalau bukan Gloria. “Gloriaaa…!!” Aku memanggilnya dengan teriakanku yang melengking ini. “Iya Ayu kenapa? Sepertinya hari ini kamu terlihat lebih semangat?! Ada apa?”. “Heheee.. Sebentar lagi akan ada festival seni di kawasan pantai Kuta. Kamu harus ikut nih!!”. Jelasku dengan semangat. “Waahh, kalau gitu temani aku mendaftar sekarang! Kamu juga harus ikut!” Tegas Gloria. “Pasti aku ikut, aku ingin sekali menjuarai festival itu!” Kataku dengan penuh semangat.

Setibanya di ruang pendaftaran, aku tak membawa uang saku. Sedangkan uang sakuku sehari-hari saja tidak cukup untuk mendaftar. Bagaimana bisa aku mendaftar acara festival itu. Aku tampak kebingungan. Aku gelisah. Dengan memasang raut wajah seperti ini Gloria tampaknya mengetahui permasalahanku. “Kamu kenapa? Sepertinya kamu kelihatan sangat gelisah. Ooohh, aku tau dimana permasalahanmu. Kamu tidak punya uang bukan?” Tanya Gloria. Aku segera menganggukkan kepalaku sebagai bahasa isyarat ‘Iya’. “Sudah kamu tidak perlu khawatir, aku punya uang lebih untuk kita mendaftar bersama. Karena kamu sudah membantuku kemarin, sekarang saatnya untuk aku membalas kebaikanmu.” Mendengar kabar itu, raut wajah sedih ku beralih menjadi raut wajah yang penuh dengan harapan. Dengan bantuan dari Gloria aku dapat menjadi salah satu orang yang mendaftarkan diri sebagai peserta pembatik festival budaya Indonesia mewakili sekolahku. Sedangkan Gloria mendaftarkan diri sebagai penari tradisional yang sama seperti hobinya.

Empat hari sudah berlalu, besok adalah puncak acaranya. Aku sudah mempersiapkan diri untuk berlaga besok. Begitu pula dengan Glo. Festival budaya ini dilaksanakan selama tiga belas jam WITA. Festival budaya tahun ini diikuti oleh lebih dari ribuan peserta. Aku dan Glo sangat antusias, walaupun kami tahu kesempatan untuk menang terlalu kecil.

Keesokan harinya, aku dan Glo pergi bersama ke kawasan pantai Kuta, acara festival itu digelar dengan didampingi oleh orangtua masing-masing. Aku sudah mempersiapkan dan membawa peralatan membatikku. Sedangkan Glo membawa perlengkapan tarinya. Tak terasa hari cepat berlalu, tiba waktunya pembukaan acara festival itu di mulai. Pembukaan acara festival berupa tarian adat Bali yaitu tari Kecak.
Pembukaan acara festival sangat meriah. Semua pengunjung memberikan tepuk tangan yang meriah pada akhir pertunjukkan. Tak lupa pula kami melakukan ritual-ritual adat yang lainnya. Seperti upacara adat untuk sesembahan leluhur kami.

Hari-hari, terus berlalu tiba saatnya Gloria menampilkan bakat menarinya di depan umum. Dari kejauhan aku melihat Glori yang menari sangat lihai. Ia menarikan tarian Pendet. Ia tampak lebih anggun. Matanya sangat tajam. Tatapannya membuat indra penglihatku tersayat-sayat. Orang-orang banyak mengambil gambarnya. Ketika itu pula aku terus membuat batik karyaku. Mulai dari membuat pola, memanaskan lilin dan mengukir satu-persatu kain putih menggunakan canting. Tak ada kesulitan yang aku alami. Semuanya berjalan dengan lancar. Aku mulai mengukir secara perlahan. Dimulai dari bercak kecil hingga membentuk motif flora. Lama-kelamaan kain milikku yang kubawa dari rumah berubah warna. Yang awalnya putih bersih tanpa bercak noda namun kini, kain yang melambangkan simbol suci itu telah mengukir motif flora yang sangat eksotis. Aku mengukir dan terus mengukir batik. Ketika itu hari sudah semakin senja. Aku harus mengajar waktuku untuk menyelesaikan karyaku yang sangat berharga ini. Karena dengan cara ini merupakan awal yang akan aku capai. Awal dari segalanya.

