Pages

Friday, January 10, 2020

KUCING

Kucing berlari dengan cepat sekali mengejar Tikus sampai masuk ke dalam gedung. Di dalam gedung penuh dengan manusia yang berbaju merah. Kucing melupakan Tikus yang ia kejar dan berusaha menjauh dari para manusia. Tikus masuk terus masuk ke dalam sampai ekornya di injak oleh wanita.

"Ciiiiit," teriak Tikus kesakitan.

Wanita merasakan sesuatu di kakinya, menggeliat gitu. Di lihat seksama oleh wanita tersebut.

"Tikus......," teriak wanita yang ketakutan.

Semua manusia yang geli dengan Tikus menghindarinya, sedang yang berani dengan Tikus, ya mau membunuh Tikus dengan menginjak injaknya. Tikus bisa menghindari serangan para manusia tersebut dengan masuk lubang yang ada di bawah panggung.

Kucing yang dari tadi berusaha menghindari manusia, ya lebih baik keluar dari gedung dengan berlari cepat.

"Lebih baik di luar gedung dari di dalem banyak manusia yang pake baju merah berlambangkan banteng, nanti ngamuk," kata Kucing.

Kucing berjalan dan berjalan lagi. Sampai mencium bau yang enak gitu, ya Kucing segera berlari ke tempat bau yang enak. Terlihat dengan jelas Kucing restoran dengan ciri khasnya lampion berwarna merah.

Kucing pun dengan berjalan pelan-pelan menghindari langkah manusia ke sana ke sini demi mencium bau yang enak. Sampai di dapur, ada sih bekas makan gitu. Kucing mau menikmati makan tersebut, tetapi sudah ada Anjing di situ.

"Wah kalau nekat, aku mati," kata Kucing.

Kucing pun mengurungkan niatnya untuk tidak mendekati makan yang di jaga Anjing. 

"Restoran cina, ya pasti ada Anjing," kata Kucing.

Kucing pun berjalan dan berjalan gitu. Kucing melihat anak kecil yang sedang makan gitu, ya Kucing mendekati anak kecil tersebut dengan cara mengelus diri kucing ke kaki anak kecil.

Anak kecil kegelian dan menjatuhkan makannya di tangannya. Ya Kucing segera memakan makan tersebut, ya roti sih. Anak kecil tersebut mau mengambil makannya yang di makan Kucing, tapi sang Ibu melarang anak kecil itu mengambil makan yang sudah jatuh ke tanah. Ibunya anak tersebut membawa anaknya menjauh dari Kucing dan di berikan makan yang baru, ya sang anak senang makan rotinya.

Kucing senang dapet makan yang enak dari anak kecil yang menjatuhkan makannya. Setelah itu Kucing meninggalkan tempat tersebut menuju sebuah tempat yang penuh dengan anak-anak remaja yang sedang main game PS 4. Kucing mendekati pemiliknya seperti biasanya.

"Kucing dari mana saja kamu?" kata Boby.

"Meong," kata Kucing.

"Oh.....main sekitar sini," kata Boby.

"Meong....meong," kata Kucing.

"Aku punya kepala ikan nih," kata Boby.

Boby pun memberikan kepala ikan ke Kucing, yang biasa kalau makan nasi bungkus pake ikan lele, ya kepalanya gak di makan. Kucing segera makan kepala ikan lele dengan lahapnya. Boby ya kembali urusannya. Kucing terus makan kepala ikan sampai habis, ya akhirnya kenyang.

Kucing mencari tempat untuk tiduran gitu, ya di sebuah sofa buruk yang tidak terpakai lagi di taruh di belakang rumah. Saat Kucing mau tidur, eeee ada anak Kucing yang mau tidur di situ. 

Kucing jadi males tidur di sofa buruk tersebut, ya jadinya berjalan dan berjalan mencari tempat yang sepi di dan tenang. Kucing naik di tumpukan koran bekas, ya segera tiduran di situ dengan tenang.

Thursday, January 9, 2020

JALAN-JALAN

Kucing berjalan menuju sebuah gedung yang besar lewat pintu yang terbuka. Terlihat Kucing, ramainya manusia di dalam gedung. Terdengar juga hingar bingar dari suara dari musik dan para penyanyi yang menyanyikan lagu di atas panggung.

