Pages

Tuesday, August 21, 2018

LEOPARD


Seekor Macan Tutul sedang makan daging buruannya. Dari balik rerumputan ada seekor Haina sedang mengawasi Macan Tutul. Dengan penciuman yang tajam Macam Tutul kalau dirinya di awasi oleh seekor binatang yang kelaparan. Macan Tutul membuat siasat dengan mengoyak daging bagian dada dan di taruh begitu saja di tanah. Lalu Macan Tutul membawa buruannya pergi menjauh.

Haina mulai mendekati tempat Macan Tutul duduk di tanah sambil menikmati daging buruannya. Haina mencium bau yang enak sekali. Terlihat oleh mata Haina daging yang segar dengan segar. Haina yang kelaparan langsung memakan daging segar dengan lahap sekali.

"Enak banget daging ini," kata Haina sambil berteriak keras.

Macan Tutul mendengar teriakan Haina  yang begitu nyaring. 

"Dasar binatang yang pemalas," kata Macan Tutul.

Macan Tutul melanjutkan makan daging buruannya di atas batu. Lagi-lagi Macan Tutul di usik oleh makluk yang bersembunyi di balik pohon. Macan Tutul tetap saja jojong makan daging  buruannya. Eh makin lama makin dekat binatang yang mau mengincar makan Macan Tutul. Gusarlah Macan Tutul karena ulah binatang yang mendekatinya. Macan Tutul mengoyak daging buruannya bagian perut dan di taruh di atas batu begitu saja. 

Lalu Macan Tutul turun dari atas batu membawa daging buruan dengan sangat cepat. Binatang yang mengincar daging buruan Macan Tutul naik ke atas batu. Anjing langsung memakan daging segar yang di tinggalkan oleh Macan Tutul.

"Enak..benar daging ini," kata Anjing dengan berteriak sangat nyaring banget.

Macan Tutul sampai ke selek mendengar suara yang nyaring.

"Dasar binatang pemalas," kata Macan Tutul.

Dengan lahapnya Macan Tutul melahap daging buruannya  sampai perut kenyang. Lalu Macan Tutul meninggalkan tulang belulang begitu saja di atas rerumputan. Macan Tutul bergerak manjat ke sebuah pohon yang rindang. Dari langit turun Burung Pemakan Bangkai menuju sisa makan Macan Tutul. Burung Pemakan Bangkai memakan sisa daging pada tulang belulang.

"Enak..sekali daging ini," kata Burung Pemakan Bangkai.

Macan Tutul pun terbangun dari tidurnya di atas pohon dan melihat siapa yang berteriak?.

"Lagi-lagi binatang pemalas," kata Macan Tutul.

Macan Tutul pun melanjutkan tidurnya dengan tenang. Burung Pemakan Bangkai pun terbang ke langit setelah perutnya kenyang. Tikus Hutan yang selama ini bersembunyi di semak-semak mulai mendekati tulang belulang. Dengan pandainya mencari sisa-sisa daging akhirnya Tikus mendapatkan daging langsung memakannya.

"Enak..banget...daging ini," kata Tikus dengan suara keras.

Macan Tutul terbangun dari tidurnya dan melihat siapa yang berteriak?. 

"Ternyata Tikus Hutan .....salah satu binatang pemalas," kata Macan Tutul yang masih mengantuk.

Macan Tutul kembali tidur dengan memejamkan matanya. Tikus Hutan yang lagi asik makan tidak tahu sedang di awasi oleh seekor Kucing Hutan di balik semak. Saat Tikus Hutan lengah mulai Kucing Hutan berlari dan langsung menerkam Tikus Hutan dengan mulutnya. Taringnya Kucing Hutan menancap pada leher Tikus Hutan sampai mengeluarkan darah. Tikus Hutan berusaha berontak, Tapi cengkraman dari mulut Kucing Hutan sangat kuat dan akhirnya Tikus Hutan mati seketika.

Kucing Hutan mulai menyantap daging Tikus Hutan dengan penuh senang.

 "Enak sekali daging segar ini." kata Kucing Hutan dengan suara keras.

Macan Tutul terbangun dari tidurnya mendengar suara yang keras. Dengan seksama melihat dengan mata yang tajem dari atas pohon. Macan Tutul melihat Kucing Hutan yang lagi asik makan Tikus Hutan dekat tulang belulang.