Tepat pukul tujuh WITA, proses pewarnaan sudah ku lakukan. Yang ku lakukan saat ini adalah menanti gersangnya air pada kain batikku. Ya, memang sangat lama bukan? Aku tetap bersabar dan aku sangat semangat pada hari ini. Aku tak merasakan letih sama sekali.

Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu telah tiba. Kain batikku sudah kering. Kupandangi dan terus kupandangi batik karyaku. Begitu tampak indahnya jika dalam keadaan kering. Aku segera memberikan batikku ini kepada dewan juri beratas namakan Ni Made Ayu Jelantik. Harapanku semakin besar untuk menjurai festival ini.
Momen yang kutunggu-tunggu telah tiba. Sebentar lagi akan ada penutupan serta pemenang lomba acara festival yang dipandu oleh Walikota Denpasar, Bali. Hadiahnya tak tanggung-tanggung. Juara utama akan diberikan uang tunai sebesar Rp 5.000.000.00,- dan berhak untuk mengikuti lomba festival budaya tingkat nasional. Di sinilah harapan terbesarku. Aku ingin terus berkarya hingga negeri seberang. Aku ingin orang-orang yang sudah mengucilkanku tak memandangku sebelah mata lagi.

“Baiklah, saya akan membacakan serta menyerahkan hadiah kepada pemenang pada malam hari ini.” Tutur pak walikota. “Untuk pemenang kategori penari terbaik jatuh kepada Gloria Valensia. Kepada pemenang silahkan menaiki panggung.” Lanjut pak walikota. “Waaahhhh, selamat Glo, akhirnya yang kamu nanti tercapai juga.” Kataku. “Iya terimakasih, semoga kamu bisa menyusulku nanti!” Seruan Gloria memberi semangat kepadaku. “Dan untuk pemenang pembatik favorit jatuh kepada Agnes.” Tutur pak walikota. Di sini harapanku sudah mulai pupus. Ya, Agnes. Dia adalah orang yang selama ini mengucilkanku. Di atas panggung kulihat dari kejauhan matanya mengarah pada diriku. Ia masih sempat-sempatnya mengucilkanku. Tapi ini semua kuhiraukan. Aku tak peduli walau aku tak menang. Dan aku memutuskan untuk pulang saja.

“Daannn, juara pertama kategori pembatik terbaik dan terfavorit jatuh kepadaaa.. Ni Made Ayu… Selamat untuk Ayu, silahkan menyusul temannya di atas panggung.” Ucap pak Walikota melanjutkan. Seketika itu, sontak aku menghentikan langkahku. Berlari menyusuri jalan yang minim. Raut mukaku yang penuh dengan penyesalan berubah menjadi berseri-seri. Sungguh aku tak menyangka akan menjadi seperti ini. 

“Waah, apa yang kubilang, pasti kamu akan menyusulku di sini.” Ucap Gloria menyemangati. “Hehee terimakasih ya Glo.” Kataku kehabisan kata-kata.

Selanjutnya adalah acara penyerahan hadiah. Hadiah ini akan kupersembahkan untuk orangtuaku. Sebagai gantinya kemarin aku telah mejatuhkan barang dagangan ibuku. Setelah itu, lantas aku menyalami kedua temanku dengan ekspresi wajah yang sangat gembira ria.

Itu merupakan kisah yang kualami sejak lima tahun yang lalu, sekarang aku menjadi mahasiswa di Chicago University, Amerika dengan jurusan seni. Aku tak ingin begitu saja melepas bakatku. Aku akan selalu mengasah bakatku ini. Sebab, karena seni-lah aku bisa mendapatkan beasiswa hingga negeri seberang. Di sini aku belajar sambil berdagang batik. Kuluangkan waktuku untuk membuat batik di waktu senggangku. Puji Tuhan, aku mendapatkan banyak keuntungan di tempat ini. Dan aku akan terus mengikis ilmu di tempat ini. Bersama dengan Gloria, teman terbaikku. Inilah akhir cerita ku.