"Manusia selalu berkumpul di satu tempat untuk menyenangkan dirinya bersama orang-orang," kata Kucing.

Kucing berjalan terus berjalan. Saat mencium bau yang enak, Kucing segera berlari cepat menuju bau yang enak. Ada sebuah kotak yang berisi makan di atas kursi yang di tinggal pemiliknya yang sibuk dengan pekerjaan pertujukan.

Kucing naik kursi dan langsung menggigit daging ayam dan bawa pergi. Pemilik nasi kotak dateng untuk makan dan melihat ayam di kotak tidak ada lagi.

"Jangan-jangan di colong Kucing. Gara-gara aku....tinggalkan makan aku sebentar karena ngurusin pekerjaan," kata pemuda.

Kucing asik makan ayam yang enak di bawah meja yang tidak di gunakan.

"Enakkkkk," kata Kucing.

Kucing pun kenyang, ya meninggalkan tempat tersebut. Berjalanlah Kucing ke panggung pertunjukkan. Terlihat banget manusia yang asik menikmati hiburan yang di persembahkan oleh penyelenggara acara. Kucing pun meninggalkan tempat tersebut dan terus berjalan terus berjalan. Sampai terlihat Kucing betina. Kucing mengejar Kucing betina.

Saat berjalan beriringan. Kucing ingin mengambil hati Kucing betina. Ternyata Kucing betina cuwek banget.

"Sikap Kucing betina, kaya manusia aja....ya lebih tepatnya cewek," kata hati Kucing.

Kucing pun ya lebih baik pergi meninggalkan Kucing betina. Eeee tahu-tahu Kucing betina di datengin Kucing jantan dan juga satu anaknya.

"Kucing betina sudah punya pasangan dan anak pula, pantes cuwek banget," kata Kucing.

Kucing pun terus berjalan dan berjalan sampai di sebuah ruangan yang gelap lebih tepatnya ruang kantor gitu. Kucing naik sofa dan molet molet, ya tiduran. Baru tiduran sebentar. Seorang Ibu-Ibu masuk ke dalam ruang kantor dan segera menghidupkan lampu dan duduk di sofa dan segera menghidupkan Tv.

Kucing turun dari sofa dan meninggalkan tempat tersebut yang tidak tenang lagi. Terlihat Tikus gitu. Ya Kucing mengejar Tikus dengan kerasnya. Tikus berlari dengan cepat agar tidak di tangkap Kucing. Sampai mencium bau enak lagi, Kucing melupakan mengejar Tikus untuk mencari bau yang enak tersebut.

Di pinggir tempat sampah ada kotak nasi yang tergeletak di situ. Segera Kucing memakan nasi dan ayam tersebut, tetapi sayur dan cabe hijaunya, ya gak di makan. Kucing pun menikmati makannya sampai kenyang banget. Setelah itu Kucing berjalan lagi ke panggung pertunjukkan.

Ketika penyanyi menyanyikan sebuah lagu dengan suara cemprengnya. Kucing pun kaget sampai bulunya berdiri semuanya. Kucing pun pergi dari tempat tersebut karena sakit mendengar suara jeleknya dari penyanyi yang cempreng banget. Sampai di luar panggung.

"Penyanyi suara cempreng bisa laku, aneh.....," kata Kucing.

Kucing pun terus berjalan dan berjalan sampai di semak-semak dan istirahat, ya tidur.


Saturday, December 28, 2019

CINTA ADALAH PELARIAN SAJA

Pagi yang cerah sekali. Kucing berjalan menuju sebuah ruang kelas dan istirahat di bawah meja. Ada seorang di dalam kelas, Tiana yang sendirian. Tapi di dalam dirinya Tiana pun berkata-kata "Aku menyukai Kakak ku".

Heru pun masuk ke dalam kelas.

"Tiana," kata Heru.

"Kakak, maaf....Guru," kata Tiana.

"Lagi ngapain kamu sendirian di dalam kelas?" tanya Heru.

"Anu.....anu," kata Tiana terbatah-batah.

Juliana masuk ruang kelas dan langsung ngobrol dengan Heru dengan akrab gitu. Tiana tidak melanjutkan omongannya, tetapi di dalam hatinya berkata "Aku menyukai Kakak Heru, tapi ia selalu dekat dengan Mbak Juliana..., guru ku juga".

Heru dan Juliana terus bicara dengan urusannya mereka berdua. Tiana pun permisi dari tempat tersebut. Jesen dateng menghampiri Tiana dan segera memegang tangannya Tiana, di bawalah Tiana oleh Jasen ke belakang sekolah.

"Tiana," kata Jesen.

"Jesen," kata Tiana.

Tiana dan Jesen saling berpandangan dan reaksi pun terjadi keduanya untuk berciuman. Memang Tiana merasanya nikmat berciuman dengan Jesen, tapi hati Tiana dan pikirannya selalu memikirkan Heru yang ia sukai. Jesen pun memang menikmati ciuman bersama Tiana dengan mersa gitu, tapi hati dan pikirannya selalu memikirkan Juliana.

Kucing melihat ulah dua manusia yang memadu kasih, lalu bersuara "Meong".

Jesen dan Tiana menghentikan kemersaan keduanya dan akhirnya memilih pisah begitu saja. Tiana pun berjalan menuju ruang kelas, masih memikirkan Heru padahal sudah pacaran dengan Jesen.

"Aku menjalankan cinta dengan Heru, hanya pelarian saja," kata hati Tiana.

Jesen pun masuk dalam ruang kelas, tetapi masih memikirkan Juliana padahal sudah pacaran dengan Tiana.

"Aku pelarian saja hubungan pacaran dengan Tiana, yang aku cintai......Juliana."

Guru Juliana masuk ruang kelas untuk membimbing muridnya. Jesen melihat Juliana, Mbaknya yang paling di sukai Jesen. Guru Heru masuk ruang kelas untuk memberikan pendidikan pada muridnya. Tiana melihat Heru, Kakaknya yang ia cintai dengan segenap jiwanya.

Sistem belajar mengajar terus berlangsung dengan baik. Tiana selalu tidak bisa konsentrasi karena selalu memikirkan Heru, Kakak yang di harapkan jadi kekasih idaman Tiana, bukannya Jesen.

Sampai usai proses belajar mengajar. Tiana berjalan menuju rumahnya. Saat berpapasan dengan Jesen, segera di pegang tangan Tiana dan di bawa Tiana ke taman di bawah pohon yang rindang.

Tiana dan Jesen saling berpandangan. Rasa hasrat gelora keduanya, walau sebenarnya Jesen dan Tiana saling membohongi diri mereka berdua karena hubungan yang di jalankan keduanya hanya pelarian saja.

Kucing lewat situ. Saat Jesen ingin mencium Tiana. Kucing pun bersuara "Meong". Jesen pun menghentikan niatnya mencium Tiana, ya Tiana membuang muka ke samping. Jesen memutuskan mengatarkan Tiana sampai di rumahnya.

Singkat waktu. Sampai di rumah Tiana.

"Sampai jumpa besok, Tiana," kata Jesen.

"Sampai besok juga, Jesen," kata Tiana.

"Tiana, aku cinta kamu," kata Jesen.

Tiana terkejut sekali dengan omongan Jesen tersebut, maka menjawab "Iya, aku cinta kamu juga".

Jesen pun berjalan meninggalkan rumah Tiana menuju rumahnya. Tiana berjalan menuju pintu rumah yang terkunci dan di buka dengan kunci yang di bawa Tiana. Terbukalah pintu.

"Aku pulang," kata Tiana.

Tiana segera menuju kamarnya.

"Ibu belum pulang, Ayah juga," kata Tiana.

Tiana berbenah diri dan setelah itu makan sambil nonton Tv.

"Aku tetap menyukai Heru, Kakak Heru yang ku sukai. Jesen hanya pelarian ku saja. Tapi sampai kapan hubungan pacaran ku dengan Jesen ini?" celoteh Tiana.

Tiana terus bersantai di rumahnya sampai Ayah dan Ibu pulang dari kantor. Di dalam kamar dan hari sudah malam juga. 

"Aku tetap merindukan Kaka Heru dari pada Jesen," celoteh Tiana.

Jesen di rumahnya pun selalu memikirkan Juliana.

"Aku suka Juliana, tetapi hubungan pacaranku dengan Tiana hanya pelarian saja. Cinta yang sebenarnya tidak bisa ku dapatkan, maka Tiana yang ku dapatkan demi menjadi bayang-bayang dari orang yang ku sukai, Juliana," celoteh Jesen.

Jesen pun melakukan kegiatannya mengetik di komputernya, karena ada PR yang harus di kerjakan dan besok di kumpulkan. 

Kucing pun di atas rumahnya Jesen dan bersuara "Meong". 

Esok paginya di sekolah. Tiana dan Jesen bertemu di belakang sekolah, ya ingin melakukan niat keduanya berciuman. Bel berbunyi tanda masuk kelas. Jadi Jesen dan Tiana tidak jadi melakukan niatnya dan melaksanakan kewajibannya sebagai murid SMA kelas 3.

Kucing berjalan-jalan menuju kantin sambil bersuara "Meong.....Meong....Meong".


Monday, November 18, 2019

KARTINI SELANJUTNYA

Aku tahu, jika sikapku ini akan mendapatkan pertentangan yang sengit, ketidaksetujuan yang lebih mendominasi. Tapi aku akan tetap melakukannya, meski seluruh dunia menentangku aku hanya perlu sebuah keyakinan besar yang tidak akan tergoyahkan oleh siapapun. ‘Bismillah’ Bisik hatiku.

“Lakukanlah nak.. Ini demi kebaikanmu.” Datu Martha, wanita tua yang paling dihormati di dukuh ini menatapku dengan mata sayunya, namun nada yang ia gunakan adalah nada diktator, seperti biasanya.

Bibirku masih terkunci, menunduk sembari menggenggam erat rok hitam polos yang kugunakan. Menunggu kalimat perintah yang dibungkus dengan irama lembut selanjutnya.

“Benar apa yang dikatakan datu nak Kartini, engkau harus menyetujuinya.” Bi Arti yang menjadi orang kedua mencoba membujukku. Aku menghela napas pelan, menguatkan tanganku yang bergetar.

“Maafkan saya, saya tidak bisa melakukannya. saya ingin memilih jalan hidup sendiri.” Detak jantungku berpacu mengiringi setiap kata yang kuucap.

Gendang telingaku mendengar dengan jelas dengusan kasar dari Datu Martha dan guratan tak percaya dari para orang tua, tetapi hal tersebut tidak akan menggentarkan keyakinanku.

“Engkau ingin membuat keluarga besar kita malu hah.” Teriak Datu Martha sembari berdiri cepat, sontak para orang tua juga ikut berdiri. Tinggal diriku yang duduk bersimpuh, menjadi objek tatapan ketidaksetujuan. Aku bagai seorang tahanan yang tengah menunggu vonis dijatuhkan.

Dari ekor mataku, aku melihat ibu yang menatapku nanar, antara sedih dan bahagia. Ya, beliau adalah satu-satunya orang yang mendukung keputusanku. “Datu… akankah kita perlu memikirkan ini semua, Kartini masih belia ia ingin mewujudkan mimpinya.” Ucap ibuku dengan pandangan memohon pada Datu Martha yang masih menyala-nyala.

Bukannya mereda, perkataan ibuku seolah menyiram bensin pada Datu Martha, wanita itu menunjukku dan ibu secara bergantian. “Saya tidak peduli Kartini masih belia atau tidak, Lamaran ini sudah kuterima. Untuk apa melanjutkan pendidikan jika akhirnya engkau akan menjadi wanita yang berumah tangga. Ini sudah menjadi takdir Kartini, keluarga Bapak Rahman orang yang termahsyur hidup engkau akan terjamin dengannya.”

Amarah tak mampu kutekan lagi, aku tidak bisa membiarkan budaya dengan pemikiran kolot ini terus berlanjut. Segera kuberdiri, menatap Datu Martha tanpa rasa takut, ‘Engkau tengah membela kebenaran’ Bisikku.

“Wahai datu, saya ingin memilih jalan sendiri, saya tidak ingin menikah dengan orang tua yang sepatutnya saya panggil ‘bapak’ itu-”

“TUTUP MULUT KARTINI.” Teriak Datu menyela kalimatku,

“Tidak Datu, ini memang faktanya, kekayaan dan kekuasaan tidak akan menjamin hidup saya nantinya. Wanita memang akan berumah tangga datu, tapi bukan berarti kita hanya diam. Kita juga punya hak yang sama. Saya ingin melanjutkan pendidikan agar kebodohan ini tidak semakin mengakar.”

“Apakah dengan pendidikan engkau akan kaya.?”

“Menimba ilmu bukan untuk harta datu, tapi untuk mengubah pola pikir kita yang selama ini mentok, budaya pernikahan dini ini harus dihentikan datu.”

Kulihat dada Datu Martha naik turun, menatapku dengan amarah yang membludak. “Berani sekali engkau ingin menghentikan budaya kita yang telah turun temurun ini Kartini.” Ucap Datu Martha sembari menggemelatukkan giginya. Kulihat ibu ingin menghampiriku, namun aku memberinya instruksi agar tetap di sana.

“Budaya seperti ini merugikan wanita datu, mereka punya hak yang sama. Masa remaja seharusnya dilakukan untuk bersenang-senang, bukan terperangkap dalam perjodohan yang tidak diinginkan. Hak kita dan para lelaki itu sama, wanita juga ingin bebas. Apa datu tidak kasian pada cucu datu yang telah datu nikahkan dan berakhir pada perceraian, perselingkuhan dan kekerasaan. Ini tidak benar datu.”


Hazelku menatap burung-burung yang tengah sibuk mengepakkan sayapnya, berputar kesana kemari. Menikmati kebebasan, tanpa ada sangkar yang menghalanginya.

Aku menarik napas berkali-kali, memantapkan hatiku. Kini aku berada di tempat yang jauh dari rumah. Meninggakkan masa kekangan yang sering kualami. Bermodalkan restu dan do’a dari ibu, aku meninggalkan semuanya demi cita-cita dan mimpiku selama ini.

“Kartini kudengar di kelas kita akan ada dosen baru.” Nadya, teman baruku yang berasal dari Jakarta, membuyarkan lamunanku.

Aku hanya tersenyum kecil, tidak seantusias Nadya yang kini sibuk berdandan. Seperti mahasiswi lainnya karena kabarnya dosen kali ini adalah orang yang muda dan tampan. Namun aku tidak peduli.

Aktivitas mahasiswi yang sibuk berdandan kini terhenti kala suara ketukan khas sepatu menggema, suara yang bising kini tergantikan dengan keheningan. Menanti siapakah gerangan yang akan muncul di balik pintu besar berwarna kecoklatan itu.

“Selamat siang semuanya, perkenalkan saya Fahrizal Haikal, dosen baru di sini.” Aku yang sedari tadi sibuk mencoret-coret buku coklat tua pemberian ibu terhenti karena Nadya yang terus menyenggol lengan kiriku, lalu mengedikan dagunya. Mengisyaratkan agar mataku menoleh ke depan.

Degg

Aku terpaku saat mataku berserobok dengan mata elang di depanku. Entah perasaan macam apa yang baru saja kualami saat ini. Aku seolah kehilangan cara untuk bernapas, jantungku yang memompa dengan kecepatan tak biasa. Jangan-jangan…


Karya : Daisy

DIBALIK CERITA PESONA ALAM BONO (PART 2)

Mendengar beberapa penjelasan yang atuk ceritakan kepadaku mengenai cerita lagenda asal-usul dari gelombang Bono, semakin membuatku begitu terpesona akan keindahan alam yang dimiliki oleh Sungai Bono tersebut. Tentu saja, ini semakin menguatkan keoptimisanku untuk melanjutkan cita-citaku memajukan Kampung Pulu Muda menjadi sebuah Kampung Wisata. Namun, seketika saja aku terkejut, denga suaranya yang parau, tiba-tiba wanita setengah baya yang sangat aku kenali dengan jilbabnya yang hanya diikat dileher, datang menemuiku sembari membawakanku semangkuk gulai ikan salais kesukaanku. Wanita tersebut adalah mak cikku, kakak dari emakku.

“Hah, seru sangat berceritanya Nazri dengan atuk engkau!. Nah, berhentilah bersendau gurau dulu, ayo, engkau coba dulu gulai ikan salais yang makcik masak ni. Pastinya engkau sudah sangat merindukan masakan ini bukan?”, kata mak cikku sembari menyodorkan semangkuk ikan salai tersebut kepadaku.

Namun, entah mengapa, seketika dimana aku akan mengambil piring dan sendok yang terletak dari kursi santai kayu di rumah atukku, tiba-tiba aku merakan ada sebuah getaran yang sangat kuat dari dalam tanah diiringi dengan guncangan yang sangat dahsyat seperti akan merobohkan rumah atukku. Dengan hatiku yang berdebar-debar ketakutan, aku melihat ke arah atukku, namun, terlihat wajah atukku yang terlihat santai seperti tidak terjadi apa-apa. Dan 2 menit kemudian, seketika saja, getaran tersebutpun kemudian berhenti. (“Mungkin hanya perasaanku saja”), kataku mencoba menenangkan hatiku. Namun, ketika aku akan mengaduk sayur di dalam mangkuk, tiba-tiba sebuah sendok yang kugenggam, dengan kuatnya terhempas dari tangan kananku. Aku kemudian terkejut, dan bertanya-tanya gerangan apakah yang terjadi malam ini. Ternyata dugaanku benar, malam ini, adalah sebuah malam dimana akan datang gelombang Bono yang paling besar dan terdahsyat melewati kampung Pulau Muda ini. Denga cekatan, kemudian atukku pun berdiri dan berjalan menuju ke pintu rumah. Dan seketika atukku membuka pintu rumahnya, ternyata, sudah beramai-ramai para penduduk kampung Pulau Muda berdiri di depan rumah atuk.

“Atuk, apa yang terjadi malam ini?, mengapa semua warga Kampung Pulau muda datang beramai-ramai kerumah kita?”, tanyaku dengan wajah bingung dan takut.

“Tenanglah nak, tidak perlu takut. Atuk lupa, jika sekarang ini, adalah tanggal 14 Desember. Jadi, Malam ini kita akan mengadakan upacara Semah bersama-sama di rumah kita. Ini adalah upacara berdoa bersama yang akan kita lakukan dalam waktu satu malam suntuk hingga pagi hari, sampai gelombang Bono tersebut selesai mengitari Kampung Pulau Muda ini. Jadi, sekarang ini, mari kamu ikut bergabung bersama warga, untuk bedoa bersama-sama. Kemungkinan, ombak yang akan datang adalah ombak jantan yang sangat besar sekali dan bahkan ombak tersebut besarnya melewati tinggi rumah kita ini. Tetapi, kamu tidak perlu khawatir, semua warga di sini sudah bersahabat dengan Bono, sehingga, cukup kita hanya berdoa kepada Allah dan berserah diri saja kepadanya untuk mendapatkan keselamatan”.

Aku hanya terdiam setelah mendengarkan beberapa penjelasan yang diberikan oleh atukku. Sulit untukku bayangkan, bagaimana guncangan yang sangat kuat akan terjadi jika gelombang Bono tersebut melewati kampung Pulau Muda ini. Jujur saja, ada rasa ketakutan di dalam hatiku yang sangat mendalam. Namun, kucoba menahan rasa takutku, dan dengan berani aku kemudian bergabung bersama warga untuk mengadakan upacara semah di kediaman rumah atukku.

10 MENIT KEMUDIAN

Dan seketika saja, disaat aku dan bersama para warga di kampung Pulau Muda sedang berdoa bersama, tiba-tiba aku merasakan ada sebuah getaran yang sangat kuat mulai terasa di dalam rumah atukku. Terlihat beberapa perabotan rumah atuk dengan sendirinya bergeser dan terlempar hingga kesudut-sudut rumah. Benar-benar kurasakan, jika terdengar dari luar rumah, suara-suara ombak Bono yang melintas memutari Kampung Pulau Muda bersuara dengan kuat dan menderu-deru. Sungguh, didalam hatiku yang paling dalam, aku begitu yakin jika ini adalah sebuah kekuatan alam yang sangat dahsyat yang telah Allah ciptakan kepada para umat manusia agar tidak bersikap sombong dengan sesuatu yang dimilikinya selama hidup di dunia. Sehingga, dengan adanya fenomena alam gelombang Bono inilah, yang kemudian menjadikan masyarakat Pulau Muda, menjadi masyarakat yang bermasyarakat, selalu bersyukur, dan selalu bersikap rendah hati serta bertutur kara ramah kepada semua orang.

DI PAGI HARI YANG CERAH

Bersama langit pagi yang kelabu, bersama secercah cahaya mentari yang mulai terbit dari timur, aku berajalan-jalan dengan telanjang kaki mengitari indahnya pesona alam yang terbentang di Kampung Pulau muda ini. Dengan ramah pula, aku menyapa para ibu-ibu dan bapak-bapak yang saling bergotong royong untuk memasak bersama dalam mempersipakan ritual upacara semah lanjutan di siang hari nanti. Aku kemudian dengan tawa terbuka memotret beberapa kebersaman yang dilakukan oleh mereka. Sementara itu, di dekat pertepian sungai Bono yang mulai tenang, terlihat kerumunan anak-anak kecil dan beberapa orang dewasa sedang mencoba berselancar dengan papan kecil yang mereka buat dari kayu hutan.

Dengan penasaran, aku mencoba mendekati mereka, dan tidak lupa pula segera aku memotret beberapa aksi tingkah laku mereka yang semakin membuatku sangat terkesima. Namun, seketika aku akan ikut serta dengan anak-anak kecil tersebut, tiba-tiba ponselku berdering, dan ternyata sebuah email baru telah masuk ke ponselku. Sungguh, begitu tekejutnya diriku, ternyata karya ilmiah yang kutulis mengenai Pesona Alam Bono, telah berhasil terpilih menjadi 5 karya ilmiah terbaik di lomba festival sayembara budaya nasional. Tentu saja, ini akan menjadi peluang bagiku, dan langkah awal terbaikku untuk mengenalkan tentang pesona alam Bono kepada para masyarakat di luar sana. Sehingga, dengan demikian, aku dapat mewujudkan cita-citaku, dan juga atuk, untuk menjadikan kampung Pulau Muda menjadi sebuah kampung wisata di Kabupaten Pelalawan. Dengan tergesa-gesa segera aku pulang kerumah, dan menyampaikan kabar terbaik ini kepada atukku. Dan, sesampai dirumah atuk, seperti yang aku harapkan, dengan raut wajah bahagianya, atuk kemudian memelukku dengan hangat sembari mengucapkan terimakasih.

“Terimakasih nak, sungguh, atuk sangatlah bangga kepada kamu. Atuk dan semua warga di sini akan berdoa, semoga dengan kembalinya kamu ke Jakarta untuk mempresentasikan pesona alam Bono yang ada dikampung kita ini, maka, ini semua akan menjadi awal bagi kita semua untuk menjadikan kampung Pulau Muda ini menjadi sebuah Kampung Wisata. Dan selanjutnya, akan membantu masyarakat di Kampung ini, menuju ke kehidupan yang lebih baik lagi”.

“Iya tuk, Insyaallah Nazri janji, setelah satu bulan Nazri di Jakarta, maka Nazri akan kembali lagi ke Kampung Pulau muda ini, dengan tidak sendiri, tetapi bersama para ibu-ibu dan bapak-bapak permerintah pusat yang akan membantu menjadikan kampung kita menjadi sebuah Kampung Wisata. Nazri akan tampil sebaik mungkin untuk menjadi juara, tuk. Dan akan meyakinkan kepada semua orang diluar sana, jika kampung kita, kampung Pulau Muda, memiliki fenomena alam sungai yang langka dan sangat indah. Percayalah dengan Nazri, tuk, Nazri akan tepati janji Nazri dengan atuk dan semua warga disni”. Denga senyum terbuka aku berusaha meyakinkan atukku, sembari memeluknya dengan hangat. Sesuai dengan janjiku terhadap kampung Pulau Muda ini, bahwa tiga bulan kemudian, aku akan kembali lagi, bersama sebongkah mimpi yang akan ku wujudkan unutk memajukan Kampung kelahiranku ini.

3 BULAN KEMUDIAN…

Bersama riuhan angin pagi yang bersenandung, aku kembali lagi ke kampung Pulau Muda, dengan kebahagiaanku yang tak terkira. Sungguh, dipagi yang bersahabat ini, bersama siulan burung-burung yang bertengger di ranting-ranting pohon dekat sungai Bono, terdengar beberapa alunan musik gambus dan kompang yang menderu-deru menyambut kedatanganku dan juga beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak dari pemerintah pusat yang datang bersamaku. Bukan hanya itu, ketika dari sudut kanan memasuki alun-alun acara, ternyata, telah berdiri lima para gadis remaja di kampungku, yang dengan bahagiannya menyambut kedatangan kami dengan menampilkan sebuah tarian persembahan melayu, yang kemudian ditutup dengan menyuguhkan sebuah tepak yang berisikan sekapur sirih untuk dikunyah oleh kami, sebagai tanda penjamuan yang dilakukan oleh masyarakat melayu di Pulau Muda terhadap kami para tamu yang datang. Selanjutnya, ketika aku mencoba mengambil beberapa foto para gadis remaja yang menari tersebut, terlihat didepanku, atukku yang sedang berjalan menuju kearah dimana kami berdiri, dan dengan sapaannya yang ramah, menyambut kedatanganku bersama ibu-ibu dan bapak-bapak dari pemerintah pusat.

Dengan gagahnya, atukku sembari tersenyum seraya mengenakan pakaian adat melayu serta tajak di atas kepalanya.

Begitu juga dengan para lelaki di Kampung Pulau Muda yang juga mengenakan pakaian kurung adat melayu dan juga tajak diatas kepala mereka. Kemudian, bersama dentakan-dentakan kompang yang dimainkan, terlihat beberapa para remaja putri di Kampungku, yang menari tarian melayu Bono dengan indahnya. Sungguh benar-benar panorama budaya yang sangat indah dan sangat menawan. Sementara itu, disaat dimana aku dan beberapa tamu lainnya sudah terduduk dengan rapi di kursi tamu, tibalah sudah, saat dimana yang aku tunggu-tunggu. Yaitu, sebuah kata sambutan yang akan dikemukakan oleh pak Rohim, selaku Kepala Desa dari Kampung Pulau Muda, yang mewakili para masyarakat Pulau Muda dan juga atukku, untuk memberikan kata sambutan terimakasih kepada kami, para tamu yang hadir.


“Assalamualaikum, selamat datang kepada ibu-ibu dan bapak-bapak, yang telah datang di Kampung Pulau Muda ini. Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, inilah dia kampung Pulau Muda, sebuah perkampungan sederhana yang terletak di sudut timur Kabupaten Pelalawan, Kecamatan Kuala Kampar. Sebuah perkampungan masyarakat melayu yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat istiadat dan kekerabatan di dalamnya. Saya selaku Kepala Desa di kampung ini, mengucapkan terimakasih kepada nak Nazri, yang sudah berupaya menuangkan ide-ide kreatifitasnya untuk membantu memajukan perkampungan ini menjadi sebuah Kampung Wisata. Sungguh, saya sangat bangga sekali, dikarenakan di kampung ini, nak Nazri telah berhasil menuangkan prestasi yang membanggakan bagi kampung Pulau Muda ini. Dan selanjutnya, terimakasih saya ucapkan kepada para ibu-ibu dan bapak-bapak dari pemerintah pusat yang dengan senang hati, sudah mau memberikan motivasi dan bantuan material ataupun moril kepada kami, para masyarakat Kampung Pulau Muda, untuk dapat mewujudkan kampung ini, menjadi sebuah kampung wisata. Saya berharap, semoga hingga dimasa yang akan datang, kampung Pulau Muda dan juga kelestarian alamnya, yaitu keindahan gelombang Sungai Bono, dapat terlestarikan dengan baik dan dikenang oleh seluruh masyarakat melayu yang ada di kabupaten Pelalawan, maupun, oleh masyarakat yang ada di Indonesia serta mancanegara. Demikianlah kata sambutan ini, Wassalamualaikum,wr.wb”.

Dan, kemudian, selepas pak Rohim menutup kata sambutan yang disampaikannya, dengan serentak, terdengar begitu nyaring dan gembiranya, tepuk tangan yang sangat meriah, yang diberikan oleh para tamu yang hadir dan juga masyarakat Pulau Muda kepada pak Rohim tersebut. Sungguh, sebagai seorang pemuda yang lahir dari Kampung Pulau Muda, ada rasa kebanggaan tersendiri yang berada didalam diriku.

Dapat kurasakan dengan sempurna, segenap usaha dan tekad kuat yang selama ini selalu terpatri di dalam langkah kakiku untuk mewujudkan cita-citaku memajukan kempung Pulau Muda, sudah terwujudkan dihari ini.

Dan dengan mengucapkan bissmillahirahmanirahim, akhirnya diresmikanlah kampung Pulau Muda sebagai kampung wisata, surganya alam Sungai Bono, di Kabupaten Pelalawan. Inilah, cerita dibalik pesona alam Bono.-

TAMAT


Karya : Aisyah Nur Hanifah

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...