"Binatang pandai berburu," kata Macan Tutul.

Macan Tutul kembali menutup matanya dan tidur dengan tenang sekali.

Saturday, April 21, 2018

SQUIRREL


Dalam hutan belantara yang gelap karena rimbunnya pepohonan. Seekor Tupai bergerak cepat menuju sebuah pohon berbuah rambutan. Dengan cekatan sekali Tupai mendapatkan buah rambutan.

"Nyam-nyam...enak..buah ini..rasanya manis....," kataTupai.

Tupai terus makan buah rambutan sampai perutnya kenyang. Tupai tidak sadar di awasin oleh seekor Ular Hijau. Saat kesempatan dateng Ular Hijau mulai menerkam Tupai. Tapi inting Tupai dengan cepat mengetahui musuh di sekitarnya. Dengan cepat melompat ke batang pohon.

"Engak kena....yeeee," kata Tupai meledek.

"Mangsa...ku..lepas," kata Ular Hijau.

Ular mulai bergerak cepat  dan langsung menyerang sambil melompat dari batang pohon dengan mulut menganga. Tupai terkejut sekali. Langsung menghindar dengan cepat.

"Gak kena..lagi.....yeeee," kata Tupai kembali meledek.

"Brengsek.....," kata geram Ular Hijau.

Tupai berlari dengan cepat melompat dari satu batang pohon ke pohon yang lain. Ular Hijau berusaha mengejarnya dengan cepat sekali. Tetap saja Tupai terlalu lincah dalam hal melompat dari satu batang pohon satu ke batang pohon yang lain. Ular pun berhenti menggejar Tupai.

"Makan gak dapet...eh...malah capeknya bukan main....ngejar mangsa....yang pandai menghindar dari serangan saya," kata Ular Hijau.

Ular Hijau turun dari pohon dan mencari air untuk minum. Tupai terus menjauh sampai naik ke satu pohon besar. Tupai pun berhenti karena kecapean berlari.

"Kayanya...saya berhasil...menjauh dari Ular Hijau yang mau memakan saya," kata Tupai.

Tupai pun bergerak turun dari pohon mencari air untuk menghilangkan dahaganya. Terlihat oleh Tupai air di atas daun keladi. 

"Itu air yang akan menghilangkan kehausan saya...," kata Tupai.

Tupai dengan sampai di daun keladi dan meminum air di atas daun.

"Ahhhhhh....segar bener air ini," kata Tupai.

Tupai bergerak cepat menuju sebuah pohon. Tapi karena kurang waspada Tupai ke tangkap oleh Ular Piton yang melilitnya.

"Lepaskan......saya....," teriak Tupai.

"Saya..tidak akan melepaskan kamu....saya sudah kelaparan banget..," kata Piton sambil menunjukkan taring yang tajam.

Tupai terus saja berontak agar bisa lepas dari lilitan Ular Piton. Tapi Ular Piton malah melilit Tupai dengan kuat sekali.

"Eahhhhhhhh...... Sakit........," teriak keras Tupai

Terdengar suara teriakan yang menyakitkan. Langsung bergerak seekor Beruang Madu menuju suara teriakan. Terlihat mata Beruang Madu Tupai mau di lahap oleh Ular Piton. Beruang Madu  memukul Ular piton dengan tangannya di tepat di kepalanya.

"Ahhhhhh.....," teriak Ular Piton.dan langsung pingsan.

Lilitan Ular Piton mulai renggang. Tupai pun terlepas dari lilitan Ular Piton. 

"Saya...selamat dari Ular Piton," kata Tupai.

Tupai bergerak menuju Beruang Madu.

"Terima kasih sudah menolong saya...," kata Tupai.

"Iya...sama-sama, lain kali hati-hati," kata Beruang Madu.

Beruang Madu pun bergerak menuju sebuah batu yang besar untuk beristirahat. Tupai pun bergerak dengan cepat sekali dan mencari sarang lebah madu. Setelah dapet sarang lebah yang berisi madu dan di bawa di hadapan Beruang Madu. 

"Beruang Madu...sedikit terima kasih sudah menolong nyawa saya," kata Tupai.

"Oh...iya...., tapi saya menolong dengan penuh ke ikhlasan. Tidak perlu bales budi apa pun," kata Beruang Madu yang bijak.

"Ini...bukan...maksud..menyingung perasaan Beruang Madu.....hanya sekedar berterima kasih dan sekalian tanda perteman dengan saya," kata Tupai.

