Pages

Monday, October 21, 2019

PENOLONG YANG HANYA BISA BERKATA 'TIDAK'

Suatu hari di India, Raja Mahendra pergi berburu. Di tengah hutan, Raja Mahendra berusaha mengejar seekor kijang. Namun, kakinya terperosok ke dalam lubang yang dalam. la berteriak sekeras-kerasnya tapi pengawalnya tidak mendengarnya. Selagi Raja Mahendra merenungi nasibnya, ia melihat seseorang berdiri di tepi lubang. "Heil Aku Raja Mahendra! Tolong naikkan aku!" teriak Raja Mahendra.

“Tidak!" jawab orang itu.

Raja marah. Namun, orang itu lenyap. Tidak lama kemudian, seutas tali jatuh ke dalam lubang. Raja menaiki tali itu. Awalnya, ia mengira itu pengawalnya. Namun, ternyata orang tadi yang melempar tali.

"Jadi kau mau menolongku?" tanya sang raja.

“Tidak!" jawab si penolong.

Raja kebingungan. Katanya tidak, mengapa memberi tali? Apa boleh buat, yang penting orang itu mau menolongnya.

"Maukah kau kubawa ke kerajaan?" tawar raja.

"Tidak!" jawab si penolong. Tapi, kepalanya mengangguk tanda setuju.

Akhirnya Raja Mahendra sadar bahwa orang itu hanya bisa bicara kata "tidak". Si penolong lalu dibawa ke kerajaan. Sampai di kerajaan, Raja Mahendra memanggil patih kerajaan.

"Patih, tolong berikan pekerjaan pada penolongku. la hanya bisa berkata, Tidak'," sabda raja.

Patih berpikir keras. Pekerjaan apa yang sesuai dengan orang ini. Setelah merenung beberapa saat, patih tersenyum dan berkata, "Bukankah Paduka bermaksud mengadakan sayembara untuk mencari calon suami bagi sang putri. Tetapi, sampai kini Paduka belum menemukan jenis sayembaranya."

"Benar, Paman Patih. Aku ingin mempunyai menantu yang sakti dan pandai. Tetapi, apa hubungannya hal ini dengan sayembara?" tanya raja.

"Peserta yang telah lolos ujian kesaktian harus bisa memasuki istana sang putri dengan cara membujuk penjaganya," kata patih.

"Nah, manusia satu kata itu yang kita jadikan penjaga," katanya.

Pada hari yang ditentukan, peserta sayembara sudah berkumpul. Tiga orang pangeran gagah berani telah lulus uji kesaktian. Mereka tinggal melewati ujian kedua, yaitu masuk istana sang putri dengan cara membujuk penjaganya.

Ketiga pangeran dibawa ke depan pintu gerbang istana sang putri. Setiap peserta hanya boleh mengucapkan tiga pertanyaan kepada penjaga istana sang putri.

"Penjaga yang baik, bolehkah aku masuk ke istana sang putri?" tanya peserta pertama.

"Tidak!" jawab orang itu."Aku beri emas sebanyak kau mau, asal aku diperbolehkan masuk," bujuknya lagi.

"Tidak!" kata si penjaga.

Pertanyaan tinggal satu. "Kau akan kujadikan senopati di kerajaanku, asal aku boleh masuk," kata si peserta pertama.

"Tidak!" jawab si penjaga.

Peserta pertama gugur. la mundur dengan lemah lunglai. Peserta kedua juga gagal menghadapi penjaga yang hanya bisa berkata "tidak".

Tibalah peserta ketiga. la adalah pangeran gagah dan tampan dari negeri seberang. la menyadari bahwa penjaga istana sang putri adalah orang yang hanya bisa berkata, `Tidak." la pun mempersiapkan pertanyaan yang jitu.

"Wahai penjaga, jawablah pertanyaanku baik- baik. Tidak dilarangkah aku masuk ke istana sang putri?" tanyanya dengan suara mantap.