Karya : Noor Nadhira

WARISAN

Lisa, seorang anak remaja yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Dia anak dari keluarga yang kurang mampu. Beda dengan teman-temannya yang memiliki materi yang berkecukupan. Suatu hari, di kantin sekolah ramai anak-anak yang sedang membahas barang-barang baru yang mereka miliki seolah sedang berlomba siapa yang paling kaya di bangku itu.

“Eh, liat ini hape baruku, bagus kan? Dapat warisan dari keluargaku” kata arni. “Liat ini laptop baruku canggih dapat warisan juga dari kakekku” kata yuli. “kalung baruku cantik pacarku kasih dapat warisan juga kayaknya” kata mira. Mereka saling menyombongkan satu sama lain membuat Lisa kesal dan pergi dari kantin tersebut.

Di rumah Lisa, ibunya tengah sakit. Lisa yang memendam kekesalan, dia melampiaskan pada ibunya. “ibu kita kenapa miskin bu? Tidak adakah warisan dari keluarga kita bu?” kata Lisa. Ibunya memberikan Baju Adat Bugis yang biasa dipakainya saat menari. Namun, Lisa yang tidak mengerti maksud dari pemberian itu malah kembali marah “apa maksudnya bu!? Apa Cuma ini warisanmu!? Warisan dari keluarga kita!? Saya tahu ibu dulu penari adat bugis, tapi… (sambil terisak tangis)” kata Lisa sambil terisak tangis, lari menuju kamarnya.

Dalam kamarnya, Lisa mengenang masa lalunya ketika dia masih melihat ibunya sedang menari. “Ibu, cantik sekali, pintar menari Lisa mau kayak ibu” kata Lisa kecil. “Lisa juga cantik, ini adalah warisan kita anakku, warisan yang melebihi kekayaan manapun, karena hanya di tanah ini warisan ini lahir dan di tanah inilah warisan ini harus selalu diwariskan kepadamu dan anak-anak yang ada di tanah ini, jadi kita harus hargai dan menjaga warisan kita agar selalu membudaya di tanah ini dan negeri seberang” Ibu Lisa. Kembali ke masa ini, Lisa keluar dari kamarnya dan mengambil baju tersebut, mengenakannya, dan menari seperti ibunya.


Karya : Muhammad Fathur J

10 JUTA

Di bawah teriknya paparan matahari, di antara hamparan sawah yang menguning, dan pepohonan yang menari ditiup sang bayu, Adam mengayuh sepedanya dengan gembira bersama kedua temannya. Ia memang suka berkeliling desa kelahirannya itu.

“Wah, keadaan di Kajen memang top banget, ya?” kata Fadhil, salah seorang teman Adam.

“Tentu dong. Desa kelahiranku gitu lho.” sahut Adam.

“Pondok-pondok pesantren seolah-olah menyambut kita, begitu juga masjid. Lantunan ayat Al-Qur`an terus berdengung di kuping. Jadi adem banget di hati hehehe…” kata Agung.

“Kesannya Desa Kajen ini agamis banget.” kata Fadhil lagi.

“Oh ya, tentu. Kan di Kajen banyak orang-orang yang agamis, contohnya aku, hahaha…” sahut Adam sambil cekikikan.

“Kamu agamis? Agamis dari mananya?” ejek Agung.

“Dari matamu.. matamu.. Kumulai jatuh cinta. Hahahaha…” suara nyanyian Adam.

“Maho!! Masak cowok jatuh cinta sama cowok? Dasar!!” sahut Fadhil.

“Idihh.., siapa juga yang mau dicintai sama Adam?” kata Agung jijik melihat kelakuan Adam.

“Ada dong pastinya, hehe. Oh iya, nanti kita ke gubuk biasa, kan?” tanya Adam kepada kedua temannya.

“Pastinya!!” kata Fadhil dan Agung bersamaan.

Mereka bertiga pun mengayuh sepeda dengan secepat kilat. Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di sebuah gubuk kecil di tengah hamparan padi menguning yang bergoyang ditiup sang bayu. Mereka bermain dan bersenang-senang di sana.

“Segarnyaaa udara di siniii…” kata Adam.

“Iya, tapi kalau nggak ada kamu mungkin udaranya bisa tambah segar. Hahaha..” ejek Agung lagi.

“Maksud kamu aku setan, gitu?” tanya Adam kepada Agung.

“Lho, aku kan nggak bilang gitu, Dam. Tapi, alhamdulillah, kalau kamu nyadar.” jawab Agung santai.

“Wis.., wis ah!! Ayo pulang!! Sudah siang ini, nanti ibu kita marah, lho.” ajak Fadhil.

“5 menit lagi, Dhil.” kata Adam.

“Ya wis, 5 menit lagi.” kata Fadhil.

Setelah 5 menit berlalu mereka pun mengayuh sepeda lagi untuk pulang ke rumah masing-masing dengan perlahan. Tiba-tiba, Adam mengerem sepedanya tepat di depan makan Syekh Ahmad Al-Mutamakkin.

“Lho, lho, ada apa ini? Kok berhenti, Dhil?” tanya Agung kepada Fadhil.

“Mboh, Si Adam kok. Ada apa, toh, Dam? Kok mendadak berhenti?” tanya Fadhil kepada Adam.

“Lihat, deh! Itu ada apa di makamnya Syekh Mutamakkin? Kok rame banget?” tanya Adam.

“Oh itu tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin, Dam.” jawab Fadhil.

“Tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin? Tradisi apa itu, Dhil?” tanya Adam lagi.

“Itu tradisi yang ada di Kajen untuk menghormati jasa Syekh Mutamakkin, Dam.” jelas Fadhil.

“Syekh Mutamakkin itu siapa, Dhil?” tanya Adam lagi.

“Wis, nanti tanya bapakmu saja, sekarang kita pulang aja!!” ajak Fadhil.

Setibanya di rumah, Adam bertanya kepada Bapaknya mengenai tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin.

“Pak, Syekh Mutamakkin itu siapa, toh?” tanya Adam kepada Pak Abdul, bapaknya.

“Syekh Mutamakkin itu leluhur di Desa Kajen ini, le.” jawab Pak Abdul.

“Lalu tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin itu buat apa, Pak?” tanya Adam lagi.

“Itu tradisi buat mengormati jasa-jasa Syekh Ahmad AL-Mutamakkin.” jawab Pak Abdul.

“Seberapa besar, sih, Pak, jasa beliau? Kok sampai tiadakan tradisi kayak gitu.”

“Ya besar banget jasa beliau, le. Beliau itu sudah menyebarkan Islam di Desa Kajen dan sekitar Kota Pati.”

“Pak Abdul!!” suara seseorang dari luar rumah.

“Sebentar ya, le!” suruh Pak Abdul.

Pak Abdul pun pergi menuju ke teras rumah diikuti Adam di belakangnya.

“Piye, Pak? Sudah ngirim besek dan ambengan, belum?” tanya Pak Slamet, tetangga sebelah Pak Abdul.

“Sudah, Pak. Kemarin sore sudah tak antar.” kata Pak Abdul kepada Pak Slamet.

“Oh, nggih sampun, Pak Abdul. Matur nuwun.” kata Pak Slamet.

“Besek itu apa, Pak?” tanya Adam.

“Besek itu makanan yang dimasukkan ke dalam wadah dari anyaman bambu atau ditaruh di wadah berbentuk bundar, le.” jawab Pak Abdul.

“Kalau ambengan?” tanya Adam lagi.

“Ambengan itu nasi, lauk serta ayam utuh yang di masak dan ditaruh dalam wadah berbentuk bundar, le.” jawab Pak Abdul.

“Buat apa iu, Pa`e?” tanya Adam lagi.

“Buat bancakan bagi para peziarah di makan Syekh Mutamakkin. Setiap keluarga wajib membuat 3 besek dan ambengan, le. Sebelum dibagikan kepada peziarah, makanan tersebut dido`akan agar mendapat barokah.” jelas Pak Abdul.

“Itu termasuk serangkaian acara tradisi 10 Sura Syekh Ahmad Al-Mutamakkin, Pak?” tanya Adam.

“Bukan, besek dan ambengan itu cuma untuk dibagikan kepada peziarah, le.” jawab Pak Abdul.

“Kalau begitu apa saja acara-acara tradisinya, Pak?”

“Pertama-tama diadakan Tahtiman Al-Qur`an Bilghoib dan Binnadhor pada tanggal 6 Sura. Kemudian, setelah acara tersebut berakhir, besek dan ambengan dibagikan.” jelas Pak Abdul.

“Bedanya Tahtiman Al-Qur`an Bilghoib sama Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor apa, Pak?” tanya Adam.

“Kalau Tahtiman Al-Qur`an Bilghoib untuk tamu undangan saja, sedangkan Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor untuk khalayak umum yang tidak hafal Al-Qur`an.” kata Pak Abdul.

“Setelah itu apa ada acara lagi, Pak?” tanya Adam lagi.

“Ada, le. Pada tanggal 9 Sura, ada acara buka selambu makam lama dan pelelangan. Kedua acara itu dimulai dari jam 7 pagi.” kata Pak Abdul.

“Selambu makam? Apa itu, Pak? Adam kok nggak pernah tahu?”

“Selambu makam itu penutup makam, supaya makam itu tetap bersih dan suci.”

“Ohh gitu. Buat apa penutup makam dilelang, Pak? Memang ada yang mau? Terus mau diapakan, Pak? Buat besok kalau yang lelang meninggal?” tanya Adam berurutan.

“Hahahaha…, kamu ini ada-ada saja toh,le. Orang di sini percaya kalau selambu makam itu punya banyak kegunaan, diantaranya sebagai pengobatan, penglaris, menjaga keselamatan diri, dan masih banyak lagi. Bapak pun percaya tentang kegunaan selambu makam Syekh Mutamakkin.”

“Haaa??!!! Beneran itu, Pak?” tanya Adam seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh bapaknya.

“Iya, masak bapak bohong? Besok kamu ikut bapak ke makam Syekh Mutamakkin, ya! Nanti kita ikut Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor, ajak ibumu sekalian!” ajak Pak Abdul.

“Siap, Pak.”

Keesokan harinya, Pak Abdul sekeluarga pergi ke makam Syekh Mutamakkin.

“Wahh.., makamnya bagus banget! Nggak kayak makam-makam kayak biasanya.” kata Adam.

“Iya, Adam, ini kan makam leluhur Desa Kajen.” sahut Bu Fatimah, ibu Adam.

Setelah selesai mengikuti acara Tahtiman Al-Qur`an Binnadhor, mereka bertiga kembali ke rumah. Setibanya, Bu Fatimah segera pergi ke dapur dan membuat teh serta membawakan biskuit untuk Pak Abdul dan Adam.

“Yee…, ibu bikin teh…” teriak Adam.

“Kamu ini kayak nggak pernah ibu bikinin teh aja.” sahut Bu Fatimah sambil senyam-senyum.

“Abisnya teh buatan ibu enak, sih…”

“Ah, kamu bisa saja.” kata Bu Fatimah.

“Assalamu`alaikum.” salam orang dari luar rumah.

“Wa`alaikumsalam.” salam Bu Fatimah lalu menuju ke luar rumah.

“Ehh, Pak Samad, silahkan masuk, Pak! Adam, ini Pak Samad sudah datang!” teriak Bu Fatimah.

“Kok tumben jam segini Pak Samad sudah datang? Biasanya setelah Maghrib?” tanya Adam kepada Pak Samad.

“Nanti malam Pak Samad mau pergi. Ayo, kemarin ngajinya sampai di mana?”

Adam pun segera membaca lantunan ayat-ayat Al-Qur`an. Sementara itu, Pak Abdul dan Bu Fatimah tengah asyik mengobrol sambil menonton televisi dan menikmati hidangan yang ada.

“Oiya, Bu, ibu tahu tentang pelelangan selambu makam Syekh Mutamakkin, nggak?” tanya Pak Abdul.

“Ibu tahu, Pak. Ada apa?”

“Bapak pengen lelang selambu itu.”

“Haa?!! Bapak mau lelang? Buat apa, Pak?” tanya Bu Fatimah.

“Selambu makam Syekh Mutamakkin, kan dipercaya bisa mendatangkan barokah, Bu.” jawab Pak Abdul.

“Memangnya bapak mau lelang berapa?” tanya Bu Fatimah lagi.

“10 juta.” jawab Pak Abdul singkat.

“10 juta? Bapak gila? Itu terlalu banyak, Pak? Selambu kayak gitu juga banyak di toko-toko pinggir jalan, malahan lebih murah.” kata Bu Fatimah.

“Itu bedalah, Bu. Itu nggak bisa mendatangkan barokah.”

“Ya penting murah, Pak.”

“Nggak bisa gitu dong, Bu!!”

“Ya bisa dong, Pak! Pokoknya ibu nggak setuju kalau bapak mau lelang 100 juta, kalau 1 juta ibu setuju.”

“1 juta? Mana dapet, Bu. Selambu kayak gitu yang lelang banyak, pengusaha-pengusaha lagi.” kata Pak Abdul.

“Pokoknya ibu nggak bolehin bapak lelang 10 juta. Mubazir, Pak. Cuma buang-buang uang aja! Mendingan uang 10 juta itu ditabung buat keperluan besok. Jangan malah dibuat lelang selambu kayak gitu.” kata Bu Fatimah dengan nada agak tinggi.

“Selambu itu bisa datengin barokah, Bu. Siapa tahu setelah kita beli selambu itu, kita dapet uang 1 milyar. Kan untung, Bu.” kata Pak Abdul menyakinkan.

“Iya kalau dapat, kalau enggak? Kan rugi. Hari gini kok masih percaya sama selambu kayak gitu. Itu cuma selambu biasa, Pak, di toko-toko pinggir jalan tuh juga banyak yang jual. So, ngapain harus lelang 10 juta kalau banyak selambu yang harganya paling cuma 100 ribuan. Mending uang 10 juta ditabung, Pak. Lebih berguna!!” bentak Bu Fatimah.

Saking kencangnya keributan antara Pak Abdul dan Bu Fatimah, Pak Samad, guru mengaji Adam jadi tidak fokus mengajar Adam. Pikiran beliau terus mengarah ke keributan itu.

“Astagfirullah.., ada apa itu, Adam?” tanya Pak Samad.

“Dari tadi bapak dengar ada keributan.” tambah Pak Samad.

“Iya, Pak. Adam juga dengar.” kata Adam.

“Sepertinya orangtua kamu bertengkar. Bapak ingin melerainya, tapi bapak tidak tahu permasalahannya. Kamu tahu tidak?” tanya Pak Samad.

“Adam juga nggak tahu, Pak. Biasanya bapak sama ibu nggak kayak gini.”

“Plaakkkkk…” suara tamparan Pak Abdul.”

“Allahu Akbar..” kata Pak Samad yang langsung berlari menuju ke sumber keributan disusul oleh Adam.

“Kamu beraninya main kasar, ya? Kamu pikir aku takut sama kamu? Haa?!! Nggak sama sekali!! Mentang-mentang kepala keluarga, bisa seenaknya sendiri. Kamu pikir cari uang gampang apa?” bentak Bu Fatimah.

“Seenaknya? Kalau mau ngomong dipikir dong!! Aku ngelakuin ini juga biar keluarga kita dapet barokah. Kamu bukannya dukung suami mau berbuat baik kok malah marah-marah!!” bentak Pak Abdul.

“Pyaarrrr…” suara vas bunga yang dibanting tepat di bawah kaki Adam.

“Aduuuhhhh…” teriak Adam.

“Adamm!!” kata Bu Fatimah, Pak Abdul, dan Pak Samad bersamaan.

Pak Abdul dan Pak Samad pun membopong Adam ke sofa, sedangkan Bu Fatimah mengambil P3K di kamarnya.

“Pak Abdul sama Bu Fatimah kenapa bertengkar? Ada masalah apa? Barangkali saya bisa bantu.” tawar Pak Samad.

“Ini, Pak, masak saya dilarang lelang selambu makam Syekh Mutamakkin sama istri saya.” kata Pak Abdul kesal.

“Iya jelas saya larang dong, Pak. Masak lelang 100 juta? Gila banget!! Dia pikir cari uang gampang apa?” kata Bu Fatimah.

“Kamu tuh yang gila. Suami mau berbuat baik malah dilarang. Pinter banget kamu!!!” kata Pak Abdul lagi.

“Memang aku pintar dari lahir. Sudah jelas-jelas kalau itu cuma buang-buang uang saja! Mubazir, ya kan, Pak Samad?” tanya Bu Fatimah.

“Ya enggaklah itu kan buat penghormatan kepada Syekh Mutamakkin. Lagipula hasil lelangnya juga buat kegiatan-kegiatan Islami.”

“Alahh…, nggak usah bohong kamu. Kamu pikir dengan kamu bilang kayak gitu aku jadi ngizinin kamu lelang gitu? Nggak bakal!!”

“Sudah.., sudahhh!!! Kok malah ribut lagi!!” bentak Pak Samad.

“Iya nih, bapak sama ibu kayak anak kecil aja! Sudah dong, jangan ribut lagi! Semua masalah kan bisa diselesaiin dengan kepala dingin. Jangan pakai emosi!!” sahut Adam.

Pak Abdul dan Bu Fatimah pun diam, kemudian Pak Samad menjelaskan semua yang menjadi permasalahannya kepada Pak Abdul dan Bu Fatimah.

“Begini ya, Bu Fatimah, bukannya saya mau memihak pada Pak Abdul, tapi memang apa yang dikatakan Pak Abdul itu benar, Bu. Selambu itu dapat digunakan sebagai penghormatan kepada Syekh Ahmad Al-Mutamakkin serta pembawa barokah seperti apa yang dikatakan Pak Abdul tadi. Selambu itu juga bisa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan lewat perantara Syekh Ahmad Al-Mutamakkin. Itu bukan buang-buang uang atau mubazir, Bu. Tapi, lelang itu merupakan sarana bagi kita untuk beramal. Karena, hasil dari pelelangan selambu tersebut, akan digunakan untuk keperluan Islami di Desan Kajen, seperti pembangunan masjid, dan lain-lain. Jadi, kita jangan hanya memikirkan dunia saja, melainkan akhirat juga, Bu. Semakin banyak jumlah uang yang kita sumbangkan semakin banyak juga pahala yang akan kita peroleh.” jelas Pak Samad.

“Jadi, yang saya pikirkan itu salah ya, Pak Samad?” tanya Bu Fatimah.

“Iya, Bu. Itu memang sudah tradisi yang diadakan setiap tahunnya di Kajen, Bu.” tambah Pak Samad.

“Ohh…, Pak…, ibu minta maaf, ya? Ibu sudah salah, ibu kira itu cuma buang-buang uang saja. Maafin ibu, ya, Pak?” pinta Bu Fatimah.

“Iya, Bu. Bapak juga minta maaf, ya, Bu, tadi bapak sudah menampar ibu?” kata Pak Abdul.

“Iya, Pak. Besok kita datang ke pelelangan bareng-bareng, ya, Pak?” tanya Bu Fatimah.

“Siapp, Bu!!” sahut Pak Abdul.

“Nah.., gitu dong, Pak, Bu, yang rukun!! Jangan berantem lagi!! Kayak anak kecil tau!! Hehehe…” sahut Adam.

Keesokan harinya, Pak Abdul sekeluarga mengadiri acara pelelangan selambu makam Syekh Ahmad Al-Mutamakkin dengan sukacita. Dan akhirnya, penawaran tertinggi jatuh pada Pak Abdul dengan nilai Rp. 10.000.000,00. Pak Abdul dan Bu Fatimah pun sangat senang bisa mendapatkan selambu tersebut dan mereka berdua berjanji akan menyimpannya dengan baik.


Karya : Almaida Lathifa

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...