"Kalau maunya begitu...ya...saya terima...madu yang enak ini. Kebetulan saya sudah lapar," kata Beruang Madu memegang sarang lebah berisi madu.

"Yes...di terima perteman saya," kata Tupai.

"Nyam-nyam...enak," kata Beruang Madu.

Tupai dan Beruang Madu terus menjalin keakrapan setiap harinya di hutan yang lebat dan sunyi

Saturday, February 3, 2018

RED VEIL


Suatu hari yang cerah gadis kecil yang pecicilan yang di kenal panggilan si kerudung merah berjalan melintasi hutan. Dengan membawa keranjang bekal makannya. Kerudung merah sampai di rumah pak beruang. Kerudung merah langsung bertamu.

“Took...toook...permisi,” kata kerudung merah.

“Ya sebentar,” jawab pak beruang.

Pak beruang beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu. Dengan perlahan pak beruang membuka pintunya. Melihat dengan jelas pak beruang, ternyata tidak ada orang. Pak beruang melihat dengan seksama ke kanan dan ke kiri tetap saja tidak orang sampai-sampai mengucek matanya. Tetap saja yang di lihatnya gak ada orang. Pak beruang langsung masuk dan menutup pintu rumahnya dengan rapat.

“Mungkin saya salah dengar,” celoteh pak beruang.

Pak beruang bergerak menuju tempat duduknya. Saat pak mau duduk ternyata ada sebuah benda tajem berupa garpu di  sofanya. 

“Aawwww,” kata pak beruang berteriak.

Pak beruang langsung bangun dan mencabut garpu yang menancap di bokong besarnya.

“Aduh...,” kata pak beruang menahan sakit.

Pak beruang memperhatikan garpu yang di cabutnya dan melihat sofa tempat duduknyanya. 

“Aneh bener sayakan tidak makan. Kenapa ada garbu di sofa kesayangan saya? apa mungkin saya lupa?” celoteh pak beruang.

Pak beruang kemudian menaruh garpu ke tempat pencucian di dapur dan sekalian mengambil kotak obat untuk membersihkan luka karena garbu yang menusuk bokong pak beruang. Dengan perjalan perlahan-lahan pak beruang terpeleset.

“Bruuuk,” suara jatuh pak beruang kelantai.

Benda di dapur berjatuhan menimpa pak beruang.

“Aduuuuuuh,” teriak pak beruang.

Pak beruang bergegas bangun dari jatuhnya. Mengambil sesuatu yang membuatnya terpeleset. Sebuah kulit pisang yang ambil pak beruang dari lantai.

“Siapa yang membuang sampah sembarangan dan juga siapa yang makan pisang?” celoteh pak beruang.

Pak beruang terus tambah bingung. Segera membereskan semuanya dan membuang kulit pisang pada tempat sampah.  Setelah semuanya bersih dan rapih semuanya pak beruang mulai mengobati luka-lukanya. Tiba-tiba suara perut pak beruang berbunyi. Kemudian pak beruang menghampiri kulkas untuk mengambil makan untuk di santap. Dengan perlahan pak beruang membuka lemari es.

“Haaaaaaa,” terkejut pak beruang.

Pak beruang tambah bingung lagi makannya yang di simpan dan juga berantakan. Dengan memperhatikan sekelilingnya pak beruang jelas tidak ada orang yang terlihat hanya laba-laba di langit-langit rumah. 

“Apa mungkin laba-laba?” celoteh pak beruang.

Pak beruang mengabaikan semuanya segera membereskan semuanya dengan bersih dan rapih. Kemudian pak beruang mengambil makan kaleng di dalam lemari. Dengan hati-hati pak beruang membukanyanya dengan alat pembuka kaleng. Pak beruang lalu di taruh di atas wajan. Pak beruang mulai menghidupkan kompor gasnya. Memasaklah pak beruang ikan sarden sampai matang. Setelah itu barulah pak beruang menyajikan di piring kesayangannya. Pak beruang menyantap ikan sarden tersebut dengan lahap di meja makan.

Krudung merah berjalan menghampiri pak beruang meminta ikan sarden yang lezat tersebut.

“Haaaa,” terkejut pak beruang.