"Tidak!" jawab si penjaga.

Seketika itu, sorak-sorai penonton bergemuruh mengiringi keberhasilan pangeran muda yang gagah dan tampan. Raja Mahendra sangat senang karena calon menantunya itu sakti dan pandai. Sayembara usai. Pangeran menikah dengan putri Raja Mahendra. Sementara, si penolong yang hanya berkata, "Tidak" mendapatkan penghargaan dari raja dan diangkat menjadi penjaga istana sang putri selamanya.

KEONG MAS

Raja Kertamarta adalah raja dari Kerajaan Daha. Raja mempunyai dua orang putri yang bernama Dewi Galuh dan Candra Kirana yang cantik dan baik. Candra Kirana sudah ditunangkan oleh putra mahkota Kerajaan Kahuripan yaitu Raden Inu Kertapati yang baik dan bijaksana. Tetapi saudara kandung Candra Kirana yaitu Dewi Galuh sangat iri pada Candra Kirana, karena Dewi Galuh menaruh hati pada Raden Inu. Dewi Galuh kemudian menemui nenek sihir untuk mengutuk Candra Kirana. Dia juga memfitnahnya sehingga Candra Kirana diusir dari Istana. Ketika Candra Kirana berjalan menyusuri pantai, nenek sihir pun muncul dan menyihirnya menjadi keong emas dan membuangnya ke laut. Tapi sihirnya akan hilang bila keong emas berjumpa dengan tunangannya.

Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas terangkut. Keong Emas dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Besoknya nenek itu mencari ikan lagi di laut tetapi tak seekorpun didapat. Tapi ketika ia sampai digubuknya ia kaget karena sudah tersedia masakan yang enak-enak. Sang nenek bertanya-tanya siapa yang mengirim masakan ini.

Begitu pula hari-hari berikutnya sang nenek menjalani kejadian serupa, maka karena penasaran, keesokan paginya nenek pura-pura ke laut, tetapi ia mengintip apa yang terjadi, dan ternyata keong emas berubah yang menjadi gadis cantik yang kemudian memasak. Kemudian nenek menegurnya, "Siapa gerangan kamu putri yang cantik?" "Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh saudaraku karena ia iri kepadaku," jawab keong emas, dan kemudian Candra Kirana berubah kembali menjadi keong emas. Nenek itu tertegun melihatnya.

Sementara pangeran Inu Kertapati tak mau diam saja ketika tahu Candra Kirana menghilang. Iapun mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihir pun akhirnya tahu dan mengubah dirinya menjadi gagak untuk mencelakakan Raden Inu Kertapati. Raden Inu Kertapati Kaget sekali melihat burung gagak yang bisa berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap burung gagak itu sakti dan menurutinya padahal raden Inu diberikan arah yang salah. Di perjalanan Raden Inu bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, diberinya kakek itu makan. Ternyata kakek adalah orang sakti yang baik Ia menolong Raden Inu dari burung gagak itu.

Kakek itu memukul burung gagak dengan tongkatnya, dan burung itu menjadi asap. Akhirnya Raden Inu diberitahu di mana Candra Kirana berada, disuruhnya raden itu pergi kedesa dadapan. Setelah berjalan berhari-hari sampailah ia kedesa Dadapan Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Tapi ternyata ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihatnya tunangannya sedang memasak. Akhirnya sihirnya pun hilang karena perjumpaan dengan Raden Inu. Tetapi pada saat itu muncul nenek pemilik gubuk itu dan putri Candra Kirana memperkenalkan Raden Inu pada nenek. Akhirnya Raden Inu memboyong tunangannya ke istana, dan Candra Kirana menceritakan perbuatan Dewi Galuh pada Baginda Kertamarta.

Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya, Dewi Galuh mendapat hukuman yang setimpal. Karena takut Galuh Ajeng melarikan diri ke hutan, di mana ia kemudian terperosok dan jatuh ke dalam jurang. Akhirnya pernikahan Candra Kirana dan Raden Inu

KISAH PULAU SENUA

Sebuah daerah di Natuna, Kepualauan Riau, hiduplah sepasang suami-istri miskin. Sang suami bernama Baitusen, sedangkan istrinya bernama Mai Lamah. Suatu ketika, mereka memutuskan merantau ke Pulau Bunguran untuk mengadu nasib. Mereka memilih Pulau Bunguran karena daerah tersebut terkenal memiliki banyak kekayaan laut, terutama karang dan siput.

Ketika pertama kali tinggal di Pulau Bunguran, Baitusen bekerja sebagai nelayan sebagaimana umumnya warga yang tinggal di pulau tersebut. Setiap hari, ia pergi ke laut mencari siput-lolak (kerang-kerangan yang kulitnya dapat dibuat perhiasan), kelekuk-kulai (siput mutiara), dan beragam jenis kerang-lokan. Sedangkan istrinya, Mai Lamah, membantu suaminya membuka kulit kerang untuk dibuat perhiasan. Baitusen dan istrinya pun merasa senang dan betah tinggal di Pulau Bunguran, karena warga pulau tersebut menunjukkan sikap yang ramah dan penuh persaudaraan. Kebetulan rumah mereka bersebelahan dengan rumah Mak Semah, seorang bidan kampung yang miskin, tetapi baik hati.

“Jika suatu ketika kalian sakit-mentak (sakit-sakitan), panggil saja Emak! Emak pasti akan datang.” Pesan Mak Semah kepada Mai Lamah, tetangga barunya itu. “Terima kasih, Mak!” ucap Mai Lamah dengan senang hati. Begitu pula warga Bunguran lainnya, mereka senantiasa bersikap baik terhadap Baitusen dan istrinya, sehingga hanya dalam waktu beberapa bulan tinggal di daerah itu, mereka sudah merasa menjadi penduduk setempat. "Bang! Sejak berada di kampung ini, Adik tidak pernah merasa sebagai pendatang. Semua penduduk di sini menganggap kita sebagai saudara sendiri,“ kata Mail Lamah kepada suaminya. "Begitulah kalau kita pandai membawa diri di kampung halaman orang,“ pungkas Baitusen. Waktu terus berjalan. Baitusen semakin rajin pergi ke laut mencari kerang dan siput. Ia berangkat ke laut sebelum matahari terbit di ufuk timur dan baru pulang saat matahari mulai terbenam. Daerah pencariannya pun semakin jauh hingga ke daerah pesisir Pulau Bunguran Timur.

Pada suatu hari, Baitusen menemukan sebuah lubuk teripang, di mana terdapat ribuan ekor teripang (sejenis binatang laut) di dalamnya. Sejak menemukan lubuk teripang, ia tidak pernah lagi mencari kerang dan siput. Ia berharap bahwa dengan mencari teripang hidupnya akan menjadi lebih baik, karena harga teripang kering di Bandar Singapura dan di Pasar Kwan Tong di Negeri Cina sangatlah mahal. Ia pun membawa pulang teripang-teripang untuk dikeringkan lalu dijual ke Negeri Singapura dan Cina.

