Pages

Friday, June 21, 2019

SEDIHKU MUSNAH

Rintik air hujan mulai turun pukul 3 sore, membawa pesan dari matahari yang perlahan mulai tak nampak keberadaannya. Aku tidak tahu apa yang membuat hujan itu turun sore ini. Aku hanya ingin menikmati kesedihanku ini untuk menghabiskan senja hari ini. Entah ini baik atau tidak untukku karena terlalu larut dalam kesedihan. Karena yang aku tahu hanyalah mencoba memahami kesedihan ini bersama hujan yang turun hari ini.

“Apa hanya aku saja seorang gadis yang menikmati hari minggu ini dengan penuh kesedihan?” batinku

“Aku ingin mengabdi dan berharap air mataku memberi kenyamanan padaku setelah ini, dan aku bisa menghapus kesedihanku seperti air mataku yang jatuh ke pasir dan kemudian mengering” ucapku

Pohon yang kokoh yang mana manusia pun tidak tahu bagaimana pohon itu selalu berdiri tegak dan bisa menerima sandaran dari tubuhku.

“Jika saja ada orang lain yang mampu menerimaku untuk bersandar di tubuhnya, aku sangat berharap untuk itu.” Ucapku

“Kamu bisa menjadikan kesedihanmu sebagai kekuatanmu tha.” Suara pria yang tiba tiba datang dan menghancurkan lamunanku

“Ah, kak Rio, sejak kapan kakak di sini?” tanyaku

Rio adalah senior di sekolahku dan dialah yang membuatku sampai mengenal kesedihan seperti ini.

“Pertanyaan sejak kapan aku di sini akan selalu terucap darimu tha, aku sudah lama melihatmu di sini, dan kenapa kamu berteduh dan bersandar di samping pohon sambil melamun seperti ini?” tanya Rio

“Dia tidak perlu tahu bahwa aku begini karenanya.” batinku

“Aku hanya ingin mendapatkan kesedihan lalu bisa mengambil hikmahnya kak.” Jawabku lemas

“Jangan bicara seperti itu, aku tahu kamu adalah anak yang pintar dalam pendidikan, namun pendidikan tidak pernah bisa menyelesaikan masalah cowok tha.”

“Kenapa Rio bisa tahu kalau ini masalah cowok dan lebih jelasnya lagi karenanya.” Batinku

“Kenapa kamu bisa tahu kalau ini masalah cowok yang aku sayangi kak?” tanyaku

“Tidak ada seorang wanita remaja yang bersedih selain karena masalah pria, semua itu sudah ada di pikiran pria itu sendiri dan aku tinggal menebaknya tha, kamu adalah juniorku di sekolah tapi diluar itu kamu adalah temanku.” Jawab Rio

“Kenapa bisa begitu?” tanyaku

“Kalau tidak begitu kamu akan menyembunyikan kesedihanmu padaku, dan jika kamu temanku, kamu harus memberitahu masalahmu padaku, dan apa sebenarnya masalahmu?” yang Rio

Aku gugup untuk menjelaskannya, karena yang menanyakannya adalah orang sebagai sumber kesedihanku

“Jika aku sumber kesedihanmu maka katakanlah tha.”

Kenapa tembakannya selalu saja benar dan hampir tembakannya mencoba membunuh otakku untuk tidak bisa berpikir lagi.

“Aku bersedih karenamu Senior Rio.” Jawabku dengan lantang

“Kenapa denganku atha? Apa yang kulakukan sehingga wanita sepertimu bersedih karenaku?” tanya Rio

“Simple answer, kamu telah membuatku untuk mempunyai niat mencintaimu Rio.” Jawabku penuh rasa yakin

“Kamu mencintai seniormu ini Atha? Seberapa besar keberanianmu untuk mencintaiku? Apa kamu tidak pernah tahu bahwa aku mengajarkan pada juniorku untuk tidak mencintai lawan jenis di usia muda?” jawab Rio dengan marah

“Aku tidak pernah berpikir untuk bisa mencintaimu, tapi aku hanya ingin suatu saat memilikimu tanpa aku harus mencintaimu sekarang.” Ucapku

“Kamu harus berusaha untuk itu.” Jawab Rio

Aku pergi meninggalkannya sambil menundukkan kepalaku tanpa sepatah kata apapun yang kuucapkan untuknya.

“Aku bisa saja menghapus kesedihanmu itu jika kamu mau.” Teriak Rio

Kubalikkan badanku dan membuka mataku lebar-lebar untuk melihatnya. Aku menghampirinya dengan penuh keberanian, aku bayangkan dia bukanlah seniorku.