Pak beruang yang baik hati mengabaikan semua masalah karena melihat anak kecil yang lugu dan manis. Krudung merah di dudukkan oleh pak beruang di meja makan. Lalu menghidangkan ikan sarden yang lezat. Pak beruang dan kerudung makan bersama menikmati ikan sarden yang lezat. Setelah selesai menyantap makan. Kerudung merah terlihat lelah kemudian beranjak dari meja makan pergi tidur di sofa. Pak beruang membereskan setelah makan. Lalu segera mengangkat kerudung merah lalu di bawa ke kamar pak beruang lalu di tidurkan di kasur yang empuk dan di silimuti dengan baik oleh pak beruang.

Pak beruang meninggalkan kamar, lalu bergegas ke sofa kesayanganya untuk menonton acara tv ke sayangannya.

“Haaaa...hari yang merepotkan,”  celoteh pak beruang sambil menghelah nafas.

Pak beruang terus dengan santai menonton acara sepakbola ke sayangannya sampai larut malam.

Saturday, December 16, 2017

STORY JONI


Sore itu cuaca sangat dingin, angin berhembus menusuk nadi yang bernyanyi. Membuat bulu roma menjadi tegang. Kala itu  Joni sedang di rumah Nenek di Desa Gading Rejo. Nenek Joni, perempuan berparubaya, bertubuh tinggi, berkeriput, rambut yang menipis dengan bola mata berwarna keabu-abuan. Nenekku bernama Tini. Awan yang berwarna biru tiba-tiba berubah menjadi kehitaman dan petir datang saling sahut-sahutan. Selang berapa menit setelah itu turunlah hujan, hujan yang besar dengan petir-petir yang menyambar pepohonan. Sore itu Joni kedinginan sampai badannya berasa menggigil bak dipeluk batu es.

Sekitar pukul 19.00  Joni masih saja kedinginan dan tidak nyaman dengan suhu malam ini. Mungkin Joni memang terbiasa dengan suhu di sini. Tidak lama kemudian tanganku yang mulus ini ternyata timbul bentol-bentol yang kecil seperti digigit nyamuk, tetapi bentol ini bukannya karena gigitan nyamuk tetapi karena Joni alegri dengan suhu yang dingin seperti ini. Akibatnya bisa sampai seperti ini, tangan, kaki, badan sampai seluruh tubuh banyak sekali bentol-bentolnya. Kata orang orang dulu si dinamakan "Giduan" Rasanya sangat gatal sekali.

Omku bernama Ujang bertumbuh tinggi, berbadan kurus, berkulit putih. Ia berkata. "Joni, kenapa tangannya?" Ujar Om Ujang sambil menoleh ke arah tanganku. .

"Iya ini Om tangannya pada bentol-bentol." jawabku.

"Kok bisa?"

"Karena alergi dingin om jadi seperti ini bentuknya!"

"Ya sudah mendingan kamu lekas pergi ke Abah Cinong, tempat pemandian air panas. Siapa tahu bisa mengurangi rasa gatal pada tubuhmu."

"Memangnya masih buka Om jam segini?"

"Masih buka, minta antar sana sama Bonbon!"

Bonbon itu sepupuJoni yang berumur 18 tahun, hanya selisih 3 tahun dari umur Joni. Karena Omku menyarankan untuk Joni pergi ke Abah Cinong, tempat pemandian air panas akhirnya Joni meminta tolong kepada Bonbon sepupunya.

"Hayo Joni kita berangkat." Ujar Bonbon.

"Ya sudah tunggu sebentar, Joni ingin ganti baju dulu." Sahutnya.

Setelah ganti baju Joni dan Bonbon bergegas pergi ke Abah Cinong, tempat pemandian air panas. Di perjalan sangatlah dingin udaranya kebetulan Joni tidak memakai jaket waktu itu lupa membawanya. Sepi sunyi di jalanan, apabila ramai hanya kendaraan saja berlalu-lalang melintas. Sesampainya di Abah Cinong, Joni melihat suasananya sangat nyaman sekali dan hawanya hangat. Joni mencari tempat yang nyaman sekali. Ketika sudah berendam di air panas. Subhanallah Allohhu Akbar Alhamdulillahirobil Alamin rasanya benar-benar nikmat sekali. Rasa gatal di tubuhku segenap sirna dengan air panas itu. Berendam sampai seluruh tubuh tidak kelihatan. Walaupun pertamanya sangat panas rasanya tetapi setelah itu rasa panas hilang menjadi hangat.