Akhirnya, hasil penjualan tersebut benar-benar mengubah nasib Baitusen dan istrinya. Mereka telah menjadi nelayan kaya raya. Para tauke dari negeri seberang lautan pun berdatangan ke Pulau Bunguran untuk membeli teripang hasil tangkapan Baitusen dengan menggunakan tongkang-wangkang (kapal besar). Setiap enam bulan sekali segala jenis tongkang-wangkang milik para tauke tersebut berlabuh di pelabuhan Bunguran sebelah timur. Sejak saat itu, Baitusen terkenal sebagai saudagar teripang. Langganannya pun datang dari berbagai negeri. Tak heran jika dalam kurun waktu dua tahun saja, pesisir timur Pulau Bunguran menjadi Bandar yang sangat ramai. Istri Baitusen pun terkenal dengan panggilan Nyonya May Lam oleh para tauke langganan suaminya itu. Rupanya, gelar tersebut membuat Mai Lamah lupa daratan dan lupa dengan asal usulnya. Ia lupa kalau dirinya dulu hanyalah istri nelayan pencari siput yang miskin dan hidupnya serba kekurangan. Sejak menjadi istri seorang saudagar kaya, penampilan sehari-hari Mai Lamah berubah. Kini, ia selalu memakai gincu, bedak dan wangi-wangian. Bukan hanya penampilannya saya yang berubah, tetapi sikap dan perilakunya pun berubah. Ia berusaha menjauhkan diri dari pergaulan, karena jijik bergaul dengan para tetangganya yang miskin, berbau anyir, pedak-bilis (sejenis pekasam atau ikan asin, makanan khas orang Natuna), dan berbau kelekuk (siput) busuk. Selain itu, ia pun menjadi pelokek (sangat kikir) dan kedekut (pelit). Pada suatu hari, Mak Semah datang ke rumahnya hendak meminjam beras kepadanya. Namun malang bagi Mak Semah, bukannya beras yang ia peroleh dari Mai Lamah, melainkan cibiran. "Hai, perempuan miskin! Tak punya kebun sekangkang-kera (bidal untuk menentukan luas tanah/perkebunan), masih saja pinjam terus. Dengan apa kamu akan membayar hutangmu?“ Mai Lamah mencemooh Mak Semah. Mendengar cemoohan itu, Mak Semah hanya terdiam menunduk. Sementara suami Mak Lamah yang juga hadir di tempat itu, berusaha untuk membujuk istrinya. "Istriku, penuhilah permintaan Mak Semah! Bukankah dia tetangga kita yang baik hati. Dulu dia telah banyak membantu kita.” “Ah, persetan dengan yang dulu-dulu itu! Dulu itu dulu, sekarang ya sekarang!“ seru Mai Lamah dengan ketus. Begitulah sikap dan perlakuan Mai Lamah kepada setiap warga miskin yang datang ke rumahnya untuk meminta bantuan. Dengan sikapnya itu, para warga pun menjauhinya dan enggan untuk bergaul dengannya. Suatu ketika, tiba juga masanya Mai Lamah membutuhkan pertolongan tetangganya. Ia hendak melahirkan, sedangkan Mak Bidan dari pulau seberang belum juga datang. Baitusen telah berkali-kali meminta bantuan Mak Semah dan warga lainnya, tetapi tak seorang pun yang bersedia menolong. Mereka sakit hati karena sering dicemooh oleh istrinya, Mai Lamah. "Ah, buat apa menolong Mai Lamah yang kedekut itu! Biar dia tau rasa dan sadar bahwa budi baik dan hidup bertegur sapa itu jauh lebih berharga dari harta benda,” cetus Mak Saiyah, seorang istri nelayan, tetangga Mai Lamah. Baitusen yang tidak tega lagi melihat keadaan istrinya itu segera mengajaknya ke pulau seberang untuk mencari bidan. "Ayo, kita ke pulau seberang saja, Istriku!“, ajak Baitusen sambil memapah istrinya naik ke perahu. "Bang! Jangan lupa membawa serta peti emas dan perak kita! Bawa semua naik ke perahu!“ seru Mai Lamah sambil menahan rasa sakit. “Baiklah, Istriku!” jawab Baitusen. Setelah mengantar istrinya naik ke atas perahu, Baitusen kembali ke rumahnya untuk mengambil peti emas dan perak tersebut. Setelah itu, mereka pun berangkat menuju ke pulau seberang. Dengan susah paya, saudagar kaya itu mengayuh perahunya melawan arus gelombang laut. Semakin ke tengah, gelombang laut semakin besar. Percikan air laut pun semakin banyak yang masuk ke dalam perahu mereka. Lama-kelamaan, perahu itu semakin berat muatannya dan akhirnya tenggelam bersama seluruh peti emas dan perak ke dasar laut. Sementara Baitusen dan istrinya berusaha menyelamatkan diri. Mereka berenang menuju ke pantai Bunguran Timur mengikuti arus gelombang laut. Tubuh Mai Lamah timbul tenggelam di permukaan air laut, karena keberatan oleh kandungannya dan ditambah pula dengan gelang-cincin, kalung lokit (liontin emas), dan subang emas yang melilit di tubuhnya. Untungnya, ia masih bisa berpegang pada tali pinggang suaminya yang terbuat dari kulit kayu terap yang cukup kuat, sehingga bisa selamat sampai di pantai Bunguran Timur bersama suaminya. Namun, malang nasib istri saudagar kaya yang kedekut itu, bumi Bunguran tidak mau lagi menerimanya. Saat itu, angina pun bertiup kencang disertai hujan deras. Petir menyambar-nyambar disusul suara guntur yang menggelegar. Tak berapa lama kemudian, tubuh Mai Lamah menjelma menjadi batu besar dalam keadaan berbadan dua. Lama-kelamaan batu besar itu berubah menjadi sebuah pulau. Oleh masyarakat setempat, pulau tersebut dinamakan “Sanua” yang berarti satu tubuh berbadan dua. Sementara emas dan perak yang melilit tubuh Mai Lamah menjelma menjadi burung layang-layang putih atau lebih dikenal dengan burung walet. Hingga kini, Pulau Bunguran terkenal sebagai pulau sarang burung layang-layang putih itu.

Demikian cerita legenda Pulau Senua dari daerah Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan modal yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu akibat buruk dari sifat kedekut (pelit), dan tidak pandai mensyukuri nikmat Tuhan. Pertama, akibat buruk dari sifat kedekut (pelit). Sifat ini ditunjukkan oleh sikap Mai Lamah yang tidak mau membantu para tetangganya yang membutuhkan pertolongan. Akibatnya, para warga pun menjauhinya dan ketika ia membutuhkan pertolongan, para warga pun enggan untuk menolongnya.

Sunday, October 20, 2019

JANGAN INGKAR JANJI

Dahulu kala di sebuah desa di Armenia, perempuan yang menikah langsung dibawa pindah ke rumah suaminya. Sebab, setelah menikah, perempuan menjadi tanggung jawab suaminya. Pada suatu hari, seorang laki-laki menikahi perempuan di desa itu. Pesta pernikahan digelar dengan sangat mewah. Lelaki itu adalah seorang bangsawan. Ada ratusan pengiring pengantin laki-laki. Ada yang naik kereta kuda, ada pula yang menunggang kuda. Mereka semua terlihat bahagia. Banyak barang yang dibawa oleh pengantin laki-laki untuk diserahkan kepada pengantin perempuan.

Hampir sehari semalam pesta digelar. Setelah pesta, Iaki-Iaki itu langsung membawa istrinya ke rumahnya. Kini, perempuan itu sudah bukan tanggung jawab orangtuanya. Pasangan pengantin baru itu naik ke atas kereta kuda. Rumah si lelaki memang cukup jauh. Perjalanan ke sana memakan waktu berhari-hari, sementara iringan pengantin cukup banyak. Bekal perjalanan rupanya tak cukup untuk mereka semua. Matahari pun begitu terik sehingga rombongan pengantin itu kehabisan air minum.

"Bagaimana ini, kita sudah berjalan cukup jauh, tetapi tak kunjung menemukan sumber air. Lihatlah para perempuan itu, mereka terlihat sangat lelah dan kehausan,"ucap salah satu kerabat si Lelaki.

Rombongan pengantin berhenti sejenak. Para lelaki berembuk untuk mencari air di sungai terdekat.Tapi, tak ada satu pun sungai di dekat sana.

"Aku akan memohon kepada dewa agar kita ditunjukkan di mana mata air itu berada," ucap lelaki.

Lelaki itu lalu berdoa. Ia berjanji kepada dewa bahwa jika saat itu dewa menunjukkan tempat mata air terdekat, maka lelaki itu akan memberikan kurban. Dewa mengabulkan doa lelaki itu.

"Kalian semua lihatlah, di sebelah sana muncul mata air baru! Rupanya dewa mendengar doaku," seru lelaki itu.

Rombongan pengantin pun bersuka-cita. Mereka bisa minum air sepuasnya. Semua itu berkat doa lelaki itu. Setelah minum dengan puas dan mengambil air untuk persediaan, rombongan itu pun segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

"Lebih baik kita Ianjutkan perjalanan agar tak terlalu lama sampai ke rumah. Lihatlah, istriku sudah terlihat lelah," ujar si Lelaki.

Maka kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan pulang. Lelaki itu melupakan janjinya kepada dewa. Jangankan memberikan kurban, berterima kasih pun tak ia lakukan. Dewa sangat marah pada rombongan pengantin itu. Dewa akhirnya mengutuk mereka menjadi batu. Itu karena hati mereka yang seperti batu.

Hingga kini, jika musim semi muncul, akan terlihat bayangan manusia dan kuda yang menjadi batu itu. Para orangtua sering menceritakan kisah ini kepada anaknya agar sang anak tak pernah lupa pada janjinya.

Wednesday, October 16, 2019

PEMUDA YANG MENYUKAI NAGA

Di sebuah desa, ada seorang pemuda yang sangat menyukai naga. Ia selalu menceritakan tentang kehebatan naga, meskipun ia belum pernah melihat naga. Saking sukanya terhadap naga, semua barang yang dimilikinya bergambar naga.

"Apakah kau tak takut dengan naga? Bukankah naga sangat seram?" tanya seorang teman ketika sedang bertamu ke rumah pemuda itu.

"Menurutku, naga itu sangat gagah. Tubuhnya pun indah. Kenapa harus takut? Lihatlah, sangat indah bukan?" jawab pemuda itu sambil memamerkan lukisan naga yang sangat besar di rumahnya.

Rasa sukanya kepada naga yang teramat besar membuat pemuda itu sangat terkenal.
Kabar tentang seorang pemuda yang menyukai naga pun sampai ke telinga naga yang hidup di langit. Naga merasa amat senang, karena ada seseorang yang sangat menyukainya. Selama ini, orang-orang selalu berlari tunggang-langgang saat melihatnya.

"Aku akan datang ke rumah pemuda itu. Pasti ia akan sangat senang melihat kedatanganku," ucap naga.

Naga lalu turun ke bumi, dan menuju ke rumah pemuda. Tapi, rupanya pemuda itu masih bekerja, sehingga rumahnya kosong. Naga pun masuk ke rumah pemuda melalui jendela. Ia bersembunyi di sana, sambil menunggu si pemuda pulang dari bekerja. Hari sudah beranjak sore. Pemuda itu pun pulang ke rumah. Betapa kagetnya si pemuda ketika melihat jendela rumahnya terbuka. Rupanya, naga lupa menutupnya kembali. Pemuda itu pun masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba naga muncul, membuatnya kaget.

"Hai, pemuda! Akulah naga yang kau sukai. Aku sengaja datang untuk menemuimu," ucap naga.

Pemuda itu terlihat ketakutan. Olala, bukannya senang, pemuda itu justru berlari tunggang-langgang.

"Tolong! Di rumahku ada naga!" teriak pemuda itu sambil berlari keluar rumah.

Naga pun menjadi heran. Apakah pemuda itu benar-benar menyukainya? Mengapa ia malah berlari sangat kencang saat melihatnya? Akhirnya, Naga kembali ke langit dengan sangat kecewa. Ia pun memutuskan untuk tak lagi datang ke desa.

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...