“Apa yang kamu maksud?” tanyaku

“Aku akan mencintaimu seperti kamu mencintaiku.” Jawab Rio

“Tapi kenapa? Apa kamu terpaksa berbicara seperti itu agar hilang kesedihanku? Dan apakah..”

Pertanyaan yang akan kusampaikan kepada Rio akhirnya terhenti, karena bibirnya yang manis melekat ke bibirku.

“Jika pohon ini memang kokoh, maka dia tidak akan bisa dipatahkan untuk selamanya, bahhkan oleh perbuatan manusia sekalipun.” Jawab Rio

“Apa maksudmu kak?” tanyaku

“Kamu akan memilikiku dan aku akan mencintaimu, karena aku tahu sumber kesedihanmu adalah aku, dan aku tidak terlahir sebagai sumber kesedihan orang lain.” Jawab Rio

“Lalu apa yang kamu sebut bahwa kamu tidak mengajarkan juniormu untuk mencintai lawan jenis, tapi kamu sendiri mengatakan hal itu?” tanyaku

“Karena yang kubutuhkan hanyalah masa depan yang mana aku bisa membangunnya dari sekarang, yaitu mencintaimu dan bersamamulah aku akan menghapus kesedihanmu itu.” Jawab Rio

“Tapi apakah masa depan yang kamu bangun dari sekarang, dengan mengatakan kamu mencintaiku apa bisa meyakinkanku untuk itu?” tanyaku

“Aku sendiri yang membuatmu yakin untuk itu.” Jawab Rio

Setelah kejadian itu aku dan Rio masih menjadi senior dan junior seperti biasanya, karena ini hanyalah jembatan yang kemudian akan kita lewati bersama untuk masa depan yang terbebas dari pendidikan.



Karya : Roy Widya

Sunday, June 2, 2019

KEMUNGKINANNYA CICAK

Sebuah tempat yang tenang sekali. Dokter Irfan sedang bekerja keras sekali di ruangan penelitiannya untuk menemukan obat yang dapat mengobati anaknya penyakit kangker darah.

Berkali-kali di proses dengan beberapa metode dan bahan obat-obatan yang sesuai dapat membunuh penyakit dan memicu kerja dari sistem kekebalan untuk memulihkan kondisi pasien ternyata gagal.

Dokter Ifran sudah patah arang untuk bisa menyelamatkan anak tersayangnya untuk bisa bermain bersamanya bukan terbaring di ruang perawatan menunggu waktu kematiannya. Karena kecewa Dokter Irfan keluar dari ruang kerjanya untuk menemani anaknya di ruang perawatan butuh banyak perhatian.

Di balik langit-langit ruang laboratium ada 2 ekor Cicak sedang bermain sambil mengejar Nyamuk yang berterbangan ke sana ke sini.

"Aku..yang dapat....aku yang dapat," teriak Cicak bernama Bono.

"Aku..yang  dapat.......," teriak Cicak bernama Beni.

Bono dan Beni mengejar Nyamuk terus menerus sampai melompat. Tapi karena Beni terselandung sebuah benang dan jatuh. Jadi Bono melompat langsung membuka mulut melahap Nyamuk "Nyam-nyam."

"Sial...saya..jatuh...jadi saya tidak bisa menangkap Nyamuk," kata Beni yang murung.

"Enaknya...Nyamuk ini...rasa..nya..gurih...sekali," kata Bono.

"Lain kali Aku..yang akan menang mendapatkan Nyamuk. Gara..gara benang ini?" kata Beni.

"Benang..apa?" tanya Bono.

"Benang ini...," kata Beni sambil menunjukkan ke Bono.

"Itu....benangnya....Lita..si...Laba-Laba. Pasti marah...karena kamu merusak jaring Laba-Laba," kata Bono.

"Masa...?!" kata Beni.

Tahu-tahu Lita si Laba-Laba di belakang.

"Iya...Aku..marah," kata Lita.

"Siapa yang ngomong?" tanya Beni.

"Di...belakang..mu...," kata Bono.

Beni membalikkan badannya melihat Lita si Laba-Laba dengan wujudnya menyeramkan dan mau melontarkan kata-kata amarahnya ke Beni si Cicak.

Beni langsung mundur satu langkah berkata "Maaf Aku tidak sengaja...memutus benang ini....yang pada akhirnya merusak...jaring Laba-Laba kamu. Sekali lagi maaf."

Lita mau marah gak jadi. Karena Beni si Cicak sungguh-sungguh meminta maaf pada Lita si Laba-Laba.

"Ya..Aku..maafkan lain kali..tidak...," kata Lita yang baik hatinya.