"Bagaimana Joni rasanya, panas bukan?" Teriak Bonbon.

"Waaaahh, sangat nikmat sekali rasanya!" Sahut Joni.

"Hayolah turun, kita berendam bareng."

"Iya Joni!!"

Baru saja berendam sebentar tiba-tiba perut sudah keroncongan saja. Ketika itu Joni bergegas membeli pop mie dan kopi susu yang sudah di seduh oleh Bonbon di tempat pemandian air panas. Sambil menikmati makan pop mie dan minuman kopi susu. Joni pun masih berendam, rasanya tak ingin terlewatkan masa-masa yang seperti ini. Selesai makan dan minum kopi Joni, diam sejenak dan tiba-tiba Joni mendengar suara orang yang sedang bernyayi, seperti ada orkes di kampung ini.

"Bonbon, dengar suara itu tidak?" Tanya Joni.

"Suara apa memangnya Joni?" Jawabnya sambil mencari suara tersebut.

"Sepertinya ada orkes dangdut ya di kampung ini?"

"Sepertinya sih begitu."

"Memang ada apa Joni?"

"Oouuuh, bagaimana kalau nanti ketika pulang kita mampir dahulu ke tempat itu!"

"Oke Joni , setuju."

Sambil menikmati hangatnya air yang membasahi badanku, Joni juga menikmati dan mendengarkan suara orkes dangdut di kampung ini. Ketika itu Joni pulang dan langsung menghampiri parkiran untuk pulang ke rumah dan sebelum pulang Joni nonton orkes dangdut di kampung itu dengan sepupunya Bonbon. Ternyata benar dugaanku kalau ada orkes dangdut di sini, ya itu juga karena ada yang hajatan maka dari itu hiburannya adalah organ tunggal. Nonton paling belakang. 

Menonton biduan yang sedang bernyayi di atas panggung dengan pakaian yang seksi sekali. Biduan itu bertubuh tinggi, bebadan sekal, berkaki jenjang, berambut panjang dan lurus, memakai sepatu high heels dan rok mini. Sangatlah waaaaw sekali pakaiannya. Menonton dengan asiknya bersama sepupu Joni.

Sekitar 30 menit Joni menonton okres dangdut, lalu Joni segera pulang. Sekitar pukul  22.00 WIB. Joni pulang ke rumah Neneknya di Desa Gading Rejo. Suasananya yang dingin, sepi, sangat gelap di sepanjang perjalanan, sampai tibalah Joni di rumah Neneknya. Secepatnya Joni dan Bonbon bergegas ke kamar masing-masing. Kebetulan orang rumah sudah tidur. Sangat dingin sekali tidur di kasur ini sampai-sampai Joni mengunakan selimut yang sangat tebal. Tidak lama kemudian Joni tertidur dengan lelapnya. Joni bermimpi kalau Joni itu menjadi seorang penyayi. Bernyayi, berjoget, gembira dan bahagia dalam mimpi Joni. Namun, mimpi itu hanya kembang tidur Joni saja. Keesokan harinya ketika Joni bangun dari tidur Joni. Joni merasa gatal-gatal lagi di seluruh badan Joni. Ternyata yang  Joni alami bukanlah menjadi seorang penyayi melaikan penyakitnya masih bereaksi sekujur tubuhnya.

Embun pagi dan kicauan burung menemani cahaya mentari. Joni ingin sekali lari pagi agar tubuh Joni dapat berkeringat dan tidak kedinginan dan gatal-gatal lagi. Joni lari pagi ingin mengajak sepupunya.

"Bonbon, bangun Bonbon." Teriak Joni sambil mengetuk pintu kamarnya.

"Hoooaaammss....." Jawabnya.

"Bonbon, bangun Bonbon." Teriak Joni sambil mengetuk pintu kamarnya.

"Hoooaaammss....." Jawabnya.

"Bonbon, cepat bangun. Hayo kita lari pagi bareng!"

"Emmh, iya iya tunggu sebentar. Bonbon cuci muka dulu."

"Setelah Bonbon sudah rapih, Joni dan Bonbon berangkat untuk lari pagi di sekitar kampung ini. Sangatlah ramai di pagi hari, ternyata banyak juga yang sedang berolahraga di kampung ini. Sekitar 45 menit lamanya berolahraga lalu Joni dan sepupunya istirahat sebentar di bawah pepohonan. Suara air yang mengalir membuat hati terasa tenang dan damai. Kala itu  bentol-bentol yang ada di tubuh Joni sudah hilang karen badan Joni mulai berkeringat. Tidak lama kemudian Joni dan Bonbon kembali pulang ke rumah Nenek untuk istirahat dan sarapan pagi, sesampainya di rumah Nenek Joni melihat Nenek sedang di dapur. Kebetulan Nenek Joni sedang memasak untuk sarapan. Joni bergegas menuju dapur.

"Selamat pagi, Nek."Ujar Joni.

"Pagi Cu!" Jawabnya.

"Lagi apa Nek? Pagi-pagi begini sudah sibuk di dapur."

"Laagi masak ini, untuk sarapan nanti."

"Waaahh, enak dong Nek. Nenek masak apa?"

"Nenek masak nasi goreng kesukaanmu Cu."

Sangat harum sekali masakan  yang nenek masak. Tidak lama kemudian Joni dan saudara-saudaraku, menyantap makanan yang sudah disediakan Nenek di meja makan. Setelah makan perut Joni mulai kekenyangan dan mata Joni terasa berat, mungkin karena  Joni kekenyangan jadi hawanya ngantuk sekali. Karena mata sudah berat rasanya lalu Joni bergegas menuju kamar, sambil tidur-tiduran dan rebahan di sana. Tidak terasa tiba-tiba Joni sudah memejamkan mata. Nyaman sekali tidur di kamar sampai-sampai Joni mimpi indah menjadi seorang penyayi di kampung ini, padahal Joni bukan orang sini, tapi entah mengapa Joni bisa bermimpi seperti itu. 

Joni menjadi seorang penyayi dari kampung ke kampung, dari desa ke desa. Tidak terpikirkan sebelumnya kalau Joni akan menjadi seorang penyayi. Karena sebelumnya Joni hanyalah hobi mendengarkan lagu-lagu dangdut dan  hobi menonton organ tunggal di daerah rumah Joni. Siapa menyangka ternyata tiba-tiba Joni menjadi seorang penyayi dan sering mendapat job manggung di mana-mana. Keesokan harinya Joni mendapatkan job manggung di daerah Batu Bantar. Joni mengajak sepupunya untuk menemaninya malam itu.

"Bonbon antarkan saya pergi manggung yuk," Pinta Joni.

"Manggung di mana Joni?" Tanya Bonbon.

"Di daerah Batu Bantar, tidak jauh kok dari rumah Nenek!"

"Oohh, ya sudah nanti Bonbon antarkan ke sana! Jam berapa manggungnya?"

"Jam 8 malam Bonbon, tolong ya antar ya."

"Oke deh nanti Bonbon antarkan deh."

Sebelumnya Joni sudah pernah manggung berkali-kali di kampung ini. Dan ini pertama kalinya Joni minta antarkan dengan sepupunya Bonbon. Akhirnya malam yang ditunggu-tunggu itu tiba, Joni dan Bonbon siap-siap berkemas dari rumah Nenek ke Batu Bantar untuk manggung dalam acara hajatan. Sekitar pukul 7 Joni berangkat berdua dengan sepupuku menaiki sepeda motor. Sepanjang perjalan sangat terlihat sepi sekali, hanyalah suara kodok dan tokek yang meramaikan malam itu.

Setibanya di acara hajatan itu ternyata sangatlah ramai, alat musik yang merdu sedang di mainkan. Ramahnya orang sana menyambut Joni dengan senyuman manis. Tidak lama kemudian Joni bergegas ke atas panggung diiringi dengan pagar bagus yang ada di sana. Sangat senang hatiku malam itu.

"Bonbon, Joni tinggal ke atas panggung dulu ya." Ujar Joni.

“Iya Joni, semoga lancar ya!" Jawab Bonbon.

"Iya Bonbon, Terima Kasih ya."

"Jangan lupa berdoa Joni!"

"Iya tenang."

Jam 9 Joni mulai bernyayi di atas panggung dan mulai menyocokan suara dengan orgen yang ada di sana. Ketika Joni sudah mulai bernyayi di sana, oh my god, tiba-tiba yang biasanya tidak terjadi dalam kondisi manggung akhirnya terjadi pula di malam ini. Tangan Joni yang sedang memegang mike itu tiba-tiba terasa gatal sekali. Joni takut kalau-kalau penyakit gatal-gatalnya datang menyerangnya karena memang di sini semakin malam semakin dingin hawanya. Akhirnya tangan Joni gatal-gatal  dan seluruh badan Joni juga gatal, Joni tidak konsentrasi dalam bernyayi. Apa yang tidak Joni inginkan akhirnya kejadian juga kalau gatalnya itu menyerang tubuh Joni, dan seluruh tubuh ini Joni dipenuhi dengan bentol-bentol yang membuat Joni tidak percaya diri dalam saat bernyayi.

Masyarakat Batu Bantar kecewa dengan penampilanku malam itu, karena kondisi Joni yang seperti ini. Tiba-tiba Joni dilemparkan makanan dan sepatu ke badan Joni dan warga berteriak menyuruh Joni turun dari panggung. Dari kejauhan Bonbon melihat kejadian itu. Bonbon pun sedih mengapa semua ini bisa terjadi pada sepupunya itu. Joni bergegas lari turun dari panggung dan menghampiri Bonbon. Sangatlah sedih hati Joni dengan kejadian malam ini karena Joni bukan penyayi yang menawan dengan banyak idola melainkan Joni seorang penyayi penyakitan.

Wednesday, July 26, 2017

BEAR



Seekor Beruang berjalan ke tebing batu di hari yang cukup terik. Sesampai di tebing batu sang Beruang menjulurkan lidahnya menjilatin madu yang mengalir.

“Emmm enak sekali madu ini,” kata Beruang.

Dengan asiknya Beruang menikmati setiap tetesan madu yang mengalir.

“Seandainya saja sarang lebah di atas tebing itu jatuh kebawah,” gumaman sang Beruang.

Beruang terus saja menikmati madu tersebut sampai puas.

“Eeeeeekkkk,” suara sendawa Beruang.

Beruang pun pergi meninggalkan tebing batu menuju sarangnya. Dengan perlahan-lahan Beruang berjalan menuju sarangnya di pinggir sungai. Ketika menuju turunan yang cukup licin sang Beruang terjatuh terselandung oleh akar pohon yang menghalangi langkah Beruang. Tergelicirlah sang Beruang sampai masuk ke dalam sebuah lubang cukup dalam.

“Dasar sial,” kata sang Beruang.

Beruang berusaha untuk menguatkan dirinya dan berusaha keluar dari lubang yang cukup dalam.

“Eeehhh...... susah banget lagi,” kata Beruang yang mulai kesal.

Beruang terus saja berusaha sampai keluar dari lubang. Pada akhirnya usaha Beruang tidak sia-sia. Beruang berhasil keluar dari lubang.

“Saya berhasil...........,” kata Beruang.

Beruang pun mulai melangkah tiba-tiba seekor Kijang berlari cepat menghindari kejaran dari Harimau yang buas. Sang Beruang berusaha menghindar alur lari dari Kijang dan Harimau. Beruang pun mundur beberapa langkah. Lalu sang Beruang terjatuh kembali ke dalam lubang.

“Dasar sial.......hari ini,” kata Beruang.

Beruang berusaha bangun dari jatuhnya dan kembali berusaha untuk keluar dari lubang. Dengan kegigihannya Beruang berhasil keluar dari lubang. Segeralah Beruang melangkah menuju ke sarangnya.

“Saya harus berhati-hati dalam melangkah,” gerutu Beruang.

Beruang terus berjalan menuju sarangnya. Baru sampai di depan rumahnya sang Beruang terpeleset dan jatuh. Sang berusaha bangun dari jatuhnya dan mencari penyebab jatuhnya. Beruang menemukan kulit pisang menempel di kakinya.

“Dasar sial hari ini...........gara-gara monyet sialan seenaknya membuang kulit pisang di depan goa saya,” kata Beruang yang berteriak keras.

Para binatang mendengar teriakan dari amarah Beruang pada ketakutan dan bersembunyi. Termasuk monyet yang bikin ulah. Beruang pun meredam amarahnya kemudian membuang kulit pisang sejauh mungkin. Beruang pun masuk ke dalam   sarangnya. Para binatang yang melihat Beruang masuk ke dalam sarangnya, lalu segera kembali beraktivitas seperti biasanya. Beruang tidur di dalam goa yang luas dan nyaman.

SAHABAT

Dodo duduk di halaman belakang rumah sedang asik main game di Hp-nya. Tony yang selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya...