Pages

Monday, November 11, 2019

TERPESONA OLEHMU DANAU TOBA

Awan putih bergumul gumul seperti kapas berarak santai lemah gemulai di langit. Sesekali matahari yang sedang mempertontonkan kekuatan sinarnya kesal karena tertutupi oleh awan. Dengan sedikit bantuan angin matahari mengusir pergi awan agar pergi sedikit saja lagi kearah kiri. Hingga matahari dapat senantiasa memperlihatkan otot otot kekar sinarnya berjalar-jalar hingga menusuk bumi Sebuah pertunjukan langit yang luar biasa sebenarnya, kalau aku sedang dalam kondisi hati yang biasa. Matahari jadi kecewa karena alpa tepuk tangan dariku, sunyi dari sorak sorai mulutku yang mengagumi ketampanan matahari. Maaf, hati ku kini sedang diselimuti kekecewaan tingkat Internasional. Sesuatu apa lagi yang dapat melebihi rasa kecewa ini jika dirimu, yup dirimu yang sedang asik asiknya menikmati pertemanan, sedang menanjak karirnya pada beberapa kegiatan ekskul di sekolah, menjadi seorang sekertaris osis, hang out di mall beberapa kali sebulan, lalu kemudian tiba tiba kesenangan itu diberangus dengan sebuah keputusan yang sungguh menyakitkan.

Apa lagi kalau bukan menyakitkan sobat? Ayahku yang seorang Dokter yang PNS, kini harus pindah tugas ke daerah terpencil nun jauh di pelosok entah mana. Dengan prinsip Ayah, makan tidak makan yang penting ngumpul, tentu saja adalah sebuah ilusi jika aku dibiarkan berada di sini, di Jakarta ini dan meneruskan sekolah di sini tanpa di ganggu oleh kepindahan Ayah, tentu saja sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, ia akan memboyong kami semua ke tempat di mana ia bertugas. Oh Ayah sayang, entah mengapa engkau tak berusaha membatalkan tugas ini demi menjaga mentalku Ayah. Demi menjaga stabilitas kejiwaanku yang mungkin saja bisa terganggu kalau-kalau aku dijauhkan dari semua teman-temanku dan di cerabut dari gegap gempitanya Mall dengan berbagai hiburan yang ditawarkannya. Bukankah bisa Ayah sedikit saja berkorban untuk menyerahkan uang agar Ayah tak jadi dipindahkan, hal ini kuketahui saat aku pernah beberapa kali menangkap pembicaraan, bahwa pindah tugas bisa dihindari dengan memberikan sejumlah uang pada seseorang yang dapat mengurusnya.

“Kepindahan ini Ayah yang minta Shafira.. sudahlah jangan merengek terus, tinggal di sana tak seburuk yang kau bayangkan”. Ucap Ayah tatkala kusarankan agar memakai tabunganku untuk menyogok pemerintah agar tak jadi dipindahkan.

Apanya yang tidak seburuk yang kubayangkan. Zikra, teman sekelasku, ia pindahan dari Pematang Siantar Sumatera Utara, Zikra dengan nyata menjelaskan daerah yang menjadi wilayah tugas Ayahku ini sangat dekat dengan tempat Ayahnya tugas saat ia SD dulu, Ayah Zikra seorang Pejabat Militer dengan jabatan tinggi yang pernah menjadi Komandan tertinggi di kota Roti itu. Kata Zikra desa yang menjadi tujuan kami ini berjarak hanya sekitar dua jam dari jantung kota Pematang Siantar. Masih di daerah tepi danau Toba, namun bukan di kota Parapat yang lumayan terkenal itu, tapi daerah tepi yang lain, sudut yang lain yang belum banyak di jamah manusia.

Aku bergidik ngeri karena Zikra bilang tak ada Mall, jangankan Mall mencari mini market kecil saja susah, yang ada hanyalah warung-warung kecil yang menjajakan makanan ala kadarnya untuk masyarakat sekitar dan juga beberapa wisatawan penikmat Danau Toba dalam view yang berbeda yang sering berkunjung di akhir minggu. Daerahnya kotor, orangnya galak dan suka marah marah.

“Di sana tuh ya, banyak orang Batak, kau taukan orang batak itu galaakk…!” tandasnya kejam tak peduli pada hatiku yang jadi menciut sebesar fosil amuba. Terbayang sudah teman temanku di sekolah nanti seperti apa. Menurut gossip yang beredar orang batak memang galak dan suka ngomong dalam volume yang poll dan kasar pula, bahkan di daerah pedalaman masih ada yang menjadikan manusia sebagai lauk makan sehari-hari. Apakah daging itu juga dicolekkan ke sambal terasi? Oh tidaaaakkk. Bulu kudukku tak henti hentinya menari tarian shuffle.

“Bundaaaa… Shafir ga mau pindaaahh!” rengekku suatu malam sambil memeluk Bundaku kuat kuat.

“Shafira, kau pasti akan terbiasa nantinya… tenang sajalah…”

“Terbiasa apanya bun? Maksud Bunda, terbiasa makan orang juga gitu..? enggaaaakk mauuu!”

“Hahahaha… kamu ini ngaco, udah tidur sana, besok Ayah dan Bunda mau kesekolahmu, urus surat pindahmu”

Aku masih menatap dari balik jendela kamarku yang sudah tidak bertirai lagi, tirainya sudah masuk dalam kotak dan sudah di bawa pergi bersama barang-barang lainnya oleh sebuah truk ekspedisi. Matahari masih coba tebar pesona, namun kini ia harus takluk oleh awan abu-abu yang mulai datang mengacau, bergulung gulung menyelimuti ketampanan sang matahari tanpa ampun. Langit yang cerah kini ubah jadi kehitaman. Sedikit gelap. Aduh galaunya matahari itu karena tak mampu mempertontonkan cahayanya lagi, sama galaunya dengan hatiku ini sobat.

“Shafira, Ayo nak, taksinya sudah datang tuh, nanti kita ketinggalan pesawat lho” Bunda menghampiriku, dengan lembut ia meletakkan kedua belah tangannya ke bahuku.

“Nanti pemandangan keluar kamarmu tak lagi hanya sekedar taman sempit ini, tapi sebuah danau terindah dan terluas yang terhembus namanya hingga ke manca Negara. Danau itulah menjadi temanmu bermain di halaman rumah kita nanti. Bukankah itu sungguh menyenangkan?”

“Benarkah itu bun?” tanyaku malas, karena aku yakin bunda hanya sedang berusaha menghapus gundahku saja.

“Tentu saja benar, yuk.”

Aku menurut kali ini, tak mungkin aku menjerit-jerit tak tentu arah di sini. Tapi lihat saja nanti, sampai di sana aku akan memasang muka masamku tanpa henti-henti selama dua puluh empat jam, tak mau makan, tak mau minum, tak mau belajar, hingga Ayah Bunda menyerah dan mengirimkanku kembali ke Jakarta dan tinggal bersama Nenek. Lihat sajaaa, pekikku dalam hati.

Pemandangan malam dengan lampu lampu di sana sini indah menyambut kami di bandara Polonia Medan, tepat pukul tujuh kami mendarat mulus di kota yang terkenal dengan duriannya ini. Ayah sudah menjanjikan makan durian saat kami tiba di Medan. Kami masih harus menginap semalam di kota ini sebelum besok pagi melanjutkan perjalanan darat selama lima jam ke Tiga Ras, konon itulah nama tempat yang akan kami tuju, tempat baru Ayah bertugas. Beberapa hari yang lalu Ayah sudah mereservasi sebuah hotel yang terdekat dengan bandara, dan memberitahukan bahwa mobil Ayah yang di bawa melalui perjalan laut akan dialamatkan ke sana, semua mudah berkat bantuan manajer hotel yang ternyata teman SMP Ayah. Dengan mobil itu nantinya kami berkeliling Medan dan besok pagi melanjutkan perjalan lagi.

Malam ini aku begitu banyak makan, acara mogok makan belum berlaku di sini, nanti saja kalau sudah sampai di sana, begitu lincah aku berjalan jalan di salah satu mall yang terbesar di kota ini. Aku minta dibelikan baju dan sepatu sebagai jaga-jaga, tak adanya Mall di sana. Bunda menggunakan kesempatan ini untuk sekalian berbelanja keperluan rumah tangga untuk stok sebulan ke depan. Hingga keletihan dan merebahkan diri di kamar hotel yang nyaman.

Perjalanan esok paginya sungguh melelahkan, aku tertidur dari Medan hingga terbangun dan kini tengah di kepung oleh pohon pinus berbaris baris, udara yang tadi sedikit panas kini jadi lebih dingin, bunda sampai menaikkan suhu AC pada mobil, dan memberikan sehelai syal lebar padaku sebagai selimut. Tak lama Ayah membelok pada sebuah simpang tiga.

“Kalau terus bisa ke Parapat” Jelas Ayah pada siapa yang mendengarkan, Ayah tahu daerah sini, ia pernah bersekolah di Porsea sebuah kota kecil setelah Parapat, yang dapat di tempuh satu jam lagi. Maka tak heran pindah tugas ke daerah Sumatera Utara adalah impian terbesarnya, untuk kembali merajut kenangan kenangan masa kecilnya.

Pemandangan yang disajikan kini telah berubah dari hutan pinus nan rindang hingga jalan menjadi sedikit gelap menjadi kebun kebun sayur nan subur dan elok, ada tomat, cabai, bahkan kopi. Mataku terbelalak takjub melihat hamparan pohon tomat yang sedang berbuah lebat, bulat bulat hijau kemerah merahan bergantung pada pohon yang menyangga pada sebuah kayu penyangga yang sengaja di tancapkan di tanah dan tali temali palstik yang di paut dalam konfigurasi tertentu untuk melayani rambatan pohon tomat. Jarang kutemukan pemandangan semacam ini, kecuali tatkala Ayah mengajak liburan ke puncak, itu pun hanya sesekali. Ayah tak begitu suka pada perjalanan ke sana yang acap kali di landa kemacetan parah. Terdapat jarak yang cukup jauh antar satu rumah ke rumah yang lain, semua di pisahkan oleh kebun-kebun yang hijau. Rumahnya pun kebanyakan terbuat dari papan, sangat sederhana bahkan terkesan kumuh. Walau ada satu dua rumah yang sudah permanen.

Makin lama jalan semakin menurun dan berkelok kelok tajam. Mataku terbelalak, lebih lebar di banding saat menyaksikan tomat bergelayutan di pohonnya tadi. Aku sampai menegakkan dudukku melongok lebih dekat ke arah kaca mobil bagian depan.

“Subhanallah” tak sadar bibirku bergetar.

Sebuah hamparan air nan luas, biru tua sedikit keperak perakkan memantulkan cahaya matahari yang bersinar tegang di tengah langit. Dipagari gunung sambung menyambung yang berwarna biru keungu-unguan seolah menjadi pengawal gagah perkasa yang sedang mengawal seorang putri cantik yang sedang bermain main gembira. Gelombang gelombang kecil di air di padu dengan cahaya matahari berpuluh ribu watt, menciptakan kelap kelip bagai sebuah piring raksasa yang berisi manik manik yang bertaburan ribuan permata. Di atasnya langit terbentang biru muda memayungi gegap gempita riak danau indah ini. Awan membentuk konfigurasi menakjubkan, berbaris baris rapi putih di pinggir atas gunung yang sambung menyambung itu sambil tersenyum permai. Sungguh menakjubkan. Ini dia bayangan burukku yang pertama tentang desa ini terbantahkan tak kenal ampun. Desa ini sungguh indah.

“Welcome to Toba Lake” suara Ayah bergetar.

Benar, rumah dinas Ayah ada di tepi danau, di sekeliling rumah hanya ada berbaris baris tanaman pagar yang setia menemani pagar besi bertugas, dua pohon cemara tegak di kanan kiri rumah, sebuah pohon mangga, teduh dan kokoh berdiri di halaman belakang yang sekitar lima meter lagi adalah tepi danau. Tak banyak bunga-bunga mahal yang dimiliki pada tiap rumah di kompleks kami dulu di Jakarta. Walau begitu dapat kupastikan ini lebih indah. Siapa lagi yang bisa menyangkal keindahan dari sebuah taman rumah dengan danau terbesar ini sebagai salah satu dekorasinya. Tak ada!

Petugas ekspedisi baru tiba, dan tengah sibuk menurunkan barang. Aku masih kagum akan keindahan lingkungan baruku, rumahnya memang tak sebagus milik kami di Jakarta dulu, tetapi halamannya, udaranya sungguh segar. Di tengah tengah ketakjubanku itu dengan tiba tiba ada sebuah kekhawatiran menyelinap di kalbuku. Bagaimana dengan sekolah baruku, bagaimana aku mampu beradaptasi pada orang-orang batak yang galak-galak itu! Tiba tiba saja mendung kembali menggelayuti hatiku sendiri.

Keindahan alam Danau Toba membuatku lupa akan rencana mogok makan minumku, cuaca yang sejuk membuatmu takkan tahan untuk berhenti makan. Apa pun yang di masak oleh Nek Mar, seorang asisten rumah tangga yang dipekerjakan Ayah untuk membantu tugas tugas mengurus rumah, selalu habis tuntas kulahap. Apanya yang mogok? Ikan ikan di danau mencibirku pada suatu hari saat aku makan siang dengan piring penuh di tepi danau bersama bunda. Husstt!. Diam kau ikaan! Setiap hari adalah liburan di sini.

Perlahan aku mengenakan seragam putih biruku. Dasi kusimpul dengan sempurna di leher. Beberapa buku kumasukkan dalam tas. Asal saja karena aku belum tahu jadwal mata pelajaran yang berlangsung senin ini. Ini hari pertamaku memasuki sekolah baru. Kata Ayah ini adalah sekolah tebaik di desa ini, sebuah SMP Negeri. Dengan mobil Ayah menelusuri jalanan berundak undak dan berkelok sebelah danau menuju sekolah, sampailah aku pada sekolah terbaik itu. Sungguh di luar dugaan sebagai sekolah terbaik. Gedung yang bercat putih itu tampak biasa biasa saja. Tak ada istimewanya, jika ia digembar gemborkan sebagai sekolah terbaik di sini.

Tampak sedikit lengang karena jam belajar sudah di mulai beberapa menit yang lalu. Setelah sedikit berbincang dengan kepala sekolah, aku ditemani seorang guru masuk ke kelas ku. Hatiku berdebar kencang. Teman seperti apa yang akan ku jumpai ini. Di depan sebuah ruang kelas sederhana, aku diperkenalkan sebagai murid baru pindahan dari Jakarta. Lantas aku di suruh duduk di sebelah seorang perempuan kurus putih berkaca mata dan berambut lurus, ia tersenyum tatkala aku mengangguk padanya, senyumnnya menyembulkan sebuah gingsul, anak yang lumayan manis dan bersih. Kotor? Kata Zikra orang sini dekil, tak pernah mandi. Lalu bau sabun siapa yang menyeruak di hidungku kini.

Bel istirahat melengking nyaring seperti sirine peringatan bahaya tsunami, tak ada lagu lagu yang berirama riang, layaknya bunyi bel di sekolahku di Jakarta. Saat di Jakarta, demi mendengar bel istirahat, aku dan teman teman akan terlonjak dari kursi seketika, berhambur keluar kelas dan berebut menuju kantin, memesan mi goreng, bakso atau nasi goreng dengan teh botol yang menemani sebagai pelepas dahaga. Kali ini aku tercenung, apa yang harus kulakukan.

Tiba tiba serombongan massa berkerumun ke mejaku, semua mengembangkan senyuman mereka selebar lebarnya, menjulurkan tangan kanannya ke arahku, untuk bersalaman. Aku yang sedang melamun terkaget-kaget hingga bingung dan mengeluarkan senyum yang lebih mirip seringai orang ketakutan.

“Hallo! Perkenalkan namaku Daniel!” jeritnya kuat sekali, mata yang bernama Daniel ini mengerjap ngerjap, tersenyum lebar hingga memamerkan gigi besar dan kuning-kuningnya.

“Shafiraa,” balasku ramah.

Mitha Simatupang, Della Sitorus, Ricardo Nababan, Saut Hutapea, Reymon Nainggolan, Sarah, Nabila, Poniyem, satu persatu menyalami tanganku dengan hangat dan luar biasa ramah. Ternyata tak semua bersuku batak, suku padang pun ada, ia anak pemilik warung nasi di pinggir danau.

“Yok ke kantin!” teman sebangkuku yang ternyata bernama Natalia Pardede mengajakku ke kantin, kerumunan teman-teman baruku sudah terurai setelah puas menanyaiku berbagai pertanyaan. Semua pertanyaan dan perkataan yang kudengar memang di produksi dalam suara tinggi dan kuat hingga menyerupai orang yang sedang marah, namun konten atau isi dari perkataan atau pertanyaan mereka tak satu pun mengandung kemarahan atau kesombongan. Bahkan sebaliknya keramahan yang luar biasa. Ini mungkin yang salah di pahami orang tentang suku batak, nada bicaranya membuat mereka seperti beradu otot leher setiap hari. Memang ada beberapa teman sekelasku yang tak beranjak sama sekali dari kursinya untuk menyalamiku, namun itu tak jadi soal, namanya juga bertemu dengan orang baru, perlu waktu dan penyesuaian disana-sini.

Aku tersenyum senyum tatkala berpapasan dengan semua orang, aku tidak mau di bilang sombong. Aku dan Natalia yang suka di panggil dengan Lia sudah sampai di depan kantin. Kantin mungil tidak seperti yang kubayangkan, berjurai-jurai snack ringan tergantung di di seutas tali yang di ikat dari paku ke paku di tembok. Sebuah stailing kecil terpajang paling depan dengan mangkok mangkok besar tersusun di bagian bawah, dan seabrek gorengan tertumpuk di bagian atas. Sungguh kecil dan sederhana.

“Mau beli apa? Makanan beratnya ada mi gomak, ada mi kecil, ada lontong” tawar Lia laksana seorang pelayan resto.

“Apa mi gomak, apaan tuh?” tanyaku ketika mendengar nama asing itu.

“Mi gomak itu, mi Lidi yang sudah di rebus kemudian di siram kuah sayur santan atau cabai”

“Mi lidi?”

“Iya, mau tidak?”.

“Boleh deh di coba.” Walau ragu, tapi apa salahnya mencoba.

“Di bungkus aja ya, biar kita makannya di kelas saja, di sini padat, tengok tuh!” sarannya sambil melancipkan bibirnya untuk menunjuk tempat yang di maksud. Kulihat semua kursi disini telah terisi penuh, ramai sekali, bahkan untuk membeli sesuatu kita harus antri. Setelah berjuang mendapatkan dua bungkus mi gomak dan sebungkus kerupuk, Lia keluar dari kerumunan murid-murid lain yang kelaparan dan dengan beringas berteriak teriak menyebutkan pesanannya.

Lia berdiri disampingku dengan rambut yang sedikit berantakan.

“Hidup ini memang butuh perjuangan bro” candanya padaku. Aku tertawa kecil.

Mi gomak ini bentuknya besar besar, jarang di temukan di Jakarta. Lumayan gurih dan pedas karena di siram kuah sayur dan cabai. Kami melahapnya dengan menggunakan tangan yang sudah di basuh dulu dengan air minum yang kubawa dari rumah. Hmm, enak kok. Sambil makan Lia bercerita banyak, ia mengatakan kalau hari pertama sekolah setelah liburan panjang begini, biasanya belajar belum berjalan normal, masih santai dan terkadang malah pulang cepat. Biasanya kalau pulang cepat, satu kelas akan merencanakan jalan-jalan atau mandi di danau. Aku berdoa dalam hati semoga hari ini bakalan pulang cepat.

Ternyata doaku terkabul, setelah jam istirahat usai, seorang guru perempuan berbaju pegawai negeri masuk ke kelas, “Anak anak hari ini guru akan rapat awal tahun ajaran baru. Maka kalian diperbolehkan pulang ke rumah masing masing!”

“Horeeee!” teriakan suka cita membahana terpantul pantul di tembok ruangan kelas.

Sedetik setelah Ibu Guru itu keluar, seseorang berbadan tinggi, hitam dan tegap bangkit dari kursinya dan mengambil tempat di depan kelas “Ayooo! Kemana kitaaa?” Tanyanya sambil membeliakkan matanya yang putih bersinar-sinar. Ternyata ia adalah seorang ketua kelas, namanya Denny Samosir, namanya seperti nama pulau yang ada di tengah danau Toba itu. Yang kuketahui kemudian bahwa samosir juga adalah nama salah satu Marga yang ada di Batak Toba.

Seluruh isi kelas serempak meneriakkan sebuah kata DANAU. Dari Lia aku tahu bahwa kelas mereka adalah kelas terkompak di sekolah ini. Cuma kelas merekalah yang memiliki kebiasaan seperti ini dari kelas tujuh dahulu, mereka juga selalu bahu membahu jika ada kesulitan pelajaran dan saling tolong menolong dalam segala hal. Beda dengan kelas lain yang terkadang diracuni oleh iri dengki hingga tak bisa kompak satu kelas. Kelas seperti yang dijelaskan Lia terakhir inilah, kelas yang kumiliki saat di Jakarta dulu. Di kelasku dulu terdapat gap-gap atau kelompok-kelompok kecil yang tidak bisa bersatu dalam hal apapun. Tak ada rasa persatuan dan kesatuan, semuanya bersaing, siapa yang paling bergaya tergaul dan keren atau yang paling bergelimang harta. Sungguh kelas yang tak sehat, bisa merusak jiwa pun.

Walau tak semua ikut mandi ke Danau, namun gerombolan ini sudah mampu memadati jalan menuju danau yang sempit. Padahal jalan ini adalah jalan lintas warga dan wisatawan yang sedang berkunjung, jalannya memang sudah di aspal namun masih sempit sekali, menurut perkiraanku hanya mampu dilalui satu mobil saja.

Tak lama sampailah kami di tepi danau Toba, teman teman yang laki-laki tak mengulur waktu, setelah membuka kemeja putih mereka, satu persatu meloncat ke danau dan berenang renang lincah. Di susul kemudian teman-teman yang perempuan, membuka baju kemeja putihnya dan menyisakan kaos oblong yang tampaknya sudah memang dipersiapkan sebelum berangkat sekolah tadi. Aku memilih duduk di tepinya saja. Aku tak membawa baju ganti. Melihat teman temanku tertawa tawa berenang dalam danau, aku jadi haus dan menggamit botol air minumku di dalam tas. Haus mungkin sebagai bentuk nyata dari keinginan untuk bergabung dan berenang-renang. Tiba tiba ada seseorang yang mendorongku dari belakang, botol air minumku terpental ke batu dan aku sendiri tercebur ke dalam air danau yang dingin. Aku mencoba berdiri dan menggapai gapai di air namun tak jua kutemukan dasar danau. Masih sempat kulihat Daniel tertawa terbahak bahak di atas batu. Dialah yang mendorongku tadi. Sebelum akhirnya aku megap megap. Aku tidak bisa berenang. Beberapa teman menghampiriku dan menyeretku ke bagian yang lebih dangkal. Aku terengah engah.

“Gak bisa berenang ya?” Della bertanya penuh kekhawatiran.

Aku menggeleng.

Mitha mendelik kearah Daniel yang masih memegangi perutnya tertawa tawa.

“Danieeeellll!” jerit Mitha “Awas kau ya!” Mitha mengepalkan tinjunya ke udara.

“Hahahahaha… sori bro… soriii… perkenalan itu, perkenalan… hahaha!” sahutnya dalam logat bataknya yang sangat kental.

Awas kau ya Daniel, tunggu pembalasanku, jeritku dalam hati.

Sepuas bermain air, dipinggir-pinggir danau yang dangkal dan berendam di sana, kami pulang dan berpisah untuk menuju ke rumah masing masing. Lia mengantarku pulang karena aku belum tahu jalan dari danau menuju rumahku, ternyata rumah Lia melewati rumahku.

“Assalamualaikum!” salam ku ketika sampai di pintu pagar, Ayah yang bersiap memakai sepatu untuk bertugas ternganga melihatku. Bunda pun tak kalah takjub menyaksikan aku dan Lia yang basah kuyup.

“Dari mana saja kalian?” Bunda bertanya heran tatkala aku dan Lia sudah sampai di teras rumah.

“Dari mandi di Danau, kenalin Bun, ini Lia teman sebangku Shafir.”

Lia tersenyum dan menjabat tangan Bunda dan Ayah.

“Rumah Lia di mana?” Tanya Ayah.

“Di sana Pak, sebelah kantor kepala desa, yang cat hijau itu.”

“Wuah, bukankah itu Rumah Pak Pardede Kepala Desa?”

“Benar Pak, dia Papa saya.”

“OOhh, jadi kamu anaknya Pak Pardede?” Bunda menyahut.

Lia mengangguk sambil tersenyum. Aku menoleh pada Lia, heran mengapa ia tak bilang dari tadi. Padahal kalau teman teman di Jakartaku dulu, baru pertama jumpa, pasti kalau orang tuanya punya kedudukan itulah yang disebutkan terlebih dahulu, kalau masalah nama bisa jadi nomor dua.

“Ya sudah singgah dulu makan siang disini” tawar Ayah.

“Gak usah Pak, saya pasti sudah di tunggu mama di rumah, permisi pak, bu” pamit Lia sebelum beranjak.

“Sampai jumpa besok Shafiraa.. bye!” Lia melambai padaku.

“Hebaatt yaaa… belum apa apa sudah berani main ke danau, mandi mandi pula lagi, kamu kan belum bisa berenang, kalau tenggelam bagaimana?!” ujar bunda berang sesaat setelah Lia hilang dari pandangan.

“Sama teman teman kok Bun, mereka jago berenang semua. Shafira Cuma berendem aja di pinggir yang dangkal” tak mungkin aku ceritakan hampir tenggelam karena di dorong Daniel, bisa panjang urusan, maka cerita tentang itu kuputuskan untuk dirahasiakan saja. Demi kebaikan.

“Jadi jam segini kok sudah pulang, apa kalian cabut dari kelas?” Ayah ikut menimpali

“Enggak kok yah, tadi guru rapat jadi kami dipulangkan”

“Seharusnya kamu pulang dulu, izin dulu sama bunda, baru boleh pergi, kalau begini terus kamu dipulangkan saja ke Jakarta!” ancam Bunda.

“Ehh… jangan Bun! Jangan!, oke.. Oke.. kalau mau mandi ke danau Shafiraa janji minta izin dulu sama Bunda, okey!”

“Lho, bukannya sewaktu itu kamu berniat tinggal di Jakarta saja?” Bunda mengernyit keheranan.

“Itu kan dulu, Okelah yah, hati hati ya yah, pulangnya jangan kemaleman ya” ucapku mengalihkan pembicaraan dan menyalami tangan Ayah dan menciumnya. “Shafiraa mau ganti baju dulu, dingiiinn… daa Ayaaahh!” ucapku sambil ngeloyor masuk ke rumah.

Bagaimana hendak dipulangkan ke Jakarta? Wong disini enak kok. Hehehe.. Sambil mengenangan pakaian yang kering aku melirik ke arah jendela kamarku, tampak air danau berkilau kilau indah dan mengerling, “Terpesona padaku ya? Semoga betah” Danau Toba pun menggodaku. Aku tersenyum bahagia. Yaa, semoga betah, dan rasanya aku memang mulai betah, ku kedipkan mata kiriku pada DANAU TOBA.


Karya : Yunita Ramadayanti Saragi

DO PAINTING FRENCH

Di hari yang cerah ini, aku mau bilang sama kalian semua … bahwa besok, aku dan keluarga mau pindah ke Prancis, lebih tepatnya lagi ke Paris. Aku hanya bisa berharap semuanya dapat mekmaluminya … sekian, dan terima kasih. Aku turun dari panggung sekolah serta diiringi isak tangis dan di ujung sana semuanya tersenyum. Keluargaku.

Aku memeluk mereka juga sahabat-sahabatku yang lain. Serta para guru-guru yang telah mengajarkanku banyak hal tentang pelajaran dan pengalaman yang telah terjadi. Kini aku dan keluargaku berjalan menuju mobil, aku sangat lemah seakan ingin jatuh tetapi aku berusaha untuk tegar menerima semuanya. Ini sudah takdir.

Bandara Soekarno-Hatta, lalu lalang orang-orang memenuhi jalan dan pastinya pada menunggu pesawat. Jam keberangkatan tinggal 30 menit lagi, aku dan keluarga berfoto-foto dahulu di tempat tunggu. Ketika sudah puas berpose untuk hari terakhir, aku menyempatkan diri membuka handpone, ya … untuk internetan dong. Karena di tempat tunggu kan, ada wifi-nya.

“Attention … jadwal keberangkatan untuk maskapai Garuda Indonesia, akan segera di berangkatkan. Di mohon untuk para penumpang segera menuju ruang pemeriksaan … terima kasih.”

Aku tersenyum tegar dan berjalan, melambaikan tangan untuk terakhir kalinya. Intinya untuk Indonesia tersayang. Kata ayahku, aku akan kembali lagi setelah dewasa nanti. Di pesawat yang nyaman dan bersih, semuanya terduduk rapih dan tidak lupa berdoa.

Akhirnya, pesawat take off … sedikit terjadi guncangan kecil dan berjalan mulus, aku di beri mainan juga adikku. Walau umurku sekarang 13 tahun. Adikku, Shafa pintar matematika tetapi aku tidak. Dia juga sangat berbakat menjadi seorang penulis, buku-bukunya telah di terbitkan dan best seller. Terus aku? Aku tidak berbakat apa-apa! Aku nggak punya bakat atau belum tau? Semoga suatu hari Nanti aku memiliki telenta, like my lovely sister.

Setelah berjam-jam di pesawat. Akhirnya, aku and my family tiba di kota Paris. Katanya masyarakat sih, kota ini … kota teromantis sedunia. Masa sih? Coba yuk buktikan! Kita gali-gali semua informasinya! Tolong di bantu ya, hehe …

Aku jadi takut nih, aku belum terlalu lancar berbahasa inggris juga bahasa France. Ayahku sudah memasukkanku di sebuah high school biasa di Paris. Karena alasannya, aku tidak terlalu pintar, (memang benar!) Sehari sebelum masuk sekolah, aku beristirahat sejenak dulu di kamar dan malamnya, belajar. Puft … belajar lagi!

Wow … sebuah rumah yang indah, garasi yang unik dan sapaan orang-orang ramah. Pepohonan yang sangat rindang, cuaca yang nggak terlalu terik juga anak kecil yang berlarian kesana kemari. Wajah orang sini, unik ya! Beda dari Indonesia, hitam-hitam … hehe. Semuanya yang di sini berwajah manis dan murah senyum.

Ibu dan Ayah menata rapi barang-barang pindahan. Sementara aku dan Shafa hanya membatu yang kecil-kecil aja.

“Uh … capeknya. Bu, aku dan Shafa mau keluar sebentar ya! Mau beradaptasi, hehe!” aku nyengir dan menarik Shafa keluar.

“Beradaptasi? Bisa aja, yaudah … jangan jauh-jauh ya! Udah mau waktunya ashar,” ucapnya sembari menata baju-baju ayah.

“Dadah … Ibu,” kata Shafa melambai.

Free Day! Aku dan Shafa berjalan riang menyusuri kompleks-kompleks, semua orang melihat aku dengan tatapan orang asing. Salah satu orang mendekatiku, sepertinya dia seumuran denganku. Hah! Dia mau ngajak bicara … gawat! Nanti harus jawab apa?

Cowok itu semakin dekat, aku dan Shafa memperlambat kaki dan cowok itu tepat di depanku.

“Em …, tu fais quoi?” ucapnya lancar bahasa France.

Jantungku seakan-akan berhenti! Nanti di kira, aku di nilai buruk lagi dalam berbahasa! Adikku, Shafa hanya melongo mendengar kata-kata darinya.

“Mignon,” ucapnya lagi melirik Shafa.

“Thank’s!” ucap Shafa sok bisa berbahasa.

Kini aku diam terpaku melihat adikku yang bisa menjawab! Padahal arti mignon itu apa? Malu dong malu, badan besar kalah sama bocah cilik.

“Oh, you speking english! What are you doing in here?” ucapnya menoleh kami berdua.

“Cuma jalan-jalan!” ucapku ngawur.

“Speaking english please!” Shafa mencubit lenganku. Aku kesakitan dan menahan malu lagi.

“We are refreshing, brother handsome,” kataku tak menyadari. (aku berkata dia handsome!)

“Ouh, thank you!” kini nadanya malu-malu kucing. Nge-fly tuh cowok baru di bilang begitu. Dia meninggalkan kami, dan dia belum memberi tahu namanya. Semoga ketemu lagi, dan aku mau nanya namanya!

Setelah insiden tadi, aku dan Shafa segera pulang karena jam sudah mau setengah empat. Sholat ashar yuk! Malam yang indah berseri, aku belajar di kamar baruku. Motif cat dindingnya lucu! Gambarnya di bikin abstrak! Like it!

Setelah puas dengan soal-soal yang membingungkan, aku menuju kamar Shafa. Letak kamarnya nggak jauh cuma di sebelahku. Aku dan Shafa menempati kamar atas. Aku mau nanya tentang bahasa france itu, kok bisa ya dia menjawab!

“Shafa! Buka dong pintunya,”

“Buka aja Kak, nggak di kunci kok!”

Aku berjalan menuju Shafa yang sedang membaca kamus france. Oh, pantes dia bisa!

“Kamu tau arti, tu fais quoi? Dapet darimana?” aku menyelidik dengan tatapan memelas bak orang miskin belum makan.

“Dapet dari belajar! Waktu itu sebelum aku dapet kamus ini, aku belajar di internet seminggu sebelum kita pindahan,” ujarnya santai banget.

“Oh, ngerti-ngerti! Terus artinya apa?”

“Kamu lagi apa? Terus yang ‘mignon’ itu lucu,”

“Pantes banget, waktu cowok itu bilang mignon ke arahmu, kamu bisa jawab! Curang nggak bilang-bilang, kalau kamu belajar bahasa france,” aku mencubit pipi chuby-nya.

“Haha! Belajar dong belajar! Matematika jelek terus bangga,” katanya meledekku.

“Hu… uhh,” aku segera beranjak pergi meninggalkanya. “Evil sister,” ujarku kesal.

Untuk mengusir kekesalanku, aku mendengarkan musik pop di MP3 punya ayah sambil bersenandung ria.

Pertama sekolah di Paris. Aku turun dari mobil beserta ayah, sedangkan Shafa bersama ibu di sekolah barunya. Teman-teman sebayaku menatap tanda tak mengenal, ada yang sinis dan ada yang hanya senyum serta jijik. Apaan sih jijik? Memang aku bangkai kucing gitu! Awas saja, nanti kalau aku sudah mahir bahasa france. Batinku kesal.

Setelah bertemu sang kepala sekolah, aku diantarkan oleh seorang guru yang bernama Miss Hana ke kelas baruku. Ketika memasuki kelas, aku malu-malu dan takut akan siapa tempat duduk sebangkuku. Aku di tempatkan oleh salah satu orang cowok yang pernah aku kenal. Siapa ya? Aku mengingat-ngingat.

“Oh ya, cowok itu!” pekikku pelan.

Dia menoleh karena mendengar perkataanku. Aku hanya tersenyum manis menanggapinya. Semoga saja dia nggak ngerti bahasaku. Setelah pelajaran selesai, di mulailah perbincangan yang nggak aku mengerti sekali.

“Hmm, where you come from? Japanese?” ucapnya pelan.

“No! I’am come from Indonesia,” kataku gugup.

“Oh, Indonesia. Beautiful country,”

“Thank’s. Hehe …,” aku terkikik.

“My name is Keen,”

“Keen …? I’am Yasmin,”

Hari pertama pun selesai juga. Setelah pulang, aku dan keluarga bercerita-cerita banyak tentang kejadian sekolah. Keesokan harinya, aku memulai seperti biasanya. Tetapi hari ini boleh mengambil pelajaran bebas. Aku ingin mengambil seni aja deh, untuk pelajaran terakhirku biar talentaku bisa di search.

Ketika, tema hari ini menggambar. Semua anak yang mengikuti pelajaran seni di suruh menggambar sesuka hati asal bernuansa alam. Dengan berat hati, aku menggambar sebisaku. Aku melirik kanan dan kiriku. Apakah aku paling jelek? Semoga saja tidak.

Setelah itu di kumpulkan, dan di jelaskan kembali tentang cara-cara membuat gambar yang baik dan bagus.

Dan keesokan harinya. Aku terkejut bukan main, gambaranku paling bagus sekelas. 

Aku juga di ikutkan lomba menggambar se-kota Paris. Awalnya aku menolak tetapi ya sudahlah. Terima saja, lumayankan kalau menang dapat piala terus ayah dan ibu juga bangga.

Setelah pulang sekolah, aku berpikir keras tema apa yang akan aku buat nanti. Shafa juga ikit membantu.

“Shafa, enaknya apa ya?” tanyaku meliriknya.

“Kalau menurutku sih ya, tentang nuansa alam aja! Kan imajinasinya bisa keluar tuh, nanti dapet deh … inti dari gambar tersebut,” ucap Shafa sok pintar lagi.

“Pintar amat sih, Kakak saja nggak kepikiran sampai situ,” gerutuku.

“Yaiyalah, siapa dulu dong Shafa Khanzana!”

“Iya, iya tapi tetap saja Kakaknya, Yasmin Khanza! Berarti kepinterannya nggak beda jauh tuh,”

Waktu perlombaan pun tiba, aku sudah memakai sweater berwarna coklat bergambar kucing, rambut di gelung ke bawah, dan celana jeans coklat muda. Perpaduan yang menarik. Aku sudah punya ancang-ancang gambaran apa yang nanti aku gambar nanti.

“Temanya adalah … tentang alam! Harus ada orangnya juga,” kata panitia lantang.

Semua peserta mengambil alat-alat masing-masing dan mulai menggambar. Ada yang pake crayon, cat air dan serbuk warna. Aku memakai cat air, karena membuatku lebih rileks dan detail. Waktu dua jam pun selesai.

Semua anak mengumpulkan hasil karya-karyanya, termasuk aku.

Sebulan kemudian, pengumuman kejuaraan menggambar akan diumumkan. Aku mendapat juara ke dua, walaupun ke dua aku tidak berkecil hati karena hal wajar toh aku juga baru belajar. Semoga kedepannya menjadi pelukis terkenal. Amin …


Karya : Tifa Raisandra

SENYUMAN DI LANGIT AWANGGA

Awan mendung menggelayut langit Awangga. Angin dingin berhembus menerkam kebahagian. Semua berganti muram. Awangga telah lelah dipermainkan oleh alam. Dan saat ini negara itu telah jatuh dalam kemurungan. Kesedihan melanda seluruh istana.

Tangisan lirih menggema dari sudut ruangan besar di kaputren. Sebuah ranjang tergeletak dengan sesosok tubuh diatasnya. Terdengar suara isak tangis tertahan. Hari ini apa yang telah dikuatirkan oleh Dewi Surtikanti benar-benar terjadi.

Sejak semalaman kegelisahan dan kebimbangan hatinya terus hinggap, meskipun kata-kata penenang terucap dari Prabu Karna. Semalam adalah malam tersingkat dalam hidupnya. Ia merasa tidak ada lagi yang mampu menopang hidupnya kali ini. Semua telah pergi.

Orang yang dicintainya telah tiada untuk selamanya. Masih terngiang jelas di benaknya. Sentuhan lembut suami tercinta. Masih terasa di tangannya genggaman cinta yang diberikan oleh Prabu Karna. Masih terdengar suara menenangkan suaminya, ketika meminta ijin untuk pamit pergi kesokan hari. Masih tergambar roman muka penuh cinta yang ditampakkan oleh Prabu Karna kepadanya. Bahkan Dewi Surtikanti masih terbayang kecupan lembut di pipinya sebagai penghantar tidur pembuka pintu mimpi semalam.

Namun dari kesemuanya itu, tatapan terakhir Prabu Karnalah yang kuat menusuk hatinya. Tatapan terakhir di pagi buta sebelum meninggalkan istana Awangga. Terpancar di matanya rasa kasih yang selama ini telah menyiram hati Dewi Surtikanti hingga cinta itu takkan pernah terganti oleh siapapun.

Hatinya masih menjerit. Berita yang di bawa oleh pengawal kerajaan beberapa jam yang lalu masih tergeletak di meja. Dia tidak perlu membaca seluruhnya karena satu kalimat akhir telah membuktikan kegelisahannya. Ia tak sadarkan diri ketika mengetahui firasatnya benar-benar terbukti.

Gumpalan awan mendung yang selama ini jarang terlihat di Awangga membuktikan semuanya. Sang surya ikut bersedih karena di tinggal manusia tercintanya. Tidak ada lagi kehangatan sinar yang selalu menjadi kesenangan Dewi Surtikanti ketika sedang bercengkerama dengan suaminya. Semua pudar terganti suasana dingin.

Dewi Surtikanti bangkit dari pembaringan. Matanya merah. Entah sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkan hari ini. ia menangis sampai matanya terasa kering karena tak ada lagi tetes air mata yang jatuh. Semua telah tercurahkan. Ia mengedipkan mata. Mencoba menghalau pikiran kalut yang terus hinggap.

Dewi Surtikanti meraih kertas yang ada di atas meja. Dibacanya kembali, kata demi kata. Agar ia yakin kembali. Ia menghela napas panjang. Mencoba menenangkan diri tapi jiwanya tertahan. Sebuah dinding beku telah medinginkan hatinya. Kesedihan telah menggerogoti jiwanya.

Ia berusaha bangkit berdiri. Dengan sempoyongan, ia berjalan menuju pintu kamar. Ia ingin keluar dari kaputren untuk menuju istana. Ia ingin segera menjemput jasad suami tercinta. Hal terakhir yang ia inginkan adalah melihat suaminya terbaring tenang dalam menghadapi kehidupan di sisi lain dunia ini.

***
‘Kanda, aku ingin menceritakan suatu hal”, kata-kata lembut keluar dari mulut Dewi Surtikanti. Ia sedang melihat suaminya duduk di tepi ranjang. Prabu Karna segera menoleh. “Apa yang dinda ingin sampaikan?”, tanya Prabu Karna dengan sedikit penasaran. “Tadi malam dinda, bermimpi aneh dan menakutkan, Kanda, dinda bermimpi seekor ular menggigit kaki dinda, dinda panik dan sangat takut sekali. Dan akhirnya dinda terbangun. Saat dinda menoleh, kanda tak ada di samping dinda. Kemanakah kanda tadi malam?. Aku takut sekali”, Dewi Surtikanti menceritakan perihal mimpinya. Tersirat nada gelisah di dalamnya. “Sebuah firasat buruk mungkin saja akan terjadi sesuatu pada diri kanda atau negara Awangga”, ia meneruskan ceritanya.

Dengan lembut, Prabu Karna meraih tangan Dewi Surtikanti. “Tenangkan dirimu dinda, tidak akan terjadi apapun pada dirimu, aku berjanji akan terus disisimu”, ucapnya mesra. “Tapi kanda. aku takut sekali, mimpi itu benar-benar nyata, aku sepertinya masih merasakan sakitnya gigitan ular itu”, ujar Dewi Surtikanti sambil meraba pergelangan kakinya. Ia merasa kalau tadi malam itu bukan mimpi. Tapi entahlah antara sadar atau tidak, ketakutan masih membayanginya.

“Dinda, aku mohon pamit kalau besok akan berangkat pagi-pagi buta, kakang Prabu Duryudana memintaku memimpin langsung perang melawan Pandawa”, ucap Prabu Karna tiba-tiba. Kata-kata itu menghenyakkan seketika kesadaran Dewi Surtikanti. “Apa, kanda akan pergi, bukankan kemarin Eyang Bisma udah turun tangan langsung, kanda sendiri yang berkata kalau tak ada satupun panglima Pandawa yang mampu mengalahkannya, terus mengapa tiba-tiba kanda harus terjun langsung”, ceceran kata-kata Dewi Surtikanti berujung pada bertambah rasa takutnya yang semakin meningkat.

“Dinda, dengarkan kanda, ini adalah tugas negara. Kewajiban yang harus dipenuhi seorang abdi negara kepada negaranya. Astina sedang mengalami perang besar dan kanda sebagai bagian dari abdi astina harus bersedia berkorban jika diperlukan. Kanda berhutang budi banyak sekali kepada kakang prabu Duryudana. Astina lah yang telah memberikan kanda derajat dan jabatan. Orang-orang yang dulu meremehkan kanda kini telah berbalik menjadi segan kepada kanda. Semua itu karena jasa kakang prabu Duryudana dan Astina”, kata-kata prabu karna terhenti sejenak. Diraihnya segelas air yang terletak di meja. Diteguknya perlahan.

Prabu Karna menghela napas panjang. Ia berusaha melanjutkan kembali perkataannya kepada sang istri tercinta. “Dinda ingat, kalau tidak karena kakang Prabu Duryudana, aku mungkin tidak akan bisa menikahimu. Ada banyak hal yang harus aku bayar sebagai penebus hutang tersebut. Dinda harus mengerti kalau kanda adalah ksatria yang bertanggung jawab dan berpendirian teguh. Kanda akan membela negara yang telah memberikan banyak hal. Kanda adalah laki-laki yang tahu membalas budi”. Perkataan prabu karna terhenti ketika Dewi Surtikanti bangkit dan duduk didekatnya.

“Aku merasakan firasat buruk esok hari, kanda”. Dewi surtikanti berbicara lirih. Prabu Karna menangkap apa yang sedang dirasakan istrinya. Sebagai laki-laki sejatinya, sudah menjadi tanggung jawabnyalah untuk memberikan ketentraman belahan jiwanya. Dengan penuh sayang di tatap mata indah sang istri.

“Kanda sangat mencintai dinda, bagi kanda firasat yang kamu rasakan sebagai wujud cinta. Aku beruntung memilikimu. Kamu sempurna dimataku. Bagi kanda, tiada orang yang dapat menggantikanmu di hatiku”. Terucap kata-kata manis dan lembut dari bibir Prabu Karna. Dengan mesra didekapnya bahu Dewi Surtikanti. Ia berbisik di telinganya. “Anugerah sang surya telah memberiku jalan terang dalam kehidupan. Aku ingin kamu tetap tegar meskipun cobaan berat menimpamu. Mungkin dinda takut takkan bertemu kanda lagi untuk selamanya. Tapi kanda meyakinkan dinda kalau akan aku berikan senyuman indah ketika kita bertemu lagi esok”.

Malam semakin pekat. Suara jangkrik mulai menghilang. Sang bulan tersembunyi malu dibalik rindangnya awan. Entah siapa yang di lihat oleh bulan, tapi sebuah cahaya putih berkelebat menuju puncak menara Awangga. Semua tampak damai, semua terlihat tentram. Namun sebuah misteri terbungkus tabir siap terbuka dan mengejutkan banyak pihak. Alam telah belajar dari pengalamannya tentang kehidupan. Ketika yang tersurat terlaksana dan tersirat telah bermakna.

***

Tak ada teriakan kesakitan dari wajahnya. Hanya seutas senyum kecil tersungging kaku. Apakah yang tersirat di senyuman itu. Sebuah teka-teki beribu makna. Senyum kesenangan atau ejekan. Tidak ada yang tahu kecuali pemilik senyuman itu sendiri.

Suasana tiba-tiba hening. Matahari bersinar sangat terik. Seolah menunjukkan bahwa siapa pemilik kekuatan kehidupan sesungguhnya. Semua itu tak berlangsung lama. Keheningan telah berganti dengan cepat. Riuh rendah, orang-orang bersorak. Mereka meneriakkan suara kemenangan. Suara kemenangan menenggelamkan kegelisahan hati seseorang yang telah menghantarkan sebuah kehidupan ke sisi lain dunia ini.

Teringat apa yang terjadi ketika dirinya berjibaku menunjukkan siapa yang terpandai dalam olah kanuragan dan ketangkasan memanah. Dan juga peristiwa ketika bertarung memperebutkan sebuah senjata sakti ciptaan dewa dan akhirnya ia hanya mampu merebut sarung senjatanya saja. Bahkan ketika membela seorang puteri yang berujung pada kesalahpahaman hingga akhirnya ia sadar kalau orang yang selama ini menjadi musuh adalah saudaranya sendiri.

Nasihat sang ibu telah mengingatkannya, “anakku Arjuna, bujuklah Karna untuk membela Pandawa, sesungguhnya ia berada pada pihak yang salah, kau harus mengerti Arjuna, Karna tidak seperti yang kau kira. Ia tidak jahat seperti para Kurawa. Ia adalah ksatria sejati. Manusia agung titisan sang dewa”. Kata-kata itu kembali menghampiri pikirannya. “Apakah benar yang dikatakan ibu”, serunya dalam hati.

Ia masih menatap sosok tubuh yang tergeletak di depannya. Darah mengalir dari lehernya. Sebuah anak panah tertancap di sana. Namun wajah dengan senyuman aneh tertuju pada Arjuna. Mengapa kau tersenyum di saat ajal menjemputmu?, tanya Arjuna pada jasad tak bernyawa di depannya.

Karna telah gugur di medan perang. Ia terbunuh oleh arjuna. Apa yang selama ini ia takutkan terjadi. Kematian telah dia takdirkan sendiri jauh sebelum perang di mulai. Karna masih ingat hari sebelumnya, dirinya dibentak kasar oleh Eyang Bisma karena terlalu sombong dan ingin menjadi panglima pasukan Astina. Karna tak peduli kalau sang kusir keretanya adalah mertuanya sendiri. ayah dari sang istri tercinta. Tidak ada prasangka buruk sebelumnya. Namun ketika sebuah kecelakaan kecil menimpa roda belakang kereta, ia sadar kalau semua ilmu yang telah dipelajari tiba-tiba lenyap. Ia seperti domba di kepung kawanan serigala. Hingga akhirnya sebuah anak panah melesat dan menancap di lehernya. Menghilangkan dengan seketika jiwa kehidupannya.

***

Dewi Surtikanti memeluk jasad suaminya yang tersenyum. Ia masih tak percaya kalau sang suami benar-benar telah pergi. Tapi dalam kepergiannya, Prabu Karna ingat akan janjinya. Ia berjanji memberikan senyuman kepadanya ketika bertemu kembali. Dan janji itu benar-benar terlaksana.

Tangisnya tertahan. Ia masih belum bisa melepaskan pelukannya. Di balai besar istana Awangga, suasana berkabung menyelimuti seluruh penghuni istana. Mereka berkabung untuk junjungan yang menjadi panutannya. Prabu Karna tidak hanya adil dan tegas dalam memerintah tetapi juga murah hati dan dermawan. Tak peduli pejabat ataupun rakyat jelata, kalau ia menjumpai orang yang kesulitan selalu dibantunya.

Ketegasannya telah berujung pada ketentraman hidup para rakyat Awangga. Prabu karna tidak pilih kasih dalam menegakkan hukum. Semua sama dimatanya, jika bersalah harus di hukum. Tidak ada yang kebal karena kekuasaan.

Semuanya telah pergi. Perang besar telah merenggut nyawa sang ksatria agung. Ia gugur membela negara. Prabu Karna tahu kalau apa yang ia bela salah, dan rela namanya tertulis dalam sejarah sebagai penentang kebajikan. Untuk menegakkan kebaikan, dibutuhkan pengorbanan kebaikan itu sendiri. Dirinya telah memutuskan kalau Kurawa yang ia bela hanya dapat dihentikan dengan menunjukkan pengorbanan kebaikan.

Seseorang berjalan menghampiri Dewi Surtikanti. Ia mendekat lalu duduk bersimpuh. “Terimalah pemberian dari Dewi Kunti, ibu para Pandawa kepada Dewi Surtikanti sebagai ungkapan duka cita yang mendalam. Sebuah peti kayu diletakkan disamping Dewi Surtikanti. Perhatiannya teralihkan sejenak. Ia menatap kotak itu lalu membukanya. Matanya menyipit menghindari sinar putih yang datang dari dalam kotak. Namun itu hanya sementara. Ketika diraihnya secarik kertas yang di gulung rapi. Perlahan gulungan itu di buka dan ia membaca tulisan yang tertera disana.

‘Biarkan restu dan anugerah yang lahir bersama titisan surya tetap mengalir dalam kehidupan yang diciptakannya. Dia berhak diagungkan oleh pemberi cahaya hidup yang telah menggantikan anugerah surya yang hilang sementara. Dan sebuah cahaya akan terus menimbulkan pijar dalam kegelapan tanpa mengeluh terusik oleh kegelisahan’.

Suara tangis bayi menyadarkan Dewi Surtikanti. Rona kebahagian terselip diwajahnya. Sedikit menghapus noda sedih dari hati sejenak. Ia beranjak berdiri dan meninggalkan balai besar tersebut. Ia masuk ke dalam sebuah kamar besar. Didekatinya sumber tangisan itu. Ia menatap bayi mungil yang kini tersenyum riang karena sang ibu ada didekatnya. Ia menggendong bayi itu dan mendekapnya erat-erat. “Cepatlah besar anakku, agar kau memahami apa yang terjadi saat ini dan berjanjilah pada ibu kalau kau akan menegakkan kembali tanah Awangga”.


Karya : Dwi Surya Ariyadi

MENCINTAI BUDAYA SENDIRI

Hallo semuanya, perkenalkan namaku Putri Angelia, kalian bisa memanggilku Lia. Aku adalah seorang penari tradisional yang berasal dari kota Malang. Jika ada panggilan untuk mengikuti lomba menari tradisional, kepala sekolahku, Pak Andi selalu menunjukku agar mengikuti lomba tersebut. Hehehehe, bukannya sombong sih, aku hanya ingin bercerita.

Hari ini adalah hari pertamaku bersekolah, setelah berlibur selama 1 minggu. Aku segera menuju ke sekolahku yang aku banggakan dan aku cintai, mau tau? Iya itu SMP Negeri 18 Malang. Setibanya di sekolah, aku cepat–cepat menuju ke kelas. Saat tiba di kelas, aku melihat ada seorang perempuan asing yang menurutku anak baru dari luar Indonesia. Karena mukanya itu kebarat-baratan. Akupun penasaran. Karena penasaran aku pun mengajaknya berkenalan.

“Hai, namaku Putri Angelia, kamu bisa memanggilku Lia, nama kamu siapa? Dan berasal dari mana?”

“Hai.. Namaku Jessica Stewart Carrolline, kamu bisa memanggilku Carrol, aku berasal dari Korea. Aku pindah ke sini karena Papaku, ada urusan di Indonesia.”

“Ouh, baiklah kalau begitu, dapatkah aku duduk disampingmu?”

“Dapat, silahkan…”

Saat bel istirahat berbunyi, aku segera mengajaknya berjalan–jalan mengelilingi sekolah ini. Aku berkeliling sekolah bersama Carrol, Annisa, dan Aurel. Oh, iya! Annisa dan Aurel adalah sahabatku, mereka kembar loh! Kami mengelilingi semua sudut sekolah, aku, Annisa, dan Aurel, mengenalkan semua ruangan di sekolah satu–satu. Saat tiba di ruang musik, Carrol mendengar suara musik–musik Jawa.

“Lagu apa ini? Sepertinya aku tidak pernah mendengarnya?” tanyanya.

“Ini lagu Jawa Carrol, biasanya digunakan saat penari tradisional menari. Memangnya lagu dan tarian apa saja yang kamu tahu?” jawab Aurel.

“Aku hanya mengetahui lagu band Korea saja, mungkin tarian modern seperti dance. Sepertinya hal yang berbau tradisional itu jelek iya? Contohnya lagu tradisional. Karena musiknya hanya itu–itu saja. Uh, membosankan! Mengapa sih rakyat Indonesia, tidak menari tarian modern saja, kan lebih bagus, menarik, dan cocok untuk anak zaman sekarang? Jika semua yang berbau tradisional, itu kan zaman dahulu, tidak modern, kuno!” ucapnya.

“Carrol, semua hal yang berbau tradisional itu tidak seperti yang kamu bayangkan, contohnya dengan menari tarian tradisional berarti itu sama halnya kamu bangga akan budayamu” ucapku dengan panjang dan lebar.

Carrol pun terdiam. Aku, Annisa, dan Aurel pun segera menunjukkan ruangan lain di SMP Negeri 18 Malang.

Esoknya saat di sekolah, aku, Aurel, dan Carrol sedang berbincang–bincang mengenai pengalaman pribadi masing–masing. Tiba–tiba…

“Lia, kamu dipanggil oleh Pak Andi di ruang kepala sekolah, dan kamu harus menemuinya sekarang juga.” ucap Annisa.

“Terima kasih Annisa.”

Setibanya di ruang kepala sekolah.

“Assalamualaikum, pak, ada urusan apa yah pak, kok bapak memanggil saya?”

“Walaikumsalam, begini Lia, tanggal 1 April adalah hari ulang tahun kota Malang. Dan walikota kota Malang (Pak Peni Suparto) mengadakan lomba menari tradisioanal dan beliau meminta agar setiap sekolah, mengirimkan salah satu muridnya untuk menari tradisional di hadapannya. Jadi saya berharap kamu mau mengikutinya untuk mewakilkan sekolah kita.”

“Saya ingin sekali pak, mengikuti lomba tersebut, dan saya akan berusaha agar bisa menang, dan mengharumkan nama SMP Negeri 18 Malang.”

“Baik lah, semoga lancar dan sukses! Oh iya Lia, ini ada tiket untuk menonton lomba tersebut, kebetulan tiketnya ada 3. Jadi kamu bisa mengajak 3 orang dari 43 siswa 7E untuk menonton kamu secara langsung.”

“Terima kasih pak…”

Setelah aku keluar dari ruang kepala sekolah, aku segera menemui Carrol, Annisa, dan Aurel untuk menontonku.

“Carrol, Annisa, Aurel, ini ada tiket untuk tanggal 1 April. Kalian bisa datang ke Balaikota Malang. Di sana ada berbagai macam lomba, untuk memperingati hari ulang tahun kota Malang. Jadi aku berharap sekali kalian hadir disana tepat waktu.”

Teman–temanku pun mengangguk tanda mereka sangat setuju. Setiap hari aku latihan terus menerus dengan giat, aku mengwajibkan Carrol supaya datang. Oh iya kalian tahu tidak tujuan aku mengwajibkan Carrol datang? Karena, aku akan membuktikan bahwa tari tradisional tidak membosankan.

Hari demi hari berlalu, detik demi detik berjalan, hingga tiba saatnya aku tampil dan bersaing di depan bapak walikota Malang, pak Peni. Aku segera menuju ke Balai Kota Malang. Tiba disana aku menunggu kedatangan Carrol, Annisa, dan Aurel. Hingga tiba giliranku tampil, kulihat Carrol, Annisa, dan Aurel memperhatikanku terus menerus. Musik telah berhenti, pertanda menariku telah usai.

“Ya ampun Lia, tarian kamu makin lama makin bagus..” ucap Aurel dan Annisa bersamaan.

“Makasih ANIS, Aurel Annisa, hehehe….” ucapku.

“Oke sip…” ucap ANIS.

“Carrol, mengapa kamu diam saja?” tanya Annisa.

“Maafkan aku, aku telah mengejek tarian tradisional, sejujurnya aku tidak pernah melihat tarian tradisional, saat kamu mengenalkan tari itu kepadaku, aku sungguh bangga, akan tari yang ada pada zaman dahulu, ternyata tarian zaman dahulu lebih bagus dan menarik, dibanding tarian zaman modern, maafkan aku. Aku sungguh menyesal telah mengejek tarian tradisional, dan aku sungguh bangga memiliki teman yang bisa mengenalkanku terhadap budaya tradisional dan asli Indonesia ini, terimakasih Lia..” ucap Carrol.

“Tenang saja Carrol, aku juga bangga mempunyai teman sepertimu, karena kamu masih mau menghargai budaya tradisional di Indonesia ini.” ucapku.

Setelah aku, Carrol, Annisa, dan Aurel berbincang–bincang. Tiba pengumuman lomba. Satu persatu lomba dibacakan, hingga tiba lomba menari tradisional. Juara 3 dan 2 pun diumumkan. Saat tiba Juara 1 diumumkan aku sangat deg–degan.

“Oke, ini dia Juara 1 lomba menari tradisional, untuk memperingati hari ulang tahun kota Malang, pemenangnya ialah… Putri Angelia, dari SMP Negeri 18 Malang.” ucap MC tersebut.

Saat namaku terucap aku sangat senang, aku bisa mengharumkan nama sekolahku. Aku segera maju dan menerima trophy dan piagam penghargaan itu.

“Selamat Putri Angelia… Kamu memang hebat!” ucap Pak Peni dan Pak Andi.

Aku sangat bangga terhadap diriku sendiri karena aku bisa mengharumkan nama sekolahku, memperkenalkan budaya tradisional kepada teman dekat kita, yang teman dekat kita sendiri pun tidak tahu seperti apa budaya tradisional itu, seperti apa tarian tradisional itu. Untuk semuanya meskipun kita hidup di zaman modern, tetap lestarikan budaya tradisional, karena dengan itu kalian bisa mendapat banyak kebahagiaan.


Karya : Vergilia Agam Saputri

PENJAGA KERIS

Hanya menunduk tak sanggup menatap dua orang didepanku. Ribuan kata bernada nasehat, rayuan, bahkan bernada ancaman keluar dari mulut mereka. Aku tatap bibir hitam mereka yang menari-nari.

“Kau mengerti anaku?” Ayah berkata sambil menepuk pundaku.

“Paman harap kamu bersedia mengemban tugas mulia ini”. Suara paman mencoba meyakinkanku.

“Ayah, Paman, biarkan saya berpikir dulu.” Aku mengakhiri diamku yang hampir satu jam mendengar persentasi mereka.

“Pikirkanlah dengan baik, ini demi dirimu dan juga keluarga kita. Ayah harap kamu mengambil keputusan yang bijaksana”. Itu pesan ayah sebelum motor matik hitam yang mereka naiki meninggalkan halaman kosku. Mereka, ayah dan paman datang menemuiku ke kos membawa amanat dari keluarga besar kami di kampung. Amanat itu adalah tentang harapan mereka agar aku bersedia menjadi penjaga keris pusaka peninggalan leluhur kami. Mereka bilang aku adalah orang yang terpilih menjalankan tugas itu. Jika aku menolak akan ada bencana yang menimpa keluarga kami.

Tiga hari kemudian, melalui telepon aku sampaikan pada ayah, bahwa aku tidak mau menjadi penjaga keris. Kuliahku memasuki semester akhir jadi aku fokus menyelesaikan tugas-tugas kuliah, tak ada waktu untuk hal lain. Itu alasan yang kusampiakan. Padahal alasan sebenarnya karena pikiran ilmiahku menolak mempercayai hal yang mistis seperti itu.

***

1 Pesan Diterima !
Dari : AdikQ..
“Kakak, Intan anaknya Om Ketut sakit keras, sekarang di rawat di rumah sakit. Mungkin ini bencana karena kakak ga mau jdi penjaga keris. Beberapa detik kutatap sms dari adiku. Apa mungkin seperti itu, ah tidak. Itu hanya kebetulan saja Intan sakit, dari kecil memang dia sering sakit. Apa mungkin hal itu benar? Malam itu aku gelisah. Sepanjang malam aku mimpi aneh. Dalam mimpiku aku didatangi seorang pria berpakaian adat Bali, tangan kanannya memegang bungkusan kain kuning. Dari bentuknya benda yang dipegang lelaki itu adalah keris.

Besoknya adiku sms lagi.
1 Pesan diterima !
Dari : AdikQ
Baru saja Paman di Palu nlpn. katanya anaknya diceraikan oleh suaminya tanpa alasan yang jelas. kakak, cobalah berpikir lagi, jagan biarkan keluarga kita terus dilanda bencana.

“Ahh.. persetan, masalah orang cerai masak aku yang bersalah.”

“Tapi… Ia ini salahmu, terima saja tugasmu!” Begitulah perang batinku.

Hari-hariku berikutnya terus dihantui keris. Tiap malam aku mimpi dikejar keris. Itu hanya mimpi, mungkin aku terlalu memikirkan keris itu, begitu pikirku. Kabar yang aku terima dari keluarga terus tentang bencana. Ternaknya mati, kebun karetnya kebakaran, Toko di bobol maling dan sanak keluarga sedang sakit.

Tapi aku yakin semua takdir mereka, bukan karena aku tidak mau menjadi penjaga keris. Mana mungkin leluhur memberatkan keturunanya. Kalaupun benar begitu berarti leluhur itu tidak bijaksana, melimpahkan tugas atau kesalahan pada kami yang masih hidup. Dibenaku mulai ditumbuhi hal negatif tentang leluhurku.

Pagi itu, jam ditanganku menunjukan pukul 07.50.

Tatapanku tertuju pada spanduk yang terpasang di depan gerbang bangunan “Selamat Datang Peserta Seminar, Mengenal Lebih Dekat Keris Bali” Aku ragu melangkah, bodoh banget aku ini. Saat Roy meminta aku menggantikanya mengikuti seminar aku langsung mengiakan. “Kamu gantikan aku, nanti Gus De dan Ayu menunggu disana. Teman-teman HMJ lain pada sibuk” Begitu ocehan Roy. Sialnya aku tidak konfirmasi tentang materi seminar itu. Ia sudahlah, tak ada salahnya aku ikut saja.

Pukul 08.35

… “keris adalah simbol laki-laki bagi orang Bali. Zaman dulu keris dapat menunjukan tinggi rendahnya status seorang …” Saat pembicara sedang membicarakan filosofi keris tiba-tiba hpku berbunyi. Itu dari adiku.

“Ada apa? aku sedang mengikuti seminar..”

“Aku dengan ayah lagi on the way ke kos kakak”

“Ada apa lagi?”

“Ada hal penting yang mau mereka sampaikan.”

“Ok, setengah jam lagi aku balik” Kututup telepon dengan rasa gundah.

Di depan ku lihat pembicara sedang menunjukan sebilah keris, memperkenalkan bagian-bagianya pada peserta seminar. Entah dari mana datangnya tiba-tiba aku merasa merinding dan ngeri melihat keris yang di pegang oleh Bapak itu. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak melanjutkan mengikuti acara itu. Pada kedua temanku aku pamitan ku bilang dengan jujur bahwa orang tuaku akan datang ke kos jadi aku harus balik sekarang juga. Mereka mengerti dan mempersilahkanku untuk berangkat.
Kenapa keluargaku tiba-tiba datang mencariku? Sudah lebih tiga tahun aku kuliah tak sekalipun orangtuaku datang ke tempat kos. Yang pernah ke kosku cuma adik, itupun sudah setahun lalu. Saat itu dia mewakili sekolahnya mengikuti sebuah lomba di kota tempat kuliahku, sebelum pulang ia sempatkan mampir ketempatku.

Tiiiiittttt !!!!!

***

Ku sadari diriku sedang berada di sebuah tempat yang menyerupai bioskop. Di depanku terbentang sebuah layar. Di layar itu kulihat dua orang pria gagah, mereka dikelilingi oleh banyak orang. Dua perempuan sambil mengendong anak kecil nampak sedih. Sepertinya dua orang itu adalah istri dari pria-pria itu. Orang-orang itu berteriak dengan mengangkat tangan tinggi keudara, sepertinya mereka memberi semangat pada dua pria gagah itu. Teriakan terus menggema saat kedua pria itu berjalan, keduanya melangkah menyusuri jalan setapak. Saat itulah aku sadar bahwa salah satu dari pria itu mirip dengan Ayahku atau bahkan mirip denganku.

Adegan berikutnya…

Beberapa perahu layar terlihat bergerak pelan dilautan. Kedua pria gagah terihat duduk di perahu dengan layar berwarna kotak-kota merah, hitam, dan putih. Di depan mereka berdiri seorang pria dengan pakaian seperti seorang raja.

Pria itu berkata “Depih, aku dengar kamu memiliki pasukan berupa wong samar” (mahluk halus).

Pria yang mirip denganku menjawab, “Ya Gusti Patih, saat ini hamba membawa 2000 pasukan wong samar, tuan bisa rasakan gerak perahu-perahu kita. Keempat perahu ini bergerak lamban karena memuat 2000 pasukan wong samar itu.

“Bagus! Aku harap kita bisa pulang dengan kemenangan tanpa ada pasukan kita yang gugur”

Bersama malam yang mulai datang, perahu yang mengangkut pasukan itu merapat di pantai. Hujan bersama guntur dan kilat menyambut kedatangan mereka. Pria yang di panggil sebagai gusti patih terlihat berdiri dan mencabut keris di pinggangnya, diancungkanya keris itu keangkasa. Sebuah kilat menyambar keris tersebut beberapa saat kemudian langit disekitar mereka menjadi cerah, hujan, guntur dan kilat hilang entah kemana.

“Depih, saatnya kamu keluarkan pasukan wong samarmu!“

Depih begitulah orang yang mirip denganku dipanggil. Pria itu segera mengeluarkan keris kecil dari pingganya. Sementara anggota pasukan yang lain tampak duduk rapi. Salah satu diantara mereka berdiri dan mendekati Depih, dia terlihat memegang seekor ayam hitam.

Leher ayam itu putus di babat oleh keris ditangan I Depih. Mulut pria itu komat-kamit membaca mantra. Tiba-tiba angin berhembus kencang, suara derap seperti ribuan kuda berlari terdengar menggema. Angin dan suara itu makin menjauh bergerak kearah daratan.

“TIDAK…!” Aku berteriak kaget kulihat keris ditangan I Depih bertambah panjang dan ujungnya bergerak kearahku, aku berlari keluar bioskop. Keris itu terus bertambah panjang dan mengejarku.

“Tidak, Jangan!”

“Keris, keris, jangan!” Aku berteriak dan terus berlari, tiba-tiba aku melihat kedua orang tuaku. Sekuat tenaga aku berlari kearah mereka.

“Dokter, dia bergerak, dia siuman!” Kudengar sayup suara.

***

Ku arahkan pandanganku, selang-selang infus menghiasi tubuhku. Kaki kananku dibalut perban. Senyum manis Andin adiku dan tatapan cemas Ayahku langsung terpampang dihadapanku.

“Aku kenapa?” Hanya itu yang keluar dari mulutku.

Dari cerita Ayah dan adik aku tahu, bahwa aku mengalami kecelakaan. Bertabrakan dengan mobil saat aku kembali dari tempat seminar. Aku mengalami luka yang parah, sudah 3 hari aku koma.

Besoknya aku ceritakan mimpiku pada Ayah. Ayah bilang orang dalam mimpi adalah I Depih leluhur kami yang pemiliki keris pusaka. Memang menurut cerita dia ikut berperang dan pulang membawa kemenangan. Saat pulang itu beliau membawa beberapa keris dan benda berharga lain, itu adalah bukti kemenangan yang diraih di medan perang.

***

Didepanku tergolek 3 buah keris. Satu persatu ku pegang benda tersebut. Aku memutuskan mau menerima tugas menjaga keris peninggalan leluhurku. Aku sadar keris ini memiliki nilai sejarah khususnya bagi keluargaku, jadi selayaknya aku ikut menjaga benda itu. Itu simbol prestasi yang diraih leluhurku. Mungkin zaman itu prestasi seseorang diukur dari tingginya ilmu kesaktian yang dimiliki beda dengan sekarang. Pada zamanya leluhurku telah di pilih oleh kerajaan untuk ikut misi penting. Kalau mau jujur aku belum ada apa-apanya, aku belum punya prestasi yang membanggakan keluarga. Aku telah salah meremehkan dan memandang negatif pada leluhur.

Jadilah aku penjaga keris pusaka. Setiap 15 hari sekali keris itu mesti dibersihkan. Ya masuk akal juga, biar keris tersebut tidak berkarat. Keris itu dibuatkan tempat khusus dirumahku dan tidak perlu membawa keris itu kemanapun aku pergi. Dulu salah satu alasanku menolak adalah karena aku kira benda itu harus dibawa kemana-mana. Dan kuliahku berjalan dengan wajar tidak terganggu oleh keris. Bahkan keris menjadi inspirasiku untuk meraih prestasi.

Sepeti pamor sebilah keris, begitulah jalan hidup manusia.
Menunggu lahirnya pagi…
25 Desember 2012


Karya : Wayan Widiastama

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...