"Terima kasih..ya...Lita...," kata Beni.

"Iya," saut Lita si Laba-Laba.

Lita meninggalkan Beni begitu saja menuju jaring-jaring Laba-Labanya yang rusak untuk di perbaiki agar bisa menangkap Nyamuk. Beni mencari Bono malah gak ada.

Ke sana ke sini mencari Bono. Akhirnya melihat Bono melewati celah kecil di triplek pada langit-langit terkoyak dan Bono lewat situ. Beni memanggil Bono berkali-kali tidak menggubris.

"Apa yang di cara Bono..di panggil..gak menyaut," ocehan Benik kaya menggerutu.

Beni mengikuti Bono dengan jalur yang sama. Bono terus merayap di dinding dan langsung melompat ke meja yang jaraknya dekat dari dinding. Terus Bono berjalan dan melihat sesuatu di monitor pada sistem komputer. Bono mencoba data yang  pada layar monitor.

"Data..ini hampir 100 % tepatnya..99%....tinggal 1 persen...saja kalau bisa menemukan zat extrak yang bisa melengkapi dari rangkaian atom menjadi sempurna dan obat jenis baru di temukan," kata Bono.

Beni di samping Bono.

"Baca..apa? Aku ...tak..mengerti yang kamu omongkan," kata Beni.

"Kamu..Beni..bikin...kaget..aja. Tahu-tahu di samping. Oh..ini..Aku membaca..data jenis obat baru..untuk menanggulangi penyakit kanker darah," kata Bono.

"Oh..begitu. Aku coba..membacanya pada monitor," kata Beni.

Beni membacanya dengan seksama.

"Oh..metode yang di jalankan dalam data ini...yang di gunakan untuk menemukan obat jenis baru. Bukan..ini..metode..
mutasi gen. Kalau di tambah data....DNA..dari sel darah sepies Cicak. Maka..berhasil data ini menjadi 100%,"
kata Beni.

"Emang..ia..berhasil. Tapi ada dampaknya. Terjadi efek baru yang bisa aja mempercepat pertumbuhan penyakit di dalam tubuh pasien penyakit kangker darah. Sebenarnya kemungkinannya jadi..Nol," penjelasan Bono.

"Kok.. Nol?" tanya Beni.

"Iya..Nol. DNA Manusia dan Cicak gak bisa di satukan....efeknya terjadi penggumpalan..darah. Pada..akhirnya...penyakit lebih cepat berkembang dan pasien yang menderita tidak ada harapan hidup alias mati," penjelasan Bono.

"Ya...Bono..seperti biasanya...di ajak bicara khayalan. Malah realitanya..sebenarnya di bidang kedokteran. Gak seru," kata Beni.

"Kamu..terlalu banyak..nonton film...tentang mutasi gen. Kemungkinannya...Nollah..kalau kenyataannya," kata Bono.

"Kalau...dengan DNA Laba-Laba..gimana?" tanya Beni.

"Sama....cuma khayalan," kata Bono.

"Ya..lebih..baik...nonton film...bisa jadi kenyataan dari pada kenyataan sebenarnya....ya...nihil. Tapi Bono...masih ada kemungkinannya gak keberhasilannya?"

"Mungkin..sih...tapi perbandingannya susah untuk di hitung. Sudah yuk..kita cari..Nyamuk..jangan bahas urusan...Manusia," kata Bono.

"Ayo..nyari..Nyamuk. Perut saya lapar," saut Beni.

Bono dan Beni kembali ke langit-langit ruangan laboratium mencari Nyamuk. Dokter Irfan masuk ruang kerjanya lagi untuk terus mencoba menemukan obat jenis baru yang bisa menolong anaknya kangker darah dan memberikan harapan untuk anaknya hidup di muka bumi ini...bermain dan bergembira.

Saturday, June 1, 2019

TIKUS YANG BAIK

Langit cerah sekali walau sedikit lembab. Tikus bernama Bilu keluar dari sarangnya di bawah tanah dekat pohon besar. Bilu pun sebelum pergi untuk mencari makan selalu pamitan dengan saudaranya si Tatang.

Seperti biasa Tatang membiarkan maunya Bilu. Sampai di sebuah pohon besar yang sedang buahnya masak dan pada jatuh buahnya di tiup angin atau di jatuhkan oleh para Kalong yang mencari makan pada malam hari.

Bilu senang sekali memakan buah  jambu air yang masak di tanah dan segera di makannya dengan perut kenyang sekali baru di kumpulin lagi buah jambu air tersebut untuk di bawa pulang untuk saudaranya Tatang.

Hampir sampai di sarang alias rumah Tikus. Bilu bertemu dengan seekor Musang yang sedang tiduran di depan sarang. Musang tersebut bernama Bimbi.

Bilu yang baik selalu membagi makannya ke Bimbi. Sedangkan Bimbi senang dengan kebaikan Bilu yang peduli dengan diri Bimbi padahal Bimbi sebatang kara tanpa keluarga.

Baru deh Bilu pulang ke rumahnya atau di sebut sarangnya di bawah tanah. Makan yang di bawa Bilu di bagi dengan saudaranya. Tatang senang dengan bawaan Bilu makan yang enak sekali.

Setiap hari Bilu menjalankan hidupnya begitu terus dengan rutin tidak pernah mengeluh membagikan makannya pada Musang dan saudaranya si Bilu.

Sampai suatu keadaan tanah bergoncang atau bergetar sampai-sampai sarang porak-porak poranda. Bilu dan Tatang berhasil keluar dari sarangnya  dengan muram durja.

"Hancur deh..rumah kita," kata Bilu.

"Ikhlasin saja. Kita cari tempat yang aman untuk berlindung lagi. Ini semua karena ulah manusia yang sedang pelebaran jalan untuk mengatasi kemacetan atau hanya perbaikan jalan untuk mempelancar jalur kendaraan agar nyaman dan aman sampai tujuan," kata Tatang.

"Ya...saya..Ikhlaskan dan maksud dari omongan kamu ada banyak para manusia yang melintasi jalan ini untuk menjalani hidup ini. Hari libur lebih rame lagi apalagi urusannya mudik lebih rame dan padat merayap. Agar bisa melaksanakan lebaran bersama keluarga di kampung karena sudah lama tidak lama berjumpa. Karena banyak urusannya mengejar mimpi dan harapan demi dapat hidup berkecukupan," kata Bilu.

"Ya...begitulah ulah para manusia. Ayo kita mencari tempat yang aman untuk kita buat sarang lagi untuk kita berlindung," saran Tatang.

"Ayo," saut Bilu.

Bilu dan Tatang berjalan mencari tempat untuk membuat sarang. Dan menjauh dari getaran yang sangat kuat dari pelebaran jalan atau perbaikan jalan. Bilu dan Tatang mendapatkan  daerah yang tenang sekali untuk di buat sarang di daerah tersebut. Tapi kedua Tikus tidak sadar saat membangun rumah yang baru di awasi oleh seekor predator yang ingin melahap Bilu dan Tatang.

Bilu sudah ketakutan di hadapannya seekor Ular Kobra yang mau mengujamkan racun ke tubuh Bilu. Untung di tolong Tatang sampai berguling-guling di tanah. Tapi naasnya Tatang di gelibat oleh tubuh Ular Kobra dengan sangat kuat sampai Tatang susah bernafas.

Bilu berusaha membantu saudaranya dengan menimpukin dengan batu-batu ke arah Ular Kobra. Sang Ular Kobra marah dengan ulah Bilu melawan kekuatan dari seekor predator yang kuat dan berbisa.

Berkali-kali Ular Kobra menyerang Bilu dengan serangan taring berbisa Ular Kobra. Tetap berhasil juga menghindar. Tetap saja Bilu kewalahan dan si Tatang hampir mati di lilit Ular Kobra.

Bilu sudah pupus harapannya menolong saudara satu-satunya. Bilu di serang oleh Ular Kobra lagi dengan taring bisanya yang beracun. Dengan berlari cepat dan melompat ke arah Bilu.

Sampai berguling di tanah Bimbi si Musang dan Bilu.

"Bimbi," kata Bilu.

"Penting teman saling tolong menolong saat saat senang atau dalam hal yang susah...seperti ini di ujung tanduk kematian dari si Ular Kobra yang kelaparan," kata Bimbi.

"Terima kasih atas bantuannya," kata Bilu.

"Iya..sama-sama. Saatnya saya menolong saudara mu yang hampir mati oleh lilitan Ular Kobra," kata Bimbi.

"Tolong..bantu saya...selamatkan Tatang...saudara satu-satu saya," permohonan Bilu.

"Saya akan berusaha sebaik mungki," kata Bimbi.

Bimbi mulai menghadapi si Ular Kobra.

"Tunduklah di hadapan di hadapan saya dengan kekuatan saya...yang mematikan...yaitu bisa yang beracun," kata sombong Ragul si Ular Kobra.

"Saya tidak peduli omongan kanu," saut Bimbi  si Musang.

Terjadi pertarungan sengit antara Musang dan Ular Kobra. Keduanya tidak mau mengalah satu sama lain. Musang berhasil membuat Ular Kobra fokus pada dirinya Musang dan melonggarkan lilitannya pada Tatang si Tikus. Dan segera Bilu menolong saudaranya dengan menariknya agar benar-benar lepas dari lilitan Ular Kobra.

Usaha Musang berhasil untuk agar si Ular Kobra fokus pada diri Musang. Bilu berhasil menyelamatkan Tatang dan menjauh dari Ular Kobra. Tetapi sang Ular Kobra marah banget makannya terlepas dari lilitannya dan menyeranglah Ular Kobra ke Bilu dan Tatang dengan taring bisa yang tajem dan mengabaikan si Musang.

Musang tahu teman-temanya dalam bahaya dengan bergerak cepat dan melompat lalu mendorong ke dua Tikus sampai terpental. Musang terkena gigitan Ular Kobra yang beracun.

"Ahhhh," teriak kesakitan Musang.

Bilu khawatir dengan ke adaan dari Musang. Dan di tambah lagi Tatang pingsan. Ular Kobra menarik gigitannya.

"Gimana bisa racun saya yang sudah masuk ke dalam tubuh mu. Hay....Bimbi...si..Musang," kata Ragul si Ular Kobra yang sombong.

"Cuma gigitan seperti ini saya tidak akan gentar...sedikit pun. Dan juga di dalam tubuh ada antibodi yang kuat dengan serangan racun ular," kata Bimbi yang optimis menang.

Bimbi bangkit dari keadaannya menyerang Ragul si Ular Kobra. Pertarungan sengit lagi. Saat Ragul lengah kesempatan Bimbi menggigit pada bagian lehernya sampai sisik robek terlihat daging dan darah yang mengalir.

"Aah...!!!" kata Ragul yang menahan sakit.

Bimbi terus saja mengawasi gerakan Ragul. Tapi kepala Ragul mulai kelieng-kelieng karena banyak darah yang keluar dari bagian yang terluka di gigit musang. Karena tahu kekalahannya Ragul pun berkata dengan sombongnya menutupi yang sebenarnya "Saya tidak akan kalah dengan kamu...."

"Saya..akan menghancurkan kamu," kata Bimbi.

Ragul mau menyerang dengan menciptakan kejutan dari ekornya di gibas seperti cambuk mementalkan daun-daun. Sontak Bimbi mundur menghindari serangan tersebut. Ragul langsung pergi.

"Kalau saya teruskan pertarungan..ini saya..mati..kabur...," ocehan tersamar Ragul si Ular Kobra.

Bimbi menang dalam pertarungan melawan Ragul si Ular Kobra. Bilu mendekati Bimbi "Terima kasih...atas semuanya."

"Iya..sama-sama. Jaga..saudaramu dan obatin lukanya. Saya..permisi dulu." kata Bimbi.

"Iya...." ujar Bilu.

Bimbi meninggalkan Bilu dalam keadaan sepoyongan. Efek gigitan bisa mulai mempengaruhi tubuh Bimbi.

"Saya..harus mencari daun obat dan memakannya agar bisa memulihkan kondisi saya," ocehan Bimbi dengan suara kecil.

Bilu langsung membawa Tatang ke suatu tempat yang aman dan di obatin sampe sembuh. Bilu pun harus membuat sarang di bawah tanah agar terlindungi dan aman. Bilu bekerja sendirian membuat sarang. Tatang tak bisa membantu karena kondisinya. Dengan kesabaran Bilu berhasil membuat sarang walau belum selesai. Tatang pun merasa enakan pada tubuhnya alias sembuh total. Baru deh membantu Bilu membuat sarang sampai selesai.

Setelah urusan membuat sarang seperti biasanya kehidupan Bilu dan Tatang normal lagi. Seperti biasa Bilu mengumpulkan banyak buah-buahan yang enak dan di bagi ke Bimbi si Musang dan juga untuk saudara satu-satunya....Tatang si Tikus.

Sampai suatu ketika Bimbi memperkenalkan Tikus betina....si Lila namanya....ke Bilu. Semenjak pertemuan itu bertemanlah Bilu dan Lila dan juga seperti biasanya kebaikan dari Bilu membagikan makanannya sama Lila.

Lama kelamaan ada rasa sama Lila si Bilu. Tapi langsung sadar Bilu. Lila sedang dekat dengan Tikus jantan ...si..Joki yang bertubuh besar dan lebih baik bisa melindungi Lila karena hidup di dunia binatang keras sekali. Bilu pun merasakan kenyataannya maka selalu di simpan kata-kata nasehat dari Tatang "Yang kuat menang segalanya dan yang lemah binasa."

Maka itu Bilu mencari jalan terbaik urusannya dengan Lila yaitu membuang perasaannya dan kembali ke awal di mana niat baiknya hanya berteman saja.

Bilu menjalan kehidupan benar-benar normal seperti biasanya. Sampai menemukan seekor Tikus tua mati saat Bilu mencari makan padahal si depan Tikus tua tersebut ada makan. Bilu yang baik menguburkan Tikus tua dengan layak sekali.

Setelah itu pulang ke sarangnya dan bercerita pada Tatang tentang Tikus tua yang mati dan Bilu menguburkannya. Tatang memberikan tanggapan yang baik "Sudah kodarnya yang hidup pasti mati. Dan jalan kematian telah di tetapkan dalam suratan takdir Illahi. Tak satu pun makluk bisa melawan dari ketentuan yang di tentukan oleh Tuhan."

Bilu pun mengerti sekali omongan dari Tatang. Setiap ada waktu melewati kuburan Tikus tua...Bilu langsung meratap dan berkata dalam hatinya "Saya juga akan sama kedudukannya dengan anda yang tidur dalam kuburan..ini...alias mati."

Bilu memjalani hidupnya dengan riang untuk menikmati hidup yang sekali ini bersama saudara dan teman-teman yang baik.

Sunday, May 26, 2019

BURUNG KUTILANG

Langit sangat cerah sekali dan cukup panas. Burung Kutilang yang bernama Heru terbang dengan baik di aliran udara dan turun di sebuah atap untuk menemui temannya si Kuku yang lagi asik santai.

"Hay..Kuku."

"Cepet juga datengnya....kan baru saya koling pake Hp sudah nyampe...Heru."

"Jangan...guyon...ah kaya manusia saja pake Hp. Janjinya kemarin ya...saya tepatin hari..ini....mempung gak ada kerjaan alias cari burung betina untuk jadi pasangan....Kuku. Masih muda....."

"Ya...saya..tahu...darah muda yang masih bergelora yang ingin cepet kawin dan dapet keturunan. Lengkap deh hidup sesuai dengan suratan takdir....," kata Kuku.

"Kamu bener Kuku...ngomong-ngomong tempat apa ini yang kita dudukin sekarang?" tanya Heru.

"Bandara. Tuh..lihat lebih ke ujung sana ada pesawat terbang....," jawab Kuku sambil menunjuk ke arah pesawat yang berjejer di lapangan yang luas banget.

"Jadi...burung besi toh. Urusan manusia lebih mudah ya pergi ke satu tempat dengan memakan waktu yang cukup singkat dan aman. Kaya kita ini Kuku."

"Iya dan juga pelayanan dan keamanan juga yang baik untuk para manusia yang ingin berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain dengan kepentingan manusia yang kompleks," tambahan Kuku.

Saat Heru lagi asik ngobrol dengan Kuku. Dateng dengan cepat turun dari  langit hendak menanfkap Kuku dan Heru dengan kuku-kuku yang tajam. Untung Heru melihat bayangan dan langsung menjauh dengan menarik Kuku yang tidak sadar kedatangan musuh.

"Hampir saja ke tangkap Black si Burung Elang," kata Heru.

"Saya selamat," saut Kuku.

"Hebat juga bisa menghindari serangan saya dadakan untuk menangkap kalian untuk santap siang," kata Black.

"Kuku...cepat pergi dari sini!" kata Heru.

"Kemana ?" tanya Kuku.

"Kemana saja...yang penting selamat. Oh..ya ke dalam bandara," saran Heru.

"Baik," saut Kuku.

Heru dan Kuku terbang dengan berusaha dengan cepat sekali menjauh dari Black yang mau memangsa mereka berdua.

"Jadi kalian mau lari. Saya kejar kalian sampai sejauh mana kehebatan kalian terbang dengan sayap kecil itu," kata Black.

Black pun terbang sekali kepakan sayap sudah di atas Heru dan Kuku jadi bayang-bayang.

"Bahaya...Black makin dekat," kata Kuku.

"Saya...tahu. Kepakan sayap yang lebih cepat lagi agar bisa menghindari dari bayang-bayang Black," saran Heru.

"Iya," saut Kuku.

Kuku dan Heru mengepakan sayap dengan cepat dan menukik ke bawah dan langsung bergerak ke kanan menuju sebuah celah kecil yang terbuka. Black mengikuti kemana Heru dan Kuku terbang.

Perhitungan tepat Heru dan Kuku masuk ke dalam bandara lewat pintu kaca yang terbuka kecil banget cukup untuk Heru dan Kuku yang terbang beriringan dan setelah itu pintu kaca tertutup lagi.

Sedangkan si Black tidak bisa masuk bandara karena tubuhnya besar dan juga pintu kaca tertutup dan akhirnya menabrak pintu kaca.

"Saya...sial.....di kelabui..oleh dua Burung Kutilang," kata Black sambil jatuh ke lantai.

"Kita berhasil mengalahkan si Black," kata Kuku yang senang.

"Rasano.....makan tuh pintu kaca. Kelenger..kamu Black," kata Heru.

"Iya...rasano...Black kamu cium pintu kaca buatan manusia," kata Kuku yang ikutan.

Heru dan Kuku terbang menuju tempat untuk mencelok dan beristirahat menghilangkan rasa capeknya. Black berusaha menyadarkan dirinya dan bangun dari tempat dia tergeletak di lantai dan meregangkan sayapnya untuk terbang ke langit karen petugas kebersihan bandara mendatangi Black si Burung Elang untuk di usir karena menghalangi jalan untuk keluar masuknya para penumpang pesawat terbang.

Black pun terbang ke langit dan pergi menjauh dari bandara karena gagal menangkap dua ekor Burung Kutilang. Kuku dan Heru mencelok di sebuah langit-langit tinggi dan tak terjamah oleh manusia.

"Nyantai...sambil melihat para manusia..dan juga udaranya dingin," kata Kuku.

"Iya..disini adem ada Ac-nya......saya..ngantuk. Abisnya kelelahan menghindari serangan Black si Burung Elang yang kelaparan," kata Heru.

"Terserah kamu...Heru."

Kuku senang melihat para manusia di dalam bandara. Sedang Heru istirahat dengan tiduran sampai rasa capeknya hilang. Kedua Burung Kutilang terus menerus di dalam bandara karena aman alias tidak ada yang mengganggu. Hari pun menjelang malam lebih tepatnya magrib. Kuku dan Heru keluar dari bandara lewat fentilasi udara yang kain kasanya untuk saringan udara terlepas menuju pulang ke sarang mereka masing-masing yang tidak jauh dari bandara.

Saturday, May 25, 2019

TIKUS GO TIKUS GO

Langit malam yang bertabur bintang.Tikus berlari cepat menuju rumah teman. Sampai di rumah temannya Tikus langsung memanggil temannya yang baru keluar dari rumahnya.

"Bambang."

"Iya......Agus."

Agus mengatur nafasnya di depan Bambang.

"Ayo kita berangkat nonton pertandingan sepak bola!" kata Agus.

"Ayo," ujar Bambang.

Agus dan Bambang pergi ke stadion untuk melihat pertandingan sepak bola. Dengan berlari cepat keduanya lewat jalan pintas masuk selokan saku ke selokan yang lain menuju arah paling benar menuju stadion.

Karena salah perhitungan Agus dan Bambang jadi jalan yang di tuju jalan buntu.

"Gimana..ini..Bambang."

"Kemarin kaya gak ada. Kalau di lihat tekstur tembok jalan ini masih baru. Kemungkinan ada pembangunan jalan saluran air di ubah agar langsung ke saluran pembuangan yang lebih besar," penjelasan Bambang.

"Jadi lewat mana..ini..Bambang? Pertandingan sepak bola segera di mulai," kata Agus.

"Kita keluar dari selokan ini lewat jalan raya. Tapi hati-hati dengan motor dan mobil bisa mati terlindas dan juga Kucing liar yang kelaparan," saran Bambang.

"Saya..pasti berhati-hati," kata Agus.

Bambang dan Agus keluar dari selokan. Terlihat manusia dengan kesibukan masing-masing. Saat ke dua Tikus melintas di kakinya ada manusia yang geli pada Tikus dan berusaha menjauhkan diri.

Ke dua Tikus jojong saja berjalan dan berlari untuk menyebrang jalanan. Bambang dengan cepat sampai di seberang saat tidak ada kendaraan melintas. Agus ketakutan sekali melewati jalan raya. Tapi terus di panggil oleh Bambang untuk berani menyebrang ke tempat Bambang berdiri.

Agus pun memberanikan diri untuk menyeberang sampai di tengah jalan mobil dan motor mulai melintas. Agus panik takut di lindas motor dan mobil. Tapi karena kepanikan itu membuat Agus lebih kacau lagi di pikirannya sampai pusing. Tak sadar roda mobil sudah di depan Agus. Bambang tahu temannya mau di lindas mobil dengan cepat berlari dengan membaca situasi melewati mobil dan motor melintas.

"Ahhh," teriak Agus yang mau mati di lindas roda mobil.

Bambang melompat ke arah Agus dan bergelinding. Setelah itu bangun dan digandengnya si Agus melewati jalan yang ramai di lewati motor dan mobil sampai di seberang.

"Saya..selamat," kata Agus mengatur nafasnya agar jantung tidak berdetak cepat lagi.

"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati dan juga kuasai insting binatang kamu agar bisa melewati jalan ramai seperti ini agar selamat sampai tujuan," kata Bambang sekaligus memberikan nasehat.

"Iya...," jawab Agus.

"Ayo..kita..menuju stadion untuk melihat pertandingan sepak bola!" kata Bambang.

"Ayo," saut Agus.

Bambang dan Agus bergerak cepat dengan berlari menuju stadion saat ingin masuk ke selokan yang langsung menuju ke dalam stadion. Di hadanglah Bambang dan Agus dengan seekor Kucing sangat buas di daerah tersebut.

"Mau kemana kalian?" tanya Kucing yang bernama Robert.

"Eeee...." kata Agus yang penuh ketakutan.

"Saya....ingin jalan-jalan...saja," kata Bambang.

"Jalan-jalan dengan tergesa-gesa begini. Kamu berbohong. Mau ke dalam stadion untuk melihat pertandingan sepak bola," kata Robert.

"Iya...benar," saut Agus.

"Diam. Gak perlu bicara jujur sama predator yang mau memangsa kita," kata Bambang.

"Jadi kamu sadar..lebih baik dari teman kamu yang lugu..itu. Jadi kalian berdua tikus jalan akan jadi santapan makan malam saya," kata Robert.

"Lari...Agus!" kata Bambang dengan suara yang keras.

"Iya," saut dengan cepat Agus.

Bambang dan Agus berlari dan berusaha menghindari dari serangan Robert yang mematikan dengan cakarnya yang tajam. Bambang dan Agus berhasil menghindari serangan Robert.

Bambang tergelincir saat berlari cepat karena memijak benda yang licin yaitu jely makan manusia yang terjatuh di jalan. Robert tepat di hadapan Bambang yang siap menerkam dengan gigi taringnya yang tajam banget.

Agus berusaha tidak panik dan melihat sekelilingnya melihat benda bulat seperti bola tetapi bukan bola alias bakso...makan manusia yang terjatuh di jalan.

Agus menendang bakso ke arah Robert yang mulutnya menganga untuk menerkam Bambang. Tendangan Robert masuk ke dalam mulut Robert.

"Gooolllll," teriak Agus.

Robert lengah dan Bambang berlari menuju di mana Agus berdiri.

Robert keselek bakso sampai susah bernafas. Agus dan Bambang berlari masuk selokan menuju dalam stadion.

Robert berusaha keras mengeluarkan benda di dalam mulutnya karena susah bernafas dan walhasil berhasil keluar benda tersebut dari mulutnya Robert.

"Saya hampir mati tersedak bakso..ini. Tapi bau bakso ini enak. Saya coba saja makannya dikit demi dikit untuk mengisi perut saya yang kosong," kata Robert.

Robort memakan bakso tersebut.

"Enak...banget bakso ini," kata Robert.

Robert menikmati bakso dengan di bawa ke tempat yang sunyi untuk menikmati makan malamnya.

Sedangkan Agus dan Bambang sampai di dalam stadion dan melihat pertandingan sepak bola Liga Indonesia. Baru nonton sebentar terjadi cetak gol. Bola bener-bener masuk ke gawang. Semua penonton bersorak sorai dengan cetak gol pertama tersebut.

Agus pun ikutan teriak "Gollllll....golllll."

Bambang pun ikutan juga teriak juga "Gollllll.....golllll."

Suara gemuruh dengan suara para penonton manusia yang mendukung pertandingan sepak bola yang jujur dan adil. Bambang dan Agus nonton dengan asik pertandingan sepak bola dan terbawa suasana yang panas dari para laga pemain sepak bola yang bertanding.

Sampai pertandingan sepak bola usai. Bambang dan Agus senang sekali dengan pertandingan yang jujur dan adil. Saat berjalan menuju rumah lewat jalan yang aman tapi lebih jauh dari rumah. Agus tidak henti-hentinya bercerita tentang kehebatan para pemain sepak bola dengan teknik membawa bola dengan kecepatan tinggi dan ketepatan waktu saat menembak bola ke gawang sampai mengecoh penjaga gawang yang berakhir gollll dan gollll